
“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu.”
Lalu dari mereka ada yang bertanya, “Tuan mau kami panggil apa? Katakan saja!”
Mantingan berpikir sejenak sebelum memberi jawaban, “Panggil aku ‘Anak Muda’.”
Mereka menatap Mantingan dengan pandangan aneh, tetapi tidak lama karena pesona Mantingan membuat anak-anak itu tidak peduli jika harus memanggil Mantingan dengan sebutan apa.
“Anak Muda, apakah kami boleh minta makanan?”
Dari mereka ada yang memberanikan diri untuk bertanya seperti itu. Memang itulah tujuan mereka datang ke sini, setelah ibu dan bapak mereka tidak punya cukup makanan untuk sarapan.
Mantingan menggeleng kepala, ia memang tidak punya banyak makanan.
“Kalau begitu, apakah Anak Muda punya pakaian bagus untuk diberikan pada kami?”
Mantingan kembali menggeleng, baju-bajunya tidak akan muat dan cocok untuk anak-anak itu, lagipula ia tak punya banyak pakaian.
“Ih, ternyata Anak Muda sama miskinnya dengan kita ya!”
Anak-anak itu tertawa geli, tetapi masih tetap berdiri di sana untuk memandangi Mantingan.
“Anak Muda,” kata salah dari mereka, “aku punya Kakak yang cantik, apakah Anak Muda mau menikahinya?”
Mantingan terbatuk-batuk mendengar pertanyaan itu. Lagi-lagi ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Permisi, aku mau keluar.”
“Beri jalan, beri jalan! Anak Muda mau keluar dan menikahi Kakakku!”
__ADS_1
Serentak mereka mengeluarkan kepala dari tirai tenda dan memberi Mantingan jalan untuk keluar, sambil bersorak gembira karena kakak dari salah satu teman mereka akan dinikahi Mantingan. Seandainya mereka tahu bahwa Mantingan sama sekali tidak mau menikah, maka mereka tidak akan seperti ini.
Mantingan keluar dari tendanya dan memandang ke sekitar. Hari masih terang tanah, langit berwarna biru pucat. Udara benar-benar dingin. Jalanan maupun rumah-rumah di sekitar masih sepi, hanya anak-anak ini yang entah datang dari rumah mana saja membuat keramaian.
Mantingan mulai melipat tendanya kembali. Anak-anak itu masih tampak antusias menunggu, bahkan dua anak yang bertengkar tadi sudah tidak bergulat. Memang begitulah anak-anak, selalu penasaran pada suatu hal yang baru, dan dapat melupakan permusuhan serta rasa dendam.
Dapatkah Mantingan berbuat serupa? Di dalam kepalanya masih berkobar api dendam dan permusuhan bagi siapa pun yang telah membunuh Rara.
Selesai melipat tenda menjadi lipatan yang sangat kecil dan telah dimasukkan ke dalam buntelan, Mantingan lalu memasang caping dan menggenggam tongkatnya.
“Anak Muda! Apakah engkau hendak pergi dari sini?”
“Ya,” jawab Mantingan singkat.
“Tolong berilah kami sedikit barang yang nantinya bisa kami jual dan kami makan, Anak Muda.”
Mantingan memandang anak-anak ingusan yang mengelilinginya. Mereka menatap Mantingan penuh harap dengan masih mengisap ingusnya. Mantingan dapat melihat mereka dengan jelas, tidak ada kepura-puraan dalam tatapan mereka. Anak-anak itu benar-benar lapar.
“Apa yang kalian butuhkan?” katanya.
“Kami tidak butuhkan banyak barang, Anak Muda. Kami hanya butuh makanan, sedang sawah kami kering kerontang karena tak ada hujan ....”
“Katak berhenti memanggil hujan, Anak Muda!” Salah seorang dari anak-anak itu menyela.
“Benar, Anak Muda! Sedih sekali. Kami mencoba makan tanah, tapi rasanya sangat tidak enak dan perut kami jadi sakit. Kami tak punya uang untuk beli makanan di kota.”
Sebelum anak-anak itu bicara lebih banyak, Mantingan telah lebih dahulu mengangkat tangannya. “Ya, tunggu sebentar.”
Ia merogoh pundi-pundinya, mengeluarkan sepuluh keping emas. Anak-anak itu menatap keping-keping itu dengan mata berbinar, belum pernah mereka melihat uang sebanyak itu.
__ADS_1
“Daku ingin kalian menggunakan uang-uang ini dengan bijak. Berikan pada orang tua mereka, atau kepada kepala desa. Biarkan mereka bermusyawarah untuk menggunakan uang ini secara adil. Jangan serakah!” Mantingan lalu memberikan semua uang itu pada anak yang terlihat paling tua dari yang lainnya, anak itulah juga yang sedari tadi pandai bercakap menjelaskan kondisi desanya.
Anak-anak ingusan itu membungkuk dalam-dalam pada Mantingan, tetap saja mengisap ingusnya.
“Terima kasih, Anak Muda! Terima kasih!”
Sepuluh keping emas itu seharusnya cukup untuk menghidupi desa selama beberapa minggu atau beberapa bulan, tergantung pemakaian. Tetapi Mantingan tahu, bahwa sepuluh keping emas itu tidak bisa menyelamatkan semua orang desa dari ganasnya kemarau. Terlebih kemarau ini adalah kemarau panjang yang lebih parah ketimbang kemarau tahun lalu.
Andai saja Mantingan menetap di sini untuk beberapa bulan dan berjuang keras membantu mereka, maka desa ini dapat dipastikan selamat berkat Mantingan. Karena Mantingan adalah orang berpendidikan, yang mengerti baca tulis dan cara bertahan hidup dengan mengandalkan alam saja. Tetapi Mantingan tidak ingin kejadian seperti kematian Rara terulang lagi, maka ia harus pergi dari sini.
Setidaknya sepuluh keping emas itu dapat mengurangi jumlah korban tewas.
Saat Mantingan ingin melangkah pergi, ia ditahan oleh seorang anak yang menarik pelan jubahnya.
“Apa Anak Muda tidak jadi menikahi kakakku?”
“Tidak, aku harus melanjutkan perjalanan.”
“Yah ....” Anak itu bergumam kecewa dan melepas jubah Mantingan, lalu kembali ia berkata, “tetapi aku tetap berterimakasih pada Anak Muda, tidak akan daku lupakan jasa Anak Muda!”
Mantingan mengangguk sekali dan melangkah pergi, anak-anak itu mengawal Mantingan sampai ke pintu luar desa. Mereka melambaikan tangan dan bersorak-sorak saat Mantingan melangkah meninggalkan desa.
Kembali Mantingan meneruskan langkahnya ke arah selatan. Ia merasa bahwa semakin cepat dirinya sampai di Perguruan Angin Putih, maka semakin baik. Kondisi pada saat ini tidaklah aman, hampir seluruh tempat menjadi tempat rawan karena orang-orang golongan hitam berkeliaran di mana-mana.
Mantingan tidak membawa senjata apa pun selain tongkatnya. Tetapi kini, ia telah menjadikan tongkat itu sebagai tombak, sebab telah ia runcingkan lagi ujung tongkatnya. Ujung runcing tombak itu menghadap ke atas, sedangkan ujung yang tumpul menghadap ke bawah dan menyentuh tanah.
Lalu Mantingan menghela napas panjang menatap barisan pohon di depannya yang mulai kering akibat kemarau. Kembali ia tenggelam pada pikirannya. Sepertinya akan banyak masalah yang akan menimpanya jika ia memutuskan masuk ke dalam dunia persilatan.
Bisa dikatakan bahwa dunia persilatan adalah dunia yang gila. Pendekar-pendekar yang mengisi dunia persilatan adalah orang-orang gila. Mereka mempelajari ilmu silat yang hanya akan digunakan untuk menantang pendekar lain.
__ADS_1
Jika salah seorang pendekar sudah menantang pendekar lain, haruslah tantangan itu digenapi oleh pendekar yang ditantang. Atau jika tidak, jati dirinya sebagai pendekar akan tercoreng, dianggap bukan pendekar.
Dan apabila tantangan itu dipenuhi lalu mereka saling bertarung, maka pemenangnya hanyalah satu. Yang itu artinya, kematian dianggap sebagai kekalahan.