
“Tolong jangan panggil diriku dengan sebutan ‘tuan’ lagi,” kata Mantingan, “panggil saja aku dengan namaku.”
Rara yang menimpali, “Lihatlah dia, Arka, kembali membuktikan betapa sinis perlakuannya.”
Mantingan mengajak mereka kembali berjalan, sudah terlalu lama mereka beristirahat. Ketiganya berjalan tanpa penerangan, tetapi cahaya rembulan cukup untuk membimbing langkah mereka. Lagi pula, akan jauh lebih aman berjalan seperti ini.
Kesunyian malam dipecahkan oleh Arkawidya saat ia berujar pada Mantingan, “Mantingan, saya belum berterimakasih pada dirimu. Tetapi ucapan saja sangat tidak cukup untuk membalas jasamu, jadi engkau bisa meminta apa pun dariku dan aku akan berusaha keras untuk mewujudkannya.”
“Apa yang kaumaksud, Arka?” Rara lagi-lagi menimpal. “Apa kau mau memberikannya ....”
Mantingan memotong ucapan Rara sedaripada Arkawidya tersinggung nantinya. “Daku tidak meminta apa pun, sudah kewajibanku sebagai manusia menolong kau yang juga manusia.”
Arkawidya tersenyum hangat. “Terima kasih banyak, Mantingan.”
Kembali jangkrik malam yang mengisi kesunyian, sedangkan langkah Mantingan terus menderap ke arah utara tanpa ragu dan tanpa takut.
Apa lagi yang perlu ditakutkan olehnya sekarang selain Yang Mahakuasa? Bukankah dirinya sudah membunuh manusia, yang itu berarti Mantingan sudah meraih bukti atas keberaniannya. Tapi sebenarnya bukan hanya keberanian yang Mantingan dapatkan, melainkan juga rasa berdosa yang teramat besar.
Kini Mantingan berpikir, seandainya jika Wasupati yang ia bunuh itu memiliki keluarga dan keluarganya tengah mencari-cari Wasupati sambil menangis di jalanan tanpa mereka tahu bahwa Wasupati telah terbunuh di tangan Mantingan?
Bagaimana pula jika Wasupati ini sebenarnya orang yang baik dan hendak bertobat juga? Atau jangan-jangan Wasupati adalah budak yang dibeli dan dijadikan alat untuk membunuh?
Semua dugaan-dugaan itu tak dapat dienyahkan dari dalam kepalanya, juga terdapat dugaan-dugaan lainnya. Dan Mantingan yang sekarang ini, walau terlihat lebih gagah dan berani hingga orang yang pernah mengenalnya dulu pasti akan terkejut, tetapi langkahnya jauh lebih berat akibat rasa dosa yang menggelendoti kakinya.
__ADS_1
Biar begitu, Mantingan tidak bisa menyesal. Jika saja ia tidak membunuh Wasupati, sangat mungkin Rara yang terbunuh. Namun, apakah Rara memang pantas diselamatkan? Tentu Mantingan tidak bisa menepis juga kemungkinan jika seandainya Rara ternyata adalah seorang pendosa besar hingga Wasupati bermaksud membunuhnya.
Mungkin juga ini bukanlah masalah yang benar ataukah yang salah, melainkan soal hubungan terdekat dan yang terjauh. Hubungan Mantingan dengan Rara tentu saja jauh lebih dekat ketimbang Wasupati yang baru Mantingan kenal saat mereka bertarung. Mungkin saja ....
Kisah hidup Rara masih samar-samar di mata Mantingan, jadi ada kemungkinan besar Mantingan akan meminta Rara bercerita tentang masa lalunya.
Mereka terus berjalan dalam kegelapan malam, dengan Mantingan yang memimpin, dan Arkawidya yang menunjuk jalan. Banyak pasang mata yang menatap mereka, tetapi tidak ada yang cukup berani mendekat setelah melihat sebuah cahaya berbentuk bintang dan dikelilingi lima bunga melayang mengikuti ketiganya. Itulah tanda yang diberikan Birawa diam-diam sesaat sebelum Mantingan menutup pintu Penginapan Tanah, dan tanda itu tidak disadari ketiganya.
Andaikan saja tidak ada tanda bercahaya itu yang menyerupai bintang dikelilingi lima bunga, maka dapat dipastikan Mantingan sudah tewas di tangan perompak saat ini, dan Rara serta Arkawidya telah dibawa ke markas perompak.
***
Sampai pagi mereka berjalan. Karena tidak ada satupun dari mereka yang kelelahan. Lagi pula, baik Arkawidya maupun Mantingan ingin cepat sampai ke rumah Birawa demi alasan keamanan. Rara juga tidak menunjukkan tanda ketidaksetujuan. Sehingga dengan semua itu, perjalanan jauh lebih cepat ketimbang semalam berkemah.
“Tak jauh di depan sana terdapat sungai kecil yang airnya cukup jernih, aku ingin membersihkan diri di sana dan mungkin kalian ingin juga?” kata Arkawidya, dirinya lebih akrab setelah berjalan bersama Mantingan dan Rara semalaman, dengan mengganti kata “saya” dengan kata “aku”.
“Tentu saja, aku juga tak sempat membersihkan diri sama sekali.” Rara tersenyum girang, menatap Mantingan minta persetujuan.
Mantingan berdeham sekali. “Tentu saja, persediaan air juga menipis.”
“Kau tidak mandi, Mantingan?” Bertanya Arkawidya keheranan.
Agak canggung, tetapi Mantingan tetap menggeleng. Untuk apa dirinya mandi sedangkan jubah pemberian Kenanga telah mampu menjaga kesegaran tubuhnya?
__ADS_1
“Mantingan memang seperti itu, Arka. Biarlah, biar lalat bersarang di tubuhnya.” Rara seperti biasa selalu menimpal, itukah kebiasaan lamanya atau malah kebiasaan barunya? Apa pun kebiasaan itu, yang pasti selalu membuat Mantingan tersenyum canggung atau senyum kaku.
Tak seberapa lama mereka berjalan, Arkawidya meminta mereka berbelok ke sisi kiri jalan. Ada sebuah jalan setapak yang membelah semak belukar dan mengarah ke hutan buluh. Mereka berjalan di jalan setapak itu, menembus semak belukar dan memasuki hutan yang penuh dengan pohon-pohon buluh yang suaranya bagai seruling saat dedaunannya diterpa angin. Batang-batang mereka mengerit saat angin kencang menerpa, menjadikan hutan buluh itu hampir tidak pernah sunyi.
Satu-dua tupai dengan lihainya berloncatan di batang-batang buluh dan mengeluarkan suara untuk menarik pasangan dari mulutnya yang mungil itu. Burung-burung beraneka warna terbang di bawah bayangan teduh dari barisan buluh-buluh itu. Musang-musang berlari tatkala melihat kehadiran Mantingan yang jauh berjalan di depan dua wanita di belakangnya.
Tidak hanya itu, Mantingan juga melihat biawak yang besarnya hampir menyerupai buaya, lari ketakutan juga saat melihat kehadiran manusia. Maka dari itulah menandakan bahwa ada perairan atau rawa-rawa di dekat sini.
Mantingan melihat sebuah sungai kecil di depannya. Sungai itu bukanlah sungai berbatu, melainkan sungai yang beralaskan tanah gambut, tanah yang merupakan endapan bangkai-bangkai pohon. Airnya mengalir lembut dan sangat jernih, hingga dapat terlihat di dasaran sungai terdapat daun-daun buluh yang telah tenggelam. Badannya meliuk-liuk jauh menembus semak belukar lain dan ke tempat yang lain pula.
Saat Mantingan maju mendekat lagi, ia melihat sesuatu yang lebih menakjubkan. Terdapat ikan-ikan mas yang dengan tenang berenang di bawah daun teratai. Terdapat pula ikan lain yang berusaha sembunyi di balik daun buluh. Sungguh menakjubkan.
Arkawidya dan Rara sampai di tepi sungai, keduanya tersenyum sangat bahagia.
“Kau tentu tidak akan tetap di sini, Mantingan?”
Ditanya seperti itu oleh Arkawidya menyadarkan Mantingan untuk segera pergi dari tempat ini, tetapi dirinya lebih tertarik, atau lebih tepatnya jahil, untuk kembali bertanya pada Arkawidya.
“Tentu saja, apa kalian tidak keberatan?”
Rara dan Arkawidya menatap Mantingan dengan tatapan tak percaya.
***
__ADS_1
Mantingan tengah menyiapkan sarapan hangat untuk dirinya sendiri serta untuk Rara dan Arkawidya. Sambil mengumpulkan kayu-kayu buluh, ia tersenyum mengingat peristiwa sesaat sebelum dirinya pergi dari sungai kecil tempat Rara dan Arkawidya akan mandi itu. Sebuah kejadian yang sepertinya tidak akan pernah ia lupakan.