Sang Musafir

Sang Musafir
Mengikuti Lelang


__ADS_3

Mantingan kembali ke tempat duduknya dan mulai membuka lembaran-lembaran lontar dari buku yang ia bawa.


Ada sekiranya lima buku yang seluruhnya menyangkut tentang perbungaan. Buku pertama yang Mantingan baca adalah buku yang membahas tentang bunga siluman beracun tetapi memiliki rupa sangat indah. Ada pula bunga besar pemakan daging. Bunga-bunga lain di buku itu adalah bunga menjalar yang tidak terlalu berbahaya, hanya akan menimbulkan kelumpuhan sementara jika menyentuhnya.


Selesai memahami buku pertama itu, Mantingan membuka lembar lontar di buku kedua, membahas tentang bunga-bunga indah yang pernah ditemukan baik di Jawa maupun di Nusantara. Setelah selesai membacanya, Mantingan membuka lembaran buku berikutnya, lalu buku berikutnya lagi, dan kemudian buku terakhir. Tidak ada satupun buku yang membawa nama Kembangmas ke dalam tulisannya. Sebenarnya hal itu tidak terlalu mengherankan, sebab sejarah tentang Kembangmas memang ditutupi oleh kerajaan, entah apa alasannya.


Tetapi dengan begini, Mantingan mendapatkan ilmu baru tentang perbungaan. Kini Mantingan cukup mengetahui bunga mana yang berbahaya, atau bunga yang bisa dimakan. Mantingan juga mengetahui bunga-bunga berharga mahal jika dijual.


Mantingan mencari pemuda bangsawan tadi untuk menyerahkan buku-bukunya yang telah selesai dibaca, tetapi Mantingan tidak menemukan bangsawan muda itu di seluruh ruangan. Mantingan merasa akan berlebihan jika mencari orang congkak itu sampai ke ruangan lainnya, maka dari itu Mantingan kembalikan saja ke tempat buku itu semula.


Karena merasa telah cukup berada di lantai empat ini, Mantingan kembali naik ke lantai selanjutnya setelah memasang kembali buntelan dan pundi-pundinya. Mantingan mengikat tombaknya di buntelan karena merasa tombak itu tidak terlalu diperlukan untuk berjalan.


Di lantai kelima adalah buku-buku tentang aturan pembangunan rumah dan percandian. Mantingan tidak terlalu tertarik, waktunya di sini terbatas dan hanya bisa membaca buku-buku penting saja, Mantingan naik lagi ke lantai selanjutnya. Di lantai keenam, di sana adalah tempat aturan-aturan tentang tata aturan penempatan bangunan di dalam kota.


Mantingan tidak menyangka bahwa untuk membangun kota saja memerlukan aturan. Sedangkan saat Mantingan berkunjung ke dalam kota, ia melihat kota itu seperti asal dibangun dengan tidak menentukan peraturan, tetapi entah mengapa terlihat indah. Ternyata inilah sebabnya kota-kota selalu terlihat indah dan nyaman dihuni.


Andaikan saja Mantingan memiliki banyak waktu sampai seminggu lamanya untuk di tempat ini, maka Mantingan akan membaca buku-buku di lantai ke enam itu seluruhnya. Tetapi Mantingan melihat keluar dari jendela gedung, bahwa matahari telah turun dan langit juga telah menjingga. Mantingan kemudian mendekat ke jendela. Sungguh luar biasa pemandangannya. Perkotaan dipadukan dengan jingganya langit, sedang matahari bersembunyi di balik pegunungan.


Melihat keindahan ini akan selalu mengingatkan Mantingan pada Rara. Betapa cantik wajahnya, bagai senjakala yang selalu nyaman dipandang. Betapa lembut tutur-katanya jika tidak sedang marah, bagai angin senja yang membelai Mantingan saat ini. Dan betapa semua itu kembali menghancurkan kebahagiaan Mantingan. Api dendam Mantingan kembali membara dengan dahsyatnya.


Mantingan menyingkir dari jendela itu. Suasana hatinya sedang tidak baik saat ini, hingga apa pun malas dilakukannya. Mantingan menuruni tangga dan berniat untuk menunggu malam di halaman perpustakaan.

__ADS_1


Cepat ia sampai ke lantai dua, di mana masih berlangsung lelang di sana. Mantingan menoleh ke arah salah satu jendela kecil ruangan lelang, suasana di sana agaknya sedang memanas oleh tawar-menawar pengunjung. Mantingan penasaran lalu mengintip di jendela itu.


Terlihat di dalamnya adalah deretan bangku-bangku panjang menghadap panggung lelang. Di sanalah orang-orang tengah melakukan tawar-menawar hebat. Saat Mantingan hendak melihat barang apa yang dilelang hingga menimbulkan kericuhan kecil itu, bahu Mantingan ditepuk oleh seseorang.


Mantingan berbalik dan menemukan pria bertubuh kekar yang tingginya jauh di atas Mantingan, kumisnya melenting hingga dapat ia gunakan untuk memuntirnya. Pria kekar itu menatap Mantingan penuh curiga. Mantingan memandanginya penuh curiga pula, ia khawatir jika pria berotot di depannya ini adalah salah satu pengawal bangsawan muda tadi. Jika dugaan Mantingan benar, Mantingan tidak yakin bisa menghadapinya kali ini.


Biarpun begitu, Mantingan tidak menunjukkan kekhawatirannya sama sekali, atau orang itu akan mengiranya lemah.


Melihat wajah Mantingan yang tidak menunjukkan mimik ketakutan, membuat pria berotot itu sedikit gentar juga. Dari pakaiannya, Mantingan terlihat seperti pendekar ulung, itulah yang ia khawatirkan.


Jadilah dua pria itu saling khawatir pada satu sama lain dan curiga dengan kekuatan lawan masing-masing.


Pria kekar itu berkata lebih dahulu, “Apa yang hendak engkau intip itu?”


“Aku adalah penjaga ruang lelang ini. Jika dikau datang ke sini dengan maksud buruk, maka aku tidak akan segan menghajarmu.”


“Aku hanya ingin mengetahui barang apa yang dilelang di sini,” jawab Mantingan.


“Apakah engkau juga ingin mengikuti lelang?” Bertanya pria itu.


“Aku tidak mau mengikuti lelang jika barang yang dilelang saja tak kuketahui.”

__ADS_1


Pria di depan Mantingan itu memilin kumisnya sembari berkata, “Barang-barang yang dilelang di sana adalah barang-barang dari perguruan-perguruan yang telah menghilang. Apa kau hendak mengikuti lelang?”


Mantingan mengangkat alisnya terkejut. Bukankah Perguruan Angin Putih adalah perguruan yang telah hilang juga, jika menurut perkataan petugas wanita di bawah itu? Bukankah itu berarti, kitab-kitab Perguruan Angin Putih mungkin saja dilelang ada di sana? Mantingan mengambil waktu berpikir untuk memutuskan apa yang harus ia ambil.


Melihat kebimbangan Mantingan, pria kekar penjaga lelang itu menambahkan, “Di sana dilelang pula pusaka-pusaka seperti pedang dengan harga yang mudah.”


Kali ini pertimbangan Mantingan sepertinya akan menuju pada sebuah keputusan bulat. Ia membutuhkan kitab yang menyangkut tentang Perguruan Angin Putih, jika seandainya nanti dibutuhkan untuk menunjukkan kemampuan silat di hadapan orang-orang Perguruan Angin Putih, atau sekadar untuk mengetahui kebenaran tentang Perguruan Angin Putih itu.


Tetaoi Mantingan tahu, untuk memasuki ruang lelang, haruslah mengeluarkan sejumlah uang.


“Berapa banyak uang yang diperlukan untuk masuk ruang lelang? Dan sudah berapa lama lelang dimulai?”


Penjaga itu tersenyum lebar. “Karena ini lelang kecil, engkau hanya perlu mengeluarkan tiga keping emas untuk masuk ke dalam.”


Mantingan sedikit terkejut dengan jumlah itu. Berapakah harga barang di dalam ruang lelang, yang telah pasti harganya jauh lebih mahal ketimbang biaya masuk?


“Berapa rerata harga barang di dalam?” Mantingan berpikir tidak ada salahnya untuk bertanya.


Pria itu bergumam sebelum menjawab, “Harga barang di sana biasanya tidak lebih dari lima puluh keping emas, tetapi ada beberapa kitab yang dijual lebih dari seratus keping emas. Karena hari ini adalah hari biasa, maka yang dilelang juga bukan barang istimewa, kuduga harga barang yang dijual hari ini tidak lebih dari empat puluh keping emas.”


Mantingan kembali mengangguk, ia hanya akan membeli dua barang saja. Kitab dan pedang. Perkiraan uang yang harus ia keluarkan adalah tujuh puluh sampai delapan puluh keping emas. Uang yang mungkin tersisa nantinya sekitar belasan keping emas dengan puluhan keping perak.

__ADS_1


“Aku akan bayar.”


Kali ini Mantingan benar-benar bertaruh.


__ADS_2