
MANTINGAN memasuki mulut goa dengan menenteng bundelan serta sangkar berisi burung merpati putih untuk mengirim pesan—burung itulah yang dinamai Si Putih oleh Tapa Balian.
Semakin dirinya melangkah masuk ke dalam goa, kegelapan semakin menyelimutinya. Tidak banyak cahaya matahari yang bisa masuk.
Mantingan segera menancapkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun untuk melihat isi goa lebih jauh meski matanya tidak mampu menembus ke dalam kegelapan, akan tetapi ilmu tersebut sama sekali tidak dapat bekerja.
Mantingan tidak heran dan tidak terkejut, sebab hal seperti ini telah ditebaknya sejak awal. Goa yang ia masuki bukanlah goa biasa, yang sudah tidak mengherankan atau mengejutkan lagi jikalau ditemukan mantra sihir penjebak atau semacamnya.
Mantingan terus berjalan masuk tanpa berkelebat. Kegelapan begitu pekat, tetapi naluri membawanya untuk dapat berjalan tanpa membentur apa pun jua.
Pada langit-langit goa, meski tidak terlihat, Mantingan tahu bahwa telah begitu banyak kelelawar yang menggantung di sana. Merekalah yang menyebabkan goa ini beraroma begitu semerbak.
Goa kemudian berkelok ke kanan, begitulah langkah Mantingan pun segera berkelok ke kanan meski sungguh tiada diketahuinya bahwa goa telah berkelok.
Setelah kelokan itu, kegelapan yang menyelubunginya semakin bertambah pekat. Tiada sinar mentari yang berhasil menerobos masuk, yang berarti tidak ada penerangan sama sekali.
Mantingan sebenarnya masih memiliki setidaknya lima lembar Lontar Sihir Cahaya, tetapi ia yakin bahwa sihir apa pun tidak akan pernah bisa bekerja di tempat ini. Maka dibiarkanlah kegelapan memeluk tubuhnya, dan biarkan kaki terus berjalan sesuai dengan nalurinya.
Langkahnya kembali berbelok, tetapi kali ini mengarah ke samping kiri. Ia pula merasakan bahwa jalanan semakin menurun, dengan suara tetes air yang terdengar di mana-mana.
Setelah beberapa lama, jalan kembali berbelok ke kanan. Kali ini, Mantingan melihat secercah cahaya jauh di depannya. Meski itu hanyalah cahaya kecil, yang mungkin berukuran sebesar lubang jarum saja, cahaya tetaplah cahaya. Dalam kegelapan yang begitu pekat seperti ini, cahaya sekecil ujung rambut pun akan tetap berharga.
Meski melihat cahaya tersebut, Mantingan tidak lantas berlari kencang ke arahnya. Walau dadanya begitu menggebu-gebu seolah meminta kakinya untuk segera berlari, Mantingan tetap menahannya. Dalam kegelapan pekat ini, biarlah naluri yang menuntunnya. Ia akan tiba tepat waktu dengan selamat, asal tidak terburu-buru. Dirinya tentu tidak dapat menjamin apakah sekelilingnya terbebas dari batu-batu tajam yang mampu memotong daging dan tulang manusia selembut memotong daun belaka.
__ADS_1
Mantingan terus berjalan. Secercah cahaya itu bukannya semakin membesar, justru semakin meredup adanya. Ia mulai risau jikalau sewaktu-waktu cahaya itu menghilang tiada berbekas, tetapi tetap menahan diri untuk tidak bertindak gegabah dan tetap berjalan sesuai naluri. Tidak berlari maupun berkelebat. Betapa pun kegelapan, seringkali menutupi sesuatu yang ada, dan pada akhirnya berujung pada ketersesatan.
Jalanan mulai menanjak, Mantingan sungguh dapat merasakannya, tetapi secercah cahaya yang pula menjadi secercah harapan itu masih terlihat di depannya, seolah cahaya tersebut ikut terangkat naik manakala jalanan menanjak.
Mantingan terus melangkah dan melangkah. Kali ini dirinya mulai menemui kesukaran, disebabkan karena bebatuan yang dipijaknya menjadi sangat licin oleh air yang mengalir dari atas. Beberapa kali Mantingan tergelincir, tetapi beruntung sekali tangannya masih cukup cepat meraih celah-celah bebatuan di sekitarnya sehingga tidak terperosok ke bawah.
Setelah menanjak, bidang jalanan kembali mendatar meski digenangi air yang tingginya mencapai mata kaki. Begitu terasa dingin air yang merendam telapak kakinya itu. Andaikata Mantingan berhenti bergerak beberapa saat saja, rasa-rasanya air tersebut akan membekukan kakinya menjadi sekeras batu!
Dengan terus melangkah, dirinya terus bergerak. Dengan terus bergerak, kakinya akan terasa begitu hangat meski berada di dalam air yang membekukan. Namun dengan terus bergerak ke depan, Mantingan tidak dapat berubah pikiran dan berbalik arah ke belakang. Sebab nalurinya itu tidak menuntunnya untuk pulang.
Mantingan masih berjalan. Perlahan-lahan air yang semulanya hanya setinggi batas mata kaki itu mulai meninggi hingga sebatas lutut. Tubuhnya mulai menggigil. Kedua kakinya semakin sulit digerakkan. Kepalanya dipenuhi rasa kecemasan yang bukan alang kepalang.
Pikiran-pikiran buruk mulai menggentayangi pemuda itu. Amat sangat buruk, yang ditambah lagi dengan kegelapan pekat dan kesepian luar biasa!
Bagaimanakah jika goa ini ternyata merupakan jebakan yang sengaja dibuat untuk dirinya? Bagaimanakah jika riwayatnya tamat pada hari ini pula? Bagaimanakah jika Kenanga tidak akan pernah mendapatkan Kembangmas yang diinginkannya?
Dalam kegelapan pekat yang tiada kentara
jangan pernah mempercayai sesuatupun selain nalurimu sendiri
Maka Mantingan terus bergerak meski terus terbayang olehnya sebuah kematian mengerikan di dalam air membekukan ini. Meski tenaga dalam sungguh tidak dapat dipergunakan di tempat ini untuk menghangat tubuhnya. Mantingan terus saja melangkah tanpa mau berhenti; sesuai dengan nalurinya.
Secercah cahaya di depannya itu perlahan mulai membesar serta bersinar terang. Perlahan-lahan pula menunjukkan wujudnya, yang nyata-nyatanya ialah seambang celah besar berbentuk persegi. Tampak seperti sebuah pintu tanpa daun, bagaikan mempersilakan siapa pun yang telah lama berada di dalam kegelapan untuk masuk ke jalan terang.
__ADS_1
Hingga begitu jelas pintu bercahaya itu bagi Mantingan. Tampaklah beberapa anak tangga yang menghubung ke pintu tersebut, yang memang harus dinaiki tanpa perlu bantuan naluri lagi.
Setelah menaiki anak-anak tangga itu, Mantingan melangkah masuk ke dalam pintu tanpa keraguan barang sedikitpun. Tampaklah sebuah pemandangan menakjubkan yang begitu menggetarkan jiwanya.
Pintu itu mengantarkannya ke sebuah lorong yang dipenuhi dengan batu-batu permata bercahaya. Mantingan sadar, bahwa secercah harapan yang dilihatnya berasal dari permata-permata tersebut.
Mantingan tidak terpikirkan bagaimana permata-permata itu bisa mendapatkan cahaya ketika kakinya kembali melangkah di tengah lorong tersebut. Pemuda itu terus memandang dengan perasaan takjub.
Lorong tersebut mengantarkannya ke sebuah tempat luas, yang pula dipenuhi dengan permata-permata bercahaya redup meski jumlahnya tidak sebanyak di lorong itu.
Dalam tempat luas yang serupa dengan aula inilah Mantingan kemudian menemukan bangunan-bangunan yang tersebar di beberapa titik.
Terdapat tiga bangunan yang menempel dengan langit-langit aula, lima bangunan pada lima sudut aula, serta sebuah bangunan terbesar pada salah satu sisi aula yang menghadap langsung ke lorong bercahaya.
Mantingan berjalan dengan perasaan takjub. Nuansa warna redup dari banyaknya permata bercahaya di tempat ini begitu menenteramkan benak. Suasana yang tidak begitu sunyi dengan tetesan-tetesan air seolah membawa jiwa manapun ke dalam kedamaian.
Bagian tengah aula tersebut tampak telah diratakan serta dihaluskan hingga membentuk sebuah lapangan. Di sana terdapat pula sebuah ukiran besar di tengah lapangan tersebut yang menunjukkan delapan penjuru mata angin.
“Perempuan Tak Bernama membuat semua ini seorang diri?” Mantingan bergumam pelan sambil berdecak kagum.
___
catatan:
__ADS_1
Terima kasih untuk yang memberi dukungan di KaryaKar**.