Sang Musafir

Sang Musafir
Pembajakan Desa


__ADS_3

TEPAT TIGA hari setelahnya, toko bunga herbal satu-satunya di Desa Lonceng Angin selesai dibangun. Pagi itu, Mantingan, Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina saling bahu-membahu membersihkan toko yang bagaimanapun pembangunannya menyisakan banyak debu dan pasir.


Mantingan juga meletakkan beberapa perabot di dalamnya untuk keperluan toko seperti meja panjang, bangku, rak, laci khusus bubuk obat, dan banyak lagi. Semua itu telah Mantingan beli sehari sebelumnya.


Sambil menyapu lantai kayu toko, Mantingan berkata, “Jika Saudari membeli bunga pengobatan di sini, Saudari bisa mendapatkannya setengah harga.”


“Diriku menghargai itu, Saudara.” Bidadari Sungai Utara berkata tak jauh darinya. “Ibu Wira pasti akan senang dengan kabar ini.”


“Oh, dan terkhusus Ibu Wira, beliau bisa mendapatkan seluruh bunga dengan tanpa perlu membayar,” kata Mantingan tertawa.


“Kalau Saudara melakukan itu, maka dapat kupastikan bahwa daku akan menghancurkan toko ini.” Bidadari Sungai Utara menanggapinya datar, namun siapa pun akan tahu bahwa dirinya tidak bersungguh-sungguh pula. Selayaknya Mantingan.


Mantingan hanya membalasnya dengan tawaan kecil. Saat itulah ia mendengar suara ketukan pada pintu toko. Mantingan membersihkan debu di tangannya sebelum berjalan menuju pintu. Ia menggenggam gagang pintu. Namun sebelum membukanya, Mantingan terlebih dahulu melirik Bidadari Sungai Utara. Dirinya mengirim bisikan angin menuju telinga Bidadari Sungai Utara.


“Saudari, lebih baik engkau mengenakan cadar.”


Setelah mendengar suara bisikan Mantingan, Bidadari Sungai Utara mengangguk sekali sebelum pergi ke ruangan dalam. Barulah saat itu Mantingan membuka pintu.


“Selamat pagi, Tuan.”


Mantingan tersenyum pada pria tua di depannya. “Selamat pagi, Bapak. Apakah yang bisa sahaya bantu untuk Bapak? Namun sebelumnya sahaya memohon maaf, karena panggilan itu tidak pantas untuk memanggil diri sahaya.”


Pria tua itu tersenyum. “Jikalau begitu, Anda ingin dipanggil apa?”

__ADS_1


Mantingan membalas senyum pria itu lalu menjawab, “Dikarenakan Bapak terlihat jauh lebih tua ketimbang sahaya, maka panggillah diri sahaya sebagaimana Bapak memanggil anak muda lainnya.”


“Baiklah, baiklah.” Senyum pria tua itu semakin mengembang. “Anak, saya ini berasal dari jawatan desa, ingin mengabarkan kepada Anak sebuah peraturan yang semesti-mestinya dipatuhi.”


Mantingan cukup bingung karena merasa tidak pernah melanggar aturan desa, maka bertanyalah pemuda itu. “Aturan seperti apakah yang perlu Bapak sampaikan kepada sahaya?”


“Peraturan ini menyangkuti gerai yang dibuat Anak. Setiap bangunan gerai harus membayar pajak sebesar 10 keping perak setiap bulannya. Apakah Anak bersedia?”


Sebenarnya Mantingan tidak lagi memiliki banyak uang seusai membangun tokonya. Ia hanya memiliki beberapa ratus keping emas dan 17 Batu. Dengan ketujuhbelas batu ada di tangannya, sebenarnya Mantingan telah menjadi orang paling kaya di Desa Lonceng Angin. Namun, Mantingan masih menganggap 17 Batu itu kepunyaan Dara. Sudah semestinya itu bukan milik Mantingan.


Namun jika diharuskan membayar 10 keping perak setiap bulannya, maka Mantingan tidak keberatan sama sekali.


“Sahaya akan membuka toko di bulan ini, Bapak. Maka bisakah saya membayarnya sekarang juga?”


“Barang tentu sudah bisa, jika itu yang Anak kehendaki.”


Mantingan mengambil sepuluh keping perak di dalam bundelannya sebelum kembali menemui orang tua itu.


“Mohon membawa pajak saya ini, Bapak.” Mantingan mengulurkan dua tangannya yang menadah 10 keping perak.


“Tentu saja, tidak perlu sungkan-sungkan seperti ini.” Si pria tua tertawa kecil dan menerima semua keping perak itu. “Baiklah, saya rasa tidak ada perlunya diri saya berlama-lama di sini. Hanya akan mengganggu ketenangan Anak sahaja. Maka dengan itu, sahaya mohon diri.”


“Tunggu sebentar, Bapak.” Mantingan menahan si pria tua. “Sahaya ingin bertanya tentang sesuatu yang mungkin saja akan menyinggung harga diri Bapak dan Desa Lonceng Angin.”

__ADS_1


Raut wajah si pria tua berubah. “Tentang pertanyaan apakah itu? Anak sangat berhak bertanya jika itu menyangkut keamanan, kenyamanan, dan keasrian desa ini.”


Mantingan melihat ke sekitar jalanan. Memastikannya aman. Mengapa tidak? Pertanyaannya ini cukup berbahaya jika didengar sembarang orang.


“Sebelumnya saya ingin Bapak tahu, sahaya adalah salah satu dari banyaknya pendekar di Javadvipa. Kemampuan seorang pendekar mampu menangkap benda yang bergerak sangat cepat dengan penglihatannya.” Mantingan menarik napas dingin. “Kemarin hari, saya melihat banyak pendekar berpakaian hitam berlentingan kian kemari. Dari satu rumah, ke rumah yang lain. Yang ingin kutanyakan sebenarnya sudah jelas, Bapak.”


“Ya. Memang benar jika Anak merasa ada sesuatu yang tidak beres.” Pria tua itu tersenyum kecut.


Karena si pria tua tidak juga membalas dalam waktu yang cukup lama, Mantingan kembali mengajukan pertanyaan. “Apakah Bapak tidak keberatan menjelaskannya pada diri sahaya?”


“Ya, tentu saja. Mengapa tidak?” Orang tua itu menarik napas panjang sebelum mulai menjelaskan, “mereka itulah pendekar-pendekar yang berusaha membajak desa kami, Anak. Mereka datang ke balai desa dengan kelewang-kelewangnya yang dilumuri racun mematikan. Mereka menyuruh kami mengumpulkan uang dari penduduk dalam jumlah yang banyak, kalau kami tidak menurut maka sudah pasti akan dibunuh.


“Diriku ini sangat ketakutan sampai-sampai tidak punya pilihan lain selain menuruti kehendak mereka. Sebenarnya, setiap gerai di Desa Lonceng Angin hanya perlu membayar 5 keping perak setiap bulannya. Tapi kami terpaksa menaikkan harganya. Mereka juga mengancam akan memangsa anak gadis kami jika tidak menurut.”


Mantingan memasang raut waspada. “Perampok-perampok seperti apakah mereka, Bapak?”


“Mereka adalah perampok-perampok yang teramat-amat cakap. Jika Anak berniat melawan mereka dan membela kami, saya sarankan untuk tidak melakukannya. Itu sama saja menghantarkan nyawa pada mereka. Anak pasti akan binasa di tangan mereka.”


“Pada awalnya, saya memang akan berniat seperti itu, Bapak. Namun sahaya akan mempertimbangkan ulang putusan itu, Bapak. Menurut saya, penindasan ini harus segera berakhir. Diriku hanya perlu mengetahui di mana markas mereka, dan seberapa banyak kekuatannya.”


Namun, orang tua itu menggeleng. “Sahaya tidak mengetahui semua itu, Anak. Pengetahuan sahaya tentang mereka hanya setinggi mata kaki.”


Mantingan menganggukkan kepalanya beberapa kali sebelum kembali berkata, “Apakah Bapak bisa merahasiakan percakapan kita ini? Sahaya tidak ingin memulai masalah tidak perlu dengan mereka.”

__ADS_1


“Eh, bukankah Anak berniat untuk membantu kami?”


“Maafkanlah saya, Bapak, tetapi ini terlalu berbahaya. Dengan berat hati, sahaya menyatakan tidak bisa membantu penduduk desa. Bantuan sahaya hanya sebatas memberi pajak. Ingin sahaya membantu banyak, seperti memerangi mereka misalnya. Geram sudah diri sahaya ini. Tetapi jika itu harus meneteskan darah, maka lebih baik sahaya diam saja. Sahaya tidak berani, Bapak."


__ADS_2