Sang Musafir

Sang Musafir
Menonton Tarian Melalui Pendengaran


__ADS_3

“Kelompok kalian terkenal tidak pernah menerima pria untuk bergabung, tak peduli seberapa banci pria yang memohon kepada kalian agar dimasukkan ke dalam Kelompok Daun Jatuh. Lantas mengapakah kulihat ada pria bersama kerbau di kejauhan sana? Tadi kulihat pula dirimu memberi tanda kepadanya, seolah meminta untuk tidak mendekat.”


Mendengar hal itu, maka sesegera mungkin Mantingan kembali menggosok punggung kerbaunya. Bersikap seolah tiada tahu-menahu tentang percakapan itu.


“Dia memang bagian dari rombongan kami, tetapi dia bukan dari kelompok kami. Lelaki itu adalah penyoren pedang biasa yang kusewa untuk penyamaran.”


***


AGAKNYA telah jelas tentang maksud dan tujuan sebenarnya dari tindakan Kartika yang membiarkan Mantingan masuk ke dalam rombongannya. Bukan agar Mantingan menunjuki mereka jalan menuju Lembah Balian atau agar rombongannya mendapat perlindungan tambahan, melainkan agar rombongannya tetap terlihat sebagai rombongan awam yang sudah barang tentu mustahil dapat melewati jalur perjalanan yang dipenuhi markas penyamun tanpa pengawalan.


Setelah mengetahui hal itu, Mantingan menjadi sedikit berlega pikiran. Dapatlah itu diartikan bahwa Kartika tidak memiliki niatan buruk terhadapnya, meski caranya adalah dengan menipunya. Mantingan tidak mengapa, selama kepentingannya untuk mencapai Lembah Balian dengan segala keterangan tentang Tapa Balian bisa didapatkannya. Ia juga merasa bahwa keberadaan Chitra Anggini di Suvarnadvipa sedikit banyak berkaitan dengan dirinya.


Perkataan Kartika itu tidak hanya dimengerti oleh Mantingan saja, melainkan pula oleh Pendekar Kelewang Berdarah. Melalui Ilmu Mendengar Tetesan Embun, Mantingan mengetahui bahwa pendekar itu sedang menganggukkan kepalanya tanpa menjawab lebih banyak lagi.


***


SEGALA persiapan untuk menggelar perhelatan wayang telah selesai disiapkan. Sebenarnya cukup gila untuk menggelar perhelatan wayang di tengah belantara yang jauh dari peradaban manusia seperti ini, tetapi memanglah bukan menjadi suatu hal yang mengherankan lagi dalam jaringan bawah tanah persilatan, sebab mereka telah terbiasa melakukan segala sesuatu di tempat tersembunyi yang jarang diketahui orang-orang. Bagi mereka, antara rimba belantara dengan peradaban hampir tiada bedanya.


Hanya ada lima perempuan yang akan menari, sedang belasan perempuan lain memegang beragam alat bebunyian seperti dawai, kecapi, tabuhan, kentungan logam, kerincingan, dan bermacam-macam lainnya. Ratusan perempuan lainnya hanya duduk menonton di pinggir lapangan tanpa melakukan apa pun, tetapi Kartika meminta mereka untuk tetap hadir. Jelas maksudnya adalah untuk berjaga-jaga jika pertempuran sampai terjadi.

__ADS_1


Salah satu penari dari kelima penari itu adalah Chitra Anggini. Kartika masuk pula di dalamnya. Mantingan segera mengetahui bahwa kelima perempuan itu adalah orang yang paling menguasai Tarian Daun Jatuh.


Rombongan pemain wayang selalu membawa banyak obor untuk berjaga-jaga jika perhelatan diberlangsungkan ketika matahari telah terbenam, kini obor-obor itu dinyalakan dan ditempatkan di pinggiran lapangan.


Sedangkan di tengah lapangan telah dinyalakan sebuah api unggun besar sebab betapa pun cahaya obor di pinggir lapangan tidak akan cukup terang untuk menyinari tempat itu. Dengan keberadaan api unggun besar, maka tanah lapang yang semulanya gelap-gulita itu menjadi terang-benderang; yang semulanya dingin menusuk menjadi panas menyengat.


Mantingan duduk di antara para perempuan wayang bersama Munding Caraka yang tengkurap di atas rerumputan. Kartika yang memintanya untuk menunggu di sana dengan syarat bahwa matanya yang akan ditutup kain hitam jika tarian sudah dimulai. Hal itu bukan masalah sama sekali bagi Mantingan, sebab dirinya memiliki Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang dengan jarak pendek antara dirinya dengan tempat menari seperti itu akan sangat memungkinkan baginya untuk menerjemahkan bunyi menjadi bentuk, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu yang terjadi di dekatnya tanpa perlu membuka mata barang sedikitpun.


Telah dapat ditebak bahwa saat ini Mantingan tengah tersenyum canggung. Bagaimana tidak? Perempuan-perempuan wayang itu mendekati sambil memandanginya seolah dirinya adalah sesuatu yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Beberapa perempuan bahkan mengelus punggung Munding Caraka dengan jari-jemari lentik mereka, yang selalu mesti diiringi dengan tawa-tawa menggelitik, entah apakah hal tersebut membuat kerbau itu girang atau gugup.


“Inikah tampang pemuda dari Javadvipa?” Salah satunya bahkan sampai berbisik pada temannya, yang dapat Mantingan dengar dengan jelas meski tanpa menggunakan ilmu pendengaran tajam semacam apa pun.


“Bukan. Daku tidak menyukainya.” Mendesislah wanita itu bagaikan ular. “Dia hanya tampan saja. Maksudku, meski tidak memiliki kulit yang putih bagaikan pualam, dirinya tetap kelihatan sangat tampan. Otot-ototnya kelihatan sempurna. Dan lihatlah senyumannya itu, sangat manis bagaikan gula kelapa.”


“Itu berarti bahwa dikau telah mencintainya, Agni!”


“Huh! Mana ada seperti itu. Memangnya semua orang tampan harus dicintai?”


Mantingan mengatur jalan napasnya sebab ia tak tahu kapan tenggorokannya akan tersedak akibat terlalu kaget. Beruntunglah percakapan itu segera berhenti begitu terdengar suara canang dipukul. Tarian akan dimulai sebentar lagi.

__ADS_1


“Biarkan daku menutupi matamu, Saudara.”


Mantingan mendengar suara di belakangnya. Ia menganggukkan kepalanya tanpa merasa perlu untuk berbalik. “Silakan, Saudari.”


Syahdan dirasakannya kain lembut membebat matanya hingga beberapa lapis. Mantingan tahu bahwa jika ia memaksa kelopak matanya untuk terbuka, maka tidak ada sesuatu apa pun yang dapat dilihatnya selain kegelapan.


Maka segeralah Mantingan menancapkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, yang mampu melihat segala bentuk benda dalam jarak 15 tombak tetapi tidak dengan warnanya. Hanya tampak warna merah, hijau, kuning dalam penglihatannya itu. Meskipun sama sekali tidak dapat digunakan untuk menikmati pemandangan yang ada, Ilmu Mendengar Tetesan Embun justru memberi penglihatan yang lebih baik ketimbang mata dalam jarak tersebut.


Lima perempuan wayang yang Mantingan ketahui bahwa salah duanya adalah Chitra Anggini dan Kartika mulai berjalan dengan berlenggak-lenggok menuju tengah lapangan, meski tidak benar-benar tepat di tengahnya sebab tempat itu telah ditempati oleh api unggun yang berkobar menebar hawa panas. Gelang-gelang di kaki mereka bergemerincing mengiringi setiap langkah.


Terlebih dahulu mereka menghadap dan menjura kepada selusin pendekar dari Kelompok Kelewang Darah, sebelum berbalik dan menjura kepada perempuan-perempuan wayang yang berbanjar di sisi yang berbeda. Melalui penerjemahan bunyi menjadi bentuk, Mantingan dapat melihat bahwa Chitra Anggini secara khusus melirik kepadanya.


Mantingan tersenyum lebar dalam benaknya, ia mengandaikan bahwa Chitra Anggini telah mengetahui bahwa dirinya dapat melihat dirinya meski dengan mata tertutup. Namun, Mantingan tidak yakin bahwa Citra Anggini mengetahui cara dirinya dapat melakukan hal itu.


Tabuhan mulai ditabuh sebagai permulaan. Para penari mengangkat kedua lengannya ke atas, dan dengan pelan mengentakkan kakinya ke tanah. Gelang-gelang di kaki mereka lantas bergemerincing, menjadi perpaduan yang khas dengan suara tabuhan. Mantingan dengan jelas mengetahui bahwa suara semacam ini memang dibuat sedemikian rupa untuk mengundang g*irah seseorang.


Lengan kanan mereka mulai diturunkan hingga sebatas dada. Mereka menjulurkannya ke samping kanan pula. Ketika itulah suara kecapi dan kerincingan mulai terdengar.


Setelah lengan, kini mereka mengulurkan sebelah kakinya ke sisi kanan sebelum melompat dan berputar di udara satu kali. Saat kembali mendarat ke tanah, kedua lengan mereka telah direntangkan ke samping. Suara-suara yang berasal dari seluruh ayat bebunyian semakin kencang terdengar. Tarian yang sebenarnya baru akan dimulai, ketika Mantingan mendengar suara kelebatan-kelebatan dari arah hutan di belakangnya!

__ADS_1



__ADS_2