Sang Musafir

Sang Musafir
Pasar Berpanggung


__ADS_3

PERADABAN. Begitulah Mantingan, Chitra Anggini, dan Munding Caraka kembali memasuki peradaban setelah sekian lamanya hanya menatap rimba hijau. Lebih-lebih lagi pada Mantingan, yang belum melihat peradaban semenjak dirinya masuk ke Gaung Seribu Tetes Air. Telah terlampau banyak purnama lamanya.


Di desa ini, orang-orang berlalu-lalang, ada yang berpakaian ringkas dan ada pula yang berpakaian mewah.


Pedati-pedati bergerak lambat, ditarik kerbau yang malas-malasan sebab jalannya terhalang keramaian. Sama seperti saihnya yang bersandar malas sambil menjepit batang rumput di kedua belah bibirnya.


Para pedagang berteriak menawarkan dagangannya dengan bahasa daerah yang tidak terlalu dapat Mantingan mengerti.


Para pembeli menawar, tak kalah kerasnya dengan suara pedagang.


Semakin ramai lagi oleh anak-anak berkeluyuran bersama kawannya seraya mengangkat mainan yang baru saja dibeli, itu pedang-pedangan dan golok panjang, mereka sedang berlagak seperti pendekar. Mantingan tersenyum.


Bangunan di pasar ini serba berpanggung. Setengah depa atau kurang dari permukaan tanah. Namun, sebagian besar perdagangan dilakukan tanpa bangunan, hanya sekadar menggelar tikar anyaman daun pandan.


Chitra Anggini menutupi kepala, wajah, hingga batas lehernya dengan kain selendang. Sedangkan Mantingan membeli dua buah caping, bukan untuk menutupi wajah, tetapi semata-mata agar terlindung dari terik matahari maupun rintik hujan nantinya. Satu caping untuk dirinya sendiri, dan satu caping lainnya untuk Chitra Anggini—meski perempuan itu menolak untuk memakainya di pasar ini.


“Dikau punya uang, bukan?”


Chitra Anggini menganggukkan kepalanya. Hanya mata dan hidungnya saja yang tampak dari wajahnya. Namun dengan lekuk tubuhnya yang sempurna, kejelitaan Chitra Anggini sama sekali tidak tertutupi.


“Tentu saja daku punya. Banyak malahan.” Chitra Anggini menunjukkan pundi-pundi uang di pinggangnya. “Itu berarti, dikau akan meninggalkanku?”


Mantingan menganggukkan kepalanya. “Daku hendak membelikan sesuatu untuk Munding. Kawan kita yang satu ini telah banyak berjasa. Setelah sekiranya waktu satu peminuman teh terlampaui, maka kita harus sudah berkumpul di gapura pasar.”


Chitra Anggini memandang ke sekitar dengan was-was. “Ini terlalu ramai bagiku.”


“Di Koying, akan jauh lebih ramai lagi.” Mantingan menolaknya.


“Bagaimana jika ada pendekar yang menyerangku?”

__ADS_1


Mantingan mengangkat alis. Memandang perempuan itu dengan heran. “Kemungkinannya sangat amat kecil. Pertama, dikau tidak terlihat membawa senjata sama sekali. Kedua, parasmu itu bagai telah menyatakan bahwa dirimu bukanlah pendekar. Ketiga, jika memang ada sesuatu yang mencurigakan, terimalah ini ....” Mantingan mengeluarkan selembar Lontar Sihir dari dalam kotak penyimpanannya. “Patahkanlah lontar ini, nanti daku tahu bahwa dikau sedang dalam bahaya, dan dapat pula segera melacak keberadaanmu.”


Chitra Anggini menerima Lontar Sihir itu sambil menarik napas panjang. Berusaha mengumpulkan keberanian. “Baiklah. Sepeminuman teh, kita bertemu di gapura pasar. Dan jika dalam waktu itu diriku tidak juga terlihat, maka segeralah cari daku, bisa saja daku diserang dengan ilmu totokan hingga tidak sempat mematahkan Lontar Sihir yang dikau berikan ini.”


Mantingan menganggukkan kepalanya sebelum meraih tali kekang Munding Caraka. “Sampai jumpa lagi, Chitra.”


“Sampai jumpa, Mantingan. Dan terima kasih atas pujiannya.”


Mantingan yang baru saja berjalan beberapa langkah itu lantas menoleh sebentar ke arah Chitra Anggini. Kembali memandang heran. Pujian apa?


***


“Makanan istimewa untuk kerbau? Memangnya ada? Tetapi jika awak ingin masakan kerbau istimewa, biar kutunjukkan kedai di seberang jalan sana. Oi, rasa daging kerbau di sana sedap dan gurih sekali! Sahaya selalu membeli gulai kepala kerbau satu pekan sekali di kedai itu!”


MANTINGAN melirik Munding yang entah mengapa mengambil langkah surut.


“Bukan masakan, Paman, tetapi makanan untuk kerbau. Semacam tetumbuhan yang menyehatkan, apa saja, asalkan aman dan enak untuk dimakan kerbau. Adakah itu?”


Peternak yang merupakan seorang pria bercambang dan berdestar itu menggelengkan kapalanya. Dengan tangannya, dia menunjuk tumpukan rumput segar di samping kandang.


“Ongng ....”


Mantingan menoleh ke arah Munding sambil menggeleng pelan. “Tidak, Munding. Daku akan tetap carikan tetumbuhan itu untukmu.”


“Oi, awak bisa berbahasa kerbau?” Peternak di depannya itu menoleh penasaran ke arah Munding. “Seumur-umur sahaya menjadi peternak, belum pernah bisa bercakap dengan hewan ternak. Jangankan dengan kerbau, dengan kuda yang terkenal pintar pun tidak bisa.”


Tidak tahu harus menanggapi apa, Mantingan hanya bisa tersenyum kaku.


“Tetapi jika awak ingin mencari tetumbuhan menyehatkan, kusarankan untuk pergi ke ujung jalan sana.” Peternak itu menunjuk sebuah toko di ujung jalan pasar. “Di sana ada tabib yang, eh, sulit menyebutnya sebagai tabib. Tetapi betapa pun buruknya, dia tetap menjual tetumbuhan aneh kepada siapa pun yang bersedia membayar. Barangkali dikau berminat.”

__ADS_1


Mantingan lekas menjura. “Terima kasih, Paman, daku akan pergi ke sana.”


“Nah, baiklah. Jika awak lapar, jangan lupa mampir ke kedai di seberang jalan itu untuk mencicipi betapa lezatnya gulai kerbau!”


Mantingan tertawa pelan dan mengatakan bahwa dirinya sedang tidak lapar. Lagi pula setelah berkawan dengan Munding, dirinya telah kehilangan selera untuk memakan daging kerbau. Daging sapi atau anoa mungkin tidak masalah, tetapi tidak dengan daging kerbau.


Mantingan kemudian. Berjalan meninggalkan peternakan kecil itu bersama dengan Munding. Berjalan lambat menuju toko di ujung jalan sana, sesuai dengan arahan si peternak.


Jalanan pasar teramat sangat ramai, sehingga Mantingan dan Munding bergerak bagaikan siput. Melangkah satu-dua dengan pendek. Berdesak-desakan. Menghadapi ucapan keberatan dari pengunjung pasar lain, mengeluhkan aroma badan Munding yang teramat tidak sedap.


Membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama, tetapi pada akhirnya mereka sampai juga.


Pintu toko itu tertutup, jendela-jendela pun tertutup. Benar-benar seperti tidak berpenghuni. Tetapi di badan pintu toko tersebut, terdapat tulisan beraksara Pallawa yang isinya sedemikian:


Jikalau ingin berlanggan, buka dan masuk saja.


Mantingan agak ragu. Mestikah dirinya meninggalkan Munding di luar sini? Membawa kerbau masuk ke dalam toko itu dapat dianggap tidak sopan, terlebih-lebih lagi dengan kerbau bau dan dekil. Sungguh, Mantingan bukannya takut Munding diculik atau apalah. Dirinya hanya takut jika Munding mengamuk untuk suatu alasan, pastilah akan membuat seluruh pasar menjadi porak-poranda. Jika sudah seperti itu, urusannya bukan main-main lagi.


“Bawa masuk saja kerbaumu itu. Sudah banyak yang melakukannya.”


Mantingan memandang pintu toko tepat di depannya itu dengan waspada. Suara itu muncul dari sana. Suara wanita tua. Apakah orang di dalam toko telah mengawasinya sedari tadi? Dan sekalipun iya, bagaimanakah orang itu bisa membaca pikirannya? Mantingan merasa harus memasang kewaspadaannya benar-benar.


“Aih, lama sekali dikau. Masuklah cepat sebelum lebih banyak lagi yang memperhatikan dikau. Jangan sampai mereka menaruh curiga!”


Mantingan mendorong pintu itu tanpa banyak bicara lagi. Ruangan di dalamnya teramat sangat gelap, bagai tidak tersentuh cahaya semacam apa pun jua. Tidak terlihat apa-apa selain kegelapan itu sendiri. Mantingan segera memberi tanda kepada Munding untuk masuk ke dalam toko.


___


catatan:

__ADS_1


Double up untuk malam Minggu! Jangan lupa dukung saya di karyakar*a. com/westreversed



__ADS_2