Sang Musafir

Sang Musafir
Perguruan Angin Putih


__ADS_3

Lima pendekar yang mengawal Mantingan melesat hingga sampai dirinya di dekat Mantingan, dua pendekar di dua sisi Mantingan dan satu yang tersisa berada di depannya. Mereka mengimbangi kecepatan kuda. Mantingan tahu tanpa ragu bahwa dirinya sudah mendekati pusat wilayah Perguruan Angin Putih.


Kabut perlahan menghilang, hingga hampir sepenuhnya menghilang. Jalanan terus lurus ke depan di antara pepohonan, cahaya rembulan menembus reranting dan menyinarinya.


“Kita sudah dekat, persiapkan dirimu.” Salah satu dari pendekar itu berkata. “Kuharap engkau bukan mata-mata.”


Mantingan mengernyitkan dahi bingung. Mengapa baru sekarang mereka mencurigai Mantingan sebagai mata-mata? Mengapa tidak sedari awal saja? Bukankah dengan begitu sangat berbahaya, kalau saja Mantingan mata-mata sungguhan?


Bukan mereka saja yang curiga, tetapi Mantingan juga mencurigai mereka. Mantingan merasa, bahwa Perguruan Angin Putih tidak mungkin mungkin begitu lemah pertahanannya, pastilah mereka telah menyiapkan sesuatu untuk Mantingan, entah itu jebakan atau semacamnya. Tetap saja banyak pertanyaan di kepala Mantingan yang tidak bisa dijawab sekarang ini, maka dari itu Mantingan sedianya selalu menunggu sambil terus waspada menggenggam pedangnya.


Mereka melewati sebuah gapura kecil, terlihat sudah tua tetapi terawat. Sejak melewati gapura itu, kaki kuda putih Mantingan menginjak jalanan yang berbata, karena memang dari gapura itu hingga jalan seterusnya dilapisi bata-bata putih. Dedaunan kering yang tadi menutupi jalanan kini tiada terlihat banyak di jalan berbata, dapat diperkirakan sering dibersihkan dan terawat.


Dari kejauhan, Mantingan dapat melihat titik-titik cahaya kuning, tanda -tanda kehidupan ada di depan sana. Melihat itu membuat Mantingan sangat senang. Setelah melewati hutan berkabut dingin yang sangat sunyi, lalu bertemu dengan bangunan-bangunan manusia tentu akan membuatnya senang. Mantingan seolah menemukan kawan-kawannya di sini, walau ia tak mengenal siapa orang-orang di sana, setidaknya mereka adalah manusia dan bukan kabut dingin atau pohon bisu.


Semakin mereka mendekati titik-titik cahaya itu, semakin pula Mantingan melihat rupa sebenarnya dari bangunan-bangunan itu. Dugaan Mantingan salah jika ia menduga bahwa hanya ada dua-tiga bangunan sederhana saja, karena yang dilihatnya sekarang mungkin saja berjumlah lebih dari dua ratus bangunan.


Melihat ini membuat Mantingan teringat pada Cikahuripan, di mana bangunan-bangunan di sana cukup banyak dan semuanya tertata rapi. Sama seperti bangunan-bangunan Perguruan Angin Putih yang ia lihat kali ini. Yang meskipun malam hari tetap terlihat indah. Rerata bangunan itu berwarna putih, sesuai dengan nama perguruan mereka. Bendera hitam perguruan yang berlambang garis-garis putih bergelombang mereka terus berkibar bagaikan diterpa angin ribut, padahal sama sekali tidak ada angin di sana. Itu cukup meyakinkan banyak orang, bahwa inilah Perguruan Angin Putih!

__ADS_1


Kuda yang ditunggangi Mantingan berhenti lalu meringik pelan tepat di depan pintu masuk perguruan. Pendekar-pendekar yang mengawal Mantingan berhenti dan mengatakan bahwa di dalam perguruan mereka tidak diperkenankan menunggang kuda, kecuali dalam urusan darurat.


Maka Mantingan melompat turun dari kudanya, dan kuda itu meringik sekali lagi sebelum pergi dari sana. Mereka lalu berjalan kaki ke depan pintu masuk perguruan, sedangkan perguruan itu sendiri dikeliling pagar jeruji. Di setiap jeruji itulah bersinar cahaya putih yang lembut, selembut cahaya bulan, itulah yang menjadikan perguruan ini tampak lebih indah.


Di depan pintu masuk itu salah satu pendekar mengetuknya dua kali, lalu secara misterius muncul garis-garis cahaya bintang di pintu masuk itu. Perlahan pintu besar itu terbuka sendirinya.


Pendekar-pendekar itu berjalan masuk, Mantingan mengikuti mereka.


Di tengah malam hari seperti ini Perguruan Angin Putih terlihat sepi. Hanya ada Mantingan dan lima pendekar yang berjalan di sana.


Rupa bangunan-bangunan di Perguruan Angin Putih ini sama seperti bangunan-bangunan di Javadvipa lainnya walau hampir segalanya berwarna putih. Ada bangunan-bangunan berpanggung, ada pula bangunan bertingkat. Tata bangunan di perguruan ini juga terbilang rapi, di mana bangunan yang lebih tinggi ditempatkan di tengah, sedangkan bangunan rendah berada di pinggiran, sehingga hampir seluruh bangunan dapat dilihat Mantingan.


Mantingan terus digiring melintasi jalanan di tengah banyaknya bangunan indah. Selain bangunan, banyak keindahan lain yang dilihatnya, seperti kolam-kolam penuh teratai berisi ikan mas, atau pohon teduh besar yang di bawahnya terdapat rak-rak berisi buku.


Setelah masuk semakin ke dalam, Mantingan melihat beberapa tempat pelatihan besar, sungguh terkagum-kagum Mantingan melihat itu.


Namun, tiba-tiba saja dada Mantingan merasakan sakit yang cukup dalam. Bukanlah itu penyakit tubuh, melainkan penyakit dalam pikiran, dalam benaknya. Dadanya terasa begitu sesak. Melihat keindahan ini sama saja melihat bayangan Rara, yang meskipun adalah bayangan kabur saja tetapi sudah sangat menyesakkan dada Mantingan.

__ADS_1


Mantingan seakan baru saja melihat Rara sedang berdiri di tepi kolam, melambaikan tangan dan tersenyum padanya.


Kembalilah Mantingan teringat pada tujuannya yang berhasil mengantarkan dirinya sampai di sini, untuk membalaskan kematian Rara. Kematian Rara tidak adil, dan dalam hatinya, Mantingan bersumpah untuk sungguh-sungguh melatih diri.


Dan kini Mantingan mulai mempertimbangkan kemungkinan siapa saja yang telah membunuh Rara-nya, dan kemungkinan terbesar itu jatuh pada Penginapan Tanah. Andaikata Mantingan telah menjadi pendekar kuat nantinya, maka tempat pertama yang ia tuju adalah Penginapan Tanah.


“Karena hari masih malam, kami akan membawamu sampai di tempat rehat. Esok pagi menjelang siang, salah satu dari kami akan menjemputmu,” kata salah seorang dari mereka.


Mereka berhenti pada sebuah bangunan berpanggung kecil. Bangunan yang kecil-kecil keladi. Biarpun kecil, tetapi sangatlah indah. Kayu-kayu putih bangunan itu mengilat diterpa cahaya rembulan dan cahaya obor, dan tiang-tiang penyangganya berbentuk bundar. Mereka tidak sembarangan membikin bangunan ini, dan bangunan lainnya pun setara indahnya.


“Perlu kau ketahui, Perguruan Angin Putih adalah perguruan yang bersahabat, maka anggaplah ini seperti rumah sendiri, dan perlakukan orang lain seperti kawanmu sendiri.”


Bagaimana pendekar itu bisa berkata sedemikian padahal sikapnya sendiri tidak menunjukkan pertemanan apalagi persahabatan.


Tetapi bukan tidak mungkin mereka adalah prajurit khusus, di mana biasanya prajurit khusus bersikap dingin atau datar-datar saja. Bukan tidak mungkin pula murid-murid perguruan ini bersikap sangat ramah, melebihi ramahnya orang-orang desa.


Setelah pendekar itu selesai berkata, mereka berkelebat pergi. Menghilang begitu saja. Mantingan tersenyum canggung, menaiki tangga, lalu membuka pintu rumah rehat itu.

__ADS_1


Tidak perlu dijelaskan lagi betapa nyamannya berada di dalam bangunan itu. Rumah rehat itu memiliki tiga sekatan, Mantingan akan menjelajahi seluruh bangunan esok hari, dan untuk malam ini ia akan beristirahat di sekatan kedua.


__ADS_2