Sang Musafir

Sang Musafir
Sungai; Racun dari Pendekar Tak Dikenal


__ADS_3

SEKALI LAGI Mantingan menganggukkan kepalanya. “Semoga saja dia tidak menganggap masalah ini terlalu serius.”


“Aku rasa api amarahmu sudah padam, Mantingan.” Rara tertawa pelan. “Jadi, usailah tugasku di sini.”


“Kau akan pergi lagi, Rara?”


“Ya. Sampai kamu membutuhkanku, aku akan kembali lagi.”


“Aku membutuhkanmu di setiap helaan napasku.” Mantingan buru-buru membalas.


“Kata-katamu terlalu indah untuk telingaku, Mantingan.”


Mantingan menoleh pada dahan di bawahnya, tidak ada lagi Rara yang duduk di sana sembari mengayunkan kaki. Mantingan menghela napas panjang, hanya bisa tersenyum tipis sebelum terbang hinggap ke pohon lainnya untuk menyusul Bidadari Sungai Utara.


Mantingan mengikuti Bidadari Sungai Utara sampai matahari muncul di celah perbukitan. Saat itulah ia bisa melihat keadaan Bidadari Sungai Utara lebih jelas. Betapa dirinya merasa prihatin sekaligus merasa ingin tertawa juga.


Bidadari Sungai Utara terlihat sangat kumal. Kumal sekumal-kumalnya. Pakaian merahnya penuh dengan corak tanah. Bahkan pada bagian bawahnya, berkerak oleh lumpur. Wajah Bidadari Sungai Utara pun tidak kalah buruknya. Terlihat gusar saat melepas cadar.


“Gara-gara si br*ngsek Mantingan aku jadi seperti ini.”


Mantingan hanya bisa memuaskan rasa ingin tertawanya di dalam hati. Biarlah Bidadari Sungai Utara belajar mandiri mulai saat ini. Saat bersama dirinya, pakaian dan tubuh Bidadari Sungai Utara tidak akan sampai berkerak lumpur seperti itu.


Kini Mantingan memang bersamanya namun tidak membantunya. Setidaknya ia bisa mendapat satu pelajaran lagi, yaitu menghormati hasil usaha orang lain, tidak melihatnya dengan sebelah mata saja.


Saat sedang asyik mengawasi Bidadari Sungai Utara, Mantingan mendengar suara deburan air dari kejauhan. Begitupun dengan Bidadari Sungai Utara di bawah sana, wajahnya menunjukkan tanda kegembiraan. Tanpa ragu, gadis itu berlari menerobos kubangan air di depannya, melangkahkan kaki menuju arah suara deburan itu.


Mantingan mengangkat dua alisnya sebelum pergi mengikuti Bidadari Sungai Utara.

__ADS_1


Memang benar, ada sungai yang tak jauh dari jalan. Namun jika ingin pergi ke pinggiran sungai, Mantingan harus memisahkan diri dari jalanan. Jalanan berbelok saat ia mendekati sungai, menuju jembatan yang mungkin ada di tempat lain.


Bidadari Sungai Utara menerobos semak belukar tidak sabaran. Melihat ini, Mantingan yang tengah bersembunyi di atas pohon tak jauh darinya itu merasa bingung sekaligus khawatir. Kebingungannya adalah mengapa Bidadari Sungai Utara tidak bisa menggunakan kemampuan pendekarnya. Dan ia khawatir jika hal itu tidak bisa dipulihkan lagi.


Sebelum Bidadari Sungai Utara sampai di tepi sungai, Mantingan telah lebih dahulu sampai di sana. Masih tetap dari atas pohon, Mantingan memastikan sungai di bawahnya itu aman dan layak untuk digunakan.


Sungai itu merupakan sungai dangkal berbatu yang aliran airnya cukup deras. Pantas saja deburannya terdengar sampai jauh. Tidak ada makhluk berbahaya di sepanjang tepi sungai. Tidak ada buaya besar atau harimau yang sedang minum, hanya ada katak melamun.


Tidak ada juga benda-benda berbahaya seperti batu tajam, logam bekas peperangan, atau tanaman beracun.


Maka setelah dipastikan aman, Mantingan melompat ke pohon lain dengan gerakan selembut kapas. Pohon yang menjadi pilihannya jauh lebih rindang agar dirinya bisa bersembunyi.


Mantingan memastikan tempatnya cukup tersembunyi sebelum akhirnya berbalik menghadap ke arah lain. Dua bundelannya dicangklongkan pada sebuah patahan dahan, sehingga dirinya bisa pula beristirahat.


Yang selanjutnya Mantingan dengar hanyalah sorakan gembira Bidadari Sungai Utara dan suara deburan air. Mantingan merasa semuanya akan berjalan baik-baik saja, maka ia menutup mata dan mencoba untuk menggunakan Ilmu Ikan Tidur.


Mantingan membuka matanya setelah Bidadari Sungai Utara berteriak keras.


“Jika kau ada di sini, kuperingatkan bahwa aku tidak akan mudah ditipu lagi olehmu!” Suara Bidadari Sungai Utara menggema. “Setelah apa yang kauperbuat padaku malam tadi, kupastikan diriku tidak akan lemah lagi.”


Mantingan memutar punggungnya untuk melirik Bidadari Sungai Utara di bawahnya sekaligus untuk memastikan gadis itu tidak sedang berbicara padanya. Namun sepertinya, Bidadari Sungai Utara tidak sedang berbicara pada Mantingan. Pandangan gadis itu berpencar, seolah masih mencari wujud orang yang ingin ia ajak bicara.


“Jika kau punya maksud mengintipku, maka kau harus menggigit ibu jarimu seperti anak kecil karena kau tidak akan mendapatkannya!”


Mantingan melihat gadis itu perlahan mundur ke arah sungai. Tubuhnya terbenam sampai hanya kepalanya yang dibiarkan kepalanya saja yang menyentuh udara. Bibirnya mengulas senyum lebar.


“Apa kau senang? Kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan!”

__ADS_1


Mantingan kembali berbalik menatap arah yang berkebalikan dari sungai. Tanpa disadari dahinya berkerut bingung. Dalam benaknya, Mantingan bertanya-tanya. Siapakah pendekar yang dimaksudkan Bidadari Sungai Utara? Dan apakah yang di perbuat pendekar itu sehingga Bidadari Sungai Utara merasa telah ditipu?


Sepertinya banyak hal yang dilakukan Bidadari Sungai Utara selama Mantingan tak sadarkan diri. Apakah dirinya menemui pendekar lain sebelum turun ke bawah untuk menikmati tuak? Mantingan berusaha mengusir pikiran buruk itu, namun ia diharuskan untuk waspada dan mencurigai siapa pun yang telah berhubungan dengan Bidadari Sungai Utara.


“Apakah racun yang kuminum semalam itu tidak kebal air sungai? Kebal atau tidak kebal, aku akan minum air sungai ini!”


Mantingan hampir tersentak kaget. Bidadari Sungai Utara meminum racun? Apakah karena racun itulah dirinya tidak bisa menggunakan tenaga dalam? Mantingan menemui titik terang, dengan cepat pula ia menyadari bahaya apa yang mengincar Bidadari Sungai Utara saat ini!


Bahaya itu bukan terletak pada racun yang diminum Bidadari Sungai Utara. Mantingan mengenal racun yang dapat melumpuhkan pusat tenaga dalam seorang pendekar. Sebenarnya racun itu tidak memerlukan penawar, sebab sangat mudah untuk membersihkannya dari dalam tubuh. Namun sepertinya, Bidadari Sungai Utara tidak tahu cara membersihkan racun itu.


Mantingan juga tidak perlu berlebihan mencemaskan racun tersebut. Sebab tanpa dibersihkan atau diberikan penawar sekalipun, racun itu akan hilang dengan sendirinya setelah tiga hari.


Racun umum bertingkat rendah. Dimaksud untuk melumpuhkan Bidadari Sungai Utara tanpa merusak tubuhnya.


Bukan itulah yang Mantingan khawatirkan. Bahaya terletak pada pendekar yang berniat menangkap gadis itu.


Siasatnya mudah saja ditebak. Lumpuhkan sasaran menggunakan racun, buntuti sasaran, lalu tangkap saat sasaran tidak berdaya. Mantingan kemudian menyadari betapa dirinya datang tepat waktu tadi malam. Jika ia terlambat sedikit saja, mungkin saja dirinya tidak akan bisa menemukan Bidadari Sungai Utara untuk selamanya.


Kini Mantingan membuka matanya lebar-lebar. Memasang tatapan yang tajam. Kemungkinan besar, pendekar yang melakukan itu pada Bidadari Sungai Utara masih ada di tempat ini. Menunggu Mantingan lengah mengawasi gadis itu.


___


catatan:


Sampai episode 211 nanti UNEDITED.


Follow IG: @westreversed

__ADS_1


__ADS_2