Sang Musafir

Sang Musafir
Pendekar-Pendekar Suruhan


__ADS_3

Selesai menotok, pendekar itu tidak dapat bergerak, setidaknya sampai sehari penuh atau sampai seseorang melepas totokan itu. Mantingan membuat totokan rumit, yang sulit juga dimengerti orang-orang lain. Melepas totokan pada pendekar itu oleh pendekar lain bukanlah hal yang mudah.


Mantingan kembali berdiri memunggungi Dara, bersiap menerima serangan berikutnya. Tetapi tiba-tiba saja Dara berseru kaget. Mantingan menoleh ke belakang, menemukan Dara berusaha membantu pendekar yang baru saja Mantingan totok jalan darahnya.


“Randu! Randu! Bangun!” Dara lalu menoleh pada Mantingan. “Mantingan, telah kau apakah dia?”


“Aku menotok jalan darahnya, ada apa?”


“Dia ini pengawal bayaran, dan dia bekerja di bawahku. Ayo Mantingan, lepas totokannya!”


Mantingan bergerak cepat melepas totokan yang semula telah ia pasang itu, sedang ia merasa pendekar-pendekar lainnya mulai mendekat. Setelah melepas totokannya, pendekar itu bangun dan langsung menyerang Mantingan dengan serangan tapak, inilah upaya terakhirnya setelah pedang dipatahkan. Tetapi Mantingan dengan mudah menghindarinya. Dara lekas menenangkan pendekar itu dan berkata bahwa Mantingan adalah pahlawan baginya.


Pendekar-pendekar lainnya menatap Mantingan dari atas sampai bawah dengan tatapan curiga. Dapatkah orang berpakaian serba ketat seperti Mantingan itu adalah penyelamat Dara? Mantingan lebih pantas disebut sebagai orang berotak miring jika tampangnya seperti itu.


“Dialah yang menyelamatkanku, namanya Mantingan. Kalian harus ingat baik-baik namanya dan wujudnya, hingga tidak akan ada lagi kejadian salah serang seperti ini, paham?”


Mereka hampir serentak menjawab, “Paham.”


“Bagus!” Dara lalu bangkit berdiri di hadapan Mantingan. “Mantingan, kau lihat aku sudah aman-aman saja. Terima kasih atas pertolonganmu, aku berhutang darah dan kehormatan padamu. Sekarang aku tidak akan merepotkanmu lagi, setidaknya untuk saat ini.”


Mantingan tersenyum hangat, “Nyai tidak benar-benar merepotkanmu.”

__ADS_1


Dara membalas senyuman itu. “Sesuai janjiku tadi, aku pasti akan membalas kebaikan dikau. Setiap pekannya, daku akan mengirim bahan pangan, perlengkapan hutan, senjata, bahan bangunan, atau apa pun yang dikau butuhkan.” Dara semakin mendekat lalu berbisik. “Terutama aku akan mengirimimu pakaian, pakaianmu itu membuatku salah tingkah.”


Mantingan tersenyum canggung dan mulai memperhatikan pakaiannya itu. Benar-benar sangat ketat. Itu tidak baik dipandang wanita. Sayang sekali Mantingan baru tahu hal ini setelah melewati hampir satu hari bersama Dara.


“Baiklah! Daku akan pergi, jaga diri engkau baik-baik!”


Dara berjalan meninggalkan Mantingan. Pendekar-pendekar yang merupakan pengawalnya itu juga berjalan di sekitar Dara. Perlahan bayangan mereka menghilang di tikungan jalan, Mantingan menghela napas panjang. Jika ia kembali ke perkemahannya dengan kecepatan manusia biasa, maka pastilah ia akan sampai saat hari sudah gelap. Maka Mantingan putuskan untuk bergerak secepat angin, walau itu akan menguras tenaga dalamnya sangat banyak. Sangat mungkin nanti setelah sampai di perkemahan, Mantingan akan merasakan kelelahan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


***


Benar saja. Mantingan terengah-engah ketika ia sampai di depan perkemahannya itu. Dengan masih mengatur jalan napasnya, Mantingan berusaha keras hingga api unggun menyala. Ia bersamadhi di hadapan api unggun yang berkobar itu. Hangat badannya, dan lebih cepat terisi tenaga dalamnya.


Ada beberapa jenis tenaga dalam, dan yang Mantingan pelajari saat ini adalah tenaga dalam kehangatan. Untuk meraih tenaga dalam hangat ini sebenarnya bisa dilakukan di mana pun, tetapi akan lebih cepat jika berada di tempat yang hangat atau panas. Maka dari itu, Mantingan juga akan menerapkan kegiatan jemur pagi, untuk meningkatkan kualitas inti tenaga dalamnya.


Biasanya Mantingan mempelajari kitab aliran hitam bersama gurunya, Kedai. Hingga jika ada pertanyaan mengganjal akan isi kitab itu, dapat dijawab oleh gurunya. Namun kini setelah berpisah dengan gurunya, siapakah yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu?


Kiai Guru Kedai pernah berkata padanya, “Jika engkau punya pertanyaan, jangan berharap pertanyaan itu dapat cepat terjawab atau dijawab. Karena manusia adalah manusia, yang sering keliru menilai Kebenaran. Sampai Kebenaran itu sendiri menurunkan seorang anak manusia yang akan menyerukan kabar gembira pada khayalak ramai, agar mereka tidak salah menilai Kebenaran.”


Kabar gembira yang dimaksud dengan adalah berita tentang kebangkitan Kebenaran. Itulah sebaik-baiknya kabar gembira ketimbang kabar gembira lainnya. Dan siapakah anak manusia yang hendak diturunkan oleh Kebenaran itu? Pertanyaan itu masih belum dijawab Kiai Guru Kedai sampai sekarang, gurunya itu hanya tersenyum tipis saat Mantingan bertanya akan hal itu.


Mungkin saja pertanyaan itu akan terjawab nanti. Atau malah tidak akan terjawab di depan muka Mantingan. Tetapi pastinya, manusia di masa mendatang akan mengetahui siapa anak manusia penyeru kabar gembira itu.

__ADS_1


Mantingan pernah bertanya, “Apakah kebangkitan Kebenaran hanya akan terjadi satu kali saja, Kiai Guru?”


Sambil menggeleng Kiai Guru Kedai berkata, “Tidak. Kebangkitan Kebenaran dengan Kebangkitan Kesesatan akan terus berulang dan berulang.”


“Apakah dahulu Kebenaran sudah pernah bangkit dan jaya?” Melihat Kiai Guru Kedai mengangguk, Mantingan kembali bertanya, “kekuasaan apakah itu?”


Kiai Guru Kedai tersenyum kecil. “Sudah. Telah ada dua anak manusia penyeru kabar gembira yang berhasil menjayakan Kebenaran. Mereka bersumber dari satu bapak.”


“Satu bapak?”


“Brahma.”


“Brahma?”


Kiai Guru Kedai tertawa pelan dan tidak menjawab lagi. Dan hingga sekarang ini, pertanyaan itu masih belum terjawab bagi Mantingan.


Memikirkan itu membuat Mantingan hampir lupa dengan waktu. Hingga ketika matanya terbuka, tanpa disangka hari telah menjadi terang. Padahal Mantingan merasa hanya memejamkan mata selama beberapa saat saja, tidak lebih dari sepeminuman teh. Tidak lagi kali ini Mantingan akan menyia-nyiakan waktu, karena kemarin telah ia lewatkan perburuan Kembangmas, maka hari ini jangkauan perburuan itu harus lebih luar lagi.


Mantingan lekas bangkit. Sebelum pergi berburu, Mantingan lebih dahulu menyiram dan merawat tanamannya, Bunga Sari Ungu. Bunga tersebut menunjukkan pertumbuhan yang baik, hampir sama baiknya dengan pertumbuhannya di alam liar.


Mantingan mengangguk puas, lalu bergerak ke ruang penyimpanan, memasang perkakas-perkakas berat di tubuhnya. Lalu mulailah pemburuan Kembangmas oleh Mantingan. Perlu diingat, bahwa perburuan yang dilakukan Mantingan bukan untuk membunuh, tapi membudidayakan.

__ADS_1


Mantingan tidaklah seperti pemburu-pemburu lain. Yang maruk. Yang asal untung. Yang tidak memikirkan akibat apa setelah ia berbuat seperti itu. Bukan itu.


__ADS_2