
MEMASUKI halaman Perpustakaan Kotaraja adalah suatu hal yang termat mustahil bagi seorang Astacandala, sedangkan Mantingan tetap masih perlu menjemput Munding Caraka.
Maka dari kejauhan, bersuitlah dirinya untuk memanggil Munding. Suaranya cukup melengking tinggi, yang tentulah tidak Mantingan sertakan pula dengan tenaga dalam sebab telinga orang-orang sungai telaga terlalu jeli untuk dapat mengenali suara yang dihasilkan oleh pendekar dengan begitu mudahnya.
Tak lama berselang, tampaklah seekor kerbau yang berlari pelan menyibak keramaian di sekitar Perpustakaan Kotaraja. Munding Caraka memiliki tubuh yang luar biasa besar serta kekar, membuat orang-orang takut untuk berada di dekatnya. Bahkan para prajurit penjaga pun berkelit menghindar ketika kerbau itu berlari mendekati mereka.
“Oooongng!” Munding Caraka melenguh panjang ketika dirinya hampir tiba di hadapan Mantingan. Napas kerbau itu menderu-deru, tampak sekali dirinya khawatir.
“Daku tidak akan pernah benar-benar meninggalkanmu, Munding.” Mantingan mengelus kepala Munding dengan lembut. “Sekarang marilah kita pergi secepat-cepatnya dan sejauh-jauhnya, daku sungguh tidak nyaman dengan pakaian seperti ini.”
Memangnya siapakah kiranya yang akan merasa nyaman berjalan-jalan di tengah keramaian dengan hanya mengenakan selembar cawat? Satu-satunya yang mampu melakukan hal itu adalah golongan Astacandala, yang memang terbiasa sejak lahir tidak mengenal rasa malu.
Mantingan naik ke atas punggung Munding yang telah dipasangi pelana. Tanpa perlu diminta lagi, Munding segera membawa Mantingan pergi dari tempat itu. Sedangkan orang-orang di sekitar memandang mereka dengan tatap tak percaya.
Tidak satupun di antara mereka menyangka Astacandala itu memiliki seekor kerbau yang cukup bagus seperti itu!
Mantingan mengarahkan Munding menuju gerbang keluar kotaraja. Tentulah kerbau cerdas itu melenguh sekali lagi dengan nada bertanya yang sungguh dapat Mantingan pahami maksudnya.
“Daku ingin berlatih di suatu tempat.” Mantingan tersenyum lebar. “Sekaligus pula kita bawakan daging siluman untuk orang-orang yang kelaparan.”
“Ongng, ongh?”
“Tidak, Munding. Daku tidak akan memakan daging kerbau, apalagi kerbau siluman!” Mantingan mengelus punggung Munding sambil tertawa kecil. Bukankah kerbau itu terlalu cerdas untuk dapat mengerti betapa manusia menyukai daging kerbau sebagai makanan, yang sama saja berarti Mantingan tidak masuk dalam pengecualian?
Setelah keluar dari kotaraja tanpa halangan yang cukup berarti, Mantingan meminta Munding untuk mempercepat pergerakan. Tanpa merasa keberatan sama sekali, kerbau itu berlari kencang di atas jalanan yang membelah hutan. Betapa pun Munding adalah hewan siluman, berlari kencang seperti itu tidak akan membebaninya sama sekali.
__ADS_1
Barulah setelah merasa sudah cukup jauh dari peradaban, Mantingan meminta Munding untuk terbang. Kemungkinan bahwa ada yang melihat mereka terbang tetaplah masih ada, tetapi sekalipun kabar itu tersebar Mantingan tidak akan takut menghadapinya.
Mereka terus bergerak menuju ke sebuah gunung besar yang terletak di sebelah barat dari kotaraja. Itulah Gunung Kelinci!
***
DI sebuah kedai kecil yang terletak di kaki gunung, Mantingan memutuskan untuk beristirahat. Munding diberi makan berupa rumput lereng segar yang katanya jauh lebih berkhasiat sedaripada rumput biasanya. Sedangkan Mantingan sendiri membeli semangkuk bubur hangat serta secangkir teh yang hangat pula.
Tentulah setelah berganti pakaian dan membersihkan diri di air terjun yang terletak agak jauh dari kaki Gunung Kelinci, Mantingan tidak lagi berpenampilan seperti Astacandala. Dirinya kembali pada tampilan semula, seorang Mantingan yang tidak terlalu tampan dan tidak pula terlalu jelek, tetapi selalu memiliki kharisma yang akan membuat siapa pun terpikat. Dengan begitu, dirinya dilayani dengan cukup baik oleh pemilik kedai.
Namun, tujuan Mantingan singgah ke kedai ini bukanlah untuk makan ataupun untuk beristirahat. Di tempat ini, Mantingan berniat mengumpulkan keterangan tentang kawasan yang paling tepat untuk dijadikan tempat berlatih.
Mantingan memiliki ukuran tersendiri untuk menentukan apakah kawasan itu benar-benar tepat untuk berlatih ataukah tidak sama sekali, dan itu tidaklah seperti saat-saat biasanya ia memilih tempat pelatihan yang sunyi dan aman. Kali ini, akan teramat luar biasa. Inilah pula yang menjadi alasan mengapa Mantingan enggan mengungkapkan tujuannya pada Chitra Anggini.
Ketika pemilik kedai sedang berjalan di dekatnya, Mantingan lekas memanggil.
“Daku hanya ingin bertanya tentang beberapa hal di tempat ini, Bapak. Harapannya agar Bapak sudi meluangkan waktu untuk menjawab.” Mantingan balas tersenyum hangat.
“Tanyakan saja, Anak. Diriku sudah tinggal begitu lama di tempat ini. Sedari masih menjadi penggembala hingga kini telah sanggup membangun sekadar kedai kecil. Jadi katakan sajalah segala apa yang hendak dikau pertanyakan.”
“Daku hendak bertanya tentang tempat yang paling banyak dihuni oleh hewan siluman, di manakah kiranya tempat seperti itu di sekitar sini, Bapak?”
Raut wajah bapak pemilik kedai itu berubah. Matanya menatap Mantingan dari atas sampai bawah, sebelum akhirnya berkata, “Apakah Anak adalah pendekar pemburu?”
Mantingan menganggukkan kepalanya pelan. “Boleh dikata sedemikian, Bapak.”
__ADS_1
“Tidakkah Anak telah mendengar kabar?”
Raut wajah Mantingan pun berubah menjadi lebih bersungguh-sungguh. Bila bapak pemilik kedai telah mengucapkan kata pendekar sekaligus kabar, pastilah apa yang hendak disampaikannya itu adalah kabar dari dunia persilatan!
“Bapak duduklah terlebih dahulu. Daku belum mengetahui kabar yang Bapak bicarakan itu.” Mantingan mempersilakan, pemilik kedai itu pun menyanggupi.
“Sungguhkah Anak ingin mendengar kabar ini, meski itu mungkin saja dapat mengubah tujuan Anak yang semula?”
Mantingan menganggukkan kepala sambil memberi tanda pada bapak pemilik kedai untuk mengungkapkannya segera. Maka begitulah kemudian bapak pemilik kedai bertutur panjang dan lebar. Ucapannya bagai air terjun yang terus mengalir tanpa kenal henti sebelum air itu benar-benar habis.
“Sekitar satu pekan sebelum hari ini, kedaiku masih ramai pengunjung. Tidak seperti sekarang, tiada pelanggan lain selain dikau dan kerbau dikau. Rerata pengunjung yang datang ke kedaiku adalah pendekar-pendekar pemburu yang hendak memburu siluman di Gunung Kelinci ini. Memang telah sedari dulu Gunung Kelinci terkenal dihuni banyak siluman berharga.
“Namun, sekitar lima hari yang lalu, seorang pengepul sarang burung menemukan mayat-mayat orang berjumlah belasan yang semuanya berada dalam keadaan mengenaskan sekali. Badan mereka tercabik-cabik, bagai sebuah mulut besar berisi gigi tajamlah telah melakukan itu.
“Pendekar-pendekar pemburu lain berdatangan untuk melihat itu dengan mata kepala mereka sendiri. Maka begitulah kemudian kabar dengan cepat tersiar ke mana-mana. Dikau pasti mengetahui bahwa angin berembus teramat kuat di dunia persilatan, membawa kabar yang betapa pun kecilnya.
“Banyak yang beranggapan bahwa hal tersebut disebabkan oleh hewan siluman dengan kepintaran luar biasa yang hanya berniat mengancam para pendekar pemburu untuk tidak datang ke kawasan itu lagi. Kenyataan bahwa mayat-mayat itu tidak dimakan adalah sesuatu yang teramat mengejutkan. Namun, anggapan sekaligus peringatan itu tidak terlalu dihiraukan. Para pendekar pemburu tetap berdatangan, sebab betapa pun daging hewan siluman adalah mata pencaharian mereka, dan berburu siluman adalah pekerjaan mereka.
“Namun tepat tiga yang hari lalu, kembali lagi Gunung Kelinci gempar bukan main. Ratusan mayat pendekar pemburu ditemukan di tempat yang sama dalam keadaan yang sama pula! Tubuh mereka tercabik-cabik tanpa ada satupun bagian yang termakan. Utuh tapi berceceran! Sungguh mengenaskan jadinya.
“Kabar itu tersebar luas. Kali ini angin di dunia persilatan lebih cepat lagi membawa kabar. Para pendekar pemburu berkemampuan rendah enggan lagi berburu di Gunung Kelinci, sebab bagi mereka mati di tangan hewan adalah sesuatu yang amat sangat memalukan. Sedangkan pendekar-pendekar berkemampuan tinggi justru berdatangan untuk menaklukkan siluman apa pun yang berhasil mengalahkan ratusan pendekar hanya dalam waktu yang teramat singkat itu.
“Namun sungguh teramat disayangkan, pendekar-pendekar berkemampuan tinggi itu pun ketika ditemukan hanya tinggal mayat yang tercabik-cabik saja. Tidak ada ubahnya dengan pendekar-pendekar pemburu lainnya yang memiliki kemampuan rendah. Bagaikan di hadapan siluman bayang-bayang itu, mereka semua tidak berarti apa-apa.”
____
__ADS_1
catatan:
Episode bulan ini: 16/40