
MANTINGAN langsung menegak seluruh teh di dalam tembikar itu hingga tanpa sisa. Bersih. Kendatipun pahit sekali rasanya, raut wajah pemuda itu tidak menunjukkan perubahan barang sedikitpun.
“Daku masih belum menemukannya. Berikan satu tembikar lagi.” Mantingan kembali meletakkan tembikar itu di atas alas kayu.
Keterkejutan terpancar jelas pada raut wajah Puspa si pelayan. Perempuan itu belum pernah menemukan orang yang mampu menghabiskan satu tembikar teh yang amat pahit dalam satu tegukan sekaligus. Sebagian besar pelanggannya akan menyemburkan teh itu dari mulut mereka sebab tidak mampu menanggung rasa pahitnya. Namun kini telinganya betul-betul tidak salah mendengar, Mantingan meminta secangkir tembikar lagi!
Tidaklah dirinya sebagai pelayan berhak menanyakan apa pun pada pelanggannya. Maka dengan patuh, ia kembali membuat setembikar teh untuk pemuda itu. Dia menenagkan dirinya sendiri dengan perkiraan bahwa setembikar yang pertama adalah untuk membersihkan tenggorokan sebelum benar-benar bisa menikmati tembikar teh yang selanjutnya.
Namun di luar dugaannya, Mantingan kembali melibas habis teh di dalam tembikar itu dalam sekali teguk! Puspa bahkan sampai menahan napasnya.
“Masih pula belum kutemukan.” Mantingan menggelengkan kepalanya. “Tolong satu tembikar lagi.”
Begitulah hal tersebut terus berulang hingga habis sudah daun teh kering di dalam bungkusan kain putih itu ketika Mantingan telah menyelesaikan tembikar yang keduapuluh.
Puspa terlihat amat ketakutan, mengira Mantingan sengaja meminum begitu banyak teh untuk mengakhiri riwayatnya sendiri dengan rasa pahit yang tak terperi. Terlihat bibir pemuda itu telah kehilangan warnanya.
“Masihkah ada yang lain?” Mantingan bertanya dengan suara getir. Lidahnya kelu.
“Tentu saja Penginapan Seribu Cangkir masih memiliki banyak dedaunan teh, Tuan.” Puspa terhenti sejenak. Tampak begitu keras melawan perasaan ragu hanya untuk mengeluarkan kata-kata berikutnya. “Tetapi, Puspa amat tidak menyarankan Tuan meminum teh pahit lagi. Itu dapat membahayakan nyawa Tuan, sedangkan Puspa tidak ingin orang sebaik Tuan harus mati karena teh yang sahaya buat.”
Mantingan terbisu setelah kata-kata itu begitu menusuk benaknya.
“Tuan harus tetap hidup agar Tuan dapat terus menyebarkan kebaikan pada yang lainnya. Janganlah hanya Puspa saja yang merasakan itu.” Air mata perempuan itu menggenang di kelopaknya. Tidak menyangka akan memiliki keberanian untuk mengungkapkan perkataan sedemikian itu.
__ADS_1
Mantingan menghela napas panjang sebelum berkata, “Baiklah, usaikan saja tugasmu di sini. Terima kasih telah sudi melayaniku.”
Maka lekaslah pelayan perempuan itu membersihkan alat-alat kerjanya untuk segera meninggalkan Mantingan di kamar itu. Namun sebelum benar-benar pergi, dengan keberanian yang telah terkumpul dirinya bertanya, “Maafkanlah Puspa yang telah nekad lancang bertanya pada Tuan, tetapi Puspa masih belum mengerti mengapa sedari tadi Tuan seperti mencari-cari sesuatu dari teh yang sahaya buat.”
Sambil tersenyum tipis, Mantingan justru balik melempar pertanyaan, “Dapatkah kiranya dikau menemukan hubung-kait antara dunia persilatan dengan secangkir teh, Puspa?”
“Pikiran sahaya terlalu sempit, Tuan, tetapi biarlah itu menjadi pertanyaan terbesar dalam hidup Puspa untuk segera ditemukan jawabannya.” Dengan hormat, pelayan perempuan itu membungkuk dalam-dalam sebelum pergi meninggalkan kamar tersebut.
***
PAGI buta, Mantingan bersiap meninggalkan penginapan bersama Munding Caraka. Pada badan kerbau itu, telah terikat kotak kayu berisi Sepasang Pedang Rembulan. Mantingan tidak membawa barang apa pun lagi selain Pedang Savrinadeya dan Kitab Teratai.
Barang-barang yang ada di bundelannya telah ia bakar hangus hingga menjadi sekumpulan abu tak bernilai. Kitab-kitab persilatan yang pernah dipelajarinya tak luput dari jilatan api. Betapa pun, kitab-kitab itu sangat berharga hingga-hingga dapat menjadi sumber marabahaya bila sampai jatuh ke tangan pendekar yang salah.
“Puspa mengatakan kepadaku bahwa dikau meminum teh begitu banyak malam tadi, mungkin sebab itulah engkau menolak tawaranku saat ini,” kata ibu pemilik penginapan itu. “Mungkin dikau membutuhkan kehangatan lain? Tungku api di dapur masih menyala bilau dikau mau.”
Mantingan kembali menolaknya dan berkata bahwa ia bisa menghangatkan diri dengan tenaga prana, tidak perlu bantuan dari apa pun atau siapa pun. Ia lekas berpamitan setelah duduk tepat di atas pelana Munding.
“Berhati-hatilah, Pahlawan. Harapan baikku selalu menyertai dikau,” lepas ibu pemilik kedai dengan haru, dirinya tahu betul bahwa mustahil baginya untuk bertemu lagi dengan Mantingan. Padahal, telah ada sosok Kiai Kedai yang dirindukannya dalam diri pemuda itu.
***
DARI atas langit, Kotaraja Koying tampak amat gelap gulita. Benar-benar menandakan betapa kota raya itu sedang berada dalam kejatuhan setelah tindakan makar yang dilakukan oleh Puan Kekelaman. Tidak banyak yang berminat menyalakan lentera-lentera bergemelapan.
__ADS_1
Hanya terdapat satu tempat saja yang bahkan jauh lebih terang dan bergemerlap ketimbang sebelum ada tindakan makar. Itulah Permukiman Kumuh Kotaraja yang justru amat bergembira dengan kematian sang raja. Pula, mereka masih dalam perayaan besar-besaran yang ditunjukkan kepada Pahlawan Muda Kebangkitan.
Mantingan sedikit menyunggingkan senyum senang. Daging siluman yang dibagikannya dapat berdampak amat banyak pada para penduduk di lingkungan tersebut. Meskipun hanya makan sepotong, daging itu akan membuat seseorang bertenaga dan tidak merasa lapar selama lebih dari tiga hari, itu lebih dari cukup untuk membuat para penduduk Permukiman Kumuh Kotaraja diminati sebagai pekerja kasar.
Dengan adanya penghasilan uang, perlahan-lahan permukiman miskin itu dapat bangkit kembali.. Terlebih lagi setelah Puan Kekelaman dengan segenap jaringan bawah tanah miliknya berhasil mengusir jaringan pendekar penjual obat-obatan terlarang yang semula mengakar kuat di tempat itu.
Setidaknya, kebangkitan Permukiman Kumuh Kotaraja menjadi satu-satunya kebahagiaan yang dapat Mantingan rasakan saat ini. Namun sayangnya, ia harus meninggalkan kotaraja secepat ini. Sehingga tidaklah sedikitpun dapat ia kabarkan kepada para pemukim di lingkungan itu agar tidak membangun kuil untuknya. Dirinya bukanlah dewa atau orang yang sudah mati sehingga mesti dikirimi doa serta sesembahan setiap harinya.
Munding Caraka terus melaju dengan kecepatan sedang-sedang saja di atas langit. Sengaja dirinya terbang di bawah mega-mega, jauh lebih rendah dari biasanya, sebab tidak ingin Mantingan kehilangan terlalu banyak tenaga prana demi membuat tubuhnya tetap hangat.
Sedangkan dirinya sendiri telah menjelma menjadi kerbau merah berbulu amat lebat, sehingga terpaan udara dingin di pagi buta bukanlah menjadi masalah bagi dirinya. Memang seperti itulah tubuhnya dirancang sebagai siluman terbang.
Mantingan menatap kotaraja untuk yang terakhir kalinya sebelum Munding membawanya ke tengah teluk yang hanya diisi kegelapan semata.
Matahari tidak kunjung terbit jua di jihat timur. Langit menjadi sungguh gelap-gulita tanpa keberadaan bintang-gemintang maupun rembulan, sebab memang awan serta kabut tebal membungkus kotaraja dan sekitarannya dengan rintik-rintik hujan.
Meskipun keadaan di sekitarnya sungguh teramat gelap, Mantingan masih dapat menemukan keberadaan pulau di tengah teluk tersebut dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun. Bersama Munding Caraka, mereka bagaikan kelelawar terbang yang tetap dapat menentukan arah tanpa menabrak sesuatu apa pun meskipun keadaan sedang amat kelam.
____
catatan:
Di sini, saya akan membebaskan pada para Pembaca yang Budiman untuk membayangkan rupa Chitra Anggini sebagaimana yang diinginkan atau terlintaskan. Jika kemarin ada yang berkata bahwa Chitra Anggini mirip dengan Anya Geraldine, maka bayangkan saja sedemikian. Bebaskan!
__ADS_1