
DESA itu memanglah kecil, bahkan boleh dikata terlalu kecil, sebab tidak ada bangunan penginapan di sana. Oleh seorang penduduk, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara disarankan untuk menginap di warung makan.
“Desa kami tidak jarang disinggahi pengembara-pengembara yang mencari jalan pintas,” kata orang desa itu. “Mereka harus menginap, tetapi di sini tidak ada penginapan, maka begitulah kemudian warung makan atau rumah penduduk menjadi penginapan. Untuk satu-dua malam, biasanya mereka tidak meminta bayaran, dan justru menganggap kalian sebagai tamu. Tetapi lebih dari itu, urusannya dapat menjadi lain.”
Mantingan merasa akan jauh lebih nyaman bila menginap di warung makan, tetapi kenyataannya tidaklah begitu. Memanglah benar bahwa dirinya dan Bidadari Sungai Utara akan dilayani sebagai tamu, bahkan Munding Caraka pun diberikan rerumputan, tetapi kedai makan bukanlah tempat yang ramah di malam hari.
Mantingan dan Bidadari Sungai Utara mendapatkan masing-masing satu dipan untuk tidur. Sungguh sebenarnya Mantingan dapat saja langsung terlelap saat itu juga, tetapi dirinya menjadi tidak nyaman sebab risau mengenai Bidadari Sungai Utara. Gadis itu adalah putri raja, yang kini bahkan telah menjadi permaisuri raja, tentulah telah terbiasa tidur di atas ranjang kapuk yang lembut dan hangat.
Dipan yang hanya terbuat dari batang buluh tidaklah dapat dibandingkan dengan ranjang kapuk. Bagaikan bumi dengan langit. Jadi, pastilah Bidadari Sungai Utara tak akan merasa nyaman sama sekali di kedai makan ini.
“Bukan masalah, Mantingan,” kata gadis itu setelah menyadari arti dari pandangan risau Mantingan. “Daku dapat mengerti keadaannya.”
Namun, permasalahan utama bukanlah tentang dipan berbahan buluh yang terasa amat keras itu saja, melainkan tikus-tikus!
Sebagai pendekar dunia persilatan yang senantiasa menjaga kewaspadaannya terhadap segala pergerakan sekecil apa pun, keberadaan tikus-tikus itu bagaikan mimpi buruk. Setiap kali mereka ingin terlelap, kelebatan-kelebatan tikus memaksa keduanya untuk kembali melebarkan mata.
Belum lagi, hewan-hewan pengerat itu memiliki keberanian yang sungguh luar biasa. Mereka tidak ragu menyerang Mantingan maupun Bidadari Sungai Utara sekalipun kedua muda-mudi itu menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang sedemikian jelasnya. Jika mereka terlambat mengusir tikus-tikus gila itu barang sekejap mata saja, maka kulit mereka dapat saja terobek, dan liur dari hewan itu hampir pasti membawa penyakit mematikan.
“Daku bunuh saja mereka semua!” Mantingan kehilangan kesabarannya sebelum ia mengirim puluhan jarum beracun ke seantero ruangan gelap itu, bagaikan tak terarah, tetapi sesaat kemudian terdengar cicit-cicit tikus itu bagai menahan sakit tak terperi.
Bidadari Sungai Utara dengan kejut berkata, “Tidaklah baik berlaku sedemikian, Mantingan. Bukankah dikau masih memiliki mantra sihir pelindung untuk mencegah tikus-tikus itu mendekati kita?”
Mantingan berdecak kesal. Ia tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Dirinya terlalu terpancing amarah hingga tak lagi dapat berpikir dengan jernih. Di sisi lain, ketenangan, kesabaran, dan kedewasaan Bidadari Sungai Utara berhasil membuatnya terkagum-kagum.
Diingatnya kembali suatu perkataan Kiai Guru Kedai:
__ADS_1
“Seorang lelaki mengambil putusan menurut pertimbangan dan perhitungan yang sekiranya paling masuk akal, sedang seorang perempuan mengambil putusan menurut pada perasaannya. Bukanlah hal tersebut menjadi suatu kesalahan, sebab sedemikianlah Sang Penguasa menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Bila suatu putusan hanya diambil menurut pertimbangan dan perhitungan yang paling masuk akal tanpa menyertakan perasaan, maka dapatlah putusan tersebut menjadi sangat berbahaya; pula sebaliknya.
“Lelaki akan kehilangan kemampuan bernalar akal miliknya bila nafsu telah ia biarkan menjadi pemenang, mereka seolah menjadi buta pikiran. Sedangkan perempuan akan kehilangan penalaran serta akal sehatnya bila terlalu menuruti perasaannya.”
Saat itu, Mantingan masih sulit mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Kiai Guru Kedai sewaktu itu. Namun, kini disadarinya betul-betul, betapa perempuan di hadapannya telah sedikit banyak berhasil menaklukkan kehendak buruk di dalam dirinya, sehingga kesabaran dan belas kasih seorang perempuan sejati terpancar dalam dirinya.
Bukankah perempuan menjadi yang paling ampuh dalam menahan dan menenangkan laki-laki?
Pada akhirnya, Mantingan menyesali perbuatannya dengan yang seluruh tikus di dalam ruangan itu, sebab pada akhirnya ia tidak akan mau memakan daging mereka. Namun, bilamana nasi telah menjadi bubur, memang mustahil untuk mengembalikannya seperti semula.
***
MANTINGAN memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pada pagi buta, yang bahkan masih belum dapat disebut sebagai terang tanah. Akan lebih cepat bila mereka meneruskan perjalanan dengan terbang menunggangi Munding, sedangkan hal itu hanya akan mengundang kematian bila mereka melakukannya di pagi terang.
Beruntunglah saat itu pemilik kedai telah datang untuk mulai memasak makanan, sehingga Mantingan dan Bidadari Sungai Utara dapat berpamitan sekaligus membayar ‘penginapan’ mereka tadi malam.
Perempuan tua itu kemudian menyiapkan dua bungkusan daun pisang yang berisi jagung serta kacang kukus, meskipun Mantingan berulangkali menolaknya sekaligus meminta agar keping emasnya diterima. Namun setelah berulangkali pula ibu tua pemilik kedai itu menolaknya, Mantingan tidak lagi memaksa. Bukankah menghalang-halangi orang lain yang hendak berbuat baik adalah suatu dosa?
“Berhati-hatilah di perjalanan, Anak, doaku selalu ada bersama kalian berdua. Meskipun Pahlawan Man telah membersihkan Tarumanagara dari tangan-tangan kotor para pengacau kambuhan, bukan berarti segala-galanya menjadi aman begitu saja, terlebih kini setelah pahlawan muda itu justru menjadi buronan, bukan tidak mungkin kejahatan akan kembali merajalela sebab tiada lagi ketakutan mereka,” pesan ibu tua pemilik kedai, yang lekas saja membuat Mantingan sedikit merasakan haru, bukan sebab karena nama Pahlawan Man disebut telah membersihkan para pengacau dari Tarumanagara, melainkan karena perempuan tua itu masih merasa wajib memperingati bahkan pula mendoakan mereka setelah semua yang telah diberikannya sebenarnya sudah berlebihan.
“Kami mengucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya untuk kebaikanmu, Ibu.” Saat mengatakan itu, Mantingan membungkukkan badannya pula dalam-dalam. Tidak sekalipun terlintas dalam pikirannya untuk bersikap angkuh kepada siapa pun yang telah berbuat baik kepadanya, sekalipun orang itu nyata-nyatanya amat memujanya. Tidak sedikitpun.
Bidadari Sungai Utara pun menyampaikan ucapan terima kasih, bahkan sempat berbincang-bincang dengan perempuan tua pemilik kedai itu. Tentulah caping yang biasa dia kenakan telah dilepas, sebab merasa betapa tidak mungkin bila ternyata ibu tua pemilik kedai itu berasal dari telaga persilatan.
“Betapa rupawan rupamu,” puji si ibu tua pemilik kedai ketika ditatapnya lamat-lamat wajah Bidadari Sungai Utara kecantikannya melebihi gagasan akan kecantikan itu sendiri. “Teruslah dikau menemaninya, Anak; telah beruntung dirinya bersamamu, pula beruntung dikau bersamanya.”
__ADS_1
Saat itu, Mantingan mengernyitkan dahi. Dirinya dengan ibu pemilik kedai itu jelas hanya bertemu untuk waktu yang amat sebentar, tetapi mengapakah perempuan itu seolah telah betul-betul mengenali hubungan antara dirinya dan Bidadari Sungai Utara?
Bukankah mereka tidak pernah menyatakan diri sebagai sepasang kekasih atau bahkan kawan seperjalanan pada ibu tua pemilik kedai itu?
____
catatan:
Halo, lama tak bertemu, hampir satu bulan penuh.
Saya telah menghilang hampir tanpa meninggalkan jejak semacam apa jua, meski saya tahu bahwa tidak banyak yang menunggu kehadiran Sang Musafir.
Biar saya jelaskan duduk perkaranya.
Pada bulan Januari, saya mendapatkan kontrak untuk menulis secara global, menggunakan bahasa Inggris tentunya, saya tidak akan sebutkan nama platformnya.
Sejak saat itu, saya hampir tidak memiliki kesempatan untuk menulis Sang Musafir. Sekalipun memiliki kesempatan, kemampuan saya menulis dalam gaya bahasa ini sudah banyak tumpul. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak menulis kelanjutan kisah ini ketimbang hasilnya tak memuaskan.
Selanjutnya, saya menawarkan dua opsi:
1. Melanjutkan jilid ini di tempat lain\, dan dengan begitu membuat Sang Musafir di NovelToon tamat. Update masih tidak menentu.
2. Melanjutkan jilid ini di lain tempat\, tetapi dengan bab berbayar\, sehingga update dapat lebih terjamin\, karena penghasilan dari Sang Musafir dapat dianggap sebagai "uang jalan-jalan" bagi saya. Keuntungan dapat juga saya pakai untuk pengembangan karya ini.
3. Memberikan saya waktu untuk menulis\, sebelum merilis jilid ini dalam bentuk buku cetak. Benefitnya\, editorial bakal lebih bagus dan dapat tanda tangan (percaya diri sekali penulis yang satu ini).
__ADS_1
Satu yang mungkin menjadi kepastian, saya tidak akan melanjutkan kisah ini di NT, karena Sang Musafir telah mencapai level terendah dan agaknya tidak mungkin lagi bisa naik. Saya memilih untuk menjadikan Sang Musafir sebagai karya indepeden mulai dari jlid ini, dan jika memungkinkan saya teruskan hingga buku kedua yang berkali-kali lipat lebih luar biasa.