
SESOSOK MAYAT tergeletak dalam keadaan yang teramat sangat mengenaskan. Mayat itu dikerubungi serangga-serangga pemakan bangkai. Terbaring di atas tanah; di antara ilalang tinggi. Seolah yang membunuhnya sama sekali tidak memiliki rasa kemanusiaan. Jelaslah bahwa kematiannya disebabkan oleh pendekar beraliran hitam yang memang telah biasa membunuh lawan tanpa memberi kehormatan.
Tubuhnya penuh dengan luka bacokan. Seluruh kulitnya menghitam legam. Darah kering menciptakan bercak hitam di sekitar mulutnya.
Selain tampak telah dibacok berkali-kali, mayat itu pula diberi racun sebelum kematian benar-benar menjemputnya. Mantingan tidak mengerti alasan seperti apakah yang mengharuskan si pembunuh mayat itu melakukan hal sekeji ini.
“Kana, bantu aku menyediakan pancaka untuk orang ini.”
Kana menganggukkan kepalanya. Tanpa diperintahkan untuk kedua kalinya, ia langsung bergerak ke arah hutan guna mencari kayu-kayu kering. Mantingan berjalan tak jauh darinya.
***
TEPAT KETIKA senjakala telah berlalu dan malam menggantikannya, pancaka berisi mayat yang telah dibunuh secara amat keji itu terbakar hebat. Cahaya apinya menerangi pepohonan di sekitar pancaka itu dan pula dua pria beda usia yang tegak berdiri tak begitu jauh darinya.
Mantingan menatap pancaka itu dengan raut wajah yang terkesan datar-datar saja, tetapi berbeda dengan Kana yang menatap pancaka itu dengan tatapan yang amat sangat penuh duka.
“Beginikah dunia persilatan, Kakanda? Apakah pembunuhan memang sesuatu yang diwajibkan bagi setiap pendekarnya?”
Mantingan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Betapapun, seperti inilah dunia persilatan. Ibarat kata, seorang pendekar yang bergabung ke dalam dunia persilatan sebenarnyalah sedang berteduh di atas pohon yang daun-daunnya telah menguning. Sekali angin berembus, gugurlah puluhan hingga ratusan daun itu. Dapat saja mengenai pendekar-pendekar di bawahnya.
Begitulah daun-daun tersebut diibaratkan sebagai pertarungan berujung kematian.
Sebenarnyalah jalan seorang pendekar adalah jalan menuju kematian. Dan kematian yang paling diharapkan adalah kematian di dalam pertarungan.
“Mengapakah tidak berdamai saja?”
Kali ini Mantingan memberi jawaban. “Karena begitulah dunia persilatan, perdamaian tidak diartikan sebagai hari-hari tanpa pertarungan.”
Kana semakin menundukkan kepalanya. “Mungkinkah suatu saat nanti, Kakanda bisa mengubah aturan gila seperti ini?”
__ADS_1
“Mengapakah tidak dirimu saja yang mengubahnya, Kana?” Mantingan tertawa pelan. Pertanyaan Kana terdengar tidak masuk akal.
“Daku sama sekali tidak sedang bergurau, Kakanda.”
Lambat namun pasti, Mantingan menghentikan tawanya sebelum menatap anak yang masih tertunduk lesu itu. Dari nada bicaranya, jelas sudah bahwa Kana tidak sedang bercanda.
“Kakanda, kulihat dirimu memiliki kesanggupan untuk melakukan itu. Daku merasakannya, dan sudah pasti Kakanda juga merasakannya. Aturan gila ini akan terus membuat kekacauan dan kehancuran di dunia orang awam jika tidak segera diubah.” Kana berkata dengan nanar. “Orangtuaku mati karena aturan gila ini, tetapi daku beruntung karena menjumpai Kakanda. Namun lantas, bagaimanakah dengan anak-anak yang lain yang terlantar begitu saja? Nasib mereka akan selalu berujung menjadi tukang minta-minta, bunga raya, penyamun, atau bahkan mati dalam kelaparan.”
Mantingan sebenarnya sulit mempercayai bahwa perkataan itu benar-benar keluar dari mulut Kana. Disadarinya kebenaran dari perkataan anak itu.
Tetapi betapapun, bukanlah suatu pekerjaan mudah untuk mengubah peraturan dasar dunia persilatan yang telah ada berabad-abad lamanya dan terus dipertahankan hingga kini. Lagi pula, bukankah seorang pendekar memanglah orang yang jalan hidupnya hanya bertarung dan bertarung saja, bukan untuk hal lainnya?
Mantingan sebenarnya tidak dapat menyalahkan aturan yang begitu mendasar dalam dunia persilatan itu.
Orang-orang yang memiliki kekuatan besar selayaknya para pendekar, memang akan saling bertarung untuk menaklukkan dan menguasai sesuatu dengan pendekar kuat lainnya.
Sebab memang aturan yang berlaku selayaknya aturan rimba belantara, di mana yang kuat akan selalu berkuasa, dan yang lemah akan menjadi remah-remah sampah tiada bernilai.
Begitulah dunia persilatan yang jika disebut kejam pun sah-sah saja. Jalan hidup seorang pendekar jauh berbeda dengan jalan hidup seorang awam.
Sunyi, penuh darah, tanpa kasih sayang. Teruslah seperti itu sampai mereka menemui lawan kuat untuk mengalahkannya.
Mantingan pun tak dapat menjamin bahwa dirinya bukan mati karena terbunuh. Tetapi alangkah baiknya jika terlebih dahulu Kembangmas ditemukan sebelum hal itu terjadi.
***
TIGA HARI berlalu dengan begitu cepat dan begitu singkat nya, seolah perjalanan itu hanya sekadar mampir minum teh saja. Setelah melewati hutan belantara yang cukup sulit ditembus,
Mantingan dan Kana tiba di hadapan sebuah tebing curam tinggi yang tampaknya akan amat sangat mustahil didaki.
__ADS_1
Mantingan mengingat kembali betapa dirinya pernah menjumpai tebing ini beberapa kali banyaknya. Yang pertama kalinya ialah malam saat Pasukan Topeng Putih menjemputnya di penginapan yang disewa oleh Dara. Ketika itu, ia memacu seekor kuda putih yang larinya secepat angin badai.
Menjumpai tebing putih teramat curam itu kembali, pikiran Mantingan segera melayang jauh. Membayangkan keindahan yang tersimpan di balik tebing itu. Perguruan Angin Putih. Sebuah keindahan sejati. Sepotong surga sejati. Yang justru sengaja disembunyikan.
“Apakah kita harus memutar jalan, Kakanda?” Kana tiba-tiba bertanya, seketika membuyarkan lamunan Mantingan.
“Tidak, memang di sinilah tempatnya.” Mantingan menjawab. “Naiklah ke punggungku, kita harus melewati tebing itu.”
Tanpa banyak bertanya lagi, Kana melompat ke punggung Mantingan. Ketika itulah, Mantingan langsung mengentak kaki ke atas. Dirinya tidak berkelebat cepat selayaknya yang sering ia lakukan, melainkan melayang-layang ringan seperti halnya sehelai kapas. Begitulah cara yang tepat menikmati pemandangan.
Dalam beberapa kesempatan, kaki Mantingan menapak dinding tebing agar tubuhnya kembali melayang ke atas.
“Apakah setelah melewati tebing ini, daku akan segera meninggalkan Javadvipa yang sama pula berarti meninggalkan Kakanda?”
Mantingan tersenyum. Masih melayang-layang di udara, pemuda itu menjawab, “Jika suatu saat nanti dikau telah tumbuh dewasa, menjadi pendekar penyoren pedang atau paling tidak sarjana terkemuka, bukanlah sulit bagimu untuk pergi ke Javadvipa, bukan?”
Dan tatkala kaki Mantingan menginjak puncak tebing itu, barulah Kana menjawab, “Memanglah itu bukan hal yang menyulitkan, tetapi bagaimanakah kiranya jika Kakanda telah meninggal akibat menderita kekalahan dalam pertarungan?”
Mantingan masih tersenyum, memilih untuk mengalihkan bahan pembicaraan. “Lihatlah di depanmu, Kana.”
Kana memincingkan matanya hingga alisnya bertaut. “Hanya hutan berkabut, apa yang kiranya harus kulihat?”
“Di dalam hutan berkabut itu, tersembunyilah sepotong surga.” Mantingan melebarkan senyumnya. “Dan di sanalah akhir perjalanan kita berdua.”
Setelah puas memandangi hamparan hutan yang tertutupi kabut tebal hingga seolah tak ada yang dapat dilihat kecuali kabut itu sendiri, Mantingan kembali mengempaskan dirinya ke udara. Melayang turun seringan kapas.
Tidak membutuhkan waktu yang lama sampai kakinya menginjakkan tanah. Mantingan tidak meminta Kana untuk turun, justru memintanya untuk mengencangkan jubah yang dipakainya, sebelum akhirnya berkelebat kencang masuk ke dalam lautan kabut tebal yang dinginnya bukan alang kepalang.
__ADS_1