
MAKA DIBANGUNKANLAH Kana guna melanjutkan perjalanan. Sekejap lagi, hari akan menjadi siang. Matahari telah menanjak tinggi di antara celah perbukitan hijau. Betapa pun, Mantingan tidak ingin mereka terlambat yang barang tentu akan menunda pelayaran menuju Champa. Lebih-lebih, Bidadari Sungai Utara harus membawa Kana ikut serta dalam pelayaran menuju tanah kelahirannya itu.
Kana masih setengah sadar sekaligus setengah mengantuk ketika Mantingan membangunkannya. Tampaknya, anak itu tidak senang jika waktu tidurnya diusik, tetapi betapa pun ia mengetahui bahwa seorang penyoren pedang tidak boleh terlalu lama bermalas-malasan.
Setelah sarapan beberapa potong kue kering hambar namun mengenyangkan, Mantingan dan Kana kembali melanjutkan perjalanan menuju Perguruan Angin Putih.
Mantingan memasang capingnya guna melindungi kepala dan matanya dari teriknya sinar mentari, akan tetapi jubahnya ia pinjamkan kepada Kana supaya anak itu tidak terlalu kepanasan. Berjalanlah keduanya di pinggiran jalan lebar yang tanahnya telah retak-retak itu.
Kali ini, angin tidaklah seganas hari-hari sebelumnya. Hanya sedikit angin saja yang terasa menerpa wajahnya. Hingga Mantingan mengira, tiada sedikitpun angin yang berembus siang itu. Dedaunan tetap pada tempatnya, kecuali jika dilalui satu-dua ekor tupai atau burung yang akan mengakibatkan daun itu melayang jatuh ke tanah. Semak belukar pula sama diamnya, kecuali jika satu-dua garangan atau biawak melintas cepat.
Langit pun begitu cerah dan bersih. Tidak terlihat sedikitpun awan. Hanya langit biru saja, yang akan menyilaukan siapapun jika mendongakkan kepalanya ke atas sekalipun dengan mata terpejam.
Tetiba semak belukar bergemerisik, dedaunan patah dari tempatnya. Semua itu terdengar seperti ulah binatang saja, tetapi sangatlah berbeda dengan pengartian Mantingan yang menganggapnya sebagai ancaman marabahaya!
Kakinya masih terus melangkah meski suara-suara itu terus pula bermunculan. Dirabanya pangkal Pedang Kiai Kedai. Ditajamkan pendengarannya menggunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun. Sedangkan Kana tampaknya tidak menyadari bahwa suara-suara itu bukanlah disebabkan oleh binatang, masih terus berjalan dengan santainya.
Mantingan masih belum bertindak tetapi selalu dalam keadaan berancang-ancang. Tidak segala kelebatan, gemersik pada pepohonan atau semak belukar, dapat diartikan sebagai pergerakan pendekar yang ingin cari ulah dengannya.
Biar bagaimanapun, Mantingan tidak dapat menepis kemungkinan bahwa pendekar-pendekar yang tengah melintas di dekatnya itu memiliki kepentingan lain yang tidak ada sangkut-paut apa pun dengannya.
Selama masih membawa Kana dalam sebuah perjalanan penting, yang mestinya benar-benar ia lindungi, Mantingan tidak akan begitu mudahnya mencampuri urusan pendekar lain.
__ADS_1
Ia teringat gurunya yang pernah mengatakan bahwa, sekali saja terjun ke dalam dunia persilatan, maka akan sulit lepas daripadanya.
Jika Mantingan terlalu sibuk mencampuri urusan pendekar lain, maka segala perencanaan hidupnya bisa saja berubah.
Dalam dunia persilatan, segala peristiwa yang tampak tiada terduga bisa saja memiliki sangkut paut dengan peristiwa sebelumnya. Menciptakan suatu rantai panjang yang tiada akan terlepas bahkan jika pendekar itu telah mati.
Mantingan teringat pula ketika pertemuannya dengan Pendekar Sanca Merah yang ternyata memiliki sangkut paut dengan pembunuhan beribu-ribu pendekar yang dilakukannya.
Itulah yang membuat perkataan Kiai Guru Kedai terasa benar. Betapa pun, setiap manusia memiliki arang dendam yang akan menuntut balas jika sudah tersulut. Itulah dunia persilatan, di mana jalannya selalu dibasahi darah manusia yang sebentar kemudian dibakar habis oleh api dendam, kendati demikian jalan itu tidak pernah kering.
Meskipun dalam peraturan tidak tertulis dalam dunia persilatan, kematian dalam pertarungan adalah sebuah pencapaian terbesar yang tidak dapat disamakan dengan pembunuhan. Jika pembunuhan berujung pada kekejian dan ketidakmanusiawian, maka kematian dalam pertarungan berujung pada kehormatan.
Namun memang, terkadang tetap saja tercipta bara dendam dari orang-orang terdekat, rekan seperguruan, atau murid-muridnya akibat kehilangan pendekar itu. Mereka yang menuntut balas bukan berarti tidak menghormati aturan tak tertulis dunia persilatan itu, sebab mereka telah menantang lawan terlebih dahulu sebelum memulai pertarungan—yang bahkan jika menyerang tanpa menantang pun bukanlah sebuah masalah, dan kematian dari pihak manapun ketika pertarungan itu tengah berlangsung dapat diartikan sebagai puncak kesempurnaan hidup seorang pendekar.
Begitulah hidup seorang pendekar yang memang tidak jauh berbeda daripada seorang penyoren pedang. Di manapun kakinya melangkah, pertarungan dan kematian diibaratkan sebagai debu yang melayang-layang tertiup angin kemarau.
***
SORE ITU. Mantingan mengadang laju jalan Kana dengan tangannya. Matanya menatap tajam ke arah semak belukar di bawah sinar jingga dari mentari senjakala. Kana yang mengetahui bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak beres itu lekas menyiagakan pedangnya.
Mantingan menarik napas panjang sebelum berkata, “Apakah engkau memiliki cukup keberanian untuk melihat mayat orang, Kana?”
__ADS_1
Dapat dilihat oleh Mantingan, Kana gugup tetapi di sisi lain dia tampak penasaran. Agaknya bocah itu telah menyadari bahwa bukan ancaman marabahaya yang Mantingan lihat, melainkan hasil dari marabahaya itu sendiri.
“Apakah penyoren pedang biasanya melihat ....”
Mantingan memotong terlebih dahulu. “Seorang penyoren pedang membuat keputusannya berdasarkan pertimbangannya sendiri.”
Kana terdiam sejenak sebelum menghela napas panjang. Betapa ia mengetahui, cepat atau lambat akan berhadapan dengan hal seperti ini. Jika tidak sekarang, maka esok. Bedanya, jika sekarang dengan Mantingan, dan jika esok tidak dengan Mantingan.
“Daku merasa perlu melihatnya, Kakanda.”
Mantingan menganggukkan kepalanya. “Tetap siagakan pedang dan keberanianmu.”
Mantingan berjalan perlahan-lahan ke arah yang dituju oleh matanya. Kana mengendap-endap tepat di belakangnya. Sambil berjalan, Mantingan berpikir.
Apakah keputusannya dengan membiarkan Kana untuk melihat mayat yang dapat dikatakan mati secara mengenaskan itu dapat dibenarkan? Mengingat pula, Kana masih berusia belasan. Sangat tidak wajar anak seusianya telah melihat kekejian dunia persilatan. Itu terlalu dini.
Tetapi kemudian Mantingan pula menyadari bahwa hal ini memang sudah semestinya ia lakukan. Sebab jika Kana ingin melindungi Kina—seperti yang telah ditugaskannya, dan seandainya bocah itu harus melancarkan serangan berdarah atau bahkan pembunuhan, maka dirinya harus terlebih dahulu memiliki keberanian berhadapan dengan darah.
Mantingan teringat kisah-kisah nyata yang dialami sejumlah pendekar, yaitu terbunuh tanpa daya meski telah belasan tahun berlatih di dalam perguruan. Ketika menghadapi lawan, pendekar-pendekar itu hanya bisa bergemetaran. Mengangkat pedangnya, tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengayunkannya.
Mantingan tidak ingin hal itu sampai terjadi pada Kana.
__ADS_1
Maka ketika mereka telah sampai di antara semak belukar itu, terpampanglah sebuah pemandangan yang sama sekali tidak sedap dipandang. Mantingan mengembuskan napas yang sangat panjang, seolah itulah embusan napas paling panjang yang pernah dilakoninya. Kana hanya dapat menahan rasa mualnya meski matanya tak bisa berhenti menatap pemandangan itu.