Sang Musafir

Sang Musafir
Kota Perbatasan


__ADS_3

ROMBONGAN MENGISI perbekalan di kota perbatasan itu. Meskipun telah tiba di wilayah Gunung Kubang, mereka masih membutuhkan waktu paling tidak dua hari lagi untuk tiba di Perguruan Angin Putih.


Mantingan sungguh bertekad untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan nama baik Jakawarman, maka mulai saat ini pula ia tidak akan bermain-main lagi.


Mantingan turun dari kereta kuda untuk membantu rombongan membeli perbekalan. Melihat Mantingan seolah mendapatkan semangatnya kembali, seluruh orang di rombongan berlega hati.


***


MANTINGAN PERGI bersama Kana masuk ke dalam kota. Selembar lontar berisi senarai barang-barang yang secara khusus harus dibelinya tersimpan di dalam jubahnya.


Kana mengencangkan ikatan pedang kayu di punggung lalu menunjukkan senyum lebarnya pada Mantingan, “Kakanda, engkau sungguh akan membelikanku pedang logam, bukan?”


Mantingan menganggukkan kepalanya. “Kurasa engkau membutuhkan pedang yang lebih tajam. Tetapi ingat, aku membelikanmu pedang semata-mata agar kau bisa melindungi Kina, bukan untuk tujuan lain.”


“Itu masalah kecil, daku akan melindungi Kina dengan segenap jiwa dan raga jika daku telah mendapatkan pedangnya.” Kana berujar santai. “Tapi, di manakah kiranya Kakanda akan membelikanku pedang? Sepanjang jalan yang kita lewati tadi, tidak kulihat ada gerai yang menjual pedang.”


Mantingan mengangkat bahunya. “Kita lihat saja nanti.”


Keadaan kota terbilang cukup ramai. Perdagangan terjadi hampir di seluruh tepi jalanan. Kuda dan pedati kerbau berjalan lambat di tengah jalan. Suasana penuh dengan hiruk pikuk peradaban. Pedagang-pedagang menjajakan dagangannya dengan cara berteriak, sedangkan pembeli menawar dagangan dengan cara berteriak pula. Jadilah kebisingan.


Aroma makanan bercampur dengan aroma keringat dari para pekerja pasar yang berlalu lalang dan sayuran busuk. Sulit memperkirakan, apakah perut sedang lapar atau justru hendak muntah.


Mantingan dan Kana terus berjalan ke depan. Mantingan mengeluarkan selembar lontar di dalam jubahnya untuk memeriksa kembali barang apa sajakah yang perlu ditemukan untuk kemudian membelinya.


“Agaknya barang-barang seperti ini tidak dijual di pasar ini. Kita harus masuk lebih ke dalam.” Mantingan berkata pelan, seolah sedang berkata pada dirinya sendiri. Kendati demikian, Kana masih dapat mendengarnya.


“Kakanda tidak perlu khawatir, meski ke ujung kota sekalipun, daku siap menemani.” Kana berkata semangat. Jelas dia merasa sangat senang jika diajak berjalan-jalan ke dalam kota yang ramai seperti ini.


Mantingan hanya menanggapinya dengan senyuman. Ia tahu bahwa Kana lebih suka berada di sekitar peradaban ketimbang belantara hutan tak berpenghuni. Maka sengaja ia memperlambatkan laju jalannya agar anak itu dapat lebih menikmati kota.

__ADS_1


Lalu katanya setelah melihat pedagang-pedagang yang menjajakan berbagai kudapan di pinggir jalan, “Engkau boleh mencicipi beberapa kudapan di sini, katakan saja jika kaumau.”


“Itu sangat memalukan bagiku, Kakanda. Lelaki seperti diriku, tidak seharusnya dibelanjakan orang lain.” Kana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kakanda belikan saja untuk Kina. Untukku, biar daku beli sendiri pakai uang sendiri pula.”


Mantingan mengangkat alisnya. “Engkau memiliki uang, Kana?”


“Tidak,” jawabnya sambil tersenyum lebar. “Tetapi daku bisa mendapatkan uang setelah membantu Kakanda berbelanja, bukan?”


Mantingan hanya bisa tersenyum masam.


Ketika keduanya semakin masuk ke dalam kota, suasana mulai menyepi. Tidak terlihat lagi pedagang-pedagang makanan di tepi jalan, dan tidak banyak pekerja kasar yang berlalu-lalang. Namun, masih banyak kerbau-kerbau yang menarik pedati.


Bangunan toko berjejer di tepi jalan. Toko-toko itulah yang menggantikan keberadaan pedagang-pedagang kecil di tepi jalan. Mantingan tersenyum samar, merasa yakin akan mendapatkan barang-barang yang ia cari di tempat ini.


Toko pertama yang Mantingan datangi adalah toko ramuan. Barang-barang yang akan dibelinya adalah pesanan dari Bidadari Sungai Utara. Mantingan segera membacakan pesanannya setelah mendapat giliran.


Setelah Mantingan selesai membacakan pesanannya, penjual di depannya terlihat manggut-manggut beberapa kali sebelum berkata, “Sahaya memiliki beberapa ramuan dari yang Anak sebutkan. Tetapi itu hanya sebagian kecil saja dari yang telah Anak sebutkan, sebagian besarnya tidak tersedia di toko ini. Apakah Anak ingin tetap membeli ramuan yang ada?”


Sang penjual kembali ke meja pembayaran dan menyebutkan apa saja yang ia dapatkan dan pula berapa harganya. Setelah disebutkan harganya, Mantingan lekas menaruh sembilan keping emas di atas meja.


“Bapak, di manakah kiranya diriku bisa mendapatkan ramuan-ramuan yang tidak ada di sini?”


Sang penjual mengelus dagunya dan terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab, “Kota ini sedang melangsungkan lelang. Dan jika telingaku yang tua ini tidak salah mendengar, maka mereka akan melelang pula ramuan serta rempah-rempahan. Mungkin engkau tertarik untuk pergi ke sana? Acaranya berlangsung pagi ini, mungkin saja sudah hendak dimulai.”


“Di manakah tempat lelang itu, Bapak?” Mantingan memutuskan untuk tetap berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan barang-barang pesanan Bidadari Sungai Utara. Lagi pula, ia tidak sedang terburu-buru. Rombongan baru akan melanjutkan perjalanan malam nanti.


“Ada di sebuah bangunan besar. Dan bangunan itu terletak tepat di belakang toko ini. Sedaripada Anak memutar jauh-jauh, lebih baik Anak melewati pintu belakang sahaja.” Sang penjual ramuan menawarkan dengan ramah.


“Bapak, itu tidak sopan ....”

__ADS_1


“Biar sahaya antar saja, marilah.”


Sang penjual tidak menunggu jawaban Mantingan, ia berbalik dan langsung berjalan. Mantingan tidak dapat menolak tawaran itu lagi, maka bergegaslah ia mengajak Kana untuk mengikuti penjual itu.


Toko ramuan itu tidaklah terlalu besar, sehingga mereka dengan cepat sampai di bagian belakang toko. Sang penjual ramuan membukakan pintu sambil tersenyum lebar.


“Anak lihatlah bangunan besar itu.” Dirinya menunjuk sebuah bangunan besar yang letaknya hanya beberapa tombak dari tempat mereka berada. “Di sanalah tempatnya.”


Mantingan menganggukkan kepalanya pelan. Jika dilihat dari ukurannya, bangunan tersebut agaknya dikhususkan untuk berbagai memberlangsungkan berbagai macam acara besar. Pagar hidup mengelilingi bangunan itu. Tersedia pula sebidang tanah penuh rumput untuk menambatkan kuda dan kerbau.


Beberapa orang terlihat memasuki bangunan tersebut dari arah timur. Mungkin, di sanalah pintu masuknya. Mantingan dengan tulus menyampaikan rasa terima kasihnya pada sang penjual ramuan. Lalu berjalan ke arah bangunan besar tersebut bersama Kana.


“Apakah Kakanda benar-benar ingin mengikuti lelang?”


Dengan yakin, Mantingan menganggukkan kepalanya.


“Ah, jikalau begitu ... daku akan menunggu di tempat itu.” Kana menunjuk sebuah tempat duduk panjang di dekat bangunan tersebut. “Nanti jikalau Kakanda telah selesai, jangan lupakan bahwa daku ada di sana.”


Mantingan mengerutkan dahinya. “Apa maksudmu, Kana? Apakah kau tidak tertarik masuk ke dalam lelang?”


“Tentu saja daku tertarik. Tetapi sepertinya, biaya masuk ke dalam lelang terlalu mahal. Daku takut membebani Kakanda.”


Mantingan justru melepas tawanya, menjadi tawa pertama yang ia keluarkan semenjak tiga hari terakhir. “Apalah engkau ini, Kana. Kau mengira aku akan meninggalkanmu di luar sini? Pikiranmu itu salah, Kana. Tidak akan lagi kutinggalkan kawanku begitu saja.”


___


catatan:


Saya mengganti kata "daftar" menjadi "senarai".

__ADS_1




__ADS_2