
KUDA terus berpacu di atas jalanan senjakala itu, tiada hentinya menghamburkan debu-debu kering ke udara.
Keremangan semakin pekat. Terang dan gelap tidak dapat dibedakan dengan sejelas-jelasnya; itulah keremangan. Saat-saat paling rentan bagi seorang pendekar adalah waktu singkat di mana senja mulai berganti menjadi malam.
Kuda-kuda berpacu semakin cepat. Dengkusan napasnya terdengar satu-dua di tengah-tengah desiran angin yang semakin kuat pula.
Mantingan memahami bahwa kuda-kuda melakukan itu bukan tanpa alasan; naluri mereka menyadari ada bahaya yang sungguh-sungguh mengancamnya dari arah belakang.
Memanglah terkadang, naluri hewan dapat jauh lebih tinggi ketimbang naluri manusia, termasuk pula kuda-kuda pilihan dari Perguruan Angin Putih itu.
Mantingan memejamkan matanya. Segera saja ia memasang Ilmu Mendengar Tetesan Embun untuk mengetahui wujud bahaya yang sedang mengancam rombongannya.
Mantingan tidak mengirim gelombang suara, namun ia dapat menerima gelombang suara yang dihasilkan di sekitarnya.
Dari belakangnya, pemuda itu menangkap suara kelebatan, dengusan napas, dan entakan yang sedikit kentaranya.
Namun sudah jelas bahwa terdapat beberapa pendekar yang sedang melesat mengikutinya dari arah belakang. Namun berdasarkan suara kelebatan mereka yang sebenarnyalah tidak terlalu cepat, pendekar-pendekar itu tidak berniat untuk menyerang rombongannya. Berkemungkinan besar bahwa mereka hanya membuntuti, setidaknya untuk saat ini.
Mantingan mulai mempertimbangkan dengan cepat. Jika mereka hanya membuntuti seperti ini, tidak menuntut kemungkinan bahwa di depannya terdapat jebakan yang telah mereka siapkan.
Andaikata rombongannya terkena jebakan, lalu berusaha lolos dengan melarikan diri ke belakang, maka rombongannya akan bertemu dengan pendekar-pendekar yang membuntuti itu.
Kalau begini adanya, Mantingan memutuskan untuk berhenti sebelum berhadap-hadapan langsung dengan jebakan musuh.
Diangkatlah sebelah tangannya sambil berteriak, “Semuanya, berhenti!”
Mendengar itu, Bidadari Sungai Utara, Kana, dan seluruh Pasukan Topeng Putih yang ada di sana lekas menarik tali kekang kuda.
__ADS_1
Serta merta kuda menahan lajunya hingga benar-benar berhenti. Dengkusan napas mereka memecah kesunyian di senjakala itu.
Kesepuluh Pasukan Topeng Putih menarik pedang mereka dari sangkarnya sambil menyusun barisan berkuda melingkari Mantingan dan orang-orang yang bersamanya. Namun Mantingan enggan menerima perlindungan, justru dialah yang teramat sangat dibutuhkan dalam suasana seperti ini.
Mantingan melompat dari kudanya sebelum mendarat dengan ringan di luar lingkaran perlindungan. Berbarengan dengan itu, Mantingan melepas pula kuncian pada Pedang Kiai Kedai.
“Di manakah letak musuh, Saudara?” Salah seorang bertanya kepadanya.
“Tepat di hadapanku.” Mantingan berujar dengan tenang sambil menatap lurus ke arah berat jalan, itu adalah jalur yang tadi mereka lalui. “Meskipun begitu, tetap waspada pada segala sisi dan arah. Lindungi perempuan dan anak-anak.”
Tentu saja yang dimaksud perempuan dan anak-anak adalah Bidadari Sungai Utara dan Kina, bahkan Kana pun termasuk ke dalamnya. Namun agaknya, anak lelaki itu tidak terima disebut sebagai anak-anak. Kana mengentak kudanya untuk bergabung ke barisan perlindungan. Dia pula menarik bilah pedang dari sangkarnya.
Mantingan sebenarnya melihat Kana, dan benar-benar tidak setuju dengan apa yang dilakukan anak itu. Namun, keadaan seperti saat ini sangat tidak memungkinkan Mantingan untuk berdebat dan menceramahi Kana.
Mata Mantingan kembali menatap ke arah depan. Keremangan telah berganti menjadi kegelapan. Malam telah benar-benar datang. Tetapi keadaan seperti ini tidak jauh berbeda dengan bahaya ketika senjakala masih remang-remang.
Di waktu seperti ini pula, detak jantung mulai melemah. Tubuh juga memerlukan sedikitnya waktu untuk menyesuaikan diri.
Biasanya, di saat-saat seperti inilah seorang pendekar akan menghindari pertarungan sebisa mungkin, sebab itu hanya berujung pada kesia-siaan atau mati konyol belaka.
Tiada lagi terdengar suara kelebatan angin, dengus napas, atau ranting patah. Kecuali suara jangkrik, seluruhnya menjadi sangat hening.
Sudah barang tentu bahwa pendekar-pendekar yang mengikuti Mantingan beserta rombongannya itu mengetahui bahwa Mantingan telah menyadari kehadiran mereka. Maka kini kedua belah pihak saling berdiam diri dalam keheningan, menunggu siapakah yang akan lebih dahulu mengambil tindakan.
Suasana masih hening, dan mereka pula masih mematung. Angin bersemilir pelan, melintas di antara mereka. Langit tampak lebih suram ketimbang malam-malam sebelumnya, bintang-gemintang tertutup awan tipis.
Sampailah pada saat Mantingan membuat sebuah putusan yang kemudian disampaikannya kepada sepuluh Pasukan Topeng Putih melalui Ilmu Bisikan Angin. “Saudara-Saudara sekalian, setidaknya tiga dari kalian harus memeriksa jalur yang akan kita lalui di arah timur. Kembalilah dengan cepat, dan berhati-hatilah.”
__ADS_1
Tanpa perlu diminta dua kali, tiga dari sepuluh pendekar itu melompat dari pelana kudanya sebelum melesat ke arah timur jalan. Mereka menghilang ditelan kegelapan.
“Pertahankan barisan,” katanya lagi menggunakan Ilmu Bisikan Angin, “dan mundurlah perlahan-lahan.”
Kuda-kuda mulai menderap pelan. Mengambil langkah-langkah kecil sesuai dengan tuntunan. Barisan perlindungan tetap bertahan, tidak pecah. Kecerdasan kuda-kuda dari Perguruan Angin Putih memang tidak pantas diragukan, mereka dapat mengerti keadaan dengan sangat baik. Bahkan tiga kuda yang ditinggalkan penunggangnya itu tetap dapat berjalan sambil terus menjaga barisan.
Mantingan dan rombongannya terus bergerak di atas jalanan itu ke arah timur, dengan para pendekar lelaki di barisan terdepan sedangkan dua perempuan berada di dalam lingkaran perlindungan.
Namun secara serentak dan tanpa kesepakatan, para penunggang menarik tali kekang kudanya yang serta merta membuat kuda yang ditunggangi Bidadari Sungai Utara dan Kina berhenti pula. Mantingan berhenti, Kana pun berhenti. Wajah mereka menegang.
Alangkah bagaimanakah mereka tidak menegang seperti itu jikalau dari kejauhan terdengar denting-denting logam beradu?
Tanpa saling berkata-kata pun, semuanya mengetahui. Mereka telah terjebak!
Mantingan bertindak secepat mungkin, ia menempelkan empat lembar Lontar Sihir Pelindung di sekitar barisan pertahanan. Empat lembar lagi untuk Lontar Sihir Penjebak.
Puluhan aksara hitam melayang-layang dan mengelilingi garis lingkaran sihir yang telah Mantingan buat di sekitaran barisan perlindungan itu. Sedangkan dirinya sendiri dan Kana berada di luar lingkaran sihir.
Mantingan mengeluarkan sebatang jarum besar serta selembar Lontar Sihir Pengatur. Ia mengulurkannya kepada Kana.
“Ambillah masing-masing setetes darah tujuh pendekar dari Pasukan Topeng Putih itu, wadahi darah mereka dengan lontar ini tanpa terkecuali,” kata Mantingan dengan cepat namun tenang, “berikan lontar ini kepadaku setelah engkau selesai, lakukanlah secepat mungkin.”
“Kakanda, diriku ingin bertarung bersamamu di sini ….”
“Kali ini jangan membantah, Kana!” Mantingan meninggikan suaranya dan menatap anak itu dengan tajam.
Dengan perasaan gusar, Kana mengambil sebatang jarum dan selembar lontar dari tangan Mantingan sebelum mengarahkan kudanya untuk masuk ke dalam lingkaran sihir.
__ADS_1