
Dengan melawan mereka, Mantingan seolah mengalami tingkatan baru dalam jalan kependekarannya. Andaikan kata saat ini dirinya sedang menghadapi pendekar-pendekar yang berasal dari Javadvipa, sungguh dirinya dapat merobohkan mereka hanya dalam sekejap mata saja. Namun, saat ini dirinya berada di Suvarnadvipa dengan orang-orang yang sedari kecil telah mempercayai akan keberadaan dunia persilatan sebagai wujud yang nyata dan bukan hanya sekadar dongeng yang diceritakan oleh juru cerita dari satu desa ke desa lainnya, sehingga mereka dapat mengambil keputusan untuk menyelami dunia persilatan jauh lebih dini ketimbang orang-orang Javadvipa yang masih saja menganggap bahwa dunia persilatan hanya dongeng yang tidak lebih dan tidak kurang.
Perlahan, jantung Mantingan berdebur penuh gairah. Meskipun pada awalnya ia sama sekali terpaksa menempuh jalur persilatan yang teramat sangat kental dengan pertarungan-pertarungan menuntut nyawa, tetapi kini ia mulai menikmatinya perlahan-lahan. Termasuk pada saat dirinya memasuki tingkatan baru dalam jalan kependekarannya, yakni menghadapi lawan-lawan berat di Suvarnadvipa!
Namun, itu bukan berarti bahwa Mantingan mulai menyukai pembunuhan. Betapa ia membenci dan akan selamanya membenci pembunuhan yang tidak seharusnya dilakukan. Baginya, para pendekar di dunia persilatan masih melakukan hal yang konyol, yakni dengan bertarung hingga mati dengan alasan mencapai keparipurnaan.
***
MANTINGAN mengeluarkan beberapa lembar Lontar Sihir Penyerang dari dalam kotak penyimpanannya sebelum melemparkannya ke udara. Lontar-lontar itu tidak hanya satu jenis saja, melainkan ada lima jenis Lontar Sihir Penyerang. Mantingan menyusupkan Lontar Sihir Cahaya dan Lontar Sihir Penjerat Elang di dalamnya.
Mantingan telah menduga sebelumnya bahwa pendekar-pendekar yang berasal dari Kelompok Kelewang Darah itu tidak terlalu mempelajari ilmu sihir, atau bahkan tidak sama sekali. Melihat dari gerakan mereka dalam memainkan pedang, Mantingan bisa mengetahui bahwa mereka mengabdikan seluruh hidupnya pada ilmu berpedang.
Berbeda dengan Kelompok Penari Daun, pendekar-pendekar di dalamnya justru membenamkan diri pada ilmu sihir yang dapat mengendalikan dedaunan. Di tangan mereka, selembar daun tipis dapat menjadi setajam belati yang telah diasah ribuan kali banyaknya. Dari yang Mantingan lihat, tidak satupun dari mereka ada yang memegang pedang. Mereka hanya terus memainkan kedua tangan sambil membacakan mantra, sehingga dedaunan yang berasal dari hutan maupun yang berasal dari pundi-pundi penyimpanan khusus dapat bergerak sesuai dengan kehendak pengendalinya.
Aksara-aksara cahaya bertebaran sekaligus membutakan pandangan mata. Jaring besar yang terbentuk dari ribuan aksara segera menjerat pendekar-pendekar yang berkelebatan di sekitar Mantingan. Belum sempat pendekar-pendekar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Mantingan telah lebih dahulu menumpas mereka habis mereka semua.
__ADS_1
Mantingan kembali menginjak tanah setelah berkelebatan di udara. Matanya menyisir ke sekitar dengan harapan menemukan Pendekar Kelewang Berdarah. Ia harus membunuh pendekar itu sesegera mungkin, sebab betapa pun telah terlalu banyak perempuan dari rombongan pemain wayang yang binasa di tangannya dengan cara yang tidak terhormat dalam dunia persilatan. Jika Pendekar Kelewang Berdarah tidak segera dihentikan, maka rombongan pemain wayang akan menderita kekalahan yang mengerikan, sebab betapa pun mereka adalah sekumpulan perempuan jelita di tengah kepungan para lelaki golongan hitam!
Mantingan tidak akan membiarkan hal itu terjadi, tetapi sepertinya hal itu tidak serupa dengan Kartika. Perempuan yang merupakan pemimpin rombongan pemain wayang itu masih terus menari, tiada henti, meski di kiri dan kanannya telah tergeletak belasan mayat anak buahnya yang mengorbankan hidup untuknya.
Mantingan teramat sangat yakin dengan seyakin-yakinnya, bahwa Pendekar Kelewang Berdarah akan mampu dihentikan sepak terjangnya jika Kartika menghentikan tariannya dan mulai bertarung. Bahkan bukan tidak mungkin Pendekar Kelewang Berdarah binasa jikalau Kartika dan dirinya menggabungkan kekuatan.
Mantingan tidak sempat menemukan Pendekar Kelewang Berdarah sebab dirinya mesti menghadapi serangan-serangan lain yang datang bagaikan lalat menemukan bangkai. Sayangnya, di sini Mantingan tidak bertindak sebagai lalat, melainkan sebagai bangkai.
Mantingan kembali melempar Lontar Sihir ke udara, tetapi kali ini berjumlah belasan. Dengan musuh yang datang semakin banyak, maka dibutuhkan Lontar Sihir yang banyak pula untuk dapat melumpuhkan mereka. Namun, kali ini serangannya tidak berbuah manis. Pendekar-pendekar itu mengambil pelajaran dari kematian kawan-kawannya di tangan Mantingan. Mereka bergerak menghindar sejauh yang didapat setelah melihat Mantingan merogoh kotak penyimpanan lontar. Hal itu menyebabkan Mantingan hanya dapat menjerat beberapa pendekar yang jumlahnya masih berbilang jari sebelah tangan.
Mantingan tidak diberi jeda, pendekar-pendekar musuh kembali menyerbunya. Serangan datang bagaikan derai hujan deras. Tiada henti!
Mantingan semakin terdesak. Kini semakin sulit baginya untuk memainkan sihir. Bahkan Ilmu Mengendalikan Angin yang telah Mantingan kembangkan menjadi ilmu mematikan pun menjadi tidak berdaya di hadapan mereka. Mantingan terus menyerang, tetapi tidak banyak dari serangannya yang berhasil membunuh musuh.
Dalam keadaan yang sedemikian mendesak ini, ilmu membaca pertanda tidak bekerja sebagaimana mestinya. Betapa pun, ilmu tersebut menuntut jiwa yang tenang untuk dapat memainkannya. Boleh dikata, saat ini Mantingan tengah buncah. Serangan musuh yang datang terlalu banyak, dan perlahan rasa takut akan kematian mulai menyergapnya. Kenanga masih belum menerima Kembangmas yang dijanjikan, ia tidak mau mati saat ini!
__ADS_1
Di saat seperti itulah, ingatan akan perkataan Kiai Kedai sepintas kembali muncul dalam benaknya. Itu seperti bantuan langsung dari gurunya yang baru benar-benar turun di keadaan mendesak saja!
“Betapa pun keadaannya, Mantingan, tenangkan dirimu!” seru gurunya itu manakala Mantingan dikalahkan dengan begitu mudah dalam latih tanding. Betapa Kiai Guru Kedai mengetahui bahwa pikiran Mantingan sedang hinggap pada kenangannya bersama Rara. “Pertarungan semacam apa pun, tenanglah! Niscaya dikau dapat membaca setiap serangan lawan semudah dikau membaca kitab dongeng, jadi tetaplah tenang dalam keadaan apa pun! Semua pikiran yang mengganggu ketenanganmu, maka buanglah. Betapa pun itu hanya pikiran, dan tidak lebih dari hanya pikiran semata, yang belum tentu nyata atau tidak.”
Jika pada saat itu pikiran tentang Rara yang dibuangnya jauh-jauh, maka sekarang pikiran apakah yang mesti dibuangnya?
Dalam catatan perjalanan Perempuan Tak Bernama, disebutkan betapa dirinya pernah mengalami serangan khayalan yang begitu mengguncang kejiwaannya di saat-saat penting. Mantingan terbenam dalam pikirannya ketika ia berusaha mengingat kalimat demi kalimat yang digurat Perempuan Tak Bernama di Kitab Tak Bernama, dengan harapan dapat menemukan cara untuk keluar dari keterdesakannya saat ini yang telah sampai pada tingkatan mengancam jiwa.
Seperti inilah ingatan tentang naskah itu yang tersimpan di dalam salah satu ruang pikirnya:
Lembah ini begitu menyeramkan. Ataukah sebenarnya, aku salah penyebutan? Kurasa ini adalah celah yang membelah dua bukit berbatu, di mana diriku ada dalamnya. Baiklah, kusebut saja tempat kakiku berpijak ini sebagai celah.
Celah ini begitu dan teramat sempit. Aku sampai harus menyampingkan tubuhku untuk dapat berjalan dengan satu-dua langkah kecil. Meskipun sangat sempit, kukira celah ini memiliki ukuran yang cukup panjang. Kurasakan desir angin yang menerpa wajahku dengan begitu lemahnya, padahal angin begitu menggila sebelum diriku masuk ke dalam celah ini.
Aku bukanlah termasuk orang yang takut pada tempat sempit. Telah kusebutkan sebelumnya bahwa selain tidak takut, diriku telah berlatih untuk keadaan seperti ini dengan menerjunkan diri ke dalam celah gelap dan sempit yang ada di Gaung Seribu Tetes Air untuk waktu yang sangat amat tidak sebentar. Sehingga untuk berada di dalam celah sempit ini yang mana masih ada jalan untuk keluar, dan siang masih terang benderang seperti ini, diriku sama sekali tidak takut.
__ADS_1
Telah pula kusebutkan bahwa diriku sebenarnya terpaksa masuk ke dalam celah ini, sebab sarang musuh-musuhku tepat berada di atas celah ini.