
TETIBA, Mantingan seperti kembali mendengar kata-kata Chitra Anggini yang pernah disampaikannya itu melalui tatapan mata: “Jangan! Kamu hanya akan mati sia-sia!”
Terdengar suara dengung ketika kelewang sang algojo diayunkan ke arah lehernya, tetapi dalam sekedip mata Mantingan tiba-tiba saja berguling menghindari sabetan tersebut, sehingga dengan demikian bukan lehernya yang tertebas melainkan papan kayu yang menjadi lantai dasar bangunan itu.
Dengan gerakan yang sangat cepat pula, Mantingan menotok jalan darah seluruh orang di tempat itu dengan totokan angin. Menghadapi kekuatan seorang pendekar, lebih-lebih yang telah mencapai tingkat langit, mereka tidak bisa berbuat banyak.
Mantingan mendekati sang datuk yang pada saat itu telah bergemetar hebat oleh rasa takut. Hanya dialah yang luput dari totokan pemuda itu.
“Datuk, maafkanlah sahaya sebab telah melanggar peraturan di pulau ini. Tidaklah perlu Datuk repot-repot menebas leher sahaya, sebab sahaya akan segera meninggalkan pulau ini dengan kehendak sendiri. Tetapi sebelum itu, perlulah terlebih dahulu sahaya ketahui di mana Datuk menyimpan senjata-senjata sahaya. Hanya itulah satu-satunya yang sahaya miliki sekarang.”
Meskipun Mantingan berkata dengan lembut dan tenang, sang datuk cukup pintar untuk mengetahui bahwa pemuda itu sebenarnya tengah mengancam dirinya. Tidak mau mengambil nasib buruk, segera saja dia bangkit dari singgasananya dan berjalan menuju sebuah peti besar di sudut bangsal.
“Kemarilah, Pendekar. Aku menyimpan semua itu di sini.” Datuk itu membuka tutup peti dengan tangan bergemetar hebat sebelum mempersilakan Mantingan mengambil senjata-senjatanya sendiri.
Pemuda itu segera mengemasi semuanya. Beruntunglah Sepasang Pedang Rembulan memiliki sarung dengan tali pengikat, sehingga dapatlah ia menyilangkan keduanya di punggung. Sedangkan Pedang Savrinadeya dan Pedang Kiai Kedai tetap ia sorenkan di sabuk pinggangnya. Sehinggalah kini ia membawa empat pedang sekaligus, sebuah pemandangan yang sangat tidak lazim bagi seorang penyoren pedang.
Mantingan berjalan ke arah pintu keluar bangsal, tetapi tepat sebelum dirinya meninggalkan tempat itu, sang datuk kembali memanggilnya.
“Pendekar, apakah kamu akan meninggalkan mereka dalam keadaan kaku seperti batu karang ini?”
Mantingan mengibaskan telapak tangannya beberapa kali untuk mengirim totokan pelepas totokan, sebelum akhirnya berkelebat pergi.
***
“Munding, ke Javadvipa.” MANTINGAN melompat naik ke punggung kerbau itu sambil memberi perintah.
Sekali Munding melenguh dengan nada bertanya.
“Tidak. Chitra Anggini akan tetap tinggal di pulau ini.” Mantingan memejamkan mata, tidak mau membiarkan air matanya terbuang kembali meski hanya setetes. “Kita tidak perlu mengkhawatirkan perempuan itu. Chitra Anggini tetaplah seorang pendekar yang kuat lagi perkasa, dia bisa melindungi dirinya sendiri.”
__ADS_1
Mendengar itu, Munding tidak segera menjalankan perintah sebab merasa amat berat menerbangkan dirinya ke angkasa. Meskipun kerbau itu hanyalah seekor hewan, tetapi dia memiliki kecerdasan jauh di atas rata-rata. Selain memiliki naluri yang amat tinggi, Munding pula memiliki perasaan. Dan saat ini, perasaannya mengatakan sesuatu yang buruk tentang Chitra Anggini.
“Terbang saja, Munding. Kita tidak punya banyak waktu.”
Maka seketika itu pula Munding Caraka melayangkan dirinya ke angkasa tinggi. Melesat dengan kecepatan ratusan kali lipat burung elang. Meninggalkan pulau di tengah teluk kotaraja itu.
Mantingan menoleh ke belakang untuk yang terakhir kalinya. Terbetik rasa penyesalan sebab tidak mengunjungi pusara Chitra Anggini untuk sekadar mengucapkan kata-kata perpisahan. Ia merasa melakukan hal itu hanya akan membuat dirinya berakhir dalam keterpurukan yang sedalam-dalamnya. Pemuda itu memutuskan untuk pergi. Meninggalkan Kedatuan Koying. Meninggalkan Suvarnadvipa. Meninggalkan segala-galanya.
***
KEADAAN di Kotaraja Koying kembali membaik tepat dua pekan semenjak terjadinya peristiwa makar itu. Warga kotaraja memilih untuk tidak memberontak sebab merasa cukup puas dengan kebijakan-kebijakan baru yang dibuat oleh Puan Kekelaman.
Hal yang sama juga terjadi pada kerajaan-kerajaan kecil yang berada di bawah naungan Kedatuan Koying. Meskipun Puan Kekelaman tidak mengurangi pajak yang harus mereka bayar, tetapi penguasa baru itu menambahkan banyak armada tempur serta beragam kebutuhan pertanian lainnya untuk kerajaan-kerajaan tersebut sebagai upaya menghadapi musim penghujan.
Namun, tetap ada beberapa kerajaan kecil yang berpikir bisa memanfaatkan keadaan setelah makar itu. Mereka menduga bahwa suasana di kotaraja masih memanas sehingga pertahanannya akan dapat mudah ditembus, jadi mereka mengirimkan sejumlah pasukan gabungan menuju kotaraja secara diam-diam.
Sayangnya, pergerakan mereka dapat diendus oleh Puan Kekelaman yang masih menguasai sebagian besar jaringan bawah tanah di Suvarnadvipa. Kini dia dan para perwira tinggi sedang menyiapkan siasat untuk menghadapi serangan tersebut.
Sedangkan itu, patung yang menggambarkan rupa Mantingan telah resmi berdiri di Permukiman Miskin Kotaraja. Upacara peresmian tidak hanya dihadiri oleh seluruh penduduk yang bermukim di tempat itu, melainkan pula ribuan warga kotaraja dari seluruh lingkungan menyempatkan diri untuk melihat patung itu. Mereka mendengar kabar burung bahwa “Pahlawan Muda Kebangkitan” yang mengangkat Permukiman Miskin Kotaraja dari keterpurukan itu adalah orang yang sama dengan Pahlawan Man.
Tepat di hari itu, Puan Kekelaman menerima seorang tamu khusus yang mengaku datang dari Javadvipa.
“Dia datang bersama pasukan?” tanya Puan Kekelaman pada salah satu jenderal balatentara.
“Hanya pasukan berisi 200 pendekar, Yang Mulia. Mereka semua menutupi wajah dengan topeng putih dan bisa mengendalikan angin.”
Mendengar itu, dahi Puan Kekelaman berkerut. “Siapkan penyambutan yang pantas di bangsal tamu.”
“Hamba laksanakan, Yang Mulia.”
__ADS_1
Kurang dari sepeminuman teh kemudian, bangsal tamu telah siap. Dua buah kursi saling berhadap-hadapan dengan dipisahkan sebuah meja teh. Sedangkan itu, pendekar-pendekar berkeahlian khusus dikerahkan untuk menjaga keamanan Puan Kekelaman, ada yang tampil secara terang-terangan tetapi ada pula yang bersembunyi di balik bayang-bayang.
Puan Kekelaman menempati bangku itu terlebih dahulu sebelum sang tamu datang. Rupa-rupanya, tamu itu telah berusia amat lanjut dengan badan yang tak lagi dapat disebut kekar, sehingga Puan Kekelaman dapat sedikit tenang. Sebelumnya, wanita itu mengira bahwa tamu yang datang dari Javadvipa itu adalah salah satu panglima tempur Tarumanagara yang berminat memutus persahabatan.
“Kusampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya pada Paduka sebab sudi menerima orang tua tak berdaya seperti diriku ini. Daku adalah Rama, ketua tertinggi dari Perguruan Angin Putih, sekaligus perwakilan Tarumanagara untuk berbincang dengan Paduka.”
Mereka bercakap-cakap ringan untuk beberapa saat sebelum perbincangan mulai memasuki inti dan maksud dari pertemuan itu.
“Paduka, kiranyakah kabar burung yang tersiur bahwa Pahlawan Man terlibat dalam peristiwa itu adalah kebenaran?”
Puan Kekelaman memincingkan mata. Tidak langsung menjawab.
“Paduka tidak perlu khawatir, perguruan saya adalah tempat Pahlawan Man berasal. Bila Paduka berbicara pada salah satu penasihat kerajaan, pastilah dirinya pernah mendengar tentang hubungan antara Pahlawan Man dengan Perguruan Angin Putih.”
“Ya. Pahlawan Man memang terlibat dalam usaha makarku, tetapi bukanlah berarti dirinya sengaja dengan suka-rela. Dia telah kujebak dalam hal-hal tertentu.”
Mendengar itu, Rama mengusap wajahnya. “Paduka menjebaknya?”
Puan Kekelaman hanya dapat mengangguk.
“Tahukah Paduka bahwa tindakan seperti itu telah membuat Pahlawan Man menjadi buronan Tarumanagara?”
Mendengar hal itu, Puan Kekelaman bagai baru saja tersambar petir. Tarumanagara akhirnya mengeluarkan tanggapan atas tindakan Mantingan, dan bukanlah tanggapan yang sama sekali baik bila membuat pemuda itu menjadi buronan.
“Dia dianggap telah mempermalukan nama Tarumanagara yang hendak berlepas diri dari dunia persilatan. Kini, masalah-masalah baru muncul antara perguruan aliran hitam dengan aliran putih di Javabhumi. Dapatkah Paduka membayangkan itu saat ini?”
“Saya hanya melakukan apa yang menurut saya baik untuk negeri ini.” Puan Kekelaman menjawab dengan ketetapan hati, bahwa dirinya memang bertindak makar untuk kebaikan negeri Koying.
Rama menggelengkan kepalanya berkali-kali sebelum menyerahkan sekeropak lontar kepada Puan Kekelaman. “Dalam lempir-lempir lontar ini, Tarumanagara telah resmi memutuskan segala hubungan persahabatan dengan Koying, termasuk pula dalam perdagangan. Paduka, saya khawatir Javadvipa akan menyerbu lautan Koying untuk menguasai jalur sutra.”
__ADS_1
Puan Kekelaman menerima surat itu dengan raut wajah yang tak dapat terjelaskan lagi, bagai saja surat itu adalah keputusan hakim untuk menghukumnya dengan penggalan kepala.
“Sekarang ini, saya harus menemukan Pahlawan Man secepat mungkin jika tidak mau Perguruan Angin Putih menerima kemurkaan Tarumanagara. Hidup atau mati.”