Sang Musafir

Sang Musafir
Kembali ke Desa Lonceng Angin


__ADS_3

PERBINCANGAN itu masih berlanjut.


“Tetapi jika seseorang memang telah memiliki bakat memainkan sastra, maka dapatlah dia menandingi para sastrawan yang telah berpuluh-puluh tahun mencari racikan sastra itu.”


“Bakat memanglah ada, kita tidak dapat membantahnya. Orang yang berbakat bagai memiliki masa depan cerah, menandingi mereka yang telah berusaha keras tetapi tidak berbakat pada suatu bidang.”


“Akan tetapi, kenyataan itu agaknya masih belum dapat diterima oleh pendekar-pendekar sepuh di seantero Dwipantara. Mereka tidak mengakui Pahlawan Man sebagai Pemangku Langit, padahal telah semestinya bakat muda itu mendapatkan kedudukan yang sebagaimana kemampuannya. Bukankah dia adalah dalang di balik terbunuhnya ribuan pendekar aliran hitam pada pertempuran laut utara itu?”


Orang-orang yang tampak seperti kelompok dagang itu terdiam beberapa saat ketika nama Pahlawan Man disebutkan, tetapi suasana di kedai itu tidak serta-merta menjadi hening sebab Mantingan masih terus melahap makanannya dengan meniadakan adat. Mulutnya selalu mengeluarkan suara kecapan keras.


“Orang tak beradat,” timpal salah satu dari mereka.


“Biarlah. Jika dia beradat dan berilmu, tidak mungkin dirinya sampai jatuh miskin seperti itu. Sudah benar menjadi penggembala, justru berpetualang tak jelas rimba.”


“Kembali sajalah kita pada pembahasan barusan. Bukankah kini Pahlawan Man ditetapkan sebagai buronan kerajaan?”


“Ya. Dia menjadi orang yang paling dicari Tarumanagara saat ini, hidup atau mati. Hadiah yang ditawarkan pun tidak hanya berupa emas maupun intan semata, melainkan pula wilayah sebesar keratuan. Jika dikau ingin menjadi raja kecil, cobalah untuk memburu pendekar muda itu.”


Usul tersebut dibalas dengan gelengan kepala. “Daku sendiri sama sekali tidak berminat. Dia terlalu kuat. Selain itu, diriku tak punya alasan apa jua untuk bermusuhan dengannya. Tak peduli apakah kabar tentang Pahlawan Man yang membantu perbuatan makar itu benar atau bohong, tetapi betapa pun dirinya telah menyelamatkan Tarumanagara dari kehancuran mutlak pada masa kekacauan.”


Kawannya menimpali dengan nada setuju, “Ya. Pada masa kekacauan, kuingat betul usaha dagangku hampir hancur akibat penjarahan demi penjarahan di segala tempat. Kerugian yang kutanggung bukan alang-kepalang, harus kujual rumahku yang besar bagai istana itu berserta seluruh ternakku. Namun sebelum daku benar-benar habis, kekacauan tersebut tiba-tiba saja menghilang setelah Pahlawan Man bersepak terjang. Kini dapat kubeli kembali rumah lamaku, meski sekarang kutahu betul betapa lebih nikmat bila tinggal di tempat yang tak seberapa besar bersama istri-istriku.”

__ADS_1


“Wahai, sudahkah bertambah jumlah istrimu?”


“Ah, tidak terlalu banyak. Hanya tiga perempuan saja yang kutambah.”


***


MANTINGAN meneruskan perjalanan melalui udara dengan menunggangi Munding Caraka. Kerbau itu telah sampai di antara mega-mega, yang amat sulit bagi manusia biasa untuk dapat tetap bernapas di ketinggian seperti itu, tetapi Mantingan memiliki suatu ilmu pernapasan yang memungkinkan dirinya untuk tetap bernapas dengan sedikit udara. Ilmu tersebut semakin matang setelah dilatihnya dalam samadhi melawan keterpurukan akibat kematian Chitra Anggini di dalam gua itu.


Setelah satu hari berlalu, mereka akhirnya tiba di Desa Lonceng Angin.


Mantingan mengganti penyamarannya. Dengan pakaian yang cukup bersih, ia meletakkan berikat-ikat rumput segar di atas punggung Munding. Begitulah dirinya kemudian menyamar sebagai pengarit rumput yang biasanya menjual rumput-rumput segar dari kaki gunung ke desa atau perkotaan yang cukup jauh dari wilayah pegunungan.


Meskipun sebenarnya Desa Lonceng Angin tidak terletak begitu jauh dari pegunungan, tetapi sekiranya orang-orang desa masih akan menganggap wajar jika pemuda itu hanya sedang mencari pengalaman berdagang di desa-desa yang terdekat dari rumahnya, dan nanti jika sudah menelan pahitnya berjualan rumput di desa-desa makmur pastilah akan mencari peluang di tempat lain.


Dirinya masih tidak melupakan seluk-beluk Desa Lonceng Angin yang begitu dirindukan itu. Kini setelah beberapa purnama berlalu, desa tersebut tak banyak berubah. Lonceng-lonceng angin yang terbuat dari bambu itu masih mengeluarkan suara temaram. Orang-orang di tempat itu masih ramah pada pendatang baru. Pula dilihatnya Toko Ibu Wira yang kini telah tertutup rapat, tetapi tampak masih cukup terawat.


Mantingan menjadi bertanya-tanya. Siapakah kiranya yang telah bersusah payah merawat bangunan itu tanpa mengubahnya menjadi bangunan lain? Papan nama Toko Ibu Wira masih terpajang pada dinding bagian depan. Bebungaan dengan jenis yang sama tetap tumbuh sebagaimana segarnya.


Mantingan telah mendengar sendiri bahwa Ibu Wira tidak lagi memiliki anak-cucu maupun sanak keluarga pada usianya yang telah setua itu. Dia adalah seorang mantan pendekar aliran hitam yang mengundurkan diri dari dunia persilatan, sehingga sangat tidak mungkin jika dirinya mempunyai sahabat sesama pendekar yang kemudian mewarisi tokonya tersebut.


Tidak ada kemungkinan lain selain bahwa warga Desa Lonceng Angin itu sendiri yang merawatnya.

__ADS_1


Namun, pertanyaan lain timbul dalam kepala Mantingan. Mengapa kiranya kepala desa tidak mengambil alih bangunan tersebut untuk kemudian diperdayagunakannya demi kepentingan desa ketimbang menjadi tak terpakai sama sekali?


Mantingan hanya berhenti sebentar di hadapan bangunan tersebut untuk sekadar menyampaikan rasa terima kasih pada Ibu Wira yang telah berperan banyak melindungi Kana dan Kina pada saat terjadinya penyerangan. Dia juga telah memberikan pekerjaan bagi Bidadari Sungai Utara yang kala itu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan seorang diri tanpa Mantingan.


Dan lebih dari segalanya, Ibu Wira telah menciptakan Ramuan Maman yang berhasil menyelamatkan nyawa pemuda itu dari Racun Tak Bernama. Jika tidak ada perempuan tua yang berbaik hati itu, maka tiadalah pula seorang Mantingan hingga hari ini.


“Ah, betapa kenangan ....” Mantingan memilih untuk tidak berlarut-larut dalam ingatan-ingatan kelam yang dapat saja membawanya kembali pada kematian Chitra Anggini di ujung pedangnya sendiri. Tak mau terpuruk, dirinya melanjutkan langkah meninggalkan tempat tersebut.


Sungguh perlu diakui olehnya bahwa tinggal di Desa Lonceng Angin adalah masa-masa terbaik dan terhangat yang pernah ia dapatkan selama hidupnya. Bersama Bidadari Sungai Utara, Kana, Kina, dan Ibu Wira, Mantingan merasa bagai telah mendapatkan keluarganya sendiri. Mungkin tidak banyak pendekar yang berkesempatan merasakan perasaan yang sama dengannya, bahkan dunia persilatan menganggap rasa kekeluargaan sebagai hal yang tabu sebab dapat membawa petaka buruk.


Namun sebagaimana seorang pendekar yang masih menapakkan kakinya di jalur telaga persilatan, Mantingan tidak bisa terlalu lama merasakan perasaan damai itu. Pada akhirnya, ia berpisah dengan mereka semua.


Itu seperti seseorang yang sedang mendaki gunung terjal di hari yang berkabut, kemudian angin tiba-tiba saja bertiup kuat menyingkirkan kabut-kabut tersebut sehingga terhamparlah pemandangan yang teramat indah dari atas ketinggian, tetapi angin berhenti mengembus dan kabut kembali menutupi pandangan sebelum si pendaki harus kembali meneruskan perjalanannya menuju puncak gunung. Pemandangan yang indah tetapi singkat itu adalah hadiah kecil dari langit untuk sekadar menyemangati si pendaki.


Kiai Guru Kedai mengibaratkan perjalanan menuju puncak kesempurnaan persilatan sebagaimana halnya dengan mendaki gunung:


“Gunung tersebut berkabut tebal, amatlah tebal sehingga menutupi pandangan mata. Jangkauan penglihatanmu hanya sampai pada dua depa. Selebihnya, kamu tidak akan bisa melihat apa pun selain kekelabuan yang tiada lagi selain kekelabuan itu. Segala sesuatunya tertabiri. Puncak gunung yang ingin dikau capai tidak akan bisa kaulihat dengan kabut yang sebegitu tebal, tetapi banyak orang yang mengatakan bahwa pemandangan di atas puncak itu amat menjanjikan, sehingga dikau menjadi amat penasaran untuk terus dan terus mendakinya. Sayang sekali, jalur yang dikau panjati terlalu terjal, tidak mungkin bagi dikau untuk surut pulang. Bila tetap memaksa mundur, maka dikau hanya akan tergelincir dan jatuh ditelan kabut kelabu tanpa pernah bisa ditemukan lagi. Begitulah dunia persilatan.”


___


catatan:

__ADS_1


Adakah kiranya di antara para pembaca yang tinggal di daerah Cianjur?


__ADS_2