Sang Musafir

Sang Musafir
Ini Mungkin Akan Menjadi Makan Malam Terakhir Kita


__ADS_3

Mereka sampai di kota saat malam telah larut. Selama perjalanan itu, Mantingan sesekali bertemu dengan pendekar-pendekar aliran hitam yang mencoba mencelakai dirinya serta Dara, tetapi itu bukan masalah besar yang harus diselesaikan dengan membunuh.


Penjagaan di gerbang kota sangatlah ketat, Mantingan membutuhkan banyak waktu sebelum urusan pemeriksaan selesai dan mereka bisa masuk.


Dara berkata, bahwa di dalam kota ini ia sudah memiliki kediamannya sendiri, sehingga mereka tidak perlu menyewa penginapan lagi.


Udara cukup dingin di kota ini. Masih disebabkan oleh gunung-gunung yang mengitari kota itu. Tidak terlalu banyak orang yang berlalu-lalang, hanya ada beberapa prajurit saja dengan tombaknya meronda.


Jikalau tadi Mantingan yang memimpin jalan, maka sekarang giliran Dara yang memimpin jalan.


Setelah masuk agak jauh ke dalam kota, Dara menghentikan langkahnya di depan rumah tinggi. Mantingan tidak dapat melihat dengan jelas ke dalam, karena tembok pagar di rumah itu tingginya melebihi tinggi orang dewasa.


“Mantingan, ini adalah rumahku. Biasanya selalu ada yang menjaga di depan sini, tapi sepertinya mereka mengerahkan seluruh daya untuk mencariku.” Dara berkata agak canggung, “kemungkinan terbesarnya, di rumahku sekarang tidak ada orang.”


Mantingan berdeham beberapa kali sebelum kemudian menjawab, “Dara, sepertinya hanya sampai di sini saja aku mengantarmu ....”


“Tidak boleh begitu, kau sudah mengantarku jauh-jauh seperti ini, sangat tidak baik jika langsung pulang begitu saja.”


“Lebih tidak baik lagi jika hanya ada kau dan aku di rumahmu.” Mantingan menolaknya.


“Kita pernah bermalam berdua di satu kamar. Tidak terjadi apa-apa, bukan?” Dara tersenyum lebar. “Jangan seperti itu, Mantingan. Biar aku membayar jerih dan payah mengantarku sampai di sini. Semangkuk makanan hangat, bagaimana?”


Mantingan menimbang beberapa saat sebelum mengangguk. “Sepertinya aku akan merepotkanmu.”


Dara tersenyum. “Tidak akan,” katanya.


Dara mengentakkan kaki, melompati pagar tinggi yang melindungi kediamannya itu. Mantingan mengikutinya, turut melompati pagar tersebut. Mereka mendarat hampir bersamaan. Mantingan mengedarkan pandang. Jika dilihat dari luar, keindahan rumah Dara akan tertutupi oleh pagarnya.


Walau tak berpenghuni, rumah Dara terlihat tetap terawat. Di halamannya yang sangat besar, terdapat sebuah kolam yang air jernihnya terus mengalir. Di tengah kolam tersebut terdapat sebuah arca berbentuk manusia setengah katak, dari mulutnya mengalir air jernih ke kolam. Ikan-ikan cantik berenang di air jernih yang segar itu, bermandikan cahaya perak dari bulan.


Sisa halaman dipenuhi oleh banyak sekali tumbuhan indah, Mantingan juga melihat terdapat beberapa tumbuhan herbal yang ditanam di halaman itu. Beberapa arca menghiasi taman tersebut, serasi dengan tumbuhan-tumbuhan di sana.


Sinar rembulan tambah mempercantik keindahan di halaman rumah Dara tersebut. Mantingan begitu terkesan, hingga ia hampir tidak mendengar apa pun saat Dara memanggilnya.

__ADS_1


“Mantingan, apa yang sedang kaupandangi?” Dara lalu mengernyitkan dahi saat Mantingan tidak mendengar ucapannya. “Mantingan?”


“Eh, ya?” Mantingan tersadar dari lamunannya. “Aku sedang melihati halamanmu, begitu indahnya.”


Dara tertawa kecil. “Sebenarnya halaman ini bukan aku yang membuatnya, aku hanya mengatur tata letaknya saja.”


Mantingan tetap terpukau dan berdecak kagum. “Sepertinya akan sangat nyaman tinggal di tempat seperti ini.”


Dara menggeleng pelan, bibirnya membentuk lekuk senyum pahit. “Bagiku, rumah ini tidak terlalu indah.”


Giliran Mantingan yang mengerutkan dahi. “Mengapa?”


Dara menghela napas. “Aku terlalu sibuk meraup keuntungan demi keuntungan, tidak pernah puas, hingga aku tidak punya waktu untuk rehat dan mensyukuri apa yang telah aku miliki. Seperti rumah ini misalnya, halaman ini biasanya hanya aku lewati begitu saja. Mantingan, hanya dengan dirimulah aku berhenti sejenak di sini dan menyadari betapa banyaknya yang telah aku miliki.”


Dara tersenyum, semakin pahit.


Begitu banyak yang telah aku miliki. Namun, sayang bukan kamilu yang aku miliki, batin Dara, yang hanya bisa didengarnya seorang.


Mantingan tersenyum. “Aku senang kau bisa mengambil pelajaran dari keindahan ini.”


Waktu sepeminuman teh lewat begitu saja saat Dara akhirnya berkata, “Mantingan, mari masuk.”


Mantingan mengangguk dan mengikuti Dara. Sesampainya di pintu, Dara mengeluarkan sesuatu dari sakunya yang ternyata merupakan kunci rumah. Dara mengatakan, bahwa ia selalu memiliki kunci rumah cadangan.


Dara membuka pintu. Bagian dalam rumah terlihat sangat gelap, tidak ada satupun lampu lentera yang menyala. Dara tersenyum canggung dan mengatakan bahwa ia tidak suka gelap. Jadilah Mantingan yang masuk ke dalam, menyalakan beberapa lentera di dalam.


Setelah lentera-lentera cukup menerangi ruangan, Dara baru berani masuk.


“Rumahku ini selalu tampak menyeramkan dalam kondisi gelap.”


Yang Dara katakan itu ada benarnya. Rumahnya terlalu mewah, penuh dengan ukiran-ukiran seni, jadi cukup menyeramkan dalam kondisi gelap.


Dara menelusuri ruangan lainnya dan menyalakan banyak lampu.

__ADS_1


***


Seluruh ruangan di rumah terang akibat seluruh lentera dinyalakan Dara. Mantingan telah mengingatkannya tentang pemborosan dan risiko kebakaran, tetapi Dara tetap bersikukuh bahwa rumahnya akan menyeramkan jika semua lentera tidak dinyalakan.


Kini mereka telah terpisah. Mantingan diberikan salah satu kamar tamu untuknya beristirahat, sedangkan Dara memasak makanan di dapurnya.


Mantingan menutup pintu kamarnya, tetapi ia tidak beristirahat. Beberapa orang yang menyadari rumah Dara hidup kembali menjadi penasaran dan mencoba masuk, tidak sedikit yang diam-diam mencoba masuk rumah Dara menggunakan tangga.


Tentu saja hal itu tidak akan dibiarkan Mantingan. Di jendela Dara terdapat tirai berwarna putih, Mantingan tersenyum dan mendapatkan sebuah gagasan cermelang.


Beberapa saat setelah Mantingan mendapat gagasan cermelang itu, terdengar suara benda terjatuh dari luar, dan teriak ketakutan, selanjutnya terdengar derap langkah lari.


Saat Mantingan kembali ke kamarnya, tidak ada lagi orang yang cukup berani mengusik ‘penghuni’ di rumah Dara. Mantingan tertawa puas.


Terdengar suara pintu diketuk, Mantingan lekas memasang kembali tirai di jendela yang tadi ia pakai, lalu membuka pintu.


“Kau baik-baik saja, Mantingan? Rambutmu terlihat acak-acakan ....”


“Ya, semua baik-baik saja. Ada apa?”


Dara berpikir beberapa saat sebelum menggeleng pelan. “Makanan sudah siap, turunlah sebentar dan makan bersama.”


Mantingan mengernyitkan dahi. Entah mengapa, ia merasa di dalam ucapan Dara mengandung kesedihan. Dara yang tadi adalah Dara yang riang, tentu hal itu cukup mengejutkan Mantingan.


“Apakah semua baik-baik saja, Dara?”


Dara menggeleng kuat-kuat dan tersenyum. “Semua baik-baik saja. Ayo lekas turun dan makan.”


Mantingan mengangguk pelan, mengikuti Dara dengan tatapan khawatir.


Sesampainya mereka di bawah, tepatnya di meja makan dapur, Mantingan dan Dara duduk berhadapan. Di meja itu terdapat beberapa lauk-pauk mewah yang entah bagaimana bisa dengan cepat Dara masak.


Sebelum memulai santapan, Dara berkata, “Ini mungkin akan menjadi makan malam terakhir kita.”

__ADS_1


____


Bonus chapter 11.000 like: 1/3


__ADS_2