Sang Musafir

Sang Musafir
Pecahnya Pertempuran antara Kelewang dan Daun


__ADS_3

Masih dengan tenang, Kartika berkata, “Sungguh bukan adat kami menghentikan Tarian Daun Jatuh seenak jidat. Hal itu akan membahayakan inti cakra kami.”


Wajah Mantingan seketika itu pula menjadi pucat pasi. Dengan berkata seperti itu, Kartika telah dengan sengaja memancing mereka untuk memulai pertarungan! Tentu saja musuh melihat kesempatan emas untuk dapat merusak inti cakra kelima penari itu. Apakah yang sebenarnya diinginkan Kartika dengan berkata seperti itu?


“Urusan mudah! Biar kami saja yang menghentikan kalian!” Pendekar Kelewang Berdarah mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Seketika itu pula sebelas anak buahnya bangkit berdiri dan mencabut kelewang. “Serbu!”


***


BERKELEBATANLAH pendekar-pendekar dari kedua belah pihak dengan saling menukar serangan di udara! Pendekar-pendekar yang semulanya bersembunyi di balik kegelapan pun turut menyerang. Mereka berasal dari Kelompok Kelewang Berdarah, sebab menyerang para pemain wayang dengan mati-matian, jumlah mereka mencapai ratusan!


Kain yang membelit mata Mantingan terlepas. Betapa ia mengetahui, bahwa selembar daun yang teramat sangat tajam telah memotongnya! Kini dapatlah Mantingan dapat melihat segala sesuatunya dengan lebih berwarna, tetapi juga lebih mengerikan dengan mayat-mayat bergelimpangan di atas rerumputan dengan keadaan yang teramat sangat mengenaskan!


“Saudara, bantulah kami untuk melawan musuh!” kata seorang perempuan di belakangnya itu ketika kehiruk-pikukan masih berlangsung dengan sedemikian hebatnya. “Tunaikanlah janjimu!”


“Kalian pendekar, sedangkan daku bukan!” Mantingan berkata dengan buncah; Munding mulai mengaum tinggi. Keadaan di sekitar memang telah benar-benar teramat sangat kacau, dan Mantingan pun menampilkan diri seolah dirinya benar-benar takut serta tiada berdaya, meskipun sebenarnyalah ia merasa cukup tenang sebab masih dapat mengendalikan keadaan semacam ini.

__ADS_1


Sedangkan itu, Mantingan dan perempuan di belakangnya mulai diserang dari jarak jauh menggunakan pisau dan jarum terbang. Mantingan tetap diam di tempat, ia tidak akan bergerak untuk mengempaskan senjata-senjata itu, meskipun nyawa sungguh menjadi tanggungannya. Maka begitulah dirinya menyerahkan keselamatan nyawanya pada perempuan di belakang, sekaligus pula untuk meyakinkan perempuan itu bahwa dirinya bukan pendekar!


Bagaimanakah bisa dirinya akan rela bertarung untuk melindungi rombongan pemain wayang jikalau pimpinan mereka sendiri masih saja menari dengan khusyuknya? Mantingan memang telah berjanji untuk melindungi segenap isi dari rombongan itu, tetapi dirinya sungguh tidak akan dengan begitu mudahnya campur tangan ke dalam urusan dunia persilatan bawah tanah tanpa tahu betul dengan apa yang sebenarnya sedang dihadapi.


Perempuan di belakangnya itu mengibas sebelah tangannya. Seketika itu pula dedaunan melesak keluar dari dalam pundi-pundi di pinggangnya untuk kemudian menghalau seluruh senjata terbang yang mengincar mereka. Dia kembali menoleh ke arah Mantingan dengan wajah yang tampak sangat gusar.


“Jika dikau tidak bertarung, maka dikau akan mati bersama kerbaumu! Daku tidak bisa melindungi dikau lagi!” Selepas mengatakannya, dia berkelebat pergi meninggalkan Mantingan begitu saja.


Mantingan memusatkan segala perhatiannya, sehingga semuanya tampak amat sangat lambat jika tidak bisa dikatakan berhenti. Ketika itulah Mantingan dapat menilai keadaan dan berpikir cepat.


Tentu saja keterdesakan itu disebabkan oleh karena Pendekar Kelewang Berdarah yang terus menyerang para perempuan wayang dengan sangat sebat, sedangkan Kartika tidak sama sekali memberi perlindungan sama sekali, melainkan terus menari dan memang tiada hal lain yang dilakukannya selain menari bersama empat perempuan lain. Bahkan anak-anak buahnya yang lain mulai bergerak mengorbankan diri untuk melindunginya!


Mantingan tidak habis pikir dengan tindakan Kartika. Sebagai seorang pemimpin rombongan, sudah menjadi kewajibannya untuk melindungi segenap anak buahnya dari segala macam bahaya yang mengancam, bahkan jika perlu mengorbankan nyawanya sendiri. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Anak-anak buahnyalah yang yang bergerak melindungi dan mengorbankan diri untuk pemimpinnya!


Mantingan mungkin masih bisa menerima jikalau Kartika dilindungi untuk alasan yang teramat sangat penting untuk sesama, sehingga anak-anak buahnya memang harus melindunginya dengan segenap jiwa dan raga. Namun, apakah memainkan tarian hingga selesai merupakan sesuatu yang teramat sangat penting hingga harus dilindungi dengan menggunakan nyawa?

__ADS_1


Melihat segala kegilaan yang Kartika lakukan dengan membiarkan para pemain wayang berguguran begitu saja di tangan musuh, Mantingan tidak dapat lagi berdiam diri. Ia merasa bahwa janjinya untuk melindungi rombongan itu mesti tergenapi, sebab dirinya tidak ingin menambah beban hidup dengan mengingkari janji. Dan sebagai seorang pendekar, dirinya diwajibkan untuk membela pihak yang lemah dan tertindas. Ia tidak tahu apakah mereka yang akan dibelanya itu berbuat benar atau salah, tetapi sudah pasti dirinya harus memerangi Kelompok Kelewang Berdarah sebab pihak yang benar tidak akan pernah menindas barang siapa pun!


Mantingan mengendurkan keterpusatan pikirannya sebab ia mesti membaginya untuk dapat bergerak. Segera diambillah selembar Lontar Sihir dari dalam kotak penyimpanan, sebelum menempelkannya ke punggung Munding Caraka dengan secepat mungkin. Mantra pelindung segera bekerja, ditandai dengan munculnya sejumlah aksara bercahaya. Lalu dengan terpaksa, Mantingan menotok aliran darah Munding agar ia lumpuh sementara, sehingga kerbau itu tidak bergerak keluar dari lingkaran sihir pelindung, dan agar dirinya bisa bertarung dengan tenang nantinya.


Mantingan mencabut Pedang Savrinadeya dari sabuk pinggangnya, maka segeralah dirinya berkelebat untuk menyerang pendekar-pendekar dari Kelompok Kelewang Darah.


Darah terpercik di udara ketika Mantingan menebas batang leher seorang pendekar yang hampir menikam seorang perempuan wayang dari belakang. Sengaja tidak Mantingan tebas habis batang leher orang itu, hanya sebatas hingga tenggorokannya saja, agar setidak-tidaknya pendekar yang sama sekali tidak memiliki sikap kependekaran itu menerima sedikit banyak rasa sakit sebelum ajal benar-benar menjemputnya.


Mantingan kembali berkelebat. Kali ini dirinya menghampiri sekumpulan pendekar yang bergerak secara bersamaan. Mantingan menggerakkan pedangnya ke kiri, belakang, ke atas, dan ke bawah dengan secepat yang ia bisa, hingga kecepatannya telah melebihi kecepatan berpikir. Dan manakala pedang itu ditebaskan ke kanan, sekumpulan angin dari bilah pedang itu menerpa pendekar-pendekar itu. Mencincangnya dengan tiada ampun, sebab sekumpulan angin yang dikirimkannya itu memiliki ketajaman yang menyamai pedang mestika.


Dalam Kitab Savrinadeya, gerakan itu disebut sebagai Jurus Angin Melekang Gunung, dikarenakan kedahsyatannya yang seolah saja dapat membelah sebuah gunung hanya dengan menggunakan angin belaka.


Mantingan cukup puas meskipun dirinya sama sekali tidak senang sebab betapa pun nyawa banyak orang baru saja melayang di tangannya. Jurus yang tiada dapat digunakan selama masa berlatih di Gaung Seribu Tetes Air itu pada akhirnya menunjukkan kegunaannya. Mantingan merasa beruntung, sebab dirinya pernah memutuskan untuk terus berlatih Kitab Savrinadeya meski tanpa hasil apa pun.


Setelah selesai membunuh pendekar-pendekar itu, Mantingan mencari sasaran lain. Ia memendarkan pandang ke sekitar, berharap segera menemukan pendekar musuh yang sekiranya mesti didahulukan untuk dibunuh. Pada saat itulah sorot matanya bertemu dengan mata Pendekar Kelewang Berdarah yang tampaknya sama-sama mencari lawan untuk dibunuh terlebih dahulu. Maka pandangan mata itulah yang kemudian diartikan sebagai tantangan bertarung terhadap satu sama lain!

__ADS_1



__ADS_2