
Birawa kembali menghela napas panjang setelah selesai membaca isi lontar-lontar Mantingan. Kini orang tua itu menatap Mantingan dengan tatapan lebih serius, tetapi tetap tersenyum hangat.
“Jadi engkau juga mencari Kembangmas, Anakku?”
Mantingan mengernyitkan dahi, lalu bertanyalah dia penasaran, “Apakah Bapak percaya akan keberadaan Kembangmas?”
Orang tua itu tersenyum. “Tunggu di sini, Anak. Diriku akan kembali sebentar lagi.” Birawa berdiri dan berjalan menuju ruangan lain.
Jika dipikir-pikir, Birawa sebenarnya bisa saja berjalan dengan kecepatan tak kasat mata. Tetapi sepertinya ia ingin menikmati bagaimana rasanya berjalan seperti orang biasa, sama seperti Mantingan yang selalu menikmati rasa permukaan jalan.
Selama Birawa pergi, Mantingan hanya bisa melihat atap ruangan yang penuh dengan sarang laba-laba dan berdebu itu. Birawa kembali tak lama kemudian, ia membawa tumpukan lontar dan peta besar yang tergulung.
Semua itu diletakkan di atas meja di depan mereka, Birawa kembali duduk berhadapan dengan Mantingan.
“Anak, ini semua adalah catatan-catatan yang daku kumpulkan. Catatan-catatan ini menyangkut keberadaan Kembangmas dan wujud Kembangmas.”
“Bagaimana bisa ....”
Mantingan sungguh terheran-heran. Orang-orang lain akan tertawa terbahak-bahak jika mendengar dirinya mencari catatan-catatan tentang Kembangmas dan menganggapnya tidak waras. Tetapi kini Birawa menunjukkan setumpuk catatan tentang Kembangmas dengan raut wajah serius.
“Apakah ini bukan tumpukan dongeng anak-anak, Bapak?”
Birawa menggeleng. “Tentu bukan, Anakku.”
“Lalu mengapa ada catatan seperti ini?” Mantingan masih tidak percaya.
“Daku yang mengumpulkan semua ini, Anak.”
“Tapi, bagaimana bisa?”
Birawa melebarkan senyum. “Jika penasaran, dikau bisa membacanya sendiri.”
__ADS_1
Mantingan dengan tangan sedikit bergetar membuka lembaran-lembaran lontar di depannya.
“Jika engkau telah cukup membaca, aku akan menjelaskan isi dari peta ini.” Birawa menepuk-nepuk peta panjang di tangannya.
Mantingan mengangguk. Menegup ludah sebelum mulai membaca isi lontar. Matanya membeliak.
***
Mantingan telah selesai membaca semua isi lontar itu. Matahari telah terbit sedari tadi, dan kini dua bangku di samping Mantingan telah diisi oleh Rara dan Arkawidya. Dua perempuan itu kebingungan menatap Mantingan yang begitu seriusnya membaca lontar hingga sapaan mereka pun tidak dibalas. Saat Arkawidya bertanya pada kakeknya, Birawa menggelengkan kepala pelan dan meminta mereka untuk menunggu Mantingan selesai bacaannya.
Tetiba Mantingan menarik napas panjang. Dirinya telah selesai membaca lembar lontar terakhir. Ia menoleh ke kanan dan kirinya kemudian menyapa Rara serta Arkawidya, ia juga meminta maaf karena tadi tidak membalas sapaan mereka.
“Sudah selesai kaumembaca, Mantingan?”
Mantingan mengangguk hikmat. “Telah kupahami, Bapak.”
Lembaran-lembaran lontar yang tadi Mantingan baca berisikan tentang informasi Kembangmas. Banyak sekali yang ia dapatkan, bahkan mungkin seluruhnya. Mantingan jadi tahu tentang sifat Kembangmas.
Bunga itu bukanlah tumbuhan biasa. Ia memiliki akal seperti halnya hewan, tetapi kecerdasannya di atas hewan. Kecerdasan Kembangmas hampir menyamai kecerdasan manusia!
Hal itu diketahui berdasarkan jejak-jejak Kembangmas yang menghindari jebakan pemburu yang tak disengaja untuk menjebak Kembangmas. Akal Kembangmas yang tinggi dibuktikan dari caranya melepas jeratan, dan kecepatannya dibuktikan dari jejak larinya. Beberapa beranggapan bahwa itu hanyalah hewan yang berhasil meloloskan diri dari jebakan, tetapi jejak yang tercetak berbentuk akar tetumbuhan.
Kemungkinan lain tentang Kembangmas mengatakan bahwa Kembangmas adalah siluman yang dapat berubah wujud menjadi manusia. Tidak diketahui apakah ia berkelamin apa saat berubah menjadi manusia, atau bisa jadi ia berkelamin ganda. Ini dibuktikan oleh adanya jejak akar-akar yang sama dengan jejak yang ditemukan sebelumnya, tetapi jejak akar ini berubah menjadi jejak kaki manusia saat mendekati sebuah danau.
Perburuan Kembangmas pernah secara besar-besaran terjadi. Bunga itu dianggap langka dan istimewa. Banyak bangsawan kerajaan yang ikut berburu Kembangmas. Dan bangsawan-bangsawan itulah yang mengakibatkan perburuan Kembangmas dihentikan.
Bangsawan-bangsawan yang ikut perburuan itu menghilang bersama pengawal-pengawalnya, hampir tidak ada yang selamat. Pemburu-pemburu yang lain juga menghilang tanpa meninggalkan banyak jejak. Hanya ditemukan kain pakaian mereka saja sebagai bukti menghilangnya orang-orang itu. Telah disisipi satu kain dengan cokelat di dalam lontar sebagai bukti juga bagi siapa pun yang membaca, bercak cokelat itu adalah bercak darah. Anehnya, pada kain itu tercium bau wangi menenangkan yang seakan tak akan hilang aromanya.
Sejak saat itu, kerajaan memutuskan perburuan Kembangmas sebagai hal yang terlarang. Peraturan itu tidak tertulis, tetapi tetap tidak ada yang berani memburu Kembangmas. Nyawa adalah taruhannya.
Diduga juga kerajaan yang membuat dongeng-dongeng tentang Kembangmas, tanpa diketahui alasan jelasnya.
__ADS_1
Itu terjadi pada masa Salakanagara.
Yang membuat Mantingan menghela napas panjang adalah kenyataan bahwa nyawanya berada dalam bahaya. Apakah Kenanga bersandiwara serta berniat mencelakakan dirinya?
Tidak mungkin. Kenanga jelas-jelas tidak bersandiwara. Telah terlihat ketulusan dan kejujuran dari matanya itu, dan telah juga terlihat bagaimana dirinya benar-benar ingin keluar dari tempat itu.
Apakah mungkin Kenanga tidak mengetahui tentang nasib para pemburu Kembangmas?
“Anak Mantingan,” Birawa memanggil. “Coba lihat ini.”
Birawa menyodorkan sebuah kotak kayu yang entah ada isi apa di dalamnya. Mantingan menerima dan membuka kotak itu tanpa ragu-ragu lagi.
Terlihat olehnya selembar benda mirip kertas tipis berwarna emas. Lalu Mantingan mulai mencium aroma bunga yang begitu menenangkan dan seperti mengandung keceriaan sekaligus kesedihan. Mungkinkah ini?
“Benar, Anak. Inilah bagian kecil dari Kembangmas.” Birawa tertawa pelan. “Kau tahu, Anak Mantingan? Bahwa aku salah satu pemburu Kembangmas yang sangat beruntung telah bertemu dengan-nya dan masih bisa hidup sampai sekarang.”
Birawa mengeluarkan sebuah kertas, dapat terlihat bahwa itulah kertas dari Negeri Atap Langit! Kertas itu diberikan kepada Mantingan, dan kertas itu bukan tidak berisi.
Mantingan lihat isi dari kertas itu dengan mata terbeliak.
Itu adalah lukisan. Bukan lukisan pemandangan di pegunungan atau pemandangan sawah. Inilah rupa Kembangmas yang telah Birawa lihat dengan mata kepalanya sendiri!
“Sulit bagimu untuk menerima ini pastinya. Tetapi percayalah, bahwa memang seperti itu wujud Kembangmas yang aku lihat.” Kembali Birawa tertawa kecil. “Aku pernah bertarung dengan Kembangmas, tetapi aku bisa lepas dari cengkeramannya karena berkat dari langit.
Mantingan masih memandangi wujud Kembangmas itu ketika dirinya bertanya, “Apakah Kembangmas itu memang berlaku buas pada manusia, Bapak?”
Birawa menggeleng lemah lalu menyandarkan punggung pada kursi. “Seharusnya tidak. Tumbuhan itu seharusnya menjadi berkah bagi bumi, dan bukan untuk membuat kerusakan apalagi sampai membunuh banyak makhluk. Tetapi dia terpaksa, Anak.”
Mantingan mengernyitkan dahi.
____
__ADS_1
catatan:
Ilustrasi Kembangmas akan diposting di IG Westreversed segera.