Sang Musafir

Sang Musafir
Seribu Rembulan Melawan Seribu Lontar


__ADS_3

TEPAT setelah kaki menyentuh tanah, Mantingan menyabetkan Pedang Savrinadeya sejurus ke depan!


Tubuh Pendekar Seribu Kitab yang hanya berjarak dua langkah darinya itu telah pasti akan terbelah menjadi dua bila tidak cukup cepat menghindarinya. Akan tetapi niatannya memanglah bukan untuk menghindari serangan itu, tetapi justru menangkisnya!


Pendekar Seribu Kitab mengeluarkan selembar lontar dari dalam saku jubahnya untuk kemudian digunakannya menahan laju Pedang Savrinadeya. Selembar lontar itu benar-benar dapat menghalau bilah pedang tersebut yang semestinyalah dapat membelah rambut menjadi banyak bagian!


Sungguhpun tidak masuk akal, Mantingan tiada membuang-buang waktu untuk berpikir. Dirinya kembali menyerang Pendekar Seribu Kitab dengan beruntun, tetapi begitulah pula orang tua itu dapat menangkis seluruh serangannya tanpa terlihat kesulitan sama sekali, hanya dengan selembar lontar!


Mau tidak mau, Mantingan jadi berpikir. Apakah Pendekar Seribu Kitab memang memiliki kesaktian mandraguna hingga dapat membuat selembar lontar mampu menangkis bilah tajam Savrinadeya, ataukah justru selembar lontarnya itu merupakan pusaka sakti mandraguna? Bagaimanakah bila kedua kemungkinan itu sama-sama benar?


Mantingan mulai memainkan Pedang Kiai Kedai di lengan kirinya. Berharap hal itu dapat memberi sedikit banyak tekanan pada lawan. Berkat latihan kerasnya di Gaung Seribu Tetes Air, Mantingan mampu memainkan dua pedang sekaligus dengan sangat baik.


Pendekar Seribu Kitab menanggapinya dengan mengeluarkan selembar lontar lagi, maka kini telah tergenggam selembar lontar di masing-masing tangannya. Menangkisi serangan Mantingan dari dua sisi.


Pertarungan kembali berlangsung dengan seimbang. Mantingan terus melancarkan serangan tanpa terputus, tetapi Pendekar Seribu Kitab pun dapat selalu menangkisnya tanpa kesulitan sama sekali.


Pertarungan itu berlangsung di tengah-tengah halaman belakang Perpustakaan Kotaraja yang sebenarnyalah cukup ramai dipadati orang-orang yang sedang membaca kitab. Namun, baik Mantingan maupun Pendekar Seribu Kitab bergerak dengan kecepatan yang bahkan hampir menyamai kecepatan pikiran, sehingga bahkan seorang pendekar sekalipun hanya dapat melihat kelebatan-kelebatan saja. Sedangkan mata orang awam tidak akan mampu menangkapnya sama sekali.


Sepeminuman teh berlalu. Tak dapat terhitung lagi telah berapa banyak mereka bertukar serangan. Kini keduanya telah bergeser sangat jauh dari Perpustakaan Kotaraja, tiba di sebuah pemukiman yang sepi-sepi saja. Di sanalah tanpa bersepakat tetapi seolah telah bersepakat, Mantingan dan Pendekar Seribu Kitab saling menghentikan serangan.


Di atas atap dua bangunan yang berseberangan, keduanya berdiri tegap. Saling berhadap-hadapan. Saling bersitatap.


“Belum pernah ada yang dapat menahan gempuranku selama ini.”


Benarkah apa yang dikatakan oleh orang tua itu sedangkan jelaslah bahwa sedari tadi dirinya hanya bertahan tanpa balas menyerang?


Meskipun tahu kenyataannya, Mantingan memilih untuk tidak mengutarakannya. Dalam hal bertarung demi kehormatan, kata-kata yang sekiranya dapat memancing kemarahan adalah sesuatu yang sama sekali tidak diperlukan.

__ADS_1


Maka begitulah kemudian Mantingan bersoja sebelum berkata, “Daku yang masih muda ini terlalu rendah untuk menerima pujian Bapak.”


Tidakkah di dalam perkataan Mantingan itu terdapat suatu sindiran yang teramat halus hingga rasa-rasanya sulit disadari oleh siapa pun?


“Kalau begitu, biarlah daku yang tua ini memberi sedikit pembelajaran kepada dikau yang masih muda. Sekiranya itu akan berguna bagi pengembaraan dikau esok hari, sebab sungguh daku merasa tidak akan dapat mengalahkan dikau di pertarungan ini.” Pendekar Seribu Kitab tersenyum halus. Kini tidak lagi tampak teramat menyeramkan seperti sebelumnya, melainkan teramat hangat bagaikan mentari pagi!


Melihat senyuman itu telah membawa ingatan Mantingan kepada Bidadari Sungai Utara. Bukankah gadis itu selalu berkata bahwa senyumannya terasa sehangat mentari pagi?


Masih dalam posisi menunduk, Mantingan kembali berkata, “Pelajaran seperti apakah kiranya yang hendak Bapak berikan kepada daku?”


“Tentulah Anak akan mengetahuinya setelah merasa siap untuk menerimanya.”


Mantingan menegakkan badannya perlahan-lahan. Pendekar Seribu Kitab masih pada senyumannya. Lantas berkatalah Mantingan dengan penuh keyakinan, “Daku selalu siap, Bapak.”


Melihat keyakinan Mantingan, dapatlah Pendekar Seribu Kitab mengangguk dan tersenyum puas. Lantas setelah mundur beberapa langkah, dirinya merentangkan kedua tangan lebar-lebar.


“Orang-orang menyebut diriku sebagai Pendekar Seribu Kitab, padahal sebenarnyalah daku lebih senang disebut Pendekar Seribu Lontar!”


Melihat kedahsyatan yang terpapar jelas di depan matanya, Mantingan tidak dapat menahan diri untuk tidak menelan ludah. Ini terlalu mengerikan!


“Tidakkah ini adalah ilmu yang dikau cari-cari, Pahlawan Man?”


Mantingan tidak menjawab, tetapi jelaslah bahwa pernyataan Pendekar Seribu Kitab itu teramat sangat tepat adanya!


“Kau akan mendapatkannya setelah berhasil menghadapi yang satu ini, Anak. Tegarlah!”


Jutaan lontar yang melayang-layang di langit itu mulai bergerak mendekati Mantingan. Dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, ia mengetahui bahwa lontar-lontar tersebut bukanlah sekadar lontar biasa. Di dalamnya terkandung mantera sihir penyerang, pula teramat tajam pada bagian sisinya!

__ADS_1


Awalnya, Mantingan merasa teramat gentar. Yang akan dihadapinya sekarang akan jauh-jauh lebih sulit ketimbang ribuan jarum dan pisau terbang yang dihadapinya malam kemarin. Lontar-lontar itu berjumlah jutaan, dan tidak ada Chitra Anggini yang dapat membantunya di sini!


Namun ketika diingatnya kembali bahwa seharusnyalah ia telah mati pada malam itu, maka rasa gentar yang mengharu-biru di dalam dadanya itu menguap habis tak tersisa. Tergantikan oleh rasa keberanian yang menyembur sederas air terjun!


Mantingan memasang kuda-kuda tepat ketika jutaan Lontar Sihir itu melesat ke arahnya! Kematian sungguh terasa begitu enteng!


“Seribu Rembulan Melahap Bintang!” Mantingan melafaskan mantra dengan selantang-lantangnya, biarlah jurus andalannya itu diketahui pula oleh lawannya.


Tubuh Mantingan menghilang dari tempatnya. Berganti jadi kelebatan bayang-bayang. Lantas lingkaran-lingkaran bercahaya muncul dari tempatnya. Menyebar ke segala penjuru. Berjumlah lebih dari ratusan ribu!


Itulah Jurus Seribu Rembulan Melahap Bintang yang mampu membuat bilah pedangnya tergandakan menjadi ribuan, yang berputar-putar dalam cahaya, menjadikannya seperti seribu rembulan yang melahap bintang-gemintang!


Jika pada pertempuran di laut utara Javadvipa Mantingan hanya mengandalkan satu pedang untuk memainkan jurus ini, maka sekarang Mantingan mengandalkan dua pedang sekaligus. Tentulah dengan begitu, bayangan pedang yang tercipta akan jauh-jauh lebih banyak. Ditambah lagi dengan hasil latihan di Gaung Seribu Tetes Air yang bukan main, maka Jurus Seribu Rembulan Menelan Bintang yang sedang Mantingan praktikan saat ini benar-benar dahsyat!


Lingkaran-lingkaran cahaya itu menelan jutaan Lontar Sihir milik Pendekar Seribu Kitab yang melayang-layang di langit. Tak lebih dari dua kejap mata, barang selembar lontar pun tiada lagi tampak di angkasa. Habis sudah!


Ratusan ribu lingkaran bercahaya itu beralih menuju Pendekar Seribu Kitab, yang sungguh tidak lagi dapat dibendung olehnya.


Namun dari ratusan ribu lingkaran bercahaya itu, hanya ada satu yang benar-benar menghunjam dada Pendekar Seribu Kitab, menjadikan kematiannya tidak terlalu mengenaskan.


Ketika orang tua itu tersungkur jatuh di atas jalanan, Mantingan segera berkelebat menghampirinya.


___


catatan:


Episode bulan ini: 14/40

__ADS_1


Bonus lima episode akan diliris setelah Sang Musafir mencapai 1550 favorit. Secara jujur, sebenarnya saya tidak mau terlalu memusingkan data Sang Musafir yang kian hari semakin menurun, tetapi saya tidak mau menyerah begitu saja. Betapa pun, saya tetap membutuhkan batuan dari para Pembaca yang Budiman untuk membagikan Sang Musafir kepada teman, keluarga, atau siapa pun yang sekiranya akan membutuhkan cerita ini.


Selanjutnya, saya ingin meminta para pembaca untuk menuliskan segala kritik dan saran menyangkut Sang Musafir. Menurut kawan-kawan, apa sih yang membuat Sang Musafir tidak terlalu laku dibanding novel sejenis? Apakah karena penulisannya kurang rapi, ambigu, atau hal-hal lain? Tuliskan saja di kolom komentar dengan sejujurnya, saya selalu terbuka pada kritik dan saran.


__ADS_2