
"Diriku baru bisa melihat hasilnya esok hari, Sasmita.”
WIRANTI BERBICARA pada Bidadari Sungai Utara dengan tampang sungguh-sungguh. Bidadari Sungai Utara mau tidak mau turut serta merubah sikap menjadi lebih sungguh-sungguh. Sedangkan Mantingan, masih terus menunggu apa yang hendak mereka bicarakan tentang dirinya.
“Selama itu, engkau harus terus mengawasi dan menjaga Mantingan. Daku khawatir ramuan itu bisa berakibat buruk padanya.”
“Apakah itu berarti aku harus ....”
“Hanya untuk semalam saja, Sasmita.” Wiranti berkata lebih tegas. “Semalam saja engkau bermalam di rumahnya, itu tidak akan jadi masalah besar.”
Bidadari Sungai Utara langsung terdiam. Seharusnya ia tidak diperkenankan untuk membantah perintah Ibu Wira yang merupakan majikannya. Dan sebenarnya, ia sudah berkali-kali menginap di kediaman Mantingan. Namun, ia merasa tidak baik jika terlalu sering. Terlebih saat ini, Wiranti memintanya untuk selalu mengawasi Mantingan.
“Sepertinya itu tidak perlu, Ibu Wira.” Mantingan segera mengambil tindakan. “Jikalau terjadi sesuatu terhadap diriku, Kana dan Kina yang akan mengabarkannya pada Saudari Sasmita.”
“Itu akan berbahaya bagimu dan akan merepotkan bagi mereka.”
“Daku akan menginap di sana, Ibu Wira.” Bidadari Sungai Utara memutus perdebatan. “Mantingan tidak akan melakukan hal buruk padaku, dia orang yang baik. Aku hanya ragu apakah Mantingan akan kerepotan atau tidak.”
“Tentu saja tidak,” kata Mantingan, “justru aku merasa tidak enak karena Saudari yang akan direpotkan.”
“Bicara apa? Jelas diriku tidak akan merasa direpotkan, daku malah merasa senang karena bisa berjumpa dengan Kana dan Kina. Diriku hanya tidak mau merepotkan atau mengganggu Saudara.”
__ADS_1
“Nah, nah. Sudahlah kalian saling menyalahkan!” Wiranti berkata keras, tetapi di sisi lain ia tersenyum hangat. Tampak sangat senang melihat keakuran di antara keduanya. “Sasmita, sekarang bersihkan tubuh Mantingan dari racun ringan yang bisa kau bersihkan. Engkau tentu sudah mengetahui caranya, bukan?”
Bidadari Sungai Utara mengangguk. “Akan kulakukan, Ibu.”
“Baiklah, akan kutinggalkan kalian berdua di sini. Daku harus mengurus ramuan lainnya untuk dijual besok.”
Mantingan dan Bidadari Sungai Utara mempersilakan Wiranti, perempuan parobaya itu kemudian meninggalkan ruang pengobatan. Tak lama kemudian, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara merasakan kecanggungan di antara mereka. Suasana canggung yang tidak bisa dihindari.
Bidadari Sungai Utara melepas cadarnya yang sedari tadi dikenakan—walaupun Wiranti dan Mantingan telah mengetahui tentang jati dirinya. Ia mengenakan cadar untuk berjaga-jaga jika ada seseorang yang terpaksa masuk toko dalam keadaan darurat. Jika itu terjadi, maka wajahnya sudah pasti ditutupi oleh cadar. Namun kini setelah Wiranti pergi, maka ada dirinya bisa menjaga toko obat.
“Bisakah dikau melepas bajumu?”
Mantingan mengernyitkan dahinya. Jelas saja heran. “Mengapakah aku haru melakukan itu, Saudari?”
Mantingan terdiam. Terdiam untuk berpikir. Sebenarnya, pria sudah sangat biasa tidak memakai baju atasan. Sejak masa Salakanagara sekalipun, pria telah terbiasa hanya mengenakan ******. Bahkan banyak wanita yang tidak mengenakan baju atasan, sebelum ada peraturan mengenai hal itu di masa kekacauan.
Hanyalah segelintir pria saja yang mengenakan baju atasan, termasuk Mantingan. Namun bagi Mantingan yang telah terbiasa mengenakan baju atasan, membuka bajunya adalah hal yang dapat membuatnya malu.
“Tidak perlu malu, Saudara,” kata Bidadari Sungai Utara kemudian. “Bukankah memang biasa bagi seorang pria membuka bajunya?”
“Tidak bagiku, Saudari. Ini malah akan membuatku malu.” Mantingan membalas lemah.
__ADS_1
“Ubah pikiran yang salah itu, Saudara. Wajar bagi seorang pria membuka bajunya. Bahkan jika Saudara tidak mempunyai otot yang besar sekalipun, tidak perlu malu-malu membuka baju. Terlebih lagi, ini demi berlangsungnya pengobatan.”
Mantingan berdeham beberapa kali sebelum mengangguk lemah. Tidak ada jalan lain baginya selain menyetujui perintah Bidadari Sungai Utara. Apa yang dikatakan gadis itu banyak benarnya. Ia melakukan ini semata-mata demi berlangsungnya pengobatan.
Maka tanpa bicara lagi, Mantingan menarik bajunya ke atas. Melepasnya dengan satu gerakan cepat. Bidadari Sungai Utara sedikit melebarkan matanya. Agaknya ia telah salah meragukan tidak punya otot besar. Apa yang dilihat di depan wajahnya itu sungguh berbeda dengan apa yang telah ia katakan.
Nyatanya, otot-otot Mantingan bukanlah otot kecil. Tubuh Mantingan adalah tubuh yang dimimpikan para lelaki. Berotot sempurna, tetapi juga bersih. Jika saja Mantingan tidak mengenakan baju atasan dan berjalan-jalan di tengah kota, sudah banyak gadis yang menjatuhkan diri ke pelukannya.
Di sisi lain, Mantingan merasakan kecanggungan yang belum pernah dirasakannya. Ia dengan terpaksa telah melepas bajunya, dan kini Bidadari Sungai Utara tidak berhenti menatapnya. Menutupi dadanya yang bidang itu akan dianggap sebagai tindakan tidak jantan. Dari wajahnya, Mantingan tampak serba salah.
Pandangan Bidadari Sungai Utara beralih ke mata Mantingan. Lalu berkatalah dia, “Untuk seukuran pria, Saudara terlalu pemalu. Daku pernah melihat pemuda yang besar ototnya sedikit di bawahmu. Namun, dia berjalan-jalan tanpa mengenakan baju, dan tentu saja dengan percaya diri. Tidak seperti Saudara ....”
“Aku berusaha menjauhkan diri dari dosa. Jadi berhentilah Saudari menatapku.”
Bidadari Sungai Utara seakan tersadar. “Kalau begitu, kita selesaikan pengobatan ini dengan cepat,” kata Bidadari Sungai Utara dengan cepat, “berbalik dan hadapkanlah punggungmu padaku.”
Mantingan menurut saja, ia percaya bahwa Bidadari Sungai Utara juga enggan terlalu lama menatap dirinya yang bertelanjang dada. Selintas kemudian, Mantingan merasakan dua telapak tangan Bidadari Sungai Utara menyentuh punggungnya. Sungguh dingin sekaligus lembut rasanya, bagai diraba halimun beku di puncak gunung. Pengobatan dimulai setelah Bidadari Sungai Utara mengalirkan tenaga dalam melalui telapaknya.
Rasa hanya menjalar dari punggung ke seluruh tubuh Mantingan. Membuatnya merasa nyaman. Namun setelah beberapa waktu berlalu, rasa hangat itu hilang seketika, digantikan rasa nyeri teramat menyakitkan di seluruh bagian tubuhnya.
Tubuhnya menegang. Otot-ototnya seakan saling menarik satu sama lain. Perutnya terasa diguncang-guncangkan. Lalu tubuhnya terasa seperti melayang-layang di udara, padahal sebenarnya ia hanya diam di tempat.
__ADS_1
Bidadari Sungai Utara menarik telapak tangannya dari punggung Mantingan. Saat itulah seluruh rasa nyeri di tubuhnya menghilang tak berbekas. Tubuhnya banjir keringat serupa yang disebutkan Bidadari Sungai Utara.
Diliriknya ke belakang. Mendapati Bidadari Sungai Utara juga mengucurkan keringat dingin, meskipun keringat itu tidak hitam, lengket, maupun berbahaya. Gadis itu berkeringat karena kelelahan.