
Apa yang baru saja Mantingan lakukan? Mantingan tergugu saat menyadari telah mematahkan tangan salah satu orang itu. Walau mereka adalah pencuri, bukankah Mantingan sudah berjanji pada Kenanga bahwa dirinya tidak akan bermain kasar?
Bukankah itu sama saja menyalahi janjinya? Janji yang telah disumpahkannya dengan sungguh-sungguh itu?
Tongkatnya jatuh ke tanah dan tangannya sedikit bergetar. Apa yang ia harus lakukan sekarang? Meminta maaf pada dua orang yang hendak mencuri kudanya itu, atau meminta maaf pada Kenanga?
Namun Mantingan sadar, bahwa itu semua telah berlalu dan tidak mungkin dapat diulang kembali. Bukankah tadi dirinya juga berada dalam kesadaran yang hanya setengah saja? Dan bukan tidak mungkin Mantingan terbunuh jika dia tidak melawan. Andaikan saja tidak kehilangan nyawa pun, Mantingan akan kehilangan kudanya dan membahayakan posisi Rara serta Arkawidya di Kanoman sana.
Penyesalannya sedikit berkurang karena menyadari itu. Tetapi untuk saat ini, Mantingan tidak bisa tidur. Rampok bisa datang kapan saja, tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga. Juga pagi akan datang sebentar lagi.
Mantingan berjalan ke arah kudanya. Mulut kudanya ini telah diikat sehingga tak bisa meringik saat dirinya dibawa dua orang rampok itu. Setelah dilepaskan ikatannya, kuda itu menggelengkan kepalanya beberapa kali dan merangkulkan leher ke tubuh Mantingan.
Mantingan membalasnya dengan menggosok leher kuda itu dan menepuknya beberapa kali.
Cahaya mentari muncul kembali di celah perbukitan, Mantingan melipat tendanya dan meneruskan perjalanan ke Sundapura.
Seakan hendak berbalas budi, kuda yang ditunggangi Mantingan itu melaju lebih cepat dan tak banyak menunjukkan tanda-tanda kelelahan di sepanjang perjalanan. Tetapi Mantingan pernah merawat beberapa kuda delman sebelumnya di desa, sehingga ia mengetahui tanda-tanda tubuh kuda yang mulai kelelahan, ia bisa menghentikan perjalanan sebentar untuk beristirahat jika tubuh kuda itu lelah.
***
Sepanjang dua hari yang berlalu Mantingan menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Melewati jalanan yang terkadang sangat terjal, atau jalanan penuh dengan batu, malam yang penuh dengan nyamuk. Selama itu pula Mantingan melewati beberapa dukuh yang benar-benar sesuai dugaannya bahwa mereka kekurangan air, sayangnya Mantingan tidak bisa membantu banyak selain memberikan beberapa keping perak untuk anak-anak yang mengemis di pinggir jalan itu.
Melihat anak-anak desa yang mengemis di pinggir jalan itu telah mengingatkan Mantingan dengan masa lalunya. Dia sendiri pun mengalami hal yang sama, mengemis bersama anak-anak lain di pinggir jalan, menunggu adanya pedagang baik hati yang melempar keping perunggu. Biasanya semakin hari, semakin anak-anak yang mengemis itu berkurang. Bukannya karena mereka bermalas-malasan atau sudah kaya raya, tetapi karena mereka keburu mati kehausan dan kelaparan.
Kini dirinya berada dalam wilayah Sundapura, tetapi ia tak sempat melihat kemegahan ibukota Tarumanagara itu, sebab jalanan ke arah Sundapura telah ditutup dan dijaga banyak prajurit. Bagi yang tidak memiliki kartu tanda kependudukan Sundapura dilarang masuk, dan selain pedagang makanan yang dibolehkan masuk.
Mantingan tengah berbicara dengan salah seorang prajurit yang menghentikan laju kudanya.
“Apakah memang saya tidak diperkenankan masuk walau hanya untuk setengah hari saja, wahai Bapak Prajurit?”
__ADS_1
“Tidak bisa, Anak. Saya tahu kalau Anak adalah orang yang baik dan tak bermaksud buruk, tetapi ini adalah keputusan mutlak dari Raja.”
Mantingan menghela napas panjang. Saat prajurit setengah baya itu baru hendak pergi mengurusi hal lain tetapi Mantingan memanggilnya kembali.
“Apakah dikau mengenal seorang pria tua yang bernama Birawa di Sundapura?”
Prajurit itu mengernyitkan dahi. “Apa yang baru saja Anak katakan?”
“Apakah engkau mengenal Birawa?”
“Siapa pun di Sundapura mengenal dirinya,” bisik prajurit itu, “tetapi nama Birawa terlalu agung untuk disebutkan untuk hal buruk, jadi janganlah Anak sebutkan namanya untuk tujuan penghinaan!”
“Tidak! Tidak! Aku tidak bermaksud menghinanya, Bapak.” Mantingan menggeleng. “Daku hanya ingin berbicara dengannya.”
“Apa Anak sudah punya janji dengannya?”
Kembali Mantingan menggeleng. “Tidak, Bapak. Tetapi urusan yang aku bawa ini sangatlah penting dan genting, sehingga aku tak mungkin membuat janji dengannya.”
“Bapak Prajurit yang Gagah, daku memohon agar Bapak membantuku, ini adalah urusan penting dan menyangkut hidup-mati.”
“Banyak urusan yang menyangkut hidup-mati di sini, Anak. Tetapi dayaku hanya sebatas menyampaikan pesanmu pada atasanku saja, yang entah apakah atasanku ini akan menyampaikan pada atasannya, dan entah apakah atasannya itu akan menyampaikan pada Raja langsung, dan entah apakah Raja akan menyetujui dan bertemu dengan Bapak Birawa, dan entah apakah Bapak Birawa mau menangani masalahmu yang menyangkut soal nyawa itu. Tetapi jika boleh aku tahu, ada urusan apakah dikau dengan Bapak Birawa.”
Mantingan berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk berkata sebenar-benarnya, mungkin saja urusannya jauh lebih cepat dan mudah. “Orang yang bernama Arkawidya berada dalam bahaya.”
“Arkawidya?”
Bukan. Itu bukan suara prajurit paruh baya yang berbicara di depan Mantingan. Itu suara yang bersumber dari lain tempat, dan tidak diketahui asalnya. Tetapi suara itu telah membuat seluruh prajurit yang ada di sana bertekuk lutut.
Suara itu bukanlah mengandung kekuatan yang bisa membuat orang bertekuk lutut, tetapi karena memanglah para prajurit itu yang sengaja berlutut. Kecuali Mantingan yang tak mengerti apa pun, dia tetap berdiri bingung.
__ADS_1
Lalu suara itu muncul lagi, kali ini asalnya dari atas. “Arkawidya dalam bahaya apa, Nak?”
Mantingan mendongak ke atas. Dilihatnya sesosok tubuh manusia dengan jubah berkibar-kibar turun perlahan dari atas hingga menyentuh tanah dengan ringannya. Itu pendekar tingkat tinggi!
“Arkawidya berada dalam bahaya apa, Nak?” Diulangnya lagi.
Mantingan telah melihat kehebatan orang tua yang turun dari langit itu masih terkagum-kagum dengan apa yang telah dilihatnya. Tetapi buru-buru ia menjawab setelah menjura pada orang itu.
“Maaf, Kakek, tetapi aku tidak bisa mengatakan hal itu kecuali pada Bapak Birawa langsung.”
“Akulah yang engkau maksud, Anakku, mengapakah dengan Arkawidya?”
Mantingan semakin terkagum, inikah benarnya orang yang bernama Birawa itu?
“Maaf sekali lagi, Kakek, aku merasa Arkawidya tidak ingin percakapan ini didengar orang lain.”
“Aku telah mematikan indera pendengaran orang-orang di sini sampai kita selesai bicara, Anakku. Katakanlah.”
Maka sekali lagi Mantingan menjura. “Bapak, Arkawidya telah diperbudak di tempat pelacuran dan ingin terbebas dari sana.”
Orang tua itu tetap tenang sambil jubahnya terus berkibar diterpa angin, sedangkan prajurit-prajurit tetap berlutut dan tidak mendengar apa pun.
“Di manakah tempat dia berada sekarang, Anakku?”
“Bapak, dia berada di Penginapan Tanah di Kanoman bersama kawanku yang bernama Rara. Untuk saat ini dia mungkin aman-aman saja.”
Orang itu terdiam sejenak dan tersenyum. “Terima kasih telah memberitahuku, Anak. Itu adalah panggilan bertugas bagiku, dikarenakan Arkawidya adalah cucu kandungku!”
____
__ADS_1
catatan:
Bolehkah saya meminta kalian menuliskan secara jujur pendapat dan kesan Sang Musafir pada kolom komentar? Itu akan sangat membantu cerita ini lebih bagus lagi. Terima kasih.