
MANTINGAN MENGERYITKAN dahinya. “Jika saya boleh tahu, siapakah yang tinggal di sana?”
Penjual rumah itu menghela napas panjang sebelum berkata dengan suara rendah. “Saya tidak tahu pasti siapa saja yang tinggal di rumah kosong itu. Akan tetapi, jika engkau menemui salah seorang dari mereka di sana, janganlah engkau usir. Mereka kehilangan rumah, tidak punya pekerjaan, miskin papa. Rumah itu cukup luas, jadi engkau bisa memberikan mereka satu-dua kamar untuk tinggal.”
Mantingan terdiam beberapa saat lalu mengangguk mengerti. “Saya pasti tidak akan mengusir mereka.”
Mantingan dan penjual rumah bercakap-cakap ringan beberapa saat kemudian sebelum berpamitan. Mantingan sudah mengetahui letak rumah yang dituju, sehingga ia segera pergi.
***
SESUAI. Hanya itu yang terbayang di kepala Mantingan saat ini. Rumah di depannya sangat sesuai dengan apa yang dikabarkan. Rumah dan petak lahannya mengisi sebagian besar wilayah timur desa. Namun rumahnya sudah terlalu uzur, walaupun berukuran besar tetapi rumah itu telah dirambati tanaman rambat di mana-mana. Sedangkan lahan, benar-benar penuh oleh semak belukar.
Jika dibandingkan dengan rumah-rumah lain di sekitar, maka rumah ini akan jadi aib desa. Ketidakteraturan membuat rumah ini lebih pantas disebut sebagai hutan gersang.
Pagar yang tersusun dari batu-bata mengelilingi kawasan rumah dan lahan. Terdapat gerbang yang menghadap ke barat, dengan keadaan setengah terbuka. Mantingan mengambil napas dalam-dalam sebelum melangkahkan kaki masuk ke dalam gerbang.
Setelah melewati pintu gerbang, mata Mantingan semakin jelas menangkap pemandangan. Ular hitam panjang melintas tepat di depan kaki Mantingan, langsung masuk ke dalam semak belukar. Mantingan mengembuskan napas perlahan.
“Sepertinya, ini memang hutan.” Mantingan menggaruk kepalanya dengan canggung.
Di antara semak belukar itu terdapat jalan setapak yang akan bermuara di bangunan rumah. Mantingan mengerti mengapa sang penjual rumah sebelumnya telah memberi peringatan tentang kemungkinan adanya orang di dalam rumah. Melihat jalan setapak yang begitu kentara membelah semak belukar ini, Mantingan yakin jalan ini sering digunakan.
Mantingan berjalan di atas jalan setapak itu sambil terus melihat ke sekitar. Belalang-belalang besar berlompatan. Kupu-kupu dan lebah hinggap di mahkota bunga liar. Beberapa ular hitam lain berseliweran di antara semak-semak. Tanpa disadari, kaki Mantingan telah menyentuh tangga menuju pintu rumah.
Mantingan kemudian mengalihkan pandangannya ke bangunan rumah. Jika dilihat lebih dekat, bangunan ini nampak lebih menyeramkan. Pintu kayu rumah telah dirambati banyak tumbuhan rambat, sehingga Mantingan perlu mengeluarkan Pedang Kiai Kedai untuk memotongnya.
Saat Mantingan berhasil membuka pintu dan melangkah masuk, badannya langsung diguyur serbuk kayu dari atas. Beruntung matanya cepat menutup, atau akan sangat menyakitkan jika sebutir serbuk saja masuk ke dalamnya. Mantingan menoleh ke atas, menemukan dinding kayu yang hampir habis dimakan rayap.
__ADS_1
Hidungnya segera menangkap aroma apek yang segera membuat wajahnya berkerut. Pasti disebabkan lumut dan jamur pada kayu basah.
Bagian dalam rumah terlihat cukup gelap, hanya ada sedikit cahaya matahari yang masuk melalui lubang udara dan lubang yang disebabkan oleh rayap. Mantingan segera mengeluarkan Lontar Sihir Cahaya dan mengaktifkannya.
Saat cahaya dari lontar menyebar, maka itu sama saja mengungkap isi di balik kegelapan rumah. Mantingan menghela napas panjang melihat pemandangan di sekelilingnya. Kacau sekali.
Barang-barang berserakan. Bangku-bangku hampir tak nampak wujudnya karena telah dikerubungi oleh sarang laba-laba. Debu dan serbuk kayu teramat tebal menutupi lantai. Beberapa anak tangga berlubang atau menghilang sepenuhnya. Sedangkan di lantai dua, Mantingan masih belum melihatnya secara keseluruhan.
Namun di antara seluruh keburukan rumah ini, Mantingan dapat melihat bahwa pada dasarnya bangunan ini sangat cantik. Mungkin kecantikannya menyamai rumah Kenanga atau bahkan rumah Satya si pemburu semut. Tetapi karena ditinggalkan dan tidak dirawat, rumah ini lambat laun menjelma menjadi wujud yang berbeda.
“Apa ada orang di sini?” Mantingan bertanya dengan suara yang cukup keras. Namun saat tidak terdengar sahutan, Mantingan kembali bertanya dengan suara yang lebih keras, “apa ada orang di sini?!”
Setelah berteriak, Mantingan memasang ilmu pendengaran tajam. Samar ia dapat mendengar suara langkah kaki. Namun langkah kaki ini bukanlah langkah kaki yang berani, suara langkahnya terdengar diseret-seret dengan lambat.
“Tidak apa, saya datang dengan niat baik.”
Selanjutnya terdengar suara anak laki-laki yang ketakutan. “Apakah Kakak datang ke sini untuk mengusir kami?”
Mantingan mendengar suara itu dengan perasan bercampur aduk, segera ia membalas, “Kakak tidak bermaksud mengusir kalian. Datanglah kemari dan berkenalan dengan Kakak.”
“Tidak bisa, Kakak. Adikku sedang sakit, aku tidak bisa meninggalkannya lama-lama.”
Dada Mantingan bergemuruh oleh rasa kemanusiaan. “Kalian sedang di lantai dua?”
“Benar, Kakak.”
“Kakak akan datang, apakah boleh?”
__ADS_1
“Kalau Kakak berusaha mencelakai adikku, aku tidak akan takut berhadapan dengan Kakak.”
“Kakak membawa obat dan makanan.”
“Kakak membawa obat dan makanan? Tapi kalau berusaha mencelakai adikku, aku tetap tidak akan membiarkan Kakak lewat!”
Mantingan sedikit takjub pada kecerdikan anak itu. “Kakak datang ke sini tanpa maksud yang buruk.”
“Kalau begitu, Kakak datanglah ke sini dan buktikan. Tapi kalau Kakak membawa golok atau pedang, tinggalkan di bawah.”
Mantingan merasa anak kecil itu tidak dapat melihatnya saat ini, dirinya bisa naik dengan membawa senjata. Namun, Mantingan tetap melakukan apa yang diperintahkan anak itu. Ia meletakkan Pedang Kiai Kedai di atas meja.
“Sudah! Apakah Kakak boleh naik sekarang?”
“Aku akan lihat Kakak lebih dulu.”
Mantingan kembali mendengar suara langkah kaki, hingga kemunculan sosok anak laki-laki dari sudut tangga. Mantingan segera mengangkat tangannya tatkala melihat busur dan anak panah yang ditodongkan padanya.
Anak yang kira-kira memiliki tinggi tubuh setengah depa itu mendekat sambil terus menodongkan panahnya ke arah Mantingan. Sorot matanya melirik Pedang Kiai Kedai kepunyaan Mantingan dia tas meja. Lalu matanya menyisir diri Mantingan dari atas sampai bawah.
“Kakak boleh naik kalau mau membayar kamar.”
Mantingan menahan senyumnya, berpura-pura takut. “Berapakah yang harus Kakak bayar?”
“Murah saja. Sepotong kue kering atau daging berukuran sejari kelingking,” kata anak itu. “Karena ini bukan rumah atau kamar kami, tapi kami yang membersihkannya. Jadi Kakak harus tetap membayar.”
“Ya, nanti Kakak bayar. Sekarang, Kakak merasa perlu untuk memeriksa keadaan adikmu.”
__ADS_1
Anak laki-laki itu seakan kembali teringat sesuatu. “Ah, aku batalkan perjanjian sewa kamarnya! Kakak boleh menempati kamar kami untuk selamanya bahkan boleh mengusir kami jika Kakak bisa menyembuhkan adikku! Aku memohon dengan sangat, tolonglah Kakak selamatkan adikku!”