Sang Musafir

Sang Musafir
Puan Kekelaman


__ADS_3

NAMUN, Mantingan berhasil mempertahankan kepalanya agar tetap dingin. Ia tidak ingin gegabah, menerima kabar dari seseorang yang sama sekali belum dapat dipercaya. Suatu kabar bohong tetapi terkesan meyakinkan bisa menciptakan suatu kesalahpahaman yang pula sangat diyakini berujung malapetaka!


Belum lagi, perempuan di depannya itu bukannya menawarkan kabar, melainkan kerjasama. Tidak akan mudah bagi Mantingan untuk menerimanya.


“Siapa dikau saja daku tidak tahu.” Begitulah kemudian Mantingan membalas. “Tidak pula daku ketahui nama kelompokmu, kesangkutpautan antara jaringan bawah tanah kalian dengan istana, dan berbagai macam hal lain yang membuatku merasa amat tidak yakin padamu.”


“Biarkan daku berbicara langsung pada intinya saja. Daku dikenal dengan julukan Puan Kekelaman. Dikau mestinya mengetahui mengapa daku disebut seperti itu, bukan?


“Perkumpulan rahasia kami hampir tidak memiliki nama, sebab kami bekerja untuk pemerintahan Koying. Perkumpulan kami mengurusi segala macam hal yang bersangkutan dengan sihir di istana. Untuk hal itulah, kami menawarkan kerjasama denganmu. Kami dapat membantumu masuk ke dalam istana. Dikau mestinya mengetahui betapa sulitnya menyelundup ke dalam istana dengan segenap mantra sihir yang menjaganya.


“Apakah perkenalan itu sudah cukup jelas untukmu, wahai Pahlawan Man yang sungguh bijak dan tidak gegabah?”


Mantingan mengangguk pelan. Menghiraukan pujian. “Tetapi daku masih tidak mengerti mengapa kelompokmu mau bekerjasama denganku?”


Amat sangat mustahil suatu jaringan bawah tanah menawarkan bantuan tanpa menginginkan kepentingan atau keuntungan tertentu. Begitu pula yang Mantingan maksud dalam pertanyaan. Pastilah dimengerti oleh Puan Kekelaman.


Dengan suaranya yang teramat indah dan halus, perempuan yang mengaku sebagai Puan Kekelaman itu menjawab, “Kami hanya ingin kitab kami kembali ke genggaman. Mereka mengambilnya dengan cara yang sama sekali tidak adil. Mereka mencurinya ….”


Mantingan kembali menyandarkan punggungnya pada bangku. Mengelus dagunya pelan. Siap mendengarkan.


Puan Kekelaman bercerita panjang lebar. Tanpa terhentikan. Tanpa terbantahkan. Kata-katanya meluncur bagai hujan gerimis.


Selama mendengarkan, beberapa kali Mantingan mengalami perubahan raut wajah. Tergantung pada bagian mana yang diceritakan oleh Puan Kekelaman. Mengangguk, tersenyum, iba.


Pada awalnya, kelompok bawah tanah yang yang dipimpin oleh Puan Kekelaman sebenarnyalah tidak pernah bermaksud menjadi jaringan bawah tanah. Namun, keadaanlah yang memaksa mereka untuk masuk ke dalam dunia penuh kecarutmarutan itu.


Lima tahun yang lalu, Puan Kekelaman membawa kelompoknya ke dalam istana. Bekerja di bagian persihiran. Membuat mantra pelindung, penyerang, maupun kutukan. Pekerjaan itu tentu saja memberi masa depan cerah bagi seluruh anggota kelompoknya.


Semua berlangsung dengan aman terkendali hingga satu tahun lamanya. Tenteram pula, sebab seluruh anggota kelompok itu dipastikan mendapat kehidupan yang nyaman. Segala kebutuhan mereka terpenuhi.

__ADS_1


Namun selepas dari satu tahun itulah, segala-galanya menjadi janggal.


Kerajaan Koying, yang entah apa niatnya, meminta mereka untuk bergabung dengan jaringan bawah tanah. Alasannya adalah untuk mewaspadai mantra-mantra pematah di dunia persilatan bawah tanah yang dapat membahayakan keselamatan istana. Mereka diminta untuk mengawasi segala pergerakan ilmu sihir di dunia persilatan bawah tanah. Sebagai imbalannya, mereka akan mendapatkan kenaikan gaji sebesar dua ratus keping emas setiap bulannya.


Itu bukanlah sesuatu yang berat untuk dipenuhi. Puan Kekelaman menyetujuinya. Bukan untuk uangnya, melainkan untuk mempertahankan agar kelompoknya tetap bekerja di bawah istana.


Lima purnama berselang, lagi-lagi dengan alasan apa gerangan, raja menitahkan agar kitab-kitab besar yang dimiliki kelompok itu untuk ditarik. Itu pemaksaan, sebab Puan Kekelaman sudah menolaknya dengan keras. Namun, di hadapan ratusan pendekar ahli yang dikirim langsung oleh raja, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Kitab-kitab itu tetap ditarik.


Sejak saat itulah, Puan Kekelaman dengan seluruh anggota kelompoknya memupuk siasat demi siasat untuk mendapatkan kitab-kitab itu kembali. Puan Kekelaman bahkan bersumpah untuk tidak angkat kaki dari istana sebelum kitab-kitab tersebut didapatkan kembali.


Mantingan menarik napas panjang ketika Puan Kekelaman menuntaskan penjelasannya. Keduanya terdiam cukup lama. Suasana hening.


“Jadi, Puan Kekelaman, apakah dikau sedang berada di istana saat ini?” Mantingan membuka suara, memecah kesunyian.


“Benar.”


“Dan yang sedang duduk di hadapanku ini hanya bayang-bayang semata?”


Mantingan kembali menarik napas panjang-panjang. Membetulkan bentuk duduknya.


“Mendengar kisahmu, harus kuakui bahwa itu tidak cukup menyedihkan.”


Puan Kekelaman terdiam.


“Tetapi itu hanya sebatas yang kudengar saja. Daku tidak tahu seberapa pentingnya kitab-kitab itu bagi kalian, sebab dikau sama sekali tidak menceritakan tentang itu.”


“Daku merasa dikau tidak perlu mengetahuinya.”


“Daku mengerti.” Mantingan menganggukkan kepalanya. “Namun, daku masih tidak mengerti mengapa engkau membutuhkanku.”

__ADS_1


“Tapa Balian ditahan di tempat yang sama dengan kitab-kitab kami disimpan.” Puan Kekelaman mulai terdengar kesungguhannya. “Kami ingin dikau mengambilnya.”


Mantingan tersentak. Terkejut bukan main. Sampai-sampai berdiri dari kursinya. Jari-jemari kedua tangannya mencengkeram pinggiran meja. Wajahnya berubah warna menjadi merah padam. Sedangkan itu, Puan Kekelaman masih terlihat tenang di tempatnya.


“Yang benar dikau mengetahui tempat Tapa Balian ditahan?!” Amarah Mantingan kembali meluap, meski ia tahu bahwa sungguh tidak tepat jika meluapkannya pada Puan Kekelaman yang semestinyalah tiada mengerti akan kemarahannya!


Namun, bersyukurlah, perempuan itu tetap tenang. Tidak tampak merasa tersinggung barang sedikitpun. Puan Kekelaman memutuskan diam untuk beberapa saat, tidak menjawab.


Mantingan berhasil menangkan diri. Kembali duduk bersandar di bangkunya. Namun, jalan napasnya masih sulit terkendali. Mendesah resah berkali-kali.


“Apa jaminan atas perkataanmu itu?” Mantingan kembali bertanya, kali ini jauh lebih tenang.


Terdengar helaan napas dari Puan Kekelaman. “Daku tidak dapat memberimu bukti sekarang ini juga. Kita terpisah jarak yang terlampau begitu jauh. Pergilah ke kotaraja, sedekat mungkin dengan istana. Utusanku akan memberimu bukti.”


“Tidakkah bisa kita bertemu langsung?” Mantingan bertanya tajam. Ia tidak bisa menjamin apakah Puan Kekelaman benar-benar ada dalam wujud yang nyata, atau sekadar bayangan yang dibuat-buat semata!


Puan Kekelaman membalas datar, “Tidak bisa. Kecuali jika dikau masuk ke istana, mungkin daku bisa menemuimu. Daku sudah terikat sumpah.”


Mantingan mengambil waktu untuk berpikir. Mestikah tawaran ini diterima?


Mantingan sungguh tidak dapat menjamin bahwa Puan Kekelaman dan kelompoknya berusaha menipu dirinya. Namun, tawaran itu sangat sayang ditolak. Terlalu penting.


Puan Kekelaman mengetahui tempat di mana Tapa Balian ditawan. Dia pula menguasai segala sihir yang ada di istana secara penuh. Kedua hal itu akan membuat tugas penyelamatan Tapa Balian lebih terjamin keberhasilannya.


Namun, bagaimanakah kiranya jika ternyata Puan Kekelaman sedang mencoba untuk menjebaknya? Bagaimanakah pula jika ternyata perempuan itu sengaja memancing Mantingan masuk ke dalam istana dengan anggapan bahwa seluruh mantra sihir di sana telah lumpuh, tetapi sebenarnyalah tidak sama sekali? Betapa pun, mereka adalah jaringan bawah tanah yang mengabdi untuk kerajaan. Selalu terkenal akan kesetiaannya yang berharga mati. Macam manakah Puan Kekelaman dan kelompoknya berkhianat dengan begitu mudahnya hanya karena kitab-kitab mereka yang diambil paksa?


Bukankah itu tidak cukup masuk akal?


“Seiring dengan berjalannya waktu, dikau akan mengerti banyak hal tentang kami, Pahlawan Man.”

__ADS_1


Mantingan menganggukkan kepalanya. Ia telah memutuskan. “Kuharap kita dapat bekerjasama dengan baik.”


__ADS_2