Sang Musafir

Sang Musafir
Latih Tanding Bersama Satya


__ADS_3

Mantingan dapat melihat gerakan Satya sebagai gerakan yang lambat, ia dapat juga melihat gerakan tangan Satya yang mengukir aksara di Lontar Sihir, sehingga pemuda itu mengetahui aksara-aksara apa yang dituliskan Satya.


Sebenarnya dengan gerakan Satya yang sangat lambat seperti itu dapat Mantingan kalahkan dengan cepat dan mudah, tetapi Mantingan tidak memiliki niat menyelesaikan pertandingan begitu cepat dan mudah.


Tangan kiri Mantingan bergerak menggurat aksara di kantung lontar, sedang pedangnya yang masih tersarung itu terhunus ke depan.


Mantingan tidak perlu mundur sebab mantera sihirnya selesai dibuat, ia menarik lontar itu dari kantungnya dan melemparkannya ke arah Satya.


Satya yang sudah selesai menuliskan mantera juga turut melempar lontar itu.


Dua lontar itu saling melewati dan melesat menuju sasarannya masing-masing. Satya menepis lontar kiriman Mantingan, dengan seketika aksara-aksara muncul setelah lontar itu dihancurkan oleh Satya. Begitu pula dengan Mantingan, ia mengayunkan pedangnya untuk menghancurkan lontar tersebut, aksara-aksara bercahaya putih muncul di hadapannya.


Untuk menangkal serangan aksara sihir itu tanpa sihir, keduanya bisa menghindar atau mematahkan aksara-aksara penyerang. Bagaimana cara mematahkan aksara-aksara tersebut? Dengan cara menuliskan kembali aksara-aksara penyerang yang datang itu.


Aksara yang pertama Mantingan hadapi adalah aksara pallawa ka, Mantingan menggerakkan pedangnya membentuk aksara ka untuk mematahkan aksara tersebut. Begitu pula dengan aksara-aksara lainnya yang berhasil Mantingan patahkan semuanya dengan meniru bentuknya, tanpa kesulitan ia melakukan itu.


Sedangkan Satya terhempas beberapa depa akibat serangan aksara Mantingan yang terlalu keras itu.


Satu aksara mengenai dada Satya dan menyebabkannya harus mundur untuk mengatur napasnya kembali.


Mantingan membeliakkan matanya tidak percaya, buru-buru ia menghampiri Satya dengan perasaan cemas. “Satya, sepertinya aku terlalu bersemangat ....”


“Jangan mendekat, Mantingan.” Satya mengibaskan tangannya. “Pertandingan belum selesai, aku tidak terluka parah.”


Mantingan menghentikan langkahnya, tetapi dari raut wajahnya ia terlihat masih khawatir. Satya menarik napas dalam-dalam sebelum kembali melesatkan diri, kali ini ia memusatkan serangan dengan pedangnya.

__ADS_1


Masih dengan pedang tersarung, Mantingan menepis pedang Satya sambil bergerak ke belakang. Satya terus menyerang Mantingan dari segala arah, tetapi Mantingan masih melihat serangan Satya itu sebagai serangan yang sangat lambat, semua serangan ditepis.


Mantingan memutuskan untuk mengirim serangan balasan, sebab ia telah terdesak juga.


Satya mulai mundur dengan pikiran terpusat untuk menghindari serangan Mantingan yang datang, ia sendiri hampir tidak bisa menyerang sama sekali.


Satu-dua serangan Mantingan mengenai tubuh Satya, tetapi itu tidak berdampak banyak karena pedangnya masih tersarung.


Satya merasakan kesiasiaan, ia terlalu meremehkan Mantingan. Satya melompat jauh ke belakang untuk mengambil jarak dengan Mantingan.


“Awas, Mantingan. Aku akan memakai jurus.”


Mantingan mengangguk pelan. “Silakan, Satya.”


Satya turut mengangguk sekali, lalu mencodongkan pedangnya ke depan. Tangannya bergetar beberapa saat sebelum mata bilah pedangnya itu berubah menjadi putih terang dan diselimuti oleh aksara-aksara tak beraturan yang saling menumpuk. Tubuh Satya mulai mengeluarkan kabut-kabut tipis berwarna putih yang seakan bergerak melindunginya.


Sekali lagi Mantingan mengangguk. Ia mengenali ilmu pedang Tarian Alap-Alap Putih yang gerakannya sangat indah, tapi sangat berbahaya pula. Memang tidak salah jika Satya mengingatkan Mantingan.


Masih dengan sarung pedang terpasang, Mantingan bersiaga, ia tidak akan membuka sarung itu sampai pertarungan berakhir. Satya mulai maju, kali ini tubuhnya melayang satu depa dari atas tanah dan bergerak lebih cepat dari sebelumnya.


Mantingan mengentak kakinya kuat-kuat, melesat ke belakang. Namun, kecepatan Satya jauh lebih cepat ketimbang kecepatan Mantingan, dengan mudah Satya menyusul Mantingan. Kini ia berada tepat di depan Mantingan.


Tubuh Satya berputar beberapa kali di udara sebelum menyabetkan pedangnya pada Mantingan. Dengan segera Mantingan mengangkat pedangnya tegak. Berhasil menangkis serangan menyamping dari Satya.


Dengan gerakan seperti tarian, Satya terus mengirim serangan pedang pada Mantingan. Entah itu serangan mendatar atau serangan tegak lurus. Semuanya berhasil ditangkis atau dihindari Mantingan, walau pemuda itu terlihat agak kesulitan menghadapi Satya.

__ADS_1


Pertandingan itu berlangsung cukup lama hingga serangan Mantingan menyelesaikannya. Pedang Mantingan berada di leher Satya. Biarpun tersarung, tapi tetap saja itu berarti kekalahan bagi Satya.


Satya menghela napas panjang. “Mantingan, izinkan aku bertanya sesuatu padamu.”


Mantingan tersenyum dan menurunkan pedangnya. “Katakan saja, Satya.”


“Apakah jalan persilatanmu adalah aliran hitam?” Satya menatap curiga pada Mantingan. “Mengapa semua seranganmu itu merupakan bagian dari ilmu-ilmu aliran hitam? Aku telah menyadarinya sejak malam tadi, tetapi aku meragukan kembali penglihatanku. Sekarang setelah bertanding denganmu, aku tidak bisa lagi meragukan penglihatanku.”


Mantingan menghela napas panjang sambil tetap tersenyum. Ia kemudian menceritakan yang sebenarnya tentang mengapa dirinya harus menempuh jalan hitam persilatan. Kiai Guru Kedai dan Perguruan Angin Putih tidak luput diceritakannya, Mantingan percaya Satya dapat mengerti tentang kebenaran Perguruan Angin Putih.


Benar saja, Satya menganggukkan kepala tanda mengerti. Dirinya lalu tersenyum dan menepuk pundak Mantingan.


“Jalan hidupmu sungguh menarik, Man. Dari latihan tanding tadi, aku tahu engkau akan menjadi pendekar terkuat suatu hari nanti. Diriku bukan tandingan dikau, carilah tandingan yang lebih kuat lagi untuk meningkatkan kemampuan diri.” Satya tertawa. “Aih, engkau berhasil membuatku iri.”


Satya mengatakan itu bukan tanpa dasar. Ia kalah telak dari Mantingan, padahal pedang Mantingan masih tersarung. Entah apa yang terjadi jika Mantingan melepas sarungnya, besar kemungkinan Satya akan terluka parah atau bahkan kehilangan nyawa. Mantingan hanya bisa tersenyum canggung.


“Mantingan, sepertinya sampai di sini saja pertemuan kita. Aku memiliki urusan lain dan hanya melintasi daerah ini. Aku sarankan dirimu untuk mengambil ilmu pedang, itu akan sangat berguna padamu suatu hari nanti saat menghadapi lawan berat.”


Mantingan mengangguk dan tak berniat menahan Satya, lagi pula ia juga ingin pergi hari ini. “Satya kawanku, saran darimu akan aku ingat selalu. Terima kasih atas bantuanmu dulu, tanpa itu aku tidak akan bisa seperti sekarang ini.”


“Bukan masalah, bukan masalah. Aku harap engkau bisa menemaniku mencari sarang semut di masa mendatang, hahaha.”


“Jangan khawatir, aku pasti akan menemanimu jika situasi memungkinkan.” Mantingan tersenyum.


“Kalau begitu, sampai jumpa.”

__ADS_1


“Sampai jumpa, jaga diri baik-baik.”


Satya tersenyum dan mengangguk sebelum dirinya berjalan menjauh. Mantingan menatap kepergian Satya hingga punggung pemuda itu tidak lagi terlihat. Saat itulah Mantingan baru menyadari bahwa matahari telah sampai di ufuk tengah, ia harus berkemas dan pergi dari desa ini.


__ADS_2