Sang Musafir

Sang Musafir
Waktu yang Menegangkan


__ADS_3

Rupa-rupanya, sihir yang menjangkiti mereka semua adalah sihir kutukan. Mantingan sedikit banyak mengetahui tentang sihir dari kitab-kitab yang ia baca di Gaung Seribu Tetes Air. Seperti namanya, sihir kutukan berasal dari mantra-mantra bertuah yang dilafaskan. Sihir tersebut cukup mengerikan, karena biasanya tidak memiliki satupun mantra penawar. Untuk dapat mengendalikan sihir kutukan pun tidak dapat dilakukan dengan sembarangan, sebab hanya dibutuhkan sedikit kesalahan untuk dapat membuat perapal mantra terkena kutukan dari sihirnya sendiri.


Kecuali itu, tentu masih terdapat banyak hal yang Mantingan ketahui tentang sihir kutukan. Namun, Mantingan tidak akan mengingatnya untuk saat ini. Dirinya mesti berwaspada penuh terhadap Kartika. Dini malam tadi, Chitra Anggini memberi isyarat bahwa rombongan penari wayang ini turut serta memburu keberadaan Pahlawan Man, yang tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya.


Seolah melihat sepercik kewaspadaan di mata Mantingan, Kartika kembali berkata, “Kami memang telah lama mencarimu, Pahlawan Man. Tentu dikau tahu bahwa sebagai perkumpulan bawah tanah, kami jarang memburu orang tanpa bermaksud membunuhnya.”


“Jika begitu, tidak usah dikau meminta bantuanku lebih jauh lagi.” Mantingan mengubah raut wajahnya. “Jika dikau hendak menyelesaikan urusan itu sekarang, maka daku bersedia.”


“Daku berubah pikiran.” Kartika tersenyum. Wajahnya mendadak pucat pasi. “Kutahu bahwa sekalipun diriku bersama seluruh anak buahku menyerang, kami tidak akan pernah bisa mengalahkanmu tanpa kerugian yang besar. Lagi pula, Pahlawan Man, daku membutuhkan bantuanmu sekarang ... racun dari Pendekar Kelewang Berdarah telah menyebar ke seluruh tubuhku.”


***


“Apakah dikau akan menyelamatkan kakak kami?”


Mantingan melempar tatapan tidak mengenakan kepada perempuan yang menanyakan hal itu. Setelah melihat tatapan itu, kerumunan pun dengan segera menjauh dari Mantingan dan Kartika; kecuali Chitra Anggini yang justru maju menghampirinya. Mantingan segera mengambil posisi bersila di samping Kartika.


“Chitra, dikau salurkan tenaga dalam sebanyak mungkin ke punggungku.” Mantingan memberi arahan.


Chitra Anggini menganggukkan kepalanya tanpa banyak bertanya. Gadis itu duduk tepat di belakang Mantingan. Namun ketika Chitra Anggini menyentuhkan kedua telapak tangannya ke punggung Mantingan, pemuda itu justru menahannya.

__ADS_1


“Jangan dulu.” Begitulah katanya.


Mantingan melirik ke sekitar sebelum menggeleng pelan. Tepat setelah itu, ia bergerak cepat membuka bajunya. Betapa hal itu membuat otot-otot tubuhnya yang sempurna terpampang jelas di hadapan ratusan perempuan yang sedang memperhatikannya.


Selintas lalu, tampak secercah kekaguman di mata perempuan-perempuan itu. Namun setelah mengingat keadaan Kartika yang berada di ambang maut, kekaguman mereka tidak dapat bertahan terlalu lama.


Mantingan berdeham satu kali. “Pendekar Daun Jatuh, diriku telah mendapat sedikit pengajaran mengenai tata cara membersihkan kotoran tubuh berjumlah besar dalam waktu yang sesingkat mungkin dengan menggunakan tenaga prana. Tetapi dengan begitu, telapak tanganku mesti berada tepat di atas jantungmu ....”


Tentunya Mantingan mendapatkan pengajaran dari Bidadari Sungai Utara ketika mereka berada di Desa Lonceng Angin dan Perguruan Angin Putih. Saat itu, Mantingan meminta Bidadari Sungai Utara untuk mengajarinya segala sesuatu tentang tenaga prana yang nyata-nyatanya dapat sangat berguna dalam keadaan genting.


Kepadanya, Bidadari Sungai Utara berkata, “Jantung merupakan organ yang memompa darah ke seluruh tubuh. Di sanalah darah hilir-mudik. Maka dari itu, pembersihan kotoran tubuh ada baiknya dilakukan tepat di atas jantung.”


Pada saat itu, Mantingan sama sekali tidak menaruh curiga. Dirinya mengira bahwa ilmu pembersihan dengan menggunakan tenaga prana itu tidak akan pernah digunakannya kepada orang lain. Dan sekalipun digunakan kepada orang selain dirinya sendiri, pikiran Mantingan hanya mengarah pada pria. Pantaslah saat itu Bidadari Sungai Utara menatapnya dengan pandangan ganjil, yang sudah barang tentu tiada dapat Mantingan mengerti maksudnya.


Dalam dunia persilatan, jenis kelamin hampir tidak memiliki pengaruh sama sekali. Setiap pendekar dituntut untuk bersikap jantan, tidak peduli apakah pendekar itu adalah lelaki atau perempuan. Sikap jantan tentulah dalam artian berani, gagah, perkasa, kuat, dan terhormat. Berbanding dengan sikap betina yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, amat sangat tidak cocok berada di dunia persilatan yang selalu dipenuhi pertarungan demi pertarungan berbahaya.


Namun, tiada dapat Mantingan pungkiri bahwa Kartika masih dapat mempertahankan sikap betinanya meski menjalani hidup sebagai pendekar dunia persilatan bawah tanah. Dari perempuan itu, Mantingan merasakan hawa keibuan yang teramat sangat kental. Melihat Kartika, Mantingan seperti melihat ibunya kembali. Betapa kini tetiba ia merasa rindu pada kampung halamannya jauh di timur Javadvipa sana.


Maka Mantingan lekas meletakkan kedua telapak tangannya di atas dada Kartika. Matanya membulat laksana tekadnya. Mantingan sama sekali tidak memiliki pikiran yang aneh-aneh. Ia telah menganggap Kartika sebagai penjelmaan dari sosok ibunya. Maka ketika dipegangnya dada Kartika, ia hanya merasakan bahwa dirinya telah kembali ke dalam rengkuhan seorang ibu, yang penuh kehangatan dan cinta tiada terkira.

__ADS_1


Perlahan-lahan, Mantingan mengalirkan tenaga prana miliknya ke dalam tubuh Kartika. Tenaga prana itu kemudian berpusar di dalam jantung Kartika, sebelum akhirnya menyebar ke seluruh tubuh dengan mengikuti aliran darah. Seketika itu pula, Mantingan dapat merasakan cairan racun telah menyatu dengan darah Kartika, yang kemudian menyebar ke seluruh tubuh perempuan itu.


“Semoga saja belum sampai di kepalanya.” Mantingan bergumam pelan, “Chitra, alirkan tenaga dalammu sekarang.”


Dua telapak tangan halus menempel di punggung Mantingan dengan membawa tenaga dalam berjumlah besar. Mantingan memejamkan matanya barang sejenak sebelum memulai penarikan racun dari dalam tubuh Kartika.


Begitulah kemudian Mantingan mengingat apa yang dipelajarinya dari Bidadari Sungai Utara ketika memperagakan tata-cara pembersihan kotoran dari dalam tubuh:


“Ketika seluruh prana telah menyebar ke dalam tubuh, maka ikatlah semua kotoran yang ada. Akan sangat mudah untuk menariknya ke tanganmu, tetapi dirimu mesti berhati-hati sebab betapa pun semua kotoran itu akan masuk ke dalam telapak tanganmu. Jika dikau tidak berhati-hati hingga melakukan kesalahan, maka seluruh kotoran di telapak tanganmu itu akan masuk ke dalam tubuh. Akibatnya bisa berupa penyakit tertentu.”


Jika Bidadari Sungai Utara memperagakan gerakan menarik kotoran dari dalam tubuh seseorang, bagaimanakah kiranya jika yang ditarik itu adalah racun selayaknya apa yang Mantingan hadapi saat ini? Untuk hal itu, Bidadari Sungai Utara tidak berkata banyak sebab Mantingan memang tidak bertanya.


Gadis yang kecantikannya bagai tiada dua itu hanya berkata, “Jangan bermain-main dengan racun.”


Racun di dalam tubuh Kartika perlahan terangkat, berpindah tempat ke telapak tangan Mantingan yang kini tampak menghitam. Mantingan meminjam tenaga dalam yang dialirkan oleh Chitra Anggini untuk menahan racun itu agar tidak masuk ke dalam tubuhnya.


Kartika meringis menahan kesakitan, membuat beberapa pemain wayang yang melihatnya tidak tahan untuk bergerak mendekat. Namun, kepada mereka Mantingan memberikan tatapan tajam. Langkah kaki mereka terhenti seketika sebab tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Kartika hanya karena tindakan gegabah mereka.


Mantingan bukannya tanpa sebab saat memberi tatapan tajam pada mereka. Ia dapat membayangkan, betapa perempuan-perempuan itu akan menangis tersedu-sedu di samping tubuh Kartika yang merebah tanpa daya. Barang tentu hal seperti itu akan mengganggu pemusatan pikirannya, yang dapat berujung pada kegagalan dalam penarikan racun. Itu akan membahayakan Mantingan sekaligus Kartika.

__ADS_1


Waktu seolah saja melambat. Setiap kejapan matanya seolah berlangsung satu tahun. Sangat menegangkan. Kedua telapak tangan Mantingan semakin menghitam, bahkan kehitamannya telah mengalahkan kehitaman langit malam.


Chitra Anggini pun dapat melihat hal itu, lantas menambah jumlah tenaga dalam yang dialirkan ke punggung Mantingan melalui telapak tangannya. Kini wajah perempuan muda bertampang jelita itu basah oleh peluh, yang sedemikian pula dengan tubuhnya. Namun, dia tidak tampak lelah sama sekali. Matanya bersinar penuh tekad yang besar. Jelas saja perempuan itu tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Mantingan maupun Kartika. Kedua orang itu teramat sangat berharga dalam hidupnya, dan kini mereka sama-sama berada dalam bahaya; bersama-sama melewati waktu yang menegangkan!


__ADS_2