
MANTINGAN tidak menemukan apa pun di lantai pertama, maka beranjaklah ia menuju lantai kedua. Di sana, cahaya remang-remang mengisi ruangan yang tidak jelas apa isinya. Namun sebelum Mantingan sempat memasang Ilmu Mendengar Tetesan Embun, tetiba saja seluruh pintu termasuk jendela tertutup serentak serta pula terkunci amat erat dengan mantra sihir. Begitu rapatnya hingga suara desir angin dari luar pun tidak dapat masuk ke dalam!
Meskipun telah memperhitungkan dirinya akan dijebak, Mantingan tetap tidak bisa menahan aliran keringat dingin yang mengucur deras dari wajahnya serta pula laju detak jantung yang bertambah cepat.
Ruangan yang tadinya hanya remang-remang semata kini terang-benderang setelah semua lentera dan obor tetiba menyala. Tampaklah puluhan orang dengan pakaian serba hitam yang memutari Mantingan dengan masing-masing kelewang berkemilauan di tangan mereka.
Tak ayal, Mantingan telah dijebak!
Terdengar tepuk tangan sekaligus gelak tawa dari suara yang dapat Mantingan sebagai suara raja!
Benar saja, pria paruh baya dengan tubuh tambun itu terseok-seok berjalan keluar dari barisan pendekar-pendekar berpakaian serba hitam dengan membawa sesuatu di tangannya. Mantingan memincingkan mata untuk sekadar melihat benda yang dibawa oleh raja itu. Namun kemudian, degup jantungnya terhenti seketika.
“Bagaimanakah, Pahlawan Man? Kau terkejut?” Raja itu tersenyum sinis sambil memandangi benda yang berbentuk seperti buah semangka di tangannya. “Mungkin dikau telah mengetahui akan dijebak di tempat ini, tetapi apakah kiranya dikau pernah menduga-duga akan bertemu dengan gurumu di sini?”
Raja Koying kemudian melemparkan benda di tangannya itu menuju Mantingan yang masih diam tercenung bagaikan sebongkah batu besar yang tidak ditiup angin maupun didorong air sedikitpun. Benar-benar diam. Bahkan jantungnya pun turut diam.
Benda bulat itu menggelinding dan terus menggelinding hingga tiba tepat di hadapan kaki Mantingan, tampak sama sekali tidak berharga, tidak lebih dari bola yang biasanya dimainkan oleh anak-anak.
Pemuda itu bersimpuh lutut tanpa daya. Seluruh tenaganya seolah hilang begitu saja ditelan bumi. Tidak tersisa. Kulitnya berubah warna menjadi putih yang teramat putih, bagaikan hendak menandingi mega-mega di angkasa, pula bagaikan darah di tubuhnya telah tersirap musnah. Pucat.
Betapakah tidak? Betapakah dirinya tidak begitu? Betapakah tidak bila benda seperti bola itu adalah kepala manusia yang memiliki wajah gurunya? Betapakah tidak bila ia mengetahui orang yang telah mengajarinya ilmu-ilmu persilatan kini mati terbunuh?
__ADS_1
Raja Koying tertawa keras sambil beberapa kali mengelus dagunya. “Daku sungguh tidak menyangka bahwa guru dari Pemangku Langit dengan begitu mudahnya terbunuh di tangan pendekar-pendekar muda. Jadi, mereka benar bahwa dikau sebenarnya sama sekali tidak pantas menempati bangku kehormatan sebagai Pemangku Langit. Dikau tidak pantas menjaga keseimbangan dunia persilatan bila menjaga gurumu saja tidak mampu!”
Selesai kata-kata itu terlontarkan, setetes air mata melayang jatuh dari dagu Mantingan. Betapa tiada kiranya perkataan itu menghancurkan seluruh isi pikirannya.
Bukankah ia telah berjanji pada Kiai Guru Kedai bahwa seluruh ilmu persilatannya akan digunakan untuk melindungi orang-orang yang berharga baginya?Lantas, mengapa kemudian ia bisa membiarkan salah satu orang paling berharga dalam hidupnya mati dengan keadaan yang begitu mengenaskan di tangan musuh?
Kenangan Rara kembali menghunjaminya bagaikan berlaksa-laksa panah tajam. Semakin tak berdaya. Ia kembali mengingat bagaimana tubuh gadis itu terkapar tanpa nyawa di atas pasir pantai. Ketika dirinya berteriak keras, begitu keras, sangat keras, terlalu keras, sehingga seolah saja sengaja ingin membuat tenggorokan tidak lagi bisa mengeluarkan perkataan lagi. Atas sebab dirinya sangat lemah, gadis tak bersalah itu harus mati.
Kini, betapa kejadian seperti itu kembali terulang. Lagi-lagi, nyawa orang yang amat sangat berharga baginya direngut musuh!
Segera saja gejolak kesedihan itu segera tergantikan oleh kobar kebencian. Kulitnya yang semula pucat-pasi bagaikan mega-mega di langit yang cerah, kini merah-padam bagaikan bara api di tungku penempaan. Tangannya bergerak begitu cepat meraih gagang Pedang Savrinadeya, tetapi tepat sebelum ia menarik pedang tersebut, suatu percakapannya dengan Kiai Guru Kedai di masa lalu memenuhi kepalanya.
“Mantingan, apa kau tahu hal apa saja yang bisa terjadi di dunia persilatan?” Kiai Guru Kedai bertanya sambil mendongakkan kepala untuk menatap muridnya di pucuk pohon cemara.
Mendengar jawaban darinya, Kiai Guru Kedai menganggukkan kepalanya puas. “Jika memang begitu jawabanmu, lantas apakah mungkin bila engkau tiba-tiba melihatku mati tepat di hadapan matamu?”
Untuk pertanyaan itu, Mantingan terdiam sejenak sekadar untuk berpikir. “Mungkin saja, Kiai Guru. Seperti yang pernah Guru katakan padaku: segala sesuatu dapat terjadi di dunia persilatan.”
“Aku ingin tahu apa tindakanmu.”
Mantingan kembali terdiam. Kali ini cukup lama sebelum dirinya menjawab, “Murid harus tetap tenang. Itulah sikap para pendekar sejati, bukan?”
__ADS_1
Lagi-lagi, Kiai Guru Kedai mengangguk puas mendengar jawaban murid semata wayangnya itu. Tetapi seolah masih belum cukup kepuasannya, dia kembali bertanya, “Aku senang mendengar jawabanmu, tetapi mampukah engkau melakukan seperti apa yang kaukatakan itu? Memang begitu mudah mengatakannya, tetapi tentu sulit melakukannya.”
Mantingan menjawab, “Apakah Murid perlu membuktikannya , Kiai Guru?”
Percakapan itu diakhiri dengan Kiai Guru Kedai menendang pohon cemara itu hingga patah menjadi dua. Mereka tertawa terbahak-bahak dengan begitu lepasnya, seolah percakapan itu tidaklah sungguh-sungguh akan terjadi. Namun kini, Mantingan tahu bahwa Kiai Guru Kedai tidak sedang berbasa-basi saat itu.
“Murid pasti akan membuktikannya, Guru.” Mantingan melepas genggamannya pada Pedang Savrinadeya sebelum kemudian menatap Raja Koying dengan teramat tajam.
“Heh? Kau tidak jadi menyerangku?” Raja Koying tersenyum lebar, seolah mengejek, tetapi siapa pun yang memiliki pandangan tajam mestilah menyadari bahwa bibir raja itu bergemetar yang mungkin sekali berasal dari rasa takut.
“Jika itu yang kau inginkan, mengapa aku harus melakukannya?” Sambil mengatakan itu, Mantingan mulai bangkit berdiri. “Kau adalah raja yang cerdik, aku harus mengakui itu. Kau mampu membuat siasat demi siasat yang teramat sulit ditebak. Tetapi, bagiku itu masih belum cukup cerdik.”
Senyum Raja Koying mulai memudar.
“Jika keadaan pikiranku masih wajar, kau jelas tahu tidak ada pendekar manapun yang dapat mengalahkanku kecuali para Pemangku Langit lain di luar Dwipantara. Namun, bukankah antara sesama Pemangku Langit amat tabu menciptakan pertarungan? Maka satu-satunya cara mengalahkanku adalah dengan membuat isi pikiranku tidak seperti sewajarnya. Ketika kau membunuh guruku, pastinya engkau mengira kelengahanku akan terbuka lebar.”
Senyuman itu hilang sempurna.
“Tidak, Paduka. Pikiranku tidak akan kacau.” Mantingan mulai menarik gagang Pedang Savrinadeya, tanpa amarah yang menyertai.
“Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan.” Raja Koying mengibaskan lengannya sambil tertawa pelan. “Apakah engkau mengira daku terlalu bodoh sehingga tidak menyiapkan rencana cadangan?”
__ADS_1
Gerakan Mantingan terhenti. Rencana cadangan berupa apa?