Sang Musafir

Sang Musafir
Kemunculan Gema yang Tiada Terduga


__ADS_3

BETAPA pun, pertarungan yang sedang berlangsung memanglah berada dalam kesenyapan. Meski hutan beserta isinya mengeluarkan suara yang cukup ramai di pagi itu, tetapi tidak begitu dengan pertarungan antara Mantingan dengan Tapa Balian. Pertarungan itu teramat sangat senyap.


Sehingga tidak perlu heran lagi jikalau sedari tadi tidak ada percakapan, sebab yang tengah berlangsung memanglah kesenyapan, dan seharusnyalah memang begitu sebab sangat tidak baik jika pertarungan diisi oleh banyak percakapan.


Di dalam pertarungan, lebih baik banyak terdiam sedaripada banyak berbicara. Terkecualilah pertarungan antarkepentingan bernegara, yang betapa pun justru lebih banyak bercakap bualan sedaripada diam saja.


Mantingan masih terpejam, masih mendengkur keras, dan pendengarannya pun masih menyapu segala tempat yang sekiranya memungkinkan untuk ditemukannya Tapa Balian. Hingga tibalah dirinya menangkap suara berupa gersak dari arah barat dengan jarak sekitar dua puluh tombak dari tempatnya berada saat ini, yang tiada diiringi oleh desir angin atau apa pun jua, yang secara jelas menandakan bahwa suara itu bukan disebabkan oleh hewan yang secara bertepatan sedang melintas, melainkan manusia yang tengah mengendap-endap dengan segala kehati-hatian!


Namun, Mantingan tidak dapat mengetahui apakah yang menyebabkan suara gersak tak wajar itu secara pasti. Betapa pun Ilmu Mendengar Tetesan Embun tidak dapat menerjemahkan suara menjadi bentuk dalam jarak yang sedemikian jauhnya itu. Saat ini, daerah jangkauan penerjemahan suara menjadi bentuk oleh Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang Mantingan kuasai hanyalah sejauh lima belas tombak, yang sama sekali berarti bahwa suara gersak yang berada dalam jarak sekitar dua puluh tombak itu tiada dapat diterjemahkan menjadi bentuk.


Mantingan pula tidak membuka matanya dan menggunakan Ilmu Mata Elang untuk dapat melihat siapa yang penyebab suara tersebut. Jelas saja bahwa hal itu akan merusak sandiwaranya yang seolah sedang tertidur pulas tanpa kewaspadaan barang sedikitpun itu, dengan hasil akhir yang belum dapat ditentukan, mengingat Tapa Balian menggunakan ilmu sihir sirep halimunan yang mampu membuat tubuhnya tidak terlihat.


Suara gersak itu kembali muncul. Kali ini dengan jarak lima belas tombak lebih sedepa. Tetap pada arah mata angin yang sama, yakni arah barat. Dengan jarak seperti itu, Mantingan masih belum dapat menerjemahkan bunyi menjadi bentuk dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, tetapi betapa ia mengetahui bahwa sesuatu yang menimbulkan bunyi gersak itu tidak lain dan tidak bukan ialah Tapa Balian!


Mantingan terus menunggu dan menunggu, terpejam dan terpejam, mendengkur dan mendengkur. Sama sekali tampak tidak memiliki kewaspadaan. Begitulah siasatnya berhasil memancing orang untuk datang mendekat.

__ADS_1


Kiranya begitulah pula yang diajarkan oleh Kiai Guru Kedai:


“Jika dikau menghendaki lawanmu menyerang terlebih dahulu, maka pancinglah dia dengan menampilkan diri seolah dikau benar-benar dalam kelengahan. Ingatlah selalu bahwa pendekar akan lebih menunggu kelengahan ketimbang kelemahan lawannya.”


Namun perenungannya itu tidaklah benar-benar genap, sebab telah didengarnya sekelebatan suara yang bergerak dengan kecepatan yang lebih dari cepat sedang bergerak ke arahnya. Mantingan lantas melebarkan matanya, sebab ia merasakan pula hawa pembunuh yang terpancar dari sosok yang berkelebat itu. Ia segera mengetahui bahwa sosok pendekar yang tengah berkelebat itu bukanlah Tapa Balian, meski telah jelas-jelas berasal dari tempat yang sama dengan suara gersak tadi!


Hawa pembunuh baru bisa didapatkan setelah membunuh sekian banyaknya nyawa manusia, hal itu berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa Tapa Balian menghabiskan hidupnya di dalam penempaan senjata. Dan sekalipun beliau memiliki nafsu pembunuh dengan alasan yang barangkali tidak terduga-duga, Tapa Balian tidak mungkin mengeluarkan hawa pembunuh saat sedang menyerang Mantingan.


Namun biarpun batinnya bergolak sebab mempertanyakan jati diri sosok yang tengah berkelebat cepat itu, Mantingan tetap harus bergerak menghindar serta bersiap menggunakan jurus-jurus mematikan untuk mematahkan serangan lawannya.


Ketika masih melayang di udara, Mantingan sempatkan diri untuk mengarahkan pandangan matanya pada sosok pendekar yang menyerangnya itu. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat orang itu mengenakan caping lebar di kepalanya, dengan pula menggenggam sebuah pedang besar di tangannya, betapa sosok pendekar yang menyerangnya dengan segenap nafsu pembunuh itu adalah Gema Samudradvipa!


“Gema!” Mantingan berseru tinggi memanggil Gema yang pula masih melayang-layang di udara, tetapi justru dibalas dengan serangan berupa belasan jarum kehitaman yang menandakan betapa benda-benda itu telah dibubuhi racun mematikan!


Mantingan segera menarik Pedang Savrinadeya yang terselip di sabuk pinggangnya, yang dalam sekejap kemudian digunakan untuk menangkis segala jarum beracun yang melesat ke arahnya. Namun Mantingan tidak mengembalikan jarum-jarum itu kepada pemiliknya meskipun hal itu dapat dengan mudah dilakukannya, sebab belum terang betul alasan apa yang membuat Gema Samudradvipa menyerangnya seperti itu.

__ADS_1


Mantingan dan Gema mendarat di atas tanah secara bersamaan. Kini dua pemuda itu saling berhadapan dengan jarak kurang lebih empat depa.


“Gema, apa yang terjadi?” Mantingan lekas bertanya dengan sepenuhnya bertanya, tiada barang sedikitpun kebencian yang terselip pada ucapannya itu.


Gema mempersiapkan kuda-kuda serta mengangkat pedang besarnya sebelum akhirnya berkata, “Telah kuduga sebelumnya, dikau bersekutu dengan Perempuan Tak Bernama.”


Mantingan terenyak. Betapa Gema mengetahui nama Perempuan Tak Bernama, pemilik Gaung Seribu Tetes Air yang kini Mantingan tempati. Namun, bagaimanakah kiranya Gema dapat mengetahui bahwa dirinya memiliki hubungan dengan perempuan yang mengaku tidak memiliki nama itu?


“Daku tidak bersekutu dengannya.” Mantingan menggelengkan kepalanya dengan kalimat membantah. “Kukira dirimu telah salah paham, Gema.”


“Kulihat dikau keluar dari goa yang jelas-jelas merupakan tempat persembunyiaan Perempuan Tak Bernama.” Gema membalas dengan suara tajam, seolah ketajaman suaranya itu telah mengalahkan pedangnya. “Dan dikau telah menipuku, Mantingan. Dikau bertindak seolah lemah dan tak berdaya di hadapanku, tetapi nyatanyalah dikau pendekar!”


Raut wajah Mantingan memburuk. Dirinya seolah saja telah tertangkap basah, dan memang sepertinyalah benar-benar begitu. Sungguh kejadian seperti ini benar-benar berada di luar perkiraannya.


“Daku terpaksa melakukan hal itu, Gema.” Mantingan memilih untuk berkata jujur. “Dengan tanganku yang tinggal sebelah, sungguh telah hilang sebagian besar dari kemampuan bertarungku. Daku terpaksa menyamar menjadi penyoren pedang yang tiada pernah menjejak jalur persilatan, untuk menghindari segala tantangan bertarung yang hilir-mudik bagaikan terpaan daun jatuh dari pohon kering yang diterpa angin badai. Bukankah dugaan itu benar, Gema? Jika saja diriku mengaku sebagai pendekar waktu itu, telah pasti dikau akan menantangku bertarung.”

__ADS_1


“Dengan menghindari pertarungan, dikau telah menyalahi aturan persilatan,” ujar Gema Samudradvipa, yang betapa pun jua merupakan kebenaran tak terbantahkan dalam aturan tak tertulis di dunia persilatan.


__ADS_2