Sang Musafir

Sang Musafir
Pertarungan dengan Sembunyi-Sembunyi


__ADS_3

SEKIRANYA Mantingan memang harus menunggu, sebab dicari pun Tapa Balian tidak ketemu. Persembunyian Tapa Balian termasuk luar biasa sulit ditemukan. Maka ketimbang payah menemukannya, lebih baik menunggu kakek tua itu yang keluar atas kemauan sendiri. Namun, sekiranya hingga kapankah Mantingan harus menunggu?


Nyamuk-nyamuk mulai mengerumuninya. Beberapa kali Mantingan mengibaskan tangannya untuk mengusir serangga-serangga yang betapa pun kecilnya sungguh mengganggu kewaspadaannya itu. Belum lagi, Mantingan harus membagi perhatiannya terhadap Delima dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang nyatanya telah berkembang sehingga masih dapat mendengar suara-suara di tempat sejauh itu.


Mantingan masih terus menunggu dan menunggu, sebab memang tiada hal lain yang dapat dilakukannya selama hinggap di dahan pohon itu. Tapa Balian tidak jua terlihat batang hidungnya. Tidak di atas tempat mega-mega putih mengambang; tidak pula di kanan, kiri, depan, belakang tempat pepohonan beragam jenis tumbuh rimbun. Lalu, di manakah kiranya pria tua yang telah terbungkuk-bungkuk sehingga seharusnyalah tidak mampu berkelebatan itu?


Ketika Mantingan menjadi gusar akibat terlalu lama menunggu, tetiba saja pencerahan menyirami kepalanya. Jika Tapa Balian tidak ada di atas, kanan, kiri, depan, belakang, maka tempat manakah lagi yang belum tersebutkan?


Mantingan menoleh ke bawahnya. Menatapi tanah yang tampak seolah sama sekali tidak ada artinya. Namun betapa pun tidak berartinya, Mantingan tahu bahwa di sanalah tempat Tapa Balian bersembunyi. Di dalam tanah!


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Mantingan berdiri dari tempatnya seraya menghunus pedang ke bawah. Namun, kemudian dirinya teringat bahwa Pedang Savrinadeya sungguh tidak memiliki ketajaman sama sekali meskipun telah dialiri banyak tenaga dalam, maka diurungkanlah niatannya untuk menggempur tanah dengan pedangnya, melainkan dengan tapak tangannya!


Setelah menyorenkan pedangnya di sabuk pinggang, Mantingan menjatuhkan diri dengan segenap ilmu pemberat tubuh, sehingga begitulah tubuhnya meluncur dengan amat sangat cepat ke bawah!


Kepalanya menghadap tanah, sedang kakinya menghadap langit—begitulah dirinya terjun dengan tubuh terbalik. Lengan kirinya dijulurkan ke hadapan, membelah angin. Jari-jemarinya direntangkan, membentuk sebuah tapak. Sekumpulan angin muncul dari tapak itu sesaat sebelum menghantam tanah!

__ADS_1


Begitulah bumi seolah dibuat menjadi pecah oleh Mantingan. Tanah, batu kerikil, dedaunan, rerumputan, semuanya berhamburan. Kubangan besar yang menjorok ke dalam tanah tercipta akibat Tapak Angin Darah yang bagi Mantingan tidaklah seberapa itu!


Namun, agaknya kali ini dugaan Mantingan telah menemui kesalahan, yang mana sungguh tidak ditemukan Tapa Balian di dalam tanah. Sekadar jejak berupa suaranya pun tidak ada. Mantingan segera melenting keluar dari kubangan tersebut sebab betapa pun Tapa Balian dapat menyerangnya dengan sangat mudah dari atas sedang dirinya terjebak di dalam lubang itu.


Mantingan menebar pandang ke sekeliling sambil memikirkan ilmu silat semacam apakah yang digunakan oleh Tapa Balian sehingga mampu bersembunyi tanpa terendus sedikitpun.


Kiai Guru Kedai pernah berkata kepadanya:


“Jika lawanmu adalah pendekar, dan dia memutuskan untuk bertarung sambil bersembunyi, maka siapkanlah kesabaranmu matang-matang!”


Kini Mantingan menyadari betapa perkataan gurunya itu adalah kebenaran. Kesabarannya sungguh teruji saat ini, sebab Tapa Balian memutuskan untuk bertarung sambil bersembunyi. Dan berdasarkan kisah-kisah pertarungan antar-pendekar yang pernah ada, maka pertarungan yang dilakukan sambil sembunyi-sembunyi biasanya memakan waktu hingga berhari-hari lamanya, dengan pertukaran serangan yang hampir tidak pernah terjadi.


“Terkadang, manusia tidak mengerti arti dari menunggu,” ujar gurunya itu.


Maka Mantingan masih saja menajamkan kewaspadaannya sedapat mungkin, sebab yang ditunggu oleh Tapa Balian hanyalah kelengahannya. Hinggalah secara tiba-tiba, Mantingan terpikirkan ilmu sihir macam apa yang sedang digunakan oleh Tapa Balian.

__ADS_1


Betapa ilmu sihir tersebut adalah ilmu yang sama dengan yang digunakan oleh Perempuan Tak Bernama selama menyamar menjadi Rara, ilmu yang dapat membuat tubuh menjadi tidak tampak di mata orang lain, sehingga bebas berkeliaran tanpa sedikitpun ketahuan. Itulah ilmu sirep halimunan.


Perempuan Tak Bernama sebenarnya telah mewariskan ilmu itu kepada Mantingan sesuai dengan perkataannya sebelum menemui kematian, tetapi Mantingan memang belum mempelajarinya hingga sekarang.


Bukan saja sebab ketika ditinjau rupa-rupanya ilmu sirep halimunan itu teramat sangat rumit, melainkan pula karena ilmu yang ada di Kitab Savrinadeya betul-betul belum dikuasainya. Padahal, isi kitab itu telah Mantingan hapal di luar kepala, tetapi tetap saja ilmunya tidak dapat diterapkan sama sekali pada pedang manapun.


Maka kini ketika menghadapi ilmu sirep halimunan, Mantingan tidak benar-benar mengerti apa yang mesti dilakukannya agar dapat memenangkan pertarungan. Bukan karena dirinya menginginkan barang yang dijanjikan akan diberikan kepadanya jika berhasil mengalahkan Tapa Balian, melainkan sebagai tolak ukur sampai sejauh mana hasil latihannya selama empat purnama terakhir.


Pada akhirnya, Mantingan memutuskan untuk kembali ke dahan pohon yang tadi dihinggapinya. Di sanalah Mantingan menselonjorkan kakinya dengan punggung tersandar pada batang pohon. Meski dirinya terlihat sangat santai, tetapi tiada sedikitpun kewaspadaannya dikurangi.


Perlahan-lahan matanya terpejam, dan secara perlahan-lahan pula dirinya mulai mendengkur keras. Sungguh betapa pun seperti itu, Mantingan masih berada dalam kesadaran penuh. Dengan lain kata, dirinya sama sekali tidak tertidur. Mantingan memang sengaja menampilkan diri seolah tertidur pulas, yang sama saja berarti telah melepas seluruh rasa waspadanya. Namun yang ia lakukan justru sebaliknya, yaitu dengan menancapkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang kadarnya telah sampai ke tingkat tertinggi.


Saat ini, segala-galanya dapat Mantingan dengar dan lihat. Semut merayap di dalam lubang buatannya. Telur burung di sarang mulai retak sebab memang telah waktunya untuk pecah. Reranting pohon yang bersentuhan satu-sama lain nian jauh puluhan tombak di sana. Hingga sampailah embun pagi segar yang menetes dari ujung daun, jatuh dan langsung tersirap habis di tanah.


Suara-suara yang betapa pun sederhananya tetapi sangat indah jika didengar dengan seksama. Bukankah pada setiap kesederhanaan selalu menyimpan keindahan, yang betapa pun akan selalu tersembunyi jika orang-orang terlalu menyepelekan kesederhanaan?

__ADS_1


Namun, segala keindahan suara sederhana di pagi itu tidak dapat betul-betul Mantingan nikmati. Tujuannya memasang Ilmu Mendengar Tetesan Embun adalah untuk mencari dan menemukan Tapa Balian, bukan untuk menikmati keindahan suara alam ketika pagi masih terlampau segar. Lagi pula, bukankah kenikmatan dalam dunia persilatan seringkali mengkhianati kewaspadaan?



__ADS_2