Sang Musafir

Sang Musafir
Teringat Janji


__ADS_3

INILAH LATIHAN terakhir Bidadari Sungai Utara untuk dapat menguasai Jurus Tapak Angin Darah tahapan dasar secara keseluruhan. Bersamadhi dilakukan agar ilmu yang semulanya dipelajari benar-benar terserap. Tak mudah dilupakan. Bersamadi juga dilakukan agar Bidadari Sungai Utara benar-benar memahami tujuannya menggunakan Jurus Tapak Angin Darah.


Mantingan juga melakukan hal yang sama ketika dirinya masih di bawah pelatihan Kiai Guru Kedai. Namun tidak seperti Bidadari Sungai Utara, dirinya hanya membutuhkan waktu sepekan untuk menguasai seluruh tahapan Jurus Tapak Angin Darah. Maka dari itu, ia membutuhkan lebih lama bersamadhi.


Telah seharian penuh mereka bersila di atas bongkahan batu tersebut. Tak peduli panasnya mentari atau dinginnya malam. Kana dan Kina tentu saja dititipkan kepada Wiranti yang segera menutup tokonya untuk menyambut kedatangan dua anak itu. Mak kini, Mantingan dapat dengan tenang melatih Bidadari Sungai Utara; dan gadis itu dapat dengan tenang berlatih diri.


Mantingan membuka matanya. “Kurasa sudah cukup untuk hari ini.”


Bidadari Sungai Utara pun melakukan hal sedemikian. Meskipun hari sangatlah gelap, Mantingan tetap dapat melihat kecemerlangan yang terpancar di mata gadis itu. Mantingan mengeluarkan selembar lontar dari dalam kantung jubahnya. Lontar tersebut ditekuk hingga mengeluarkan suara, lalu teranglah! Mantingan mengangkat Lontar Cahaya ke atas kepalanya, berhasil mengungkap lingkungan di sekitarnya. Menjadi satu-satunya pencahayaan di hutan tersebut.


Bidadari Sungai Utara melihat ke sekitarnya. Suasana yang tadinya menyeramkan kini tergantikan menjadi suasana meneduhkan mata dan telinga. Lontar Cahaya mengubah segalanya. Yang gelap menjadi temaram.


Semak belukar terlihat indah di bawah sapuan angin. Begitu pula pohon-pohon. Dedaunan jatuh dari atasnya. Yang kelak menyebabkan tanah subur untuk ditumbuhi pepohonan. Meskipun langit tak berbintang maupun berbulan, suasana masih dapat dinikmati.


Bidadari Sungai Utara begitu takjubnya hingga merasa ingin bersamadhi hingga matahari menyapa. Tetapi, dirinya tahu bahwa itu tidak mungkin terjadi. Dan sulit pula terjadi. Bagaimanakah jika tengah malam nanti tiba-tiba awan menangis?


“Sudah malam, Saudari. Kita harus kembali ke desa.” Mantingan mengajak Bidadari Sungai Utara pulang. “Jika ada kesempatan lain, kita akan kembali ke sini. Di mana langit bersih dari awan-awan. Sehingga tampaklah bintang-bintang dan sebuah rembulan di langit kelam.”


Tiba-tiba saja Mantingan teringat akan janjinya pada Kenanga. Malam yang indah. Ya. Dirinya menjanjikan Kenanga akan melihat malam yang indah. Di mana langit ditaburi bintang-bintang, dan sebuah bulan terpancang di langit malam. Di mana malam akan datang mengisi setengah hari, tidak seperti dunia tempat Kenanga dikurung. Masih segar ingatannya akan janji tersebut.

__ADS_1


“Kau akan melihat malam yang indah, dengan bulan, bintang, jangkrik, dan kunang-kunang. Aku berjanji,” katanya di anjungan lantai dua bersama Kenanga waktu itu. Di bawah langit malam tak berbintang.


Dan lalu, Mantingan merasa dadanya sesak oleh rasa bersalah. Sudah berapa lamakah dirinya meninggalkan Kenanga? Pastinya itu berlangsung lebih dari tiga tahun. Tiga tahun! Mantingan sungguh melupakan bahwa dirinya telah meninggalkan Kenanga lebih dari tiga tahun.


Jikalau dirinya masih bisa berpetualang bebas. Dapat mencicipi berbagai udara segar. Melihat sesuatu hal yang baru. Bertemu dengan orang-orang yang baru pula. Lalu bagaimanakah dengan Kenanga di sana?


Justru sebaliknya. Gadis itu terkurung. Tak dapat mencicipi udara segar, udara yang ia hirup sama setiap harinya. Melihat sesuatu yang baru? Selain telaga, apa lagi hal menarik yang dapat ia lihat? Dan bagaimanakah dirinya dapat bertemu orang-orang?


Dan semua penderitaan itu harus ditanggung Kenanga selama tiga tahun!


Mantingan begitu lengah. Sungguhan ia tak sadar. Rasa-rasanya, waktu berlalu begitu saja. Bagai sekejap mata. Tanpa disadari, petualangannya sudah terlalu panjang. Kenanga hampir saja dilupakannya. Mantingan lupa bahwa Kenanga-lah yang membuatnya dapat berjalan sampai sejauh ini, dirinya juga lupa bahwa gadis itulah yang mengangkat kembali hidupnya.


Mantingan sadar, dirinya terlalu banyak menjanjikan hal-hal yang belum tentu bisa didapatnya. Saat itu, ia hanya punya harapan. Bermodalkan harapan dirinya berjanji akan menemukan Kembangmas. Dan kini, bahkan saat dirinya memiliki kekuatan, Kembangmas masih belum ditemukan.


Dan teringat pula musafir itu, bahwa dirinya pernah membuat putusan untuk menjauhi kehidupan manusia. Itu terjadi setelah Rara terbunuh. Saat itu, bertemu manusia adalah sebuah kesalahan besar. Ia melakukan itu untuk menahan dirinya sendiri dalam membuat janji palsu. Akan tetapi setelah berlatih di bawah bimbingan Kiai Guru Kedai, Mantingan tidak takut lagi bertemu dengan manusia. Tidak takut membuat janji.


Mantingan adalah sosok pemuda yang mudah berjanji pada orang lain. Penuh keyakinan bahwa semua janji dapat ditunaikan. Namun pada kenyataannya, Mantingan lalai dalam menunaikan janji.


Jika janji adalah hutang, maka banyak sekali hutan yang dirinya tunggak pembayaran.

__ADS_1


Dipandangi olehnya sosok Bidadari Sungai Utara yang tampak bingung. Gadis itu bertanya, “Saudara, mengapa melamun?”


Sungguh, Mantingan tidak melamun. Ia bahkan dapat mendengar setiap kersak dedaunan dan ilalang di sekitarnya. Mantingan memang terbenam ke dalam pikirannya; di sisi lain ia tetap sadar.


“Tidak ada apa-apa, Saudari.” Di bawah sinar Lontar Cahaya, Mantingan memasang senyum hangatnya. Dingin malam seakan-akan sirna.


Bidadari Sungai Utara turut membalas senyumnya. Memang tidak mengenakan cadar.


“Marilah kita pulang segera.”


Mantingan dan Bidadari Sungai Utara melesat. Menghilang dari permukaan kubah batu besar itu.


***


YANG HARUS Mantingan lakukan adalah menunaikan janji-janji barunya sebelum menunaikan janji lamanya. Ia harus memastikan Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina aman sampai di seberang sana, di negeri Champa yang lebih aman sedaripada Tarumanagara. Dan sebelum itu, dirinya harus menyingkirkan perompak-perompak golongan hitam yang menguasai Desa Lonceng Angin.


Hingga yang dilakukan selama berhari-hari kemudian adalah menyusun siasat pembebasan desa ini. Hingga matang segala rencana yang dibuat. Mantingan hanya menunggu waktu yang tepat untuk pelaksanaannya.


Selama menunggu waktu yang tepat, selama beberapa hari kemudian Mantingan habiskan untuk mengajari Kana ilmu berpedang. Anak itu harus bisa melindungi adiknya, sebagai seorang pria sejati.

__ADS_1


Hingga akhir-akhir ini, Kana lebih sering menyentuh pedang kayunya ketimbang karya sastra. Mantingan melatihnya dengan keras dan disiplin, sehingga anak itu merasa tidak punya waktu untuk membaca karya sastra.


Mantingan berkata pada Kana untuk mengurangi jatah tidur malamnya, sehingga dia punya cukup waktu untuk membaca karya sastra. Kana hanya menggeleng sebagai tanggapan.


__ADS_2