Sang Musafir

Sang Musafir
Tapak Dewa Membelah Laut


__ADS_3

MANTINGAN menatap mata lawannya dengan amat sangat tajam, seolah tidak ada hal lainnya yang lebih tajam selain tatapan itu.


“Pengorbanan kecil dibutuhkan untuk kemenangan yang besar, bukan?” Cagak Keenam kembali membuka suara diselingi tawaannya.


“Lepaskan Bidadari Sungai Utara.” Mantingan mulai menghunus pedangnya. “Akan kubayar dengan harga yang pantas.”


“Ah, Pahlawan Man! Apakah dikau masih belum mengerti sampai sekarang? Ini bukan lagi perkara keping-keping emas. Mau kaubayar berapa pun, kami tidak akan menerimanya. Bidadari Sungai Utara jauh-jauh-jauh lebih berharga ketimbang itu.”


“Dikau menculiknya hanya untuk menuntaskan nafsu, sedangkan pengorbanan yang diberikan oleh pasukanmu sudah terlalu besar.” Mantingan tetap berdiri tegar dengan pedangnya yang terhunus ke muka. Angin laut mulai menggila menerpanya.


“Sudah kukatakan sebelumnya bahwa kelompokku berlepas tangan atas Bidadari Sungai Utara, bukan? Dan sudah kukatakan pula bahwa kami tidak akan mau dibayar berapa pun jumlahnya, bukan?” Cagak Keenam berkata tanpa tawaan. “Pula harus kuberitahu kepadamu, bahwa daku bukannya bernafsu pada Bidadari Sungai Utara; pengorbanan pasukan kami tidak terlalu besar.”


“Lalu apa yang hendak kalian lakukan kepadanya?!” Mantingan hampir tidak mampu menahan kegeramannya. Dia sama sekali tidak mengerti dengan campur tangan Kelompok Pedang Intan setelah mereka menyatakan mundur diri dari usaha pemberontakan!


“Kami hendak membunuhnya!” Cagak Keenam tertawa lebar. “Ya! Kami akan membunuhnya!”


Selesai Cagak Keenam mengatakan itu, Mantingan melesat cepat ke arahnya. Jauh lebih cepat ketimbang sebelumnya, hingga benar-benar tidak dapat diperkirakan lagi kecepatannya.


Perkataan Cagak Keenam sebenar-benarnya telah membuat benaknya dipenuhi tanda tanya. Mengapakah kiranya Bidadari Sungai Utara mesti dibunuh pula jika bukan untuk memuaskan nafsu karena kecantikannya yang tiada kentara itu? Mantingan mulai berpikir bahwa masalah yang dihadapi Bidadari Sungai Utara tidak sesederhana yang selama ini ia kira.


Mantingan pula sangat ingin bertanya lebih lanjut pada Cagak Keenam, tetapi ia merasa bahwa lebih baik pertarungannya diselesaikan sesegera mungkin. Sebab jika Bidadari Sungai Utara nyatanya hendak dibunuh, maka sebenarnyalah waktu yang tersisa untuknya semakin tidak banyak.


Mantingan masih tetap menggunakan Seribu Rembulan Melahap Bintang, sedang Cagak Keenam pula masih tetap memakai Seribu Tapak Dewa Penyirap Nyawa pula.


Pertarungan berlangsung dengan amat sangat cepat. Dengan sinar cahaya dari seribu batang pedang membentuk rembulan beradu dengan seribu tapak dewa, pertarungan itu sebenarnya menyajikan pemandangan yang sangat menakjubkan, tetapi sekaligus amat sangat mengundang maut.

__ADS_1


Jika keduanya melintas di dekat kapal, maka kapal itu akan hancur dan karam hanya dalam seketika. Kapal yang sedikit lebih jauh dari mereka akan mengalami kerusakan kecil hingga besar.


Orang-orang melihatnya dengan tatapan takjub sekaligus ngeri.


Sementara itu, Mantingan merapatkan gigi. Kedudukannya saat ini sebenarnya tidak terlalu menguntungkan. Cagak Keenam memiliki ilmu pamungkas yang baru saja diketahuinya bernama Tapak Dewa Pembelah Laut, yang harus senantiasa dihindari jika tidak ingin sukma terpisah dari raga.


Sedangkan Mantingan tidak memiliki ilmu pamungkas yang benar-benar mesti dihindari lawannya jika tidak ingin bernasib buruk. Hal inilah yang membuat Mantingan lebih banyak menghindar atau menangkis ketimbang menyerang.


“HAHAHAHAHA!!!” Cagak Keenam tergelak keras ketika menyadari bahwa kedudukannya berada di atas angin. “Bagaimanakah rasanya ketika seseorang yang engkau sayangi dalam keadaan bahaya, tetapi dikau sama sekali tidak memiliki harapan untuk menolongnya?! HAHAHAHAHA! Itulah yang kurasakan saat engkau membunuh Adik Cagak Kesatu!”


Mantingan tidak menjawab. Ia terus mundur dan menangkis. Dalam keadaan tertekan seperti ini, mana mungkin dirinya sempat untuk menjawab!


Namun meskipun Mantingan terus bergerak mundur dan terdesak seperti itu, dirinya masih dapat mengambil keuntungan dalam kesempitan.


Memang terlihat bahwa dirinya hanya terus melesat ke belakang tanpa tentu arah untuk menghindari serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Cagak Keenam. Tetapi yang sebenarnya, Mantingan telah memperhitungkan ke arah manakah dirinya harus bergerak.


Mantingan yang terus bergerak menghampiri kapal-kapal itu sungguhan tampak kebetulan semata. Dan kapal-kapal tersebut jika hancur pun akan dianggap sebagai sebuah ketidaksengajaan, meski amat sangat merugikan bagi pihak musuh.


Namun biar bagaimanapun, masih agak mencurigakan jikalau Cagak Keenam yang merupakan pendekar ahli itu masih belum juga menyadari maksud dari pergerakannya.


Lagi-lagi Mantingan merasakan sesuatu yang tidak beres, akan tetapi dirinya sama sekali tidak memiliki pilihan lain yang lebih menguntungkan daripada apa yang tengah dilakukannya saat ini.


Namun baru beberapa saat berlalu, pendengaran Mantingan menangkap suara kelebatan-kelebatan dalam jarak beberapa tombak di belakangnya.


Jika dalam keadaan berdiam diri saja, beberapa tombak memang merupakan jarak yang cukup jauh. Namun dalam keadaan melesat dengan kecepatan yang tiada lagi dapat diperkirakan, jarak beberapa tombak itu hanya berlaku satu kejapan mata saja!

__ADS_1


Mantingan lekas memejamkan matanya untuk kemudian lebih diedarkannya lagi Ilmu Mendengar Tetesan Embun, menjangkau segala suara yang dihasilkan dalam jarak hingga ratusan tombak jauhnya.


Dari sanalah, Mantingan mengetahui bahwa ada sekitar lima puluh pendekar yang mencegat di kedua sisi dari belakangnya.


Mereka semuanya bersenjatakan tombak, yang terang-terangan mengisyaratkan bahwa mereka berniat menikam Mantingan yang tengah berkelebat cepat itu.


Dengan puluhan pendekar yang tiba-tiba saja muncul dan mencegatnya dari dua sisi itu, Mantingan tidak dapat berbelok ke manapun kecuali untuk terus mundur secara benar-benar lurus ke belakang. Sebab jika tidak demikian, maka telah dapat dipastikan bahwa dirinya akan terajam tombak-tombak tersebut atau pusaka sarung tangan milik Cagak Keenam!


“KENA KAU!”


Cagak Keenam menghentikan Jurus Seribu Tapak Dewa Penyirap Nyawa yang sedari tadi dimainkannya setelah berteriak seperti itu. Awalnya Mantingan menduga bahwa Cagak Kesatu mengira dirinya akan masuk ke dalam cegatan lima puluh pendekar bertombak itu sehingga lantas menghentikan serangan, namun dugaannya itu nyatanya benar-benar salah.


Cagak Keenam justru mengulurkan kedua tangannya ke depan, yang betapa pun Mantingan ketahui bahwa itu adalah Jurus Tapak Dewa Membelah Laut!


Mantingan yang sudah terlanjur mengempaskan tubuhnya lurus ke belakang itu tidak lagi dapat menghindar. Tapak kakinya tiada menyentuh air laut atau benda apa pun itu yang sekiranya cukup keras untuk menjadi pijakan, sehingga dirinya tidak dapat menghindar ke manapun jua!


Mantingan melintangkan pedangnya ke depan tubuhnya sambil mengalirkannya dengan tenaga dalam besar. Hanya itulah yang dapat dilakukannya untuk dapat bertahan dari jurus yang amat sangat mematikan tersebut.


___


catatan:


Terima kasih. Sang Musafir telah mencapai 1M popularitas hari ini. Pembaca yang Tercinta, mungkin bagi novel-novel lain, mendapatkan pencapaian ini adalah sesuatu yang biasa saja. Tetapi bagi saya yang baru bisa mencapainya setelah hampir satu tahun dengan lebih 400 episode, ini sangat mengharukan.


Sebagai wujud syukur kepada Gusti, saya menyiapkan satu episode bonus.

__ADS_1


Episode bonus spesial 1M popularitas: 1/2



__ADS_2