
KANA MELEBARKAN matanya. “Jadi, daku akan ikut masuk ke dalam ruangan lelang?”
Mantingan menganggukkan kepalanya. “Mengapa tidak?”
“Tetapi, bagaimanakah dengan persoalan biaya masuk?”
“Itu urusan yang teramat mudah.” Mantingan berkata santai.
Yang harus dipikirkannya bukanlah biaya masuk, melainkan harga barang yang tentu saja berkali-kali lipat daripada biaya masuknya.
Mantingan teringat lelang yang diberlangsungkan di Desa Lonceng Angin, bukankah lelang itu berhasil menghabiskan hampir seluruh uangnya hanya untuk membeli satu barang? Jika saja Mantingan tidak segera membangun gerai bunga waktu itu, maka saat ini dirinya tidak memiliki sekeping emas pun.
Kecuali, tentu saja, jika ia menukar 20 Batu pemberian Dara senilai 20.000 keping emas. Tetapi ia, Mantingan, telah berjanji untuk tidak menggunakan 20 Batu tersebut kecuali dalam keadaan yang sungguh-sungguh mendesaknya.
Tidak terlalu banyak yang berbanjar, sehingga Mantingan dan Kana dengan cepat mendapat gilirannya untuk masuk ke dalam bangunan besar itu. Namun sebelum itu, seorang penjaga memberhentikan mereka dan meminta biaya masuk.
“Selamat datang, Tuan-Tuan. Untuk masuk ke dalam, masing-masing dari Tuan harus membayar sepuluh keping emas.”
Terlihat dari raut wajahnya, petugas itu sebenarnya tampak meragukan apakah Mantingan dapat membayar biaya masuk sebesar 10 emas. Melihat dari pakaian Mantingan dan Kana yang dapat dikatakan dekil itu telah jelas membuatnya ragu.
Tetapi Mantingan dapat membantah keraguan itu dengan sempurna. Mudah sekali ia merogoh pundi-pundinya dan meletakkan 20 keping emas di atas meja pembayaran. Dengan melakukan itu, ia telah bersikap seolah tanpa beban sama sekali mengeluarkan uang sebanyak itu. Jelas saja mengejutkan si penjaga pintu masuk bangunan.
“Jika boleh sahaya tahu,” kata Mantingan ketika petugas di depannya itu masih terkejut, “di manakah letak ruang lelang?”
Terlepas dari keterkejutannya, si petugas menjawab dengan lugas, “Pintu masuk ruang lelang berada di lantai dua. Tribun untuk para tamu lelang memang berada di lantai dua, tetapi menjorok terus sampai ke lantai pertama. Panggung lelang juga berada di lantai pertama. Meskipun begitu, pintu masuk tetap berada di lantai kedua.”
Mantingan mengangguk tanda paham, ia mengeluarkan sekeping perak sebagai uang terima kasih pada petugas yang telah berbaik hati menjelaskan tentang tempat lelang kepadanya.
Ia dan Kana kemudian masuk ke dalam aula bangunan. Betapa mereka dibuat takjub oleh pemandangan di dalamnya. Lebih-lebih pada Kana, ia belum pernah melihat ruangan besar seindah itu.
__ADS_1
Berbagai lukisan indah digantung pada dinding ruangan. Lukisan-lukisan yang dipajang umumnya menggambarkan tentang kehidupan para petani yang hampir selalu berdampingan dengan sungai-sungai jernih. Secara tidak langsung memuliakan Punawarman yang telah memperbaiki jalur pengairan banyak sungai di Negeri Taruma.
Yang jauh-jauh lebih menakjubkan lagi, langit-langit aula dilukis hitam dengan banyak titik-titik berwarna putih cerah. Jelaslah bermaksud menggambarkan bintang-gemintang yang bersinar di langit malam.
Bintang-gemintang itu tidaklah dilukis begitu saja, Mantingan tahu bahwa lukisan itu menggambarkan keadaan yang nyata, yaitu pemetaan rasi bintang. Tidak hanya itu saja, di tengah-tengah langit aula, terdapat sebulatan bagan penanggalan Saka.
“Aula ini menggambarkan ilmu pengetahuan di Tarumanagara ....” Mantingan bergumam berdasarkan pengamatannya.
Namun harus pemuda itu akui, aula ini tidaklah menggambarkan seluruh pengetahuan yang ada di Tarumanagara. Sebenarnya, masih banyak ilmu pengetahuan tentang pelayaran, pertanian, balatentara perang, aturan politik, dan sebagainya yang membuat Tarumanagara tidak kalah canggih dengan peradaban Negeri Atap Langit.
Khususnya dalam hal pelayaran. Ketika ini, Tarumanagara merupakan kekuatan maritim terbesar seantero Dwipantara. Jayasingawarman atau yang dapat pula disebut Rajadirajaguru berasal dari Jambhudvipa jelas banyak mengerti soal pelayaran.
Lebih tepatnya, ia merupakan seorang maharesi dari Salankayana yang mengungsi ke Yawabhumi karena tanahnya telah ditaklukkan oleh Maharaja Samudragupta dari Kemaharajaan Gupta.
Jayasingawarman mendarat di sungai Citarum. Dari sanalah ia mulai membangun peradaban yang kemudian dinamainya Taruma. Tak lama dari itu, Jayasingawarman menikahi seorang putri dari Raja Dewawarman VIII, seorang raja Salakanagara untuk memulai langkahnya dalam dunia berpolitik.
Tak lama setelah kematian Raja Dewawarman VIII yang kemudian dimakamkan di sungai Gomati, Jayasingawarman memindahkan ibu kota kerajaan dari Rajatapura ke Sundapura. Ini pula menandakan bahwa kekuasaannya telah kokoh sebagai pengganti Salakanagara.
Tentu saja kemajuan peradaban Tarumanagara bukan tanpa sebab. Rajadirajaguru membawa banyak ilmu pengetahuan dari Jambhudvipa yang kemudian dipergunakan untuk membangun peradaban di Yawabhumi. Utamanya, ilmu pelayaran dan ilmu pertanian.
Dipadukan dengan ilmu pengetahuan yang telah ada sebelumnya, baik yang berasal dari Javadvipa maupun Suvarnadvipa, maka Tarumanagara menjadi peradaban paling maju dan terkuat seantero Dwipantara.
Ketika ini, Tarumanagara dipimpin cucu dari Jayasingawarman, yaitu Punawarman. Bertangan besi, raja ketiga Tarumanagara ini meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta kekuasaan dari ayah dan kakeknya. Mungkin dengan perangai Punawarman inilah, sisa pendukung setia Salakanagara merasa tidak terima dan akhirnya memberlangsungkan pemberontakan yang berlangsung baru-baru ini.
Menurut Mantingan sendiri, tangan besi Punawarman cukup dibutuhkan sebagai seorang Maharaja yang membawahi puluhan kerajaan kecil. Tetapi bagi pihak yang merasa iri dengan itu, tentu saja dengan sangat mudah membuat tuduhan-tuduhan tidak benar meskipun masuk akal yang jelas telah memicu pemberontakan.
Mantingan terlepas dari lamunannya ketika Kana menarik kain jubahnya.
“Kakanda sedang memandangi wanita itu?”
__ADS_1
Mantingan mengangkat alisnya. Baru disadarinya bahwa ketika dirinya melamun dan pandangannya menjadi benar-benar kosong, wajahnya tidak sengaja menghadap pada sesosok wanita yang aduhai sekali kemolekannya. Mantingan akan tampak sedang memandangi wanita itu hingga termenung dibuatnya, walau sebenar-benarnya ia tengah terbenam dalam lamunan tentang peradaban Tarumanagara!
Kana tersenyum lebar. “Kakanda, jika Kaka Sasmita mengetahui hal ini ... daku tidak dapat membayangkan akan seberapa besar terluka perasaannya. Sungguh Kakanda, ternyata sikapmu sering berubah-ubah.”
“Ini tidak seperti yang engkau lihat dan pikirkan, Kana. Diriku hanya sedang melamun.”
“Kaka Sasmita pernah berkata padaku, lelaki selalu saja beralasan jika ditanyai tentang wanita. Dan daku mendengar bahwa Kakanda benar-benar sedang memberi alasan.”
Mantingan mengembuskan napas panjang. “Sudahlah, kita harus bergegas ke lantai dua. Kau tidak mau ketinggalan lelang, bukan?”
“Daku memang tidak ingin ketinggalan lelang, tetapi daku juga tidak akan melupakan hal ini.”
Keduanya melanjutkan perjalanan menuju lantai dua. Sedangkan gadis yang sungguh molek itu didatangi seorang wanita lainnya.
“Nyai, lelang akan dimulai sebentar lagi.”
Gadis molek itu menganggukkan kepalanya tanpa melepas pandang dari lukisan di depannya. “Daku akan ke sana sebentar lagi. Engkau bisa pergi, dan terima kasih telah mengingatkanku.”
“Itulah tugasku, Nyai.” Wanita itu menunduk sebelum undur diri dari hadapannya.
Gadis molek itu menghela napas panjang. “Mengapa aku merasa Mantingan ada di sini?”
___
catatan:
Saya mengubah kata "mengantre" menjadi "berbanjar".
__ADS_1