
“Daku terpaksa melakukan hal itu, Gema.” Mantingan memilih untuk berkata jujur. “Dengan tanganku yang tinggal sebelah, sungguh telah hilang sebagian besar dari kemampuan bertarungku. Daku terpaksa menyamar menjadi penyoren pedang yang tiada pernah menjejak jalur persilatan, untuk menghindari segala tantangan bertarung yang hilir-mudik bagaikan terpaan daun jatuh dari pohon kering yang diterpa angin badai. Bukankah dugaan itu benar, Gema? Jika saja diriku mengaku sebagai pendekar waktu itu, telah pasti dikau akan menantangku bertarung.”
“Dengan menghindari pertarungan, dikau telah menyalahi aturan persilatan,” ujar Gema Samudradvipa, yang betapa pun jua merupakan kebenaran tak terbantahkan dalam aturan tak tertulis di dunia persilatan.
***
BENARLAH kiranya apa yang telah dikatakan oleh Gema, bahwa dalam aturan tak tertulis dunia persilatan, seseorang yang telah menyatakan dirinya sebagai pendekar tiada boleh menolak atau menghindari tantangan bertarung. Sebab betapa pun pendekar, adalah mereka yang mencari jalan keparipurnaan melalui pertarungan. Bagai tiada lain yang pendekar-pendekar lakukan selain bertarung dan bertarung sampai akhirnya mati setelah menemukan lawan yang kuat.
“Daku memiliki tujuan lain.” Mantingan akhirnya berkata setelah cukup lama terdiam, kiranya apa yang dikatakan itu datang dari lubuk benaknya yang jujur.
“Apakah gerangan tujuanmu selain mencari kesempurnaan?”
Mantingan tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. “Tidak dapat kukatakan kepadamu, Kawan.”
Gema menegaskan kuda-kudanya. “Bersekutu dengan Perempuan Tak Bernama merupakan kesalahan yang benar-benar tiada dapat diampuni, Mantingan. Siapa pun mengetahui bahwa wanita itu adalah sungguh sesat adanya, seolah tiada yang lagi yang dapat lebih sesat daripadanya. Daku terpaksa harus membinasakanmu di tempat ini dan sekarang juga.”
Seketika itu pula jantung Mantingan berdebar kuat. Perasaan cemas sekaligus kebuncahan bercampur menjadi satu. Ia tahu bahwa Gema bukanlah pendekar tingkat rendah yang akan mudah untuk dikalahkan. Hawa pembunuh yang dia miliki telah membuktikan hal itu. Terlebih lagi, Mantingan saat ini hanya membawa Pedang Savrinadeya yang sungguh tiada memiliki ketajaman sama sekali. Rasa-rasanya percuma saja latihan empat bulan lamanya di Gaung Seribu Tetes Air. Mustahil untuk dapat menang jika tidak melarikan diri barang secepat mungkin.
Namun bagaimanakah kiranya ia bisa melarikan diri, jikalau Delima dan Tapa Balian berkemungkinan besar akan menjadi sasaran Gema selanjutnya, sebab telah tampak bahwa pendekar bercaping itu sama sekali tidak memberi ampunan pada orang yang dianggap telah berbuat sesat? Sehingga telah jelas bagi Mantingan bahwa dirinya tidak dapat dan tidak boleh melarikan diri.
__ADS_1
Maka Mantingan pun mempersiapkan kuda-kudanya dengan Sikap Menebas dari Pendirian Manusia. Meski Savrinadeya tidak memiliki ketajaman sama sekali, tetapi setidaknya pedang itu masih dapat digunakan untuk menahan serangan.
“Pada akhirnya, kita bertarung juga.” Mantingan berkata pelan, sehingga seolah hanya diperuntukan dirinya sendiri, tetapi ia tahu bahwa perkataannya itu juga dapat didengar oleh Gema Samudradvipa.
Melihat kesiapan Mantingan menghadapi pertarungan, Gema pun segera melesatkan diri ke arahnya. Dihunuskan pedangnya ke depan. Membelah udara!
Mantingan dengan cepat pula berkelebat ke samping kiri. Bukan hal yang sulit baginya untuk menghindari serangan menusuk dari Gema. Mantingan lantas menyerang balik dengan menyabetkan pedangnya begitu badan Gema melintas tepat di hadapannya. Namun nyatanya, Gema telah menduga serangan balik itu bahkan sebelum dirinya menyerang, sehingga begitulah dia menyabetkan pedangnya ke samping kanan untuk membabat tubuh Mantingan.
Barang tentu serangan kedua dari pendekar bercaping itu telah benar-benar membahayakannya. Mantingan yang tengah melancarkan serangan itu pun terpaksa menarik kembali pedangnya untuk kemudian digunakannya menahan laju pedang Gema.
Lelatu api terpercik manakala dua benda logam itu berhantaman dengan daya yang teramat sangat besar. Mantingan terseret mundur hingga beberapa depa ke belakang, sebab betapa pun Pedang Savrinadeya terlalu kecil dan tipis jika dibandingkan dengan pedang Gema yang memiliki panjang sedepa dan lebar sehasta itu.
Gema membuat gerakan setengah melingkar untuk kembali menyerang Mantingan yang belum sepenuhnya pulih dari serangan sebelumnya itu. Disabetkan kembali pedangnya secara melintang, yang jelas akan membelah tubuh Mantingan menjadi dua jika tidak segera ditangkis maupun dihindari!
Ketika gerakan mereka sama-sama terhenti, di sanalah Gema memanfaatkannya untuk berbicara. “Jadilah pengikutku, dan bantu aku menumpas seluruh penyamun di Suvarnabhumi, maka dengan itu aku akan mengampunimu!”
“Sudah kukatakan bahwa diriku memiliki tujuan lain!” Mantingan membentak keras sebelum mendorong pedang milik Gema jauh-jauh ke atas dan kembali memberi serangan berupa tebasan!
Gema memilih menghindar dengan berkelebat ke belakang ketimbang harus menangkis serangan tersebut yang rasa-rasanya akan membuang tenaga belaka, tetapi setelah itu dirinya kembali berkelebat dan menyerang.
__ADS_1
Hingga begitulah pertarungan kedua pendekar itu terus berlangsung dengan pertukaran serangan demi serangan, jurus demi jurus, kelebatan demi kelebatan. Yang betapa pun berlangsung dengan amat sangat cepat, seolah lebih cepat daripada cepat. Mata orang awam tidak akan pernah bisa menyaksikan keseruan dari pertarungan itu, sebab yang dapat mereka lihat hanyalah kelebatan-kelebatan bayangan serta lelatu api yang dapat terjadi hingga ratusan kali dalam sekejap mata saja.
Ketika sudah lebih dari seribu pertukaran serangan, Mantingan yang merasa telah mengetahui titik kelemahan Gema pun lantas mulai mengeluarkan kemampuan cadangannya, yakni Lontar Sihir!
Tentu saja Mantingan selalu membawa kotak penyimpanan Lontar Sihir miliknya ke manapun jua, yang baru benar-benar dilepasnya saat hendak tidur merebah—terkecuali saat dirinya tidur dalam bentuk bersila atau terbalik dengan kepala di bawah sedang kaki di atas seperti kelelawar sebagai salah satu wujud dari samadhi.
Alasan Mantingan tidak mengeluarkan Lontar Sihir sejak awal adalah karena dirinya masih belum menemukan titik kelemahan Gema—yang ternyata baru benar-benar terbuka sesaat setelah orang itu mengangkat pedang. Tentunya Gema tidak akan pernah menyangka bahwa Mantingan memiliki Lontar Sihir, sehingga benar-benar tidak berwaspada atas kemungkinan itu. Mantingan berniat untuk menyerangnya secara telak, tanpa bisa dihindari atau dipatahkan sama sekali.
Maka begitulah ketika mereka bertukar serangan di udara, sebab memang benar-benar bertarung tanpa pijakan sama sekali, di sanalah Mantingan melemparkan dua lembar Lontar Sihir Penjerat Elang, yang lantas mengeluarkan aksara-aksara membentuk sebuah jaring besar untuk menjerat tubuh Gema yang masih melayang-layang di udara itu.
Jaring raksasa itu langsung mengurung Gema di dalamnya. Serangan yang begitu mendadak sehingga bahkan pendekar itu tidak sempat mengubah raut wajahnya. Serangan yang telah begitu cepat dan singkat itu dilanjuti kembali oleh serangan yang pula begitu cepat dan singkat!
Mantingan mengeluarkan lima lembar Lontar Sihir Penikam Elang, yang langsung saja mengirimkan aksara demi aksara untuk menikam tubuh Gema Samudradvipa. Betapa kemudian terdengar jerit kesakitan serta terperciknya cairan darah, sebab memanglah aksara-aksara yang menikam tubuh Gema dari segala penjuru itu mampu membuat luka tusuk yang setara dengan tusukan pisau terbang. Maka begitulah tubuh Gema terajam sedemikian rupa hingga menjadi sulit untuk dikenali.
Mantingan menyabetkan pedangnya untuk mengakhiri penderitaan Gema Samudradvipa.
___
catatan:
__ADS_1
Follow IG: @westreversed