
"Masih ada beberapa pendekar lainnya di sini, daku akan memberi petunjuk arahnya. Barangkali mereka bersedia membantu.”
PENDEKAR bernama Mahesa itu kemudian menuturkan arah menuju pendekar-pendekar lainnya yang berada di dalam kota.
Mantingan mengangguk pelan dan berterimakasih pada Mahesa. Tak lama kemudian setelah berbasa-basi sebentar, Mantingan berpamitan pada Mahesa.
Mantingan kembali menjumpai Darma dan Putu yang masih menunggu di sana. Keduanya tampak sedikit bosan berada di sana dan terlihat begitu senang ketika melihat kedatangan kedatangan Mantingan.
“Padahal tidak lama, tetapi kami merasanya seperti satu bulan saja.” Putu berkata sambil meregangkan tangannya ke atas.
Mantingan tersenyum kaku mendengar itu. “Kalian bisa kembali ke kediaman, aku akan lama di sini. Jika kalian ingin ikut, maka aku hanya bisa memberi peringatan bahwa nyawa kalian tetap jadi taruhan.”
Darma mengernyitkan dahi, sama bingungnya dengan Putu. “Saudara Man, sebenarnya apa yang kau cari? Dan suatu hal apakah yang membuat nyawa kita bisa-bisa terancam.”
Mantingan mengangguk sekali dan memilih untuk berkata sejujurnya. “Aku mencari keberadaan pendekar-pendekar di sini. Kita tidak tahu seperti apakah sikap pendekar yang akan ditemui, sebab sikap seorang pendekar sangat sulit ditebak. Karena itulah, kita berisiko berjumpa dengan pendekar yang sikapnya mudah tersinggung yang bisa membahayakan nyawa kalian. Aku masih memiliki kemampuan untuk melarikan diri jika terjadi sesuatu, tapi aku khawatir kalian tidak cukup mampu lari dari kejaran seorang pendekar.”
Darma dan Putu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk paham. Putu berkata, “Kalau begitu, kami memilih pulang saja, demi kebaikan kami sendiri. Jaga diri Saudara baik-baik dan pulanglah sesegera mungkin. Akan runyam urusan jika perwira berkunjung dan tidak menjumpai Saudara di sana.”
Mantingan mengangguk paham dan tersenyum. “Sampai jumpa.”
Mantingan dan dua prajurit itu berjalan ke arah yang saling berlawanan. Mantingan berjalan masuk ke dalam pemukiman, sedangkan Darma dan Putu berjalan meninggalkan pemukiman.
Berkat pengarahan yang diberikan oleh Mahesa, Mantingan bisa menemui pendekar-pendekar yang ada di dalam kota.
Dua-tiga pendekar menolak permintaan Mantingan mentah-mentah bahkan mengusirnya dengan cara yang bisa terbilang cukup kasar.
Sedangkan tujuh-delapan pendekar yang ada menerima permintaan Mantingan dengan tangan terbuka.
Mereka yang bersedia membantu Mantingan adalah pendekar-pendekar yang berperan sangat besar dalam mempertahankan kota saat terjadi penyerangan.
Mereka memang sengaja masuk ke dalam kota ini untuk berlindung sekaligus untuk melindungi. Pendekar-pendekar itu tidak masalah jika harus berpindah kota.
__ADS_1
Mantingan menjanjikan masing-masing dari mereka seribu Lontar Sihir. Tidak ada kewajiban memakai semua lontar itu untuk keperluan pertempuran, sehingga pendekar-pendekar itu bisa menyimpan beberapa puluh Lontar Sihir untuk dirinya sendiri. Mantingan menyadari bahwa jika dijual, harga Lontar Sihir-nya itu bisa berharga cukup mahal.
Dari salah satu pendekar, Mantingan mendapat kabar bahwa masih ada beberapa pendekar kuat lainnya yang menyembunyikan dirinya di dalam kota. Keberadaan mereka hampir tidak diketahui jika saja tidak kelihatan terlibat di dalam pertempuran.
Mantingan merasa pendekar-pendekar kuat itu sengaja tidak mau diusik keberadaannya, sehingga Mantingan tidak berniat mencari mereka lebih jauh lagi. Mantingan juga berpikir untuk menyisakan beberapa pendekar untuk kota ini sendiri.
***
Saat malam hampir tiba, Mantingan hampir sampai di kediamannya.
Dengan berjalan ringan, Mantingan sampai di depan gerbang dan berniat membuka gerbang itu, tetapi tangan lain sama-sama bergerak ke gagang gerbang.
Tangan Mantingan dan tangan asing itu sama-sama berhenti bergerak. Mantingan menoleh pada siapa yang menjulurkan tangan itu.
“Perwira ....”
Mantingan hampir tidak mempercayai apa yang dilihat di depannya. Perwira perang ada di sana. Sama-sama ingin masuk ke dalam kediaman Mantingan, dan keduanya juga sama-sama tidak menyadari hingga sampai saat membuka gerbang. Kini mereka saling menatap tak percaya.
Perwira mengernyitkan dahi hingga alisnya hampir menyatu. “Mantingan? Di manakah pendekar-pendekar yang mengawasi dikau?”
“Jangan-jangan, tidak ada sama sekali pendekar yang mengawasi dirimu?!”
Suara yang dikeluarkan perwira cukup keras hingga mampu membuat prajurit di dalamnya ketar-ketir.
Bukan karena suara itu menakutkan, tetapi karena pemilik suara itu yang sebenarnya menakutkan. Tidak ada yang berani membukakan gerbang serta menyambut perwira, biarlah Mantingan sendiri yang mengadapinya.
“Perwira, sahaya tidak akan berbuat hal jahat seperti apa yang dipikirkan Perwira.”
“Semua orang jahat boleh berkata itu, tapi bukan berarti itu benar. Aku tidak percaya sepenuhnya padamu, mengapa kau masih nekat pergi tanpa pengawalan? Dan bodohnya prajuritku yang tidak mengawasi dirimu.”
“Sahaya yang menyuruh mereka tidak mengikutiku, Perwira.”
__ADS_1
“Oh, kalau begitu dirimu benar seorang mata-mata.” Perwira menarik gagang kelewang yang tersoren di pinggangnya.
Mantingan tidak terlihat takut sama sekali saat kelewang itu keluarkan. “Perwira, sahaya pergi untuk menemui pendekar-pendekar yang ada di sini. Akan berbahaya jika bagi prajurit-prajuritmu jika salah satu pendekar yang kutemui mengamuk.”
“Jika mereka mati sekalipun, mereka mati dalam sebuah tugas, itu adalah sikap pahlawan.”
“Menurutku, jika mereka mati, artinya mereka mati konyol.” Mantingan tersenyum tipis sedang perwira itu hampir tidak mempercayai keberanian Mantingan mengatakan itu.
“Katakan alasanmu mengatakan hal itu, Pendekar Muda! Mungkin saja aku mengubah niat untuk tidak menebas lehermu.” Perwira menahan rasa geramnya.
Mantingan dengan tenang menjelaskan secara singkat. “Mereka akan mati tanpa pengorbanan yang berarti.”
Perwira tetap mengangkat pedangnya, bersiap menebas leher Mantingan. Tetapi selintas pikiran membuat gerakan tangannya tertahan. Sebagai perwira yang berperang untuk kebaikan, ia bukanlah orang yang sembarangan yang asal dipilih.
Kebijakannya dalam mengambil satu keputusan membuat dirinya terpilih sebagai perwira.
Perwira menyadari bahwa perkataan Mantingan itu benar.
Ia tidak akan sembarang mencabut nyawa tanpa suatu kepentingan berarti.
Walau ia sebenarnya ia tidak mudah menyarungkan kembali pedangnya yang sudah terangkat, namun perwira dengan tabah hati mengalahkan rasa gengsinya.
Pedangnya disarungkan kembali. Selintas lalu ia menghela napas.
"Mantingan, lupakan saja soal itu. Aku ke sini untuk memeriksa lontar-lontar yang berhasil kaubuat.”
Mantingan kemudian mengangguk, tangannya bergerak membukakan gerbang untuk perwira. “Lontar-lontarnya ada di dalam. Silakan, Perwira.”
Perwira mengangguk sekali dan berjalan masuk, baru setelah itu Mantingan berjalan masuk pula.
Kediaman Mantingan terlihat sepi, sebab belasan prajurit telah bersembunyi. Entah di mana.
__ADS_1
Perwira tiba-tiba berhenti berjalan, dirinya lalu berkata pelan dengan suara yang cukup didengar. “Tidak perlu takut, turunlah.”
Perlahan satu-satu prajurit turun dari atap rumah dengan tampang wajah cemas. Tak ada yang berani menatap langsung ke wajah perwira maupun Mantingan.