
“Apa kabar, Rara?”
“Kabarku selalu baik, Mantingan.” Rara tersenyum. “Selama kendi kecil itu bersih, aku akan baik-baik saja.”
Mantingan turut tersenyum. “Terima kasih telah mengingatkanku dulu.”
“Tentu, sama-sama.” Rara tertawa kecil. “Jadi, apakah kau menerima keberadaanku?”
“Ya.” Mantingan melebarkan senyum. “Walau engkau telah pergi, tetapi telah tertancap jiwamu di dalam pikiranku. Sehingga engkau tidak bisa pergi dariku.”
“Itu bagus!” Rara tersenyum girang. “Dan apakah dendam itu masih bersisa?”
“Masih.”
Rara mengendurkan senyumnya. “Mengapa?”
“Aku dendam padamu dan ingin menjewer telingamu, karena engkau pernah tidak menurut padaku.” Mantingan mendekat pada Rara dengan senyum mengerikan.
“Jangan mendekat, Mantingan!” Rara berlari kencang, sebab Mantingan mengejarnya.
Tertawa-tawalah mereka sambil terus berlari. Riang sekali, tidak seperti pertemuan di dalam mimpi yang pertama.
__ADS_1
Saat Mantingan berhasil menangkap Rara, seketika mimpinya buyar.
Mantingan terbangun dengan senyum merekah. Betapa dirinya telah bisa merasakan kebahagiaannya kembali bersama Rara.
Dan lihatlah, kini Mantingan berhasil berdamai. Kenyataan bahwa kematian Rara tak adil memanglah tiada dapat diubah. Tetapi Mantingan berhasil berdamai dengan ketidakadilan itu. Dengan perasaan berdamai ini, Mantingan tidak lagi diliput api dendam.
Mantingan bangkit dari tidurnya. Ia menoleh ke samping, di mana biasanya Kiai Guru Kedai bermeditasi, tetapi kini tempat itu kosong tanpa keberadaannya. Mantingan turun dari ranjangnya, berjalan keluar dari mulut goa.
Seperti biasa, udara dingin akan lebih terasa setelah Mantingan berada di luar goa. Di depan Mantingan adalah semak belukar, dan di belakang semak belukar itu terhampar pemandangan di bawah kaki gunung. Mantingan bisa melihat kota maupun desa kecil dari tempat ini, tampak kehidupan mereka begitu sunyi dan kecil di atas sini, padahal telah berjalan kegiatan-kegiatan manusia di pagi hari ini.
Mantingan masuk ke dalam goanya lagi. Ia memasang bajunya kembali yang sekarang terasa lebih sempit oleh keberadaan otot-ototnya. Mantingan pasang pula buntelan dan pundi-pundi ke badannya. Mantingan menyoren Pedang Kiai Kedai di pinggangnya. Maka keluarlah ia dari goa yang telah dihuninya selama lebih dari tiga tahun.
Mantingan turun dari lereng gunung dengan mudah dan cepat, sampailah ia kini pada kaki gunung.
Matahari telah meninggi saat itu, Mantingan lekas memasang capingnya. Walau sebenarnya caping itu tidak terlalu berguna. Latihan fisik Mantingan di luar goa telah membuat tubuhnya kebal terhadap sinar mentari. Kulitnya menjadi sedikit berwarna lebih cokelat ketimbang semula.
Mantingan memakai caping hanya untuk penyamaran saja, agar dirinya tidak dikira pendekar. Banyak sekali pendekar-pendekar yang mencari lawan dengan pendekar yang baru turun dari gunung. Mantingan tidak mau mencari masalah yang tidak perlu. Itulah juga alasannya tidak berkelebat selayaknya pendekar lain.
Di kaki gunung ini burung-burung lebih sering terlihat. Rusa-rusa pula terlihat mencari makan, serta mencari peruntungan dengan mangsa yang berkeliaran di mana-mana, tentu banyak pemburu liar yang mencari rusa segar seperti itu.
Meninggalkan gunung seperti ini sama saja meninggalkan kedamaian luar biasa. Mantingan tidak masalah dengan itu, karena ia akan mengenalkan para orang banyak tentang arti kedamaian sejati.
__ADS_1
Dengan berdamai itu pula Mantingan tidak lagi takut mengunjungi pemukiman-pemukiman manusia. Bahkan kini Mantingan ingin lebih banyak mengunjungi desa-desa berpenghuni, agar ia bisa membantu jika ada orang baik yang ditindas.
Mantingan lihat jauh di depannya, terdapat tanda-tanda keberadaan desa. Tanda-tanda yang Mantingan lihat adalah petak-petak sawah kecil tak jauh di depannya. Dan samar-samar dengan jurus penglihatan tajamnya yang bernama Mata Elang, Mantingan dapat melihat secara samar atap-atap rumah pedesaan.
Jurus Mata Elang adalah jurus yang tidak menginduk pada aliran tertentu. Ini adalah jurus umum, semua pendekar bebas menguasainya. Jurus umum ini memanglah terdapat banyak, dan hampir selalu diciptakan oleh pendekar-pendekar aliran merdeka. Jurus ini memungkinkan seseorang melihat lebih jernih dan lebih jauh lagi, tetapi jurus ini tidaklah bisa dipakai lama-lama. Jurus ini diciptakan dengan meniru mata elang, yang sama sekali tidak cocok dengan mata manusia, sehingga akan berbahaya untuk mata jika dipakai terlalu lama.
Mantingan melangkahkan kaki menuju desa itu, melintasi pesawahan yang padinya masih belum tumbuh. Memang sekarang inilah musim hujan, waktunya petani-petani menanam padi. Mantingan senang, mungkin saja desa yang akan ia datangi sekarang tidaklah sama kondisi seperti saat-saat musim kemarau.
Mantingan sampai di depan gapura, yang mana gapura itu tidak ada yang menjaga. Bukan berarti desa itu miskin, tetapi memang damai kehidupannya. Atau mungkin saja, terdapat pendekar pelindung di dalamnya. Mantingan telah diajari untuk mengenali tanda-tanda keberadaan pendekar, untuk menghindari keributan tidak perlu, dan inilah salah satu tanda keberadaan pendekar. Tidak ada yang menjaga bukan berarti aman. Akan tetapi, bisa saja memang situasi sekarang ini berbeda jauh dengan situasi tiga tahun yang lalu.
Mantingan baru tiga tahun meninggalkan dunia, tinggal di goa bersama Kiai Guru Kedai, akan tetapi Mantingan merasa tertinggal zaman. Apakah yang terjadi dengan gejolak Tarumanagara yang diakibatkan orang-orang bekas Salakanagara? Apa mereka telah menghentikan pergerakannya, hingga desa subur seperti ini tidak ada orang penjaga? Ataukah masih sama seperti tiga tahun lalu, tetapi di desa ini terdapat pendekar yang mendiaminya?
Telah biasa pendekar-pendekar aliran merdeka atau aliran putih yang memutuskan tinggal di desa lemah saat situasi sedang tidak aman. Itu adalah cara mereka melindungi desa dan orang-orangnya dari kehancuran, dan juga cara untuk bersembunyi dan tidak melibatkan diri pada situasi berbahaya yang tengah berlangsung.
Jika saja sudah terdapat pendekar yang menjaga desa ini, maka itu adalah kabar baik sekaligus kabar buruk.
Kabar baiknya adalah masih ada pendekar yang berbaik hati, dan masih ada pula pendekar yang berpikir untuk tidak ikut campur pada urusan politik. Kabar buruknya adalah gejolak itu masih terjadi, bahkan tambah besar, hingga pendekar-pendekar mulai turun tangan.
Mantingan melihat lebih ke dalam, banyak orang yang masih melakukan kegiatan di pagi hari sewajarnya. Seperti menumbuk beras, membawa baju-baju untuk dicuci di sungai, anak-anak yang berlarian membawa makanan di atas daun pisang, juga pria-pria yang memanggul cangkul menuju sawah.
Tidak ada yang aneh. Penduduk bersikap sewajarnya. Jikapun ada pendekar di sini, maka itu bukanlah tanda bahaya bagi Mantingan, karena pendekar itu sepertinya tidak memerintah seenak jidat di kampung ini selayaknya pendekar-pendekar aliran hitam berlaku. Dan jika memang tidak ada pendekar di sini, maka itu bukanlah masalah juga bagi Mantingan.
__ADS_1