
MANTINGAN HANYA bisa mengangguk tanda bersetuju. Dari meja pembayaran itu, mereka bergerak masuk ke dalam toko.
Penjual lontar mengajak Mantingan masuk ke sebuah ruangan berukuran sedang, yang kemudian diketahui oleh Mantingan adalah ruangan untuk memantrai lontar. Pintu ruangan ditutup dan dikunci rapat-rapat.
Di sana, Mantingan merasakan keberadaan banyak Lontar Sihir pelindung yang melindungi ruangan ini. Selain untuk memantrai lontar, ternyata ruangan ini juga dipasangi lontar. Kemungkinan besar, ruangan ini juga telah dipasang Lontar Sihir Kedap Suara walau Mantingan tidak melihatnya. Kalau tidak begitu, mana mungkin penjual lontar mengajaknya ke sini untuk pembicaraan rahasia.
Ada sebuah meja kecil pendek di tengah ruangan yang biasa digunakan untuk tempat memantrai lontar, di tempat hadapan meja itu Mantingan dipersilakan untuk duduk. Sedangkan penjual lontar duduk berseberangan dengannya.
Penjual lontar meletakkan dus lontar dan Lontar Cahaya yang masih terus bekerja di atas meja, lalu kembali menatap Mantingan tajam-tajam.
“Hanya ada kau dan aku di sini. Apa kau masih berniat menyembunyikan jati dirimu?"
Mantingan menggeleng. “Paman, sahaya tetap seperti ini.”
Paman penjual lontar membalas gelengan Mantingan dengan anggukan. “Jika memang itu kehendakmu, maka aku tidak mau meributkan. Tetapi kau tentu tidak bisa menyembunyikan jati diri si pembuat Lontar Sihir Cahaya ini.”
Mantingan terkejut namun memilih untuk diam.
“Awalnya aku menduga lontar ini adalah ciptaan Pendekar Lontar Cahaya, tetapi tidak ada ciri khas diri Pendekar Lontar Cahaya di dalam lontar yang kau bawa ini. Andai kau tahu, bahwa setiap pembuat lontar memiliki ciri khasnya masing-masing pada lontar buatannya. Sedangkan Lontar Sihir Cahaya ini tidak ada ciri khas Pendekar Lontar Cahaya yang sudah daku kenali.”
Mantingan tetap diam dan diam.
__ADS_1
“Ini adalah lontar buatanmu. Kau tidak bisa membantah lagi dengan segudang alasanmu yang tak masuk akal. Kau adalah pembuat Lontar Sihir Cahaya. Tiga puluh tahun aku mendedikasikan diri pada dunia perlontaran, aku mencium aroma tangan dan kotoran kukumu pada semua lontar di dalam kotak ini. Tidak satupun yang tidak ada tanda-tanda itu." Penjual lontar menghela napas panjang. “Apakah kau masih berniat membantah?”
“Kalau sudah seperti itu, aku tidak bisa membantah lagi, Paman.” Mantingan angkat suara dan tersenyum hangat. “Saya menemukan pemikiran untuk membuat lontar ini saat saya sedang dalam perjalanan, jadi maafkan jika Paman merasa tertipu.”
“Kau pasti bukan bocah ingusan seperti apa yang terlihat di,” kata penjual lontar itu, “siapakah kau sebenarnya?”
“Untuk saat ini, saya tidak bisa mengatakan jati diri saya yang sebenarnya. Di pasar ini, saya menggunakan nama Jaya, mungkin Paman bisa memanggil saya seperti itu.”
“Siapakah Jaya? Aku tidak pernah mendengar namanya di rimba persilatan ataupun sungai telaga persilatan.”
“Memang saya jarang memakai nama itu di dalam dunia persilatan.” Mantingan tersenyum.
“Jadi, nama apa yang sering kau gunakan di dalam rimba persilatan?” Penjual lontar kembali bertanya penuh selidik.
penjual lontar mengelus dagunya sebelum beberapa saat kemudian menganggukkan kepala. “Kau jelas bukan Satya si Pendekar Lontar Cahaya, mungkin saja kau adalah pendekar yang namanya disandingkan dengan nama Pendekar Lontar Cahaya.”
Dalam hati Mantingan menegup ludah. Mantingan pernah mendengar namanya disanding-sandingkan dengan Pendekar Lontar Bercahaya. Bisa jadi jati dirinya akan ketahuan di sini oleh penjual lontar, dan sesungguhnya itu sangatlah berbahaya. Bagaimana mungkin penjual lontar tidak tergiur oleh banyaknya uang yang dijanjikan jika berhasil menangkap Bidadari Sungai Utara hidup-hidup?
“Jika tebakanku tidak salah, engkau adalah Mantingan. Pahlawan bagi Kota Angin Nyiur dan belasan kota lainnya. Apakah itu benar?”
Mantingan menarik napas dalam-dalam, membuangnya secara perlahan-lahan. Kekhawatirannya jadi nyata. Penjual lontar dapat dengan mudah menebak jati dirinya. Dan tidak mungkin Mantingan mengelak, penjual lontar itu dapat dengan mudah mengetahui gerak-gerik orang yang berbohong.
__ADS_1
Cukup dengan helaan napas dan keterdiaman Mantingan, segakanya menemui titik terang. Penjual lontar itu tersenyum penuh arti.
“Suatu kehormatan terbesar dalam hidupku dapat bertemu dengan pendekar berhati mulia seperti engkau, wahai Pahlawan Man.” Penjual lontar menunduk sedalam-dalamnya pada Mantingan, membuat pemuda itu salah tingkah. “Sudah lama aku mengagumi dirimu dan bermimpi bisa bercakap-cakap dengan engkau walah sebentar saja. Sungguh tidak kusangka pertemuan kita yang pertama kali ini tidak kusambut dirimu dengan baik, aku sungguh memohon ampun atas tidak ramahnya sikapku ....”
Penjual lontar hendak kembali menunduk, tetapi Mantingan telah lebih dahulu menahannya. Dengan tidak enak hati Mantingan berkata, “Paman janganlah begitu, saya merasa tidak sopan. Paman jauh lebih tua daripada saya, sayalah yang seharusnya menunduk di hadapan Paman, bukan Paman yang berbuat seperti itu.”
“Apalah artinya umur jika kemuliaan hatimu jauh di atas diriku, Pahlawan Man.” penjual lontar yang pada awalnya bersikap keras itu, kini tersenyum lembut penuh haru. “Tidak ada pendekar yang sungguh memiliki ketulusan hati seperti dirimu, Pahlawan Man. Kau menyumbangkan ratusan ribu lontar untuk membela rakyat yang tak bersalah, tanpa sedikitpun engkau menuntut bayar.”
“Ah, Paman berlebihan, saya tetap menuntut bayar pada setiap pendekar yang meminta lontar saya.”
“Dan bayaran itu adalah melaksanakan penyelamatan di kota-kota lain. Sama saja itu tidak menuntut bayaran yang menguntungkan dirimu engkau sendiri.”
Mantingan tidak berniat membantah. Pikirnya, itu tidak sopan. Jadilah hanya memancar senyum.
“Seharusnya sudah tidak mengherankan lagi bahwa Lontar Sihir Cahaya ini adalah buatan Pahlawan Man. Dan sungguh, ini adalah Lontar Sihir paling sempurna yang pernah aku lihat seumur hidupku.”
“Terima kasih, Paman.” Mantingan membalas. “Dan maafkan jika saya memotong pembicaraan Paman, sebab saya tidak memiliki banyak waktu di sini. Paman, saya ingin menjual Lontar Sihir Cahaya pada Paman dengan harga yang pantas. Saya berniat mengisi perbekalan di pasar ini, maka dari itu saya juga harus mengisi ulang persediaan uang saya.” Mantingan menggaruk lehernya yang tidak gatal.
“Tentu saja aku akan membeli ini darimu, Pahlawan Man. Lontar ini sangat berharga untuk dijual kembali, jadi aku akan menyimpannya sebagai benda kesayangan. Berapakah harga yang pantas?”
Mantingan terdiam beberapa saat untuk berpikir dan memperkirakan harga yang pantas. Sebenarnya ia tidak perlu uang banyak untuk membeli Lontar Sihir kosong, akan tetapi pembuatan mantra yang sangat rumit dirasa setimpal dihargai tinggi.
__ADS_1
Mantingan menjawab, “Lontar ini bisa hidup sampai tiga hari lamanya dan dapat berguna saat keadaan darurat. Saya rasa menghargai delapan keping emas untuk satu lontarnya tidaklah terlalu mahal.”
Penjual lontar mengernyitkan dahi. “Pahlawan Man, aku menyarankan untuk meningkatkan lagi harganya. Lontar seperti ini bisa dihargai tiga puluh keping emas untuk selembar lontar.”