
“Selayaknya manusia, jika merasa terancam tentu saja akan berusaha mempertahankan diri.”
“Jika dia mirip dengan manusia, bahkan sikapnya pun mirip, lalu apakah tujuan diciptakannya di bumi ini, Bapak? Bukankah manusia diciptakan-Nya juga ada tujuan.”
Birawa tersenyum, inilah pertanyaan yang ia tunggu-tunggu dari Mantingan. “Untuk berbuah, Nak. Sama seperti bunga pada pohon mangga atau pohon berbuah yang lainnya, Kembangmas juga menghasilkan buah setelah melalui tahap penyerbukan.”
Mantingan bertanya lagi lebih penasaran, “Seperti apa wujud buah itu?”
Birawa menggeleng pelan. “Tidak ada yang melihat buah itu, tidak ada juga yang mau menduga-duga seperti apa wujud buah yang akan dihasilkan Kembangmas. Ditambah juga, tidak ada yang mengetahui apakah Kembangmas sudah berbuah atau belum.”
Mantingan menghela napas panjang dan mengangguk juga.
“Kalian ini bicara hal-hal yang kami tidak mengerti.” Arkawidya melayangkan protes pada Birawa, membuat kakeknya itu tertawa terbahak-bahak.
Birawa mulai menjelaskan panjang lebar tentang Kembangmas pada Arkawidya dan Rara. Yang Birawa jelaskan adalah ringkasan saja, tetapi penjelasan itu tetap memakan waktu yang lama sampai kedua perempuan itu mengerti. Bagaimana tidak? Panjang sekali kisah Kembangmas jika dijelaskan secara lengkap, maka dari itu ringkasannya saja memakan banyak waktu.
Kedua perempuan itu kemudian menatap Mantingan.
“Daku tidak menyangka dirimu mencari Kembangmas, Mantingan.” Arkawidya menatap Mantingan sedikit risau. “Tidakkah dirimu tahu bahwa itu sangat berbahaya?”
Mantingan menggeleng dan tersenyum tipis. Keputusannya sudah bulat. Arkawidya mengembuskan napas perlahan dan menggeleng pelan, menganggap Mantingan mencari mati saja, ini adalah hal yang sangat disayangkan olehnya.
Tetapi kerisauan Arkawidya tidaklah seberapa dibandingkan dengan kecemasan Rara. Wajah cantiknya berkeringat dingin. Sebenarnya ia masih sulit mempercayai bahwa Kembangmas yang hanya merupakan dongeng itu ternyata benar-benar ada.
“Mantingan, bisakah engkau batalkan saja pencarianmu yang gila itu?”
Kembali Mantingan menggeleng. “Tidak bisa, Rara, aku sudah sejauh ini.”
“Itu gila dan tolol, Mantingan!”
Arkawidya hendak merelai, tetapi Birawa memberi tanda agar Arkawidya tetap duduk. Birawa berpikir bahwa memang benar Mantingan perlu memikirkan ulang keputusannya itu.
__ADS_1
Sedangkan Mantingan masih terkejut pada Rara yang berkata kasar padanya itu, bagaimana ia bisa percaya bahwa kata-kata itu keluar dari mulut Rara serta jelas-jelas ditunjukkan padanya?
“Kau bisa mati, Mantingan! Tidakkah engkau menyayangi nyawamu? Lupakan tentang Kenanga, dia hanya menipumu saja. Mungkin saja Kenanga itu adalah pendekar yang pura-pura tak punya daya, lalu tanpa alasan yang jelas mencelakakan manusia biasa seperti dirimu!”
“Aku tidak melihat ada tanda-tanda kebohongan dari Kenanga, Rara ....”
“Lalu apakah engkau lihat ada tanda-tanda kebohongan dariku?!”
Mantingan melirik mata Rara. Memang tidak ada kebohongan dari matanya, hanya ada kecemasan dan rasa kekhawatiran besar dari matanya. Itu lebih dari rasa takut dan rasa khawatir. Ada sesuatu yang lain dari mata Rara, dan Mantingan tidak mau mengakui apa yang telah ia lihat itu.
“Daku memohon, Mantingan, daku memohon!” Rara mulai meneteskan air mata, ia menunduk. “Jangan pergi, tetap di sini, temani aku untuk selamanya.”
Akhirnya Mantingan mengakui ini: ada rasa cinta di mata Rara yang sengaja ditunjukkan. Namun tidak mungkin Mantingan berhenti sampai di sini, bukankah ia telah berjanji pada Kenanga?
“Baiklah, Mantingan! Jika engkau memang tidak mau membatalkan rencana gila itu, maka aku akan mengikutimu ke mana saja, untuk selamanya ....”
“Tidak, Rara.” Mantingan akhirnya membuka mulut, ia serba salah. “Perjalananku ini sangat berbahaya. Aku tidak ingin kau ikut mati jika aku mati di perjalanan.”
Mantingan mengusap wajahnya. “Tidak bisa, Rara. Mungkin dikau bisa ikut aku sampai beberapa lama dan saat berada di daerah aman saja, tetapi tidak bisa tetap bersamaku saat aku masuk ke wilayah berbahaya.”
“Aku akan tetap ikut!”
“Tidak, Rara.”
“Aku sudah bilang bahwa aku tidak akan menurut padamu begitu saja!”
“Rara, kau tidak berkewajiban menemukan Kembangmas.”
“Sekarang aku berkewajiban, karena ini menyangkut dirimu.”
Mantingan terdiam sejenak, menyusun kata-kata di dalam kepalanya. “Perlu kuberitahu padamu, Rara. Jikalau saja engkau memaksa tetap ikut bersamaku, maka kita akan saling merepotkan satu sama lain. Daku merepotkanmu, dan dikau merepotkanku. Tidak ada suatu keuntungan yang akan kita dapatkan, Rara, malah kerugian yang kita dapatkan.”
__ADS_1
Rara membuka mulutnya ingin mengucap sesuatu, tetapi tidak kunjung juga terucap. Karena sebenarnya, apa yang Mantingan katakan itu benar adanya. Rara akan merepotkan Mantingan dengan keberadaannya yang menghambat perjalanan serta menghabiskan perbekalan, sedangkan Mantingan akan merepotkannya dengan perjalan jauh yang sangat melelahkan dan kehidupan yang tidak seperti orang-orang kota.
Tentu Rara tidak terbiasa hidup di dalam hutan, tanpa sebuah rumah untuk berlindung atau beristirahat. Ia tetap tidak terbiasa tidur di dalam tenda yang sempit. Ia tak terbiasa dengan ancaman hewan buas dan perampok yang bisa datang kapan saja. Itu semua rela ia jalani, tetapi ia berpikir lagi jika ternyata dirinya merepotkan Mantingan.
“Daku pasti akan kembali mengunjungimu, Rara. Setelah Kembangmas kutemukan” Mantingan menunjukkan senyum hangat.
Mata Rara masih berlinang-linang, ia terisak pelan. “Apakah kau berjanji?”
Mantingan mengangguk pasti. “Aku berjanji.”
***
Kini Mantingan dan yang lainnya tengah menyantap ikan bakar sambil memandangi lautan biru luas. Beberapa burung putih terbang di atas mereka, mengeluarkan suara yang khas dan serasi dengan deburan ombak.
Birawa yang merancang acara makan siang di tepi pantai ini. Ia mencari tempat yang teduh dan menggelar tikar anyaman bambu di sana. Lalu dengan kecepatannya yang melebihi suara guntur, Birawa berburu ikan di laut. Birawa tentu pulang cepat dengan membawa banyak ikan untuk dibakar Arkawidya.
Mantingan menikmati ikan bakar buatan Arkawidya itu, tetapi sepertinya tidak dengan Rara yang tidak bersemangat makan.
Rara masih tidak bisa merelakan Mantingan. Memang tadi pada akhirnya ia membiarkan Mantingan pergi, dan dirinya sendiri akan tetap di sini bersama Arkawidya, tetapi sekarang ini entah mengapa hatinya kembali tidak merelakan Mantingan pergi.
Mantingan semakin serba salah.
Terlebih Rara terus bersikap seperti itu selama dua hari. Dan esok merupakan hari keberangkatan Mantingan.
Malam itu. Di kamarnya, Mantingan mengemasi barang-barangnya yang semula tercecer ke berbagai penjuru kamar. Ia juga telah mencuci bajunya sampai bersih, sampai terlihat baru lagi. Mantingan diberikan beberapa baju pendekar milik Birawa yang bahannya bagus-bagus semua.
Saat itulah Rara datang ke kamarnya, kebetulan pintunya tidak Mantingan tutup. Terbata Rara memanggil nama Mantingan.
“Mantingan ....”
Mantingan menoleh ke arahnya dan tersenyum. “Apa ada yang engkau perlukan, Rara?”
__ADS_1
“Apa kau sudah punya pasangan?”