Sang Musafir

Sang Musafir
Tipu Muslihat Puan Kekelaman


__ADS_3

MAKA begitulah kemudian Mantingan mengungkapkan apa yang menjadi pandangannya pada Puan Kekelaman, yang sudah barang tentu berupa sebuah penjelasan yang sesingkat-singkatnya.


“Puan, jika seandainya daku menjadi mata-mata pemerintahan, maka akan sangat mudah bagiku untuk menebak bahwa teramat banyak jaringan rahasia yang bersemayam di Pemukiman Kumuh Kotaraja.”


Mantingan lebih senang menyebut tempat itu dengan “Pemukiman Kumuh Kotaraja” ketimbang “Pemukiman Miskin Kotaraja”. Bukankah kemiskinan akan sangat tidak tepat bila diartikan sebagai kekumuhan? Dan bukankah golongan orang miskin tidak selalu bersifat kotor?


Terdengar suara tawa dari Puan Kekelaman yang terdengar teramat halus dan lembut. Syahdu terdengar. Namun biar bagaimanapun juga, Mantingan masih tidak dapat mengerti maksud dari tawaan tersebut.


“Pahlawan Man yang senantiasa daku segani, perkiraanmu itu memang tepat sekali. Telah sejak lama pemerintahan Koying mengetahui keberadaan jaringan rahasia yang bersemayam dengan nyaman di Pemukiman Kumuh Kotaraja. Namun, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Jaringan rahasia itu teramat besar pengaruhnya bagi pemerintahan.


“Sebagian besar wilayah Kedatuan Koying berada dalam kendali permainan dagang mereka. Itu sudah menjadi rahasia umum di kota raya yang teramat besar ini, yang pula menjadi suatu aib besar sebab betapa pun keagungan Koying telah terongrong oleh sesuatu yang tidak dapat pemerintahan atasi. Itulah yang menjadi pokok utama dalam tulisan Rashid, membuat dirinya saat ini benar-benar diburu pemerintahan Koying untuk menghapus kabar yang telah terlanjur tersebar itu.


“Tenanglah saja, Pahlawan Man, pemerintahan tidak akan menduga bahwa engkau bersembunyi di pemukiman kumuh itu. Dan sekalipun berhasil menduganya, mereka hampir tidak bisa berbuat apa-apa.”


Mantingan yang pada akhirnya dapat mengerti maksud baik Puan Kekelaman itu lantas menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar. “Sesuai yang engkau kehendaki, daku akan mencari tempat di Pemukiman Kumuh Kotaraja untuk ditinggali sementara waktu. Akan tetapi, ada hal yang mesti kusampaikan kepada dikau, Puan.”


“Sampaikanlah segala apa yang sekehendaknya dikau sampaikan, Pahlawan.”


Mantingan mulai menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan sebuah peta yang menunjukkan bagian bawah tanah istana yang telah ditinggalkan. Namun, Mantingan tidak sampai menceritakan tentang bagaimana peta itu didapatkan, yang tidak lain dan tidak bukan adalah setelah menumpas serombongan pedagang Negeri Atap Langit yang menyerang Desa Sawahan.


Mendengar hal itu, Puan Kekelaman kembali tertawa lembut. Membuat Mantingan merasa bahwa dirinya benar-benar bodoh sebab tidak dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Puan Kekelaman menjelaskan, “Peta-peta itu memang sengaja disebarkan, Pahlawan, demi mendukung keberhasilan dikau menyusupi Istana Koying. Bukankah dengan tersebarnya peta-peta itu, para pendekar dari seluruh penjuru Dwipantara akan berbondong-bondong datang ke istana dengan niat menyusup melalui ruang bawah tanah, sehingga pada akhirnya menyita seluruh perhatian pasukan penjaga untuk mengatasi pendekar-pendekar itu?”

__ADS_1


Dapatlah Mantingan pahami apa yang dimaksud oleh Puan Kekelaman. Namun, sungguh ia tidak dapat memahami maksud dari penyebar peta itu terhadap dirinya.


Agaknya, kebingungan itu mampu terbaca oleh Puan Kekelaman. Sekali lagi, lagi-lagi sekali lagi, perempuan itu tertawa syahdu.


“Pahlawan, tiada lain dan tiada bukan dalang penyebar peta itu adalah kami,” tuturnya kemudian, tetapi sayangnya belum mampu melepas Mantingan dari kebingungannya. “Apakah gerangan yang masih membuatmu tampak bingung, wahai Pahlawan Man?”


“Kalian tidak akan melakukan hal seperti ini tanpa keuntungan yang besar.” Mantingan berkata tajam, membuat Puan Kekelaman seketika mematung di tempatnya. “Katakanlah yang sejujur-jujurnya, meski daku tahu betul bahwa kejujuran bukanlah termasuk sifat jaringan bawah tanah seperti kalian, tetapi kali ini tolong berkata dengan jujur.”


Untuk beberapa lama, suasana menjadi hening mencekam. Sebab bagaimanakah tidak mencekam bila Mantingan terus menatap Puan Kekelaman di depannya dengan sangat tajam?


“Bagaimanakah daku dapat berbohong kepada engkau sedangkan Pahlawan Man terkenal mampu membaca pertanda?” Perempuan itu berkata dengan nada yang terdengar miris.


Setelah menghela napas panjang-panjang, barulah Puan Kekelaman bercerita panjang lebar; membuat Mantingan menjadi cukup terkejut setelah mendengarkannya.


Semua yang dilakukan Puan Kekelaman kepada Mantingan sampai saat ini berhubungan dengan permainan kekuasaan.


“Putraku akan memimpin Koying dengan lebih baik, Pahlawan. Untuk mencapai hal itu, terlebih dahulu daku harus menyingkirkan putra mahkota.”


Selepas Puan Kekelaman berkata seperti itu, Mantingan tertegun di tempatnya selama beberapa lama. Terkejut bukan tipuan!


Lantas dengan sedikit panas, dirinya berkata, “Puan Kekelaman! Dikau salah jika mengira diriku datang untuk membalas dendam! Dikau juga salah jika menafsir diriku akan membantai seluruh isi istana dengan amukan! Daku sudah katakan kepada dikau bahwa satu-satunya tujuanku menyusup ke Istana Koying adalah untuk menyelamatkan Tapa Balian. Tidak lebih dan tidak pula kurang!”


“Pahlawan Man, sadarilah betul-betul bahwa dikau tidak memiliki pilihan lain saat ini.” Puan Kekelaman memotong. Suaranya benar-benar berubah. Tidak lagi terdengar halus, lembut, serta syahdu seperti sebelumnya. Kini terdengar sangat dingin.

__ADS_1


Mantingan melebarkan matanya dengan kemarahan yang tidak dibuat-buat. Betapa dirinya telah dijebak oleh permainan muslihat Puan Kekelaman yang teramat kejam!


“Maafkanlah diriku, Pahlawan Man, tetapi harus kukatakan bahwa dikau sangat naif. Darah muda jelas masih mengalir cukup deras di dalam tubuhmu.” Puan Kekelaman kembali berkata dengan tenang, tetapi sungguh tiada terjadi perubahan dalam suaranya. “Anggaplah ini sebagai pelajaran yang sangat berharga untukmu.”


Mantingan berusaha sekuat daya menahan gejolak amarahnya. Sungguh terlalu Puan Kekelaman! Kini dirinya tidak lagi memiliki pilihan lain selain untuk tetap melanjutkan penyusupan, yang secara tidak langsung membantu Puan Kekelaman mencapai keinginannya menggapai kekuasaan!


Jika tidak begitu, bukankah Puan Kekelaman akan sangat mudah menggagalkan niatnya menyelamatkan Tapa Balian sebab seluruh rencananya telah diketahui?


Memikirkan hal ini, Mantingan merasakan kemusykilan yang luar biasa hebat.


Satu-satunya yang mampu menghentikan rencana kejam Puan Kekelaman hanyalah kebaikan hati dan rasa iba, tetapi apakah kedua perasaan itu ada di dalam diri seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang telah terkenal tidak memiliki perasaan?


Mantingan hanya dapat menunduk sambil menggosok wajahnya. Menyesal. Terandai saja pada saat pertama kali menjumpai Puan Kekelaman ia telah dapat menyadari gelagat mencurigakan darinya, mungkin kesalahannya tidak akan pernah sampai sejauh ini.


“Janganlah menyesal, Pahlawan, tiada guna dikau menyesal.” Kembali Puan Kekelaman berkata, membuat Mantingan mengangkat kepala lantas menatapnya tajam-tajam.


“Jika yang ada di depanku ini bukanlah sekadar bayang-bayang sihir yang teramat pengecut, telah pasti daku akan menarik pedang dan memenggal lehernya.”


“Janganlah engkau membuat diriku takut, Pahlawan.” Puan Kekelaman memelas, yang lebih terdengar seperti mengejek di telinga Mantingan. “Sungguh, diriku pun merasa sangat menyesal telah mengecewakan orang semulia dikau, tetapi daku benar-benar terpaksa melakukan hal ini.”


Mantingan mendengus keras sebelum bangkit berdiri dari kursinya. Tiada lagi dirinya berselera berada di dekat perempuan itu.


___

__ADS_1


catatan:


Episode bulan ini: 3/40


__ADS_2