Sang Musafir

Sang Musafir
Kebimbangan Mantingan


__ADS_3

Saat ini di dalam kepala Mantingan muncul banyak dugaan sekaligus tanda tanya. Aturan pemerintahan apakah yang diusung Perguruan Angin Putih hingga membuat pemerintah harus menumpasnya? Jika aturan pemerintahan yang mereka bawa adalah aturan yang baik, maka mengapakah pemerintahan menumpasnya? Tetapi jika memang aturan yang mereka bawa itu menyesatkan, tiada alasan lagi bagi pemerintah untuk tidak menumpasnya.


Mantingan juga membayangkan rupa aturan pemerintahan yang dibawa oleh Perguruan Angin Putih. Setahunya, banyak juga kelompok-kelompok yang mengusung aturan-aturan negara baru, tapi mereka memperjuangkan aturan itu melalui jalan partai politik, bukan melalui jalan perang. Tetapi memang tidak sedikit yang memperjuangkannya lewat jalur perang, seperti yang terjadi di waktu ini, kelompok-kelompok aliran hitam dan orang-orang bekas Salakanagara berperang melawan Tarumanagara.


Dara sepertinya tidak akan memberi penjelasan lagi, mungkin pikirnya itu sudah cukup untuk meyakinkan Mantingan agar tidak belajar silat di sana. Tetapi sayang sekali karena dugaannya salah, Mantingan malah semakin penasaran berguru silat di sana, namun hal itu tidak Mantingan ucapkan karena khawatir Dara akan mengambil tindakan lain padanya. Mantingan tidak memberi tanggapan apa pun selain mengangguk pelan.


Karena sepertinya tidak ada yang perlu dibahas lagi, petugas perpustakaan itu berpamitan pada Dara dan mengatakan untuk tidak sungkan sering-sering mengunjungi perpustakaan. Jadilah di halaman perpustakaan yang luas itu hanya tersisa Mantingan dan Dara saja.


Dara berdeham sekali sebelum berkata, “Apakah kita bisa ke kamarku sekarang?”


Tidak ada yang bisa dilakukan lagi pada malam hari di kota ini, jadi Mantingan menganggukan kepala dan kemudian mengikuti langkah Dara keluar dari wilayah perpustakaan.


***


Jika saja Perguruan Angin Putih memang membawa ajaran sesat, maka Mantingan merasa tidak perlu berguru di sana. Memang benar jika dirinya ingin sekali berguru di Perguruan Angin Putih, tetapi Mantingan tetap tidak akan berguru di sana jika ternyata memang benar perguruan itu punya ajaran sesat. Mungkin dapat dikatakan sekarang ini, Mantingan hanya sebatas penasaran.


Tetapi, dapatkah Mantingan menemukan perguruan itu? Jika dipikirkan kembali, kerajaan pun tidak mengetahui letak perguruan itu sekarang. Jika kerajaan dengan telik sandi-telik sandi yang dimilikinya itu tetap tidak bisa menemukan Perguruan Angin Putih, lantas bagaimanakah dengan Mantingan yang hanya seorang diri saja? Terlebih Mantingan tidak memiliki pengalaman sebagai telik sandi, pengalaman bersilat pun ia tidak punya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan ini Mantingan lebih banyak berpikir sedaripada menikmati pemandangan kota yang ramai. Ia juga terus mengikuti Dara. Dan jika Dara berhenti, Mantingan pula berhenti tanpa banyak bicara. Dara memang sering berhenti di sepanjang perjalanan dikarenakan penggemar-penggemar yang memberhentikannya, biasanya Dara akan memberikan mereka sebuah lembar lontar kecil yang bertuliskan namanya agar penggemar-penggemar itu tidak menghalangi jalan lagi.


Udara malam di kota ini sangatlah sejuk, pantas banyak orang yang keluar untuk sekadar membeli makanan ringan atau berjalan-jalan di kota. Mungkin ini disebabkan oleh gunung-gunung yang mengelilinginya serta hutan-hutan terjaga di sekeliling kota. Ratusan bintang juga menyala terang malam ini, masih bersanding dengan redupnya bulan.


Mantingan akhirnya sampai di tempat yang Dara tuju. Sebuah penginapan mewah tepat di depan matanya, dengan banyak penggemar-penggemar Dara yang berusaha menghalangi jalan atau bahkan mengikutinya di belakang. Saat itulah penjaga-penjaga penginapan turun tangan membubarkan kerumunan penggemar itu, hingga Dara dan Mantingan bisa memasuki bangunan penginapan dengan aman.


Meski penginapan ini mewah, tetapi bangunan penginapan ini tidaklah bertingkat, juga tidak memiliki bangunan-bangunan penginapan lain di sekitarnya. Di dalam bangunan inilah kemewahan yang sesungguhnya tersaji.


Jika dibandingkan dengan kemewahan Penginapan Candrawulon, maka penginapan ini jauh di atasnya. Hal itu sudah dapat terlihat hanya dari dinding penginapan yang sudah terlihat kualitasnya. Barang-barang pajangan juga jauh nilainya ketimbang barang pajangan di Candrawulon.


Mungkin pihak penginapan ini sengaja mengecilkan ukurannya, tetapi membuat penginapan jauh lebih mewah dan mahal ketimbang penginapan-penginapan lain.


Dara berjalan melewati lorong-lorong sampai dirinya berhenti di salah satu pintu kamar yang terletak di lorong itu. Dara merogoh sesuatu dari dalam bajunya yang ternyata merupakan sebuah kunci, lantas membuka pintu itu dengan kuncinya.


Mantingan tidak bergerak dari posisinya saat Dara sudah memasuki kamar. Kembali ia mempertimbangkan keputusannya. Di kamar itu hanya akan ada dirinya dan Dara saja, tanpa seorang manusia pun yang mengawasi. Mantingan tidak tahu apakah dirinya bisa menahan diri nantinya, atau malah Dara yang tidak bisa menahan diri. Dirinya merasa harus berwaspada dengan kemungkinan itu.


Sebab orang-orang desa dan ayahnya pernah berkata sewaktu dirinya memasuki keremajaan dahulu, bahwa wanita adalah makhluk yang lemah-gemulai sekaligus makhluk yang sangat berbahaya, sama berbahayanya dengan pria. Wanita juga merupakan manusia, bukan untuk dipermainkan. Jika saja Mantingan tidak dapat menahan diri, dan terjadi sesuatu di luar kendalinya bersama Dara di kamar nanti, bukan tidak mungkin Dara akan menuntut pertanggungjawaban. Bagaimana jika Dara akan meminta Mantingan menikahi dirinya nanti?

__ADS_1


Terlebih, Mantingan tidak mau berhubungan lebih jauh lagi dengan Dara atau dengan manusia lainnya, setidaknya untuk saat ini. Maka sebenarnya, telah cukup alasan bagi Mantingan untuk tidak masuk ke dalam kamar Dara.


“Apa yang kau tunggu?” Bertanyalah Dara pada akhirnya.


Mantingan menggeleng pelan. “Sepertinya aku berubah pikiran.”


“Jangan engkau katakan itu, karena sebenarnya nyawamu berada dalam bahaya jika engkau memang betul-betul berubah pikiran.”


“Nyai, aku merasa ini terlalu berlebihan ....”


“Apa yang berlebihan? Engkau berhasil mendapatkan pedangku, walau aku tahu itu bukanlah hal yang disengaja, tetapi tetap saja engkau telah mendapatkannya. Dan kini kita harus menunaikan kewajiban kita, yaitu bermalam bersama.”


Mantingan menghela napas panjang. Ucapan Dara itu bukan omong kosong, karena memang Mantingan merasa terus diawasi sepanjang perjalanan tadi. Dan kini, Mantingan ditekan oleh nafsu pembunuh yang lumayan kuat entah dari mana. Kembali dirinya terjebak dan tiada memiliki banyak pilihan. Pada akhirnya, Mantingan berjalan masuk ke dalam kamar. Dara kemudian menutup pintu dan menguncinya.


Mantingan mengedarkan pandang ke penjuru kamar. Sungguh mewah, kemewahan yang belum pernah Mantingan lihat seumur hidupnya. Kamar ini pula luas, walau dari luar penginapan terlihat kecil.


“Kita tidak akan melakukan apa pun di sini,” kata Mantingan dengan suara pelan, namun menekan.

__ADS_1


“Tentu saja kita harus melakukan sesuatu di sini.” Dara membalas sambil dirinya berjalan melewati Mantingan. “Bagaimana bisa aku tidak melakukan sesuatu apa pun di kamar seluas ini? Aku butuh makan, aku butuh mandi, aku butuh tidur. Memangnya, apa yang engkau akan perbuat di sini jika engkau tidak boleh melakukan sesuatupun?”


__ADS_2