
BETAPAPUN MEMANG ada tanda-tanda keberadaan manusia di dalam ruangan itu. Mantingan tidak mengetahui berapa jumlah pasti orang di dalam, namun setidaknya ada lebih dari satu orang. Kemungkinan besar, orang itu adalah musuh. Musuh yang sama-sama mengenakan topeng aneh.
Hal itu terbuktikan ketika seorang bertopeng meminta bantuan pada temannya tadi.
Namun yang sedikit mengherankan adalah, orang yang ada di dalam sama sekali tidak membantu kawan-kawannya yang bertarung melawan Mantingan dan Paman Bala. Padahal, Paman Bala dan Mantingan akan mustahil menang jika pihak musuh mendapat kekuatan tambahan satu orang lagi saja.
Seolah mengetahui apa yang tengah dipikirkan Mantingan, Paman Bala kemudian berkata, “Mereka adalah orang-orang gila, Pahlawan Man. Anggaplah mereka seperti orang gila yang berkeliaran di jalanan. Seperti itulah mereka. Sulit ditebak pola pikirnya. Yang pasti kegilaan mereka ini bisa kita syukuri dan bisa juga tidak.”
Mantingan mengerti bahwa orang-orang di dalam ruangan ini memang aneh. Ia lalu menoleh ke arah anak Paman Bala yang masih duduk kaku, bersandar pada dinding dingin ruangan. Mantingan kemudian melirik Paman Bala di sebelahnya.
“Paman, bukankah lebih aman kita segera keluar dari tempat ini? Tidak perlu menghadapi musuh di ruangan sebelah. Itu akan berbahaya untuk kita.”
Paman Bala masih dengan tatapan tajam, menggeleng pelan. “Meninggalkan mereka hidup-hidup adalah kesalahan besar, Pahlawan Man. Mereka akan menyelidiki keberadaan kita sampai ke akar-akarnya, lalu membunuh orang-orang yang dekat dengan kita. Bahkan bukan tidak mungkin, gadis yang engkau lindungi itu berada dalam bahaya.”
Mantingan terpaku beberapa saat. Berdiam dan berpikir. Jika dicermati lebih dalam, perkataan Paman Bala harus diperhitungkan. Pendekar-pendekar aliran hitam tidak sungkan menggunakan bermacam-macam cara demi mengalahkan lawan mereka. Bukan tidak mungkin Bidadari Sungai Utara berada dalam bahaya besar jika salah satu pendekar aliran hitam di Pasar Layar Malaya mencoba mencari jati diri Mantingan.
Pada akhirnya Mantingan mengangguk setuju. Sekali lagi mengencangkan otot-ototnya. Mempertajam daya pikir, penglihatan, dan pendengaran. Sungguhan berniat pulang hidup-hidup. Dari kantung pundi-pundinya, Mantingan merogoh sebumbung ramuan pereda nyeri. Dibuka tutupnya dan diminum semua isinya. Sebumbung obat pereda nyeri memang untuk sekali pakai.
Rasa pahit tidak dipedulikannya karena yang terpenting saat ini adalah kemenangan dalam pertarungan. Mantingan akan berjuang mencari penawar racun di dalam tubuhnya jikalau berhasil keluar dari tempat terkutuk ini. Semoga saja.
Paman Bala menghela napas dan menatap Mantingan dengan iba. “Pahlawan Man, racun itu ....”
__ADS_1
“Tidak mengapa, Paman. Sepertinya racun ini tidak langsung membunuhku. Aku bisa menemukan penawarnya nanti setelah keluar dari sini.” Mantingan menunjukkan senyumnya pada Paman Bala sekaligus mengisyaratkan bahwa semuanya berjalan cukup baik sampai kini. “Maka dari itu, Paman, sesegera mungkin kita selesaikan pekerjaan ini.”
Paman Bala menarik napasnya panjang-panjang dan mengangguk. Jika Mantingan yang sakit saja mampu berdiri dan berjuang, maka apakah dia yang sehat bugar tidak mampu berdiri dan berjuang? Paman Bala bertekad menggunakan seluruh dayanya untuk membuat Mantingan dan putrinya dapat selamat dari tempat ini. Jika perlu ditukar dengan nyawanya, maka dia siap. Soal Bidadari Sungai Utara, Paman Bala pasti tahu apa yang harus dia lakukan.
Paman Bala menarik lontar pengaturnya, sedangkan Mantingan telah lebih dalu menyiagakan benda itu di tangannya. Kini cahaya biru putih berbentuk naga itu sepenuhnya ada di bawah kendali Mantingan dan Paman Bala.
Mantingan bertugas mengendalikan serangan naga, sedangkan Paman Bala akan berpusat pada pengendalian gerak naga. Makhluk legenda yang berbentuk seperti ular dan bisa terbang ini juga dapat mengeluarkan api panasnya, meliuk-liuk bagai udara adalah air tempatnya berenang. Sekali naga ini mengeluarkan bola api birunya, maka itu sanggup membunuh barisan berisi seratus prajurit sekaligus.
“Pahlawan Man, mari kita masuk.” Paman Bala melirik Mantingan.
“Marilah, Paman.” Mantingan memberi balasan berupa anggukan.
Mereka berjalan pelan-pelan dengan lontar pengatur di tangan mereka. Mereka berdiri di tepi pintu masuk ruangan, di sebelah tirai. Diam-diam mengintip ke dalam. Ruangan di dalam berwarna merah darah. Hanya ada satu obor yang menggantung. Selebihnya, baik Mantingan maupun Paman Bala tidak melihat seorang pun di sana. Tidak ada pintu keluar, tidak ada lubang atau apa pun yang dapat digunakan sebagai jalur pelarian.
“Serbu!”
Mantingan maju sambil mengirim Jurus Tapak Angin Darah. Tirai tersibak oleh dorongan angin kuat hingga lepas dari tempatnya. Berbarengan dengan itu, Paman Bala dan Mantingan melompat ke dalam ruangan. Tanpa perlu diperintahkan, keduanya tahu apa yang pertama kali harus dilakukan. Serentak kepala dua pria itu mengadah ke atas.
“Kalian sudah kutunggu sedari tadi.”
Setelah melihat seorang bertopeng menggantung di langit-langit ruangan selayaknya kelelawar, Mantingan dan Paman Bala tidak menunggu lebih lama lagi untuk melancarkan serangan.
__ADS_1
Paman Bala membuat naga menukik tajam ke atas sedangkan Mantingan mempersiapkan serangan api dan cakar naga. Saat Mantingan memejamkan sebelah matanya, pandangan sebelah matanya itu berpindah ke dalam mata sang naga. Mantingan mengarahkan kepala naga ke arah musuh, membuka mulut naga, hingga akhirnya sebuah bola api biru ditembakkan.
Musuh tertawa nyaring sebelum mengempaskan dirinya ke bawah. Ia mengeluarkan sebilah kelewang dan mengayunkannya ke arah bola api. Begitu bilah kelewang dan bola berapi itu saling bertabrakan, terjadilah ledakan api besar. Mantingan dan Paman Bala menutup matanya barang sejenak untuk menghindari sinar yang akan sangat menyilaukan mata.
Musuh mendarat di atas lantai. Mantingan dan Paman Bala melebarkan matanya cukup terkejut.
“Anak-anak yang kalian kalahkan itu memang tidak memiliki akal. Kalian boleh menyebut mereka orang gila jalanan, karena itu benar. Aku tak sudi membantu mereka, bukan karena aku sama gilanya seperti mereka. Aku merasa cukup mengalahkan kalian berdua sendirian. Jadi, BERHENTILAH MENYEBUTKU ORANG GILA!”
“Dia orang gila, Mantingan,” sahut Rara. “Orang gila yang sayangnya sangat kuat. Kau sulut amarahnya, maka dia akan kalap. Kau ingat perkataan Kiai Guru soal orang yang kalap?”
Mantingan mengangguk pelan sebelum menatap musuhnya itu tajam-tajam. “Kalau kau bukan orang gila, tunjukkan pada kami apa itu gunanya akal. Mengapa kau bertingkah seperti monyet hutan yang suka mengamuk?”
Terdengar gelak tawa dari balik topeng itu. “Hahaha! Monyet hutan, aku suka dengan julukan itu.”
“Kau suka berarti kau gila.”
“Tentu tidak.”
“Tentu iya.”
“Banyak bicara!” dengus musuh, menghamparkan kelewangnya ke depan. “Kau cicipi kelewang ini maka usailah cakapan kau untuk selamanya.”
__ADS_1
“Baiklah, baiklah! Kau bukan orang gila. Tapi kau lebih buruk daripada itu. Kau adalah seorang pengecut, pecundang, dan penakut.”