Sang Musafir

Sang Musafir
Pendekar Pengirim Surat


__ADS_3

MESKIPUN KEADAAN malam masihlah dapat dikatakan gelap gulita sekalipun rembulan berpendar sinar di atas langit, bukit berpuncak tiga itu akhirnya ditemukan.


Bukit itu telah terlihat dari kejauhan. Dipantul cahaya purnama yang kekuningan dan keperakan. Mantingan dan Kana lekas bergerak menuju bukit tersebut sebab malam telah begitu larut.


Sesampainya mereka di kaki bukit, keduanya berhenti sejenak untuk sekadar melakukan perbincangan terakhir. Tiada yang mengetahui nasib mereka akan seperti apa nantinya. Tidak ada jaminan bahwa Mantingan akan memenangkan pertempuran dan keluar hidup-hidup. Maka perbincangan itu, bisa saja menjadi perbincangan terakhir.


“Engkau hanya boleh melihat dari kejauhan saja,” kata Mantingan dengan nada bersungguh-sungguh. “Apa pun yang terjadi, jangan pernah mendekat! Ini adalah perintahku yang tidak dapat engkau bantah lagi.”


“Daku mengerti, Kakanda. Kali ini, daku tidak akan membantah.” Kana menganggukkan kepalanya, meski tangannya sangat gatal menjajal pedang logam yang diberikan Dara senja tadi sebelum mereka pergi.


“Dan jika sampai terjadi sesuatu, maka berlarilah sejauh mungkin. Jika tidak memungkinkan untuk berlari, maka bersembunyilah. Jika tidak memungkinkan pula untuk bersembunyi, ajukanlah tawaran damai. Jika itu tidak memungkinkan, maka bertempurlah. Apakah engkau mengerti perkataanku, Kana?”


Di bawah sinar rembulan, Kana menganggukkan kepalanya mantap. “Daku mengerti Kakanda.”


Mantingan tersenyum puas lalu menepuk pundak anak itu sebelum akhirnya berkelebat pergi dari kaki bukit ke arah puncak bukit bagian tengah. Betapa setelah Mantingan sampai di atasnya, pemandangan jauh lebih sedap dilihat. Lebih-lebih, puncak bukit yang ia pijaki itu tidak ditumbuhi satupun pohon di atasnya.


Namun hingga sekarang, Mantingan masih belum melihat sosok pendekar yang menantangnya itu. Tiada seorangpun berdiri di atas salah satu tiga puncak tersebut selain Mantingan sendiri.


Apakah si pengirim surat itu hanya ingin menipunya saja? Atau justru hendak menjebaknya dari belakang saat ia sedang tidak berwaspada sama sekali?

__ADS_1


Mantingan tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Maka bukannya mengendurkan kewaspadaannya, Mantingan justru menambahnya. Diraba olehnya Pedang Kiai Kedai yang masih pula tidak dipasang kunciannya.


Betapapun, lawan bisa menyerangnya kapan saja. Mantingan tidak ingin kehilangan kewaspadaannya karena surat yang dikirimkan lawannya itu mengandung kata-kata yang sopan. Kekinian, dunia persilatan tidak lagi menjunjung tinggi kejujuran dan kehormatan. Berganti oleh tipu muslihat yang sama sekali tiada terpuji perbuatannya. Mantingan menjaga diri dan kewaspadaan jikalau seandainya ia berhadapan dengan lawan yang seperti itu.


Angin musim kemarau membawakan udara kering, yang betapapun keringnya itu tetap saka terasa dinginnya hingga ke sumsum tulang. Rembulan terus berpijar di jagat langit, ditemani ratusan bintang-gemintang yang tiada kalah keindahannya. Anjing hutan melolong tinggi dan panjang, mengisi kesunyian malam.


Mantingan mengembuskan napas panjang untuk kesekian kalinya. Ia takdapat meninggalkan tempat ini dengan begitu mudah, yang sama saja meninggalkan bahaya untuk Bidadari Sungai Utara. Sebab dalam surat yang telah dikirim oleh lawannya, selain berisi tantangan, berisi pula ancaman. Jika saja Mantingan meninggalkan orang itu dalam keadaan tidak puas, maka keselamatan Bidadari Sungai Utara, Kina, dan beserta seluruh rombongan permaisuri dapat saja terancam.


Mantingan masih terus menunggu. Tak peduli seberapa kencang angin timur menerpanya. Jubah dan rambutnya berkibar-kibar selayaknya bendera di tengah badai yang carut marut.


Hingga tibalah ketika Ilmu Mendengar Tetesan Embun mendengar sekelebat suara di kaki bukit. Jelas ini bukanlah suara yang dihasilkan oleh Kana, sebab jelas-jelas ia mengenal bagaimana anak itu menciptakan suara. Lebih-lebih, suara ini berasal dari arah yang berlawanan dari tempat Kana berada.


Suara kelebatan itu begitu cepatnya mendaki bukit. Hampir tidak menimbulkan suara. Jika saja Mantingan tidak segera menguasai Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang diberikan oleh Kiai Guru Kedai, maka sudah barang tentu dirinya tidak dapat mendengar suara kelebatan itu!


Bukan rambutnya yang berkibaran diterpa derasnya angin, melainkan janggut putih yang begitu panjang. Mungkin panjang janggut itu akan menyentuh pinggangnya jikalau saja angin tidak bertiup kuat saat ini.


Terlihat sosok tersebut sama sekali tidak menyoren pedang di punggung atau di pinggangnya. Namun, sosok tersebut menggantung banyak pundi-pundi pada di tubuhnya. Kira-kira, terdapat belasan hingga puluhan pundi-pundi.


Mantingan lantas berpikir meskipun musuh telah jelas terlihat dalam pandangannya. Ia pernah mendengar bahwa pendekar yang menggantung banyak pundi-pundi pada tubuhnya dan tanpa membawa pedang sama sekali, maka dapat dipastikan bahwa pendekar tersebut adalah seorang ahli racun atau ahli dalam melempar pisau terbang.

__ADS_1


Kemungkinan kedua merupakan kemungkinan yang paling mungkin terjadi. Sebak jika sosok di puncak bukit sebelah utara itu adalah si pengirim surat, maka keahliannya melempar pisau sangatlah berbahaya bagi Mantingan!


Sorot pandang keduanya bertemu. Seolah menjadi serangan pembuka sebelum dentang senjata terjadi. Begitu tajamnya, seolah pedang maupun pisau terbang tidak lagi dibutuhkan untuk saling membunuh.


Terbukalah sebuah ucapan, “Engkaulah Pahlawan Man?”


Meski suara itu amatlah serak, tetapi cukuplah menggelegar ke penjuru bukit. Angin malam tidak mampu membuyarkannya. Mantingan memincingkan matanya, mengetahui bahwa suara itu disertai tenaga dalam yang teramat besar.


Maka Mantingan menjawab, pula disertai tenaga dalam, “Benar, Bapak Pendekar. Orang-orang biasa menyebutku begitu.”


Tak berselang lama, terdengar suara balasan dari sosok sepuh di ujung sana. “Ketika pendekar lain mendapatkan julukan berdasarkan kekuatan istimewanya, engkau justru mendapatkan julukan berdasarkan sepak terjangnya. Jauh lebih terhormat di atas segala julukan pendekar.”


Mantingan terdiam. Apakah pria tua itu bermaksud memujinya atau apa?


“Kurasa, tidak perlu daku menyebutkan julukanku untuk saat ini. Sebab dengan begitu, engkau bisa menebak seperti apa kekuatan istimewaku. Daku ingin pertarungan ini berlangsung seimbang dan seru. Setidak-tidaknya, berikanlah sebuah pertarungan mahaindah sebelum pak tua ini dijemput ajal.”


Mantingan semakin mengernyitkan dahi. “Bapak Pendekar, sahaya tidak mengetahui maksud Bapak menantang sahaya. Jika Bapak tidak ingin menyebutkan nama atau julukan, setidaknya berikanlah jawaban atas maksud Bapak menantang dan mengancam sahaya.”


“Hoho, pendekar muda yang cermat. Engkau agaknya berbeda dari pendekar muda kebanyakan yang selalu saja tergesa-gesa jika bertemu seorang lawan tua renta sepertiku ini.”

__ADS_1


Tentu saja Mantingan merasa dirinya tidak cermat. Sebab meskipun pria tua itu tampak renta dan sama sekali tidak berdaya, tetapi dia menyimpan kekuatan besar di balik tampang menyedihkan itu. Dari caranya muncul di puncak bukti tersebut secara tiba-tiba, dan dari caranya berbicara yang menggelegar ke seantero bukit, dapatkah Mantingan meremehkan orang itu?



__ADS_2