
MEMANG benar kabar tentang Pendekar Cakar Emas yang selalu meninggalkan korban di tempat yang disinggahinya. Kedai Purnama Merah juga tidak luput dari itu. Siang tadi telah terbunuh lima tamu kedai yang tidak salah apa-apa.
Mantingan sebenarnya ingin mencegah hal itu terjadi, tetapi ia sama sekali tidak mengendus kehadiran Pendekar Cakar Emas sehingga telat untuk mencegah pembunuhan lima pelanggan kedai.
Tidak hanya itu, Pendekar Cakar Emas meninggalkan selontar tulisan yang menyebut dirinya akan datang kembali untuk mengambil pusaka lain, ia meminta pada pihak kedai untuk mempersembahkannya seorang gadis cantik agar dia tidak membunuh orang di kedai.
Barang tentu permintaan itu tidak akan dipenuhi oleh pihak kedai. Mereka bahkan telah menyiagakan lebih banyak pendekar ahli untuk menangkap Pendekar Cakar Emas hidup atau mati, mereka berniat Cakar Buaya Purba kembali ke tangannya.
Mantingan beserta seluruh tamu kedai telah diperingatkan untuk tidak berlama-lama di dalam kedai karena itu bisa membahayakan nyawanya sendiri. Rata-rata tamu kedai memilih untuk pergi dan tidak akan kembali lagi, tetapi Mantingan malah berniat tinggal sedikit lebih lama dari perencanaan awal.
Pemuda itu cukup geram melihat perlakuan Pendekar Cakar Emas yang seenak jidat membunuh orang. Pendekar-pendekar seperti itu, jika dibiarkan akan semakin berbahaya ke depannya. Jika saja Pendekar Cakar Emas dalam beberapa tahun dapat meningkatkan diri, maka ia akan jadi tidak terhalangi dan tidak tertandingi. Itulah yang berbahaya.
Penanggungjawab kedai awalnya risau dan berniat membujuk Mantingan agar dirinya meninggalkan kedai. Namun, setelah mendengar cerita dari pelayan bahwa Mantingan adalah pendekar yang baik, ia mengurungkan niat dan malah berharap Mantingan lama-lama tinggal di kedainya.
Mantingan tetap menunggu Pendekar Cakar Emas hingga tiga hari lamanya.
Dalam tiga hari itu Mantingan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menulis kisah perjalanannya. Ada beberapa lontar yang hilang, sepertinya tertinggal di kota, Mantingan harus menuliskan ulang bagian dari lontar yang hilang. Tentu itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Sebagian kecil waktunya digunakan untuk berkeliling ke sekitar kedai dan menikmati pemandangan. Pemandangan yang tersaji di Kelapa Larang tidak kalah dengan pemandangan di Agrabinta. Walau suhu di sana sedikit lebih hangat, namun itu bukan masalah.
Setiap petang, Mantingan selalu pergi ke sungai untuk membersihkan diri atau sekadar menulis. Sungguh menulis di alam terbuka jauh lebih nyaman ketimbang menulis di dalam ruangan.
__ADS_1
Pada hari ketiganya, Mantingan bisa mendengar seseorang masuk ke dalam bangunan kedai. Walau Mantingan berada di lantai ketiga, tetapi pendengarannya dapat menangkap bunyi di lantai dasar.
Jika orang itu adalah pelanggan, maka ialah pelanggan pertama sejak tiga hari terakhir. Namun jika orang itu adalah Pendekar Cakar Emas, maka ialah yang paling ditunggu-tunggu.
Sayup-sayup Mantingan mendengar percakapan orang itu dengan pelayan kedai.
“Apakah di sini masih sedia makanan dan kamar tidur?”
“Tuan, kami masih menyediakan makanan, tetapi untuk tempat tinggal ... kami tidak memiliki kamar lagi.”
“Kalau begitu, di manakah aku akan meniduri gadisku?”
Mantingan meletakkan lontar yang sedang ia tulis, memapas Pedang Kiai Kedai, dan lekas bergerak cepat keluar dari kamarnya. Orang yang sedang berbicara dengan pelayan kedai itu adalah Pendekar Cakar Emas, Mantingan yakin itu, tanda-tandanya sudah jelas.
Sesampainya di bawah, sesuai dengan kekhawatirannya, seorang pria muda dengan tangan bercakar yang terangkat tinggi, siap menikam pelayan kedai yang kaku ketakutan.
Mantingan tanpa lama-lama lagi langsung melesat ke pendekar muda itu. Pedang Kiai Kedai yang tersarung itu dihunus ke depan. Pendekar Cakar Emas dapat melihat gerakan Mantingan, cepat-cepat ia menarik diri ke belakang dan menangkis pedang Mantingan.
Akibat tangkisan itu, sarung Pedang Kiai Kedai koyak membentuk tiga gores cakaran, memperlihatkan sebagian bilah di dalamnya. Mantingan dan Pendekar Cakar Emas sama-sama berhenti di luar kedai.
Angin berembus pelan, melambai-lambaikan rambut panjang dua pendekar muda itu. Mantingan menatap lawannya tajam, begitu juga lawannya. Pendekar Cakar Emas lalu tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
“Hahahaha! Bukankah dikau adalah pendekar sok baik yang membantu Kota Angin Nyiur? Sekarang lihatlah, pahlawan kita ada di sini untuk mengantar kematiannya padaku. Tenang saja, dikau akan mendapat kehormatan dengan mati di tanganku!”
Mantingan menggeleng pelan. “Aku tidak menantangmu bertarung untuk kehormatan. Aku ingin mengusirmu.”
Selesai Mantingan berkata itu, pendekar-pendekar penjaga kedai bergerak cepat dan membentuk lingkaran mengelilingi dua pendekar itu. Pendekar Cakar Emas sama sekali tidak takut ketika dirinya dikepung, pendekar-pendekar tingkat rendah seperti itu bukanlah masalah besar baginya.
Sedangkan itu, pendekar-pendekar tingkat ahli bersembunyi dan tetap mengawasi pendekar-pendekar lainnya. Mereka bersembunyi bukan karena mereka takut, tetapi mereka memang harus menyembunyikan kekuatannya. Dengan begitu, Pendekar Cakar Emas tidak memasukkan mereka dalam perhitungan.
“Ah, jadi kau mau mengusirku sama seperti pendekar-pendekar yang bersembunyi di belakang?”
Setelah Pendekar Cakar Emas berkata itu, tiada lagi alasan bagi pendekar ahli untuk bersembunyi. Mereka keluar dari persembunyiannya dengan raut wajah yang tidak bagus.
“Tapi bedanya engkau tidak sembunyi-sembunyi dan langsung menyambutku.” Pendekar Cakar Emas kembali tertawa. “Engkau yang bernama Mantingan, bukan? Namamu sudah cukup terkenal di sungai telaga persilatan Javadvipa, sebuah kebanggaan jika daku bisa membunuhmu.”
Mantingan sebenarnya cukup terkejut mendengar namanya cukup terkenal di sungai telaga persilatan Javadvipa, tetapi keterkejutannya itu tidak terlalu lama sebab lawan bisa menyerang saat dirinya lengah sedikit saja.
“Banyak pendekar-pendekar yang mencari dikau untuk mendapat ilmu berharga tentang Lontar Sihir darimu. Bahkan namamu sendiri sering disandingkan dengan Pendekar Lontar Bercahaya. Sekarang sebuah kehormatan bagiku jika berhasil membunuhmu.”
“Tidak ada gunanya memujiku, aku tidak akan lengah.” Mantingan berkata datar.
“Wah, wah, ternyata dikau memang bukanlah pendekar sembarang. Tidak banyak pendekar-pendekar yang mengerti siasatku ini hingga akhirnya terbunuh, daku tidak bisa meremehkanmu.” Pendekar Cakar Emas kembali tertawa. “Nah, sekarang aku sampaikan saja maksudku. Sangat jelas maksudku, daku ke sini untuk mencari pusaka kalian yang bernama Cakar Harimau Purba. Itu pasangan Cakar Buaya Purba yang aku miliki, bisakah kalian memberikannya padaku? Ah, ya, jangan lupa gadis cantiknya.”
__ADS_1
“Hantu hutan! Tak akan kami turuti kemauan dikau, kami di sini bukan untuk menyambutmu baik-baik, kami di sini untuk menangkapmu dan mengambil kembali Cakar Buaya Purba yang kaucuri. Serahkan maka boleh dianggap kita tidak memiliki silang sengketa lagi.” Penanggungjawab kedai berkata lantang.
“Aduhai, mengapa kalian kasar sekali pada pendekar seperti diriku? Apa susahnya memberikan pusaka itu padaku? Apakah kalian tidak sayang nyawa?”