
TAMPAKLAH sekitar selusin mayat bermandi darah di atas rerumputan hijau. Bergelimpangan. Sedangkan itu, tampak pula selusin orang lain yang masih berdiri bugar, dengan pakaian serba hitam dan wajah tertutup kain hitam pula. Perbedaannya dengan pendekar-pendekar yang terkapar tak bernyawa, mereka mengikatkan sehelai kain berwarna merah di pergelangan tangan. Pastilah digunakan sebagai penanda, sebab penampilan musuh yang hampir sama persis.
Orang-orang itu menghadap ke arah Mantingan lantas menjura sedalam-dalamnya. Pemuda yang diberikan penghormatan itu segera memberi tanda pada Chitra Anggini untuk menahan serangan. Ia menduga bahwa pendekar-pendekar itu berada di pihak kawan, atau setidak-tidaknya di pihak yang tidak bermusuhan meski tidak pula berkawan dengannya.
Dari seberang telaga itu, terdengar salah satunya berseru dengan cukup lantang, “Kami pendekar-pendekar utusan Puan Kekelaman, datang untuk menjemput Pahlawan. Mohonlah sedianya untuk mengikuti kami.”
Kini bergantilah Mantingan dan Chitra Anggini yang saling berpandangan.
“Apa yang kamu putuskan?” tanya Chitra Anggini.
“Kutanyakan terlebih dahulu bagaimana pendapatmu,” balas Mantingan dengan cepat. “Apakah mereka benar-benar dapat dipercaya?”
Tentulah Mantingan berpikir bahwa Chitra Anggini jauh lebih mengerti tentang siasat-siasat tersembunyi jaringan bawah tanah dunia persilatan. Terlebih dahulu menanyakan pendapatnya sebelum mengambil keputusan ini adalah langkah yang boleh terbilang tepat.
“Ada begitu banyak tipu daya di jaringan bawah tanah. Jika kau bertanya apakah mereka dapat benar-benar dipercaya, maka tidaklah dapat kutentukan jawabannya dengan pasti.” Chitra Anggini pun agaknya mampu memahami maksud Mantingan. “Tetapi saranku, kita ikuti saja mereka dengan berjaga jarak. Jangan menaruh kepercayaan penuh-penuh. Tetapi jangan pula sampai terlalu cemas. Jika sampai terjadi sesuatu, maka ketahuilah bahwa aku selalu siap berkorban nyawa untukmu.”
Mantingan terdiam barang sejenak. Sungguh-sungguhkah Chitra Anggini berkata seperti itu? Bukankah terlalu berat janjinya itu? Namun betapa pun, Mantingan tidak memiliki waktu untuk berdebat dengan perempuan itu.
“Baiklah, kita ikuti mereka. Tetap siagakan kewaspadaan. Kelengahan sekejap mata mampu mengantar nyawa ke alam baka.” Mantingan sedikit mengutip perkataan Kiai Guru Kedai sebelum berkelebat menyeberangi telaga. Chitra Anggini menyusul tak sampai sekedip mata kemudian.
***
“Sekiranya engkau sudi memberi maaf pada diriku yang tidak dapat menjumpai dikau secepat mungkin setelah tiba di kotaraja.”
__ADS_1
MANTINGAN menatap sejurus ke depan. Dilihatnya Puan Kekelaman sedang duduk dengan tenang-tenang saja, meski yang hadir sebenarnyalah bukan wujud aslinya melainkan hanya bayang-bayang sihir belaka. Sama sekali persis dengan yang Mantingan temui sebelumnya, Puan Kekelaman masih mengenakan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuhnya tanpa cela, hanya menyisakan telapak tangannya saja yang putih bersih bagaikan batu pualam yang senantiasa dipoles.
Sesaat kemudian, Mantingan tersenyum masam. Tidakkah perkataan Puan Kekelaman itu dimaksudkan untuk menyindir dirinya yang tidak langsung mencari jaringan Puan Kekelaman setelah tiba di kotaraja?
Namun betapa pun, Mantingan tidak akan membiarkan perasaan menguasai pikirannya.
“Tiadalah yang perlu daku maafkan, Puan Kekelaman, justru dakulah yang semestinya dimaafkan olehmu sebab tidak tanggap mencari jaringanmu di kotaraja.”
“Sudahilah basa-basi ini, Pahlawan, daku yakin dikau tidak terlalu menyukainya,” ujar perempuan yang serba kelam itu dengan suara lembut, yang saking lembutnya sampai membuat bulu roma Mantingan meremang. “Jauh lebih baik jika dikau bersedia langsung masuk pada pembahasan utama.”
“Silakan, Puan.” Mantingan membalas sambil tersenyum, walau sejujurnyalah ia masih dapat menikmati percakapan basa-basi.
“Pahlawan, engkau bersama kawanmu yang bernama Chitra Anggini itu sebenarnya dapat memasuki istana dengan cukup mudah,” tutur Puan Kekelaman, yang dalam nadanya itu mengandung kehati-hatian, sehingga dapatlah Mantingan perkirakan bahwa apa yang dikatakan selanjutnya akan sedikit menyinggung. “Seandainya Pahlawan mengetahui, istana sedang mengadakan sebuah perhelatan luar biasa yang bernama Perhelatan Cinta. Di sanalah para pendekar yang berpasangan mendapat kesempatan untuk membangun rumah tangga sebagaimana mestinya orang awam.”
“Perhelatan itu akan digelar di dalam istana, memungkinkan engkau bersama Chitra Anggini menyusup lebih mudah ke dalam istana. Kami dapat lebih banyak membantu jika kalian telah berada di dalam istana,” jelas Puan Kekelaman, yang sungguh tidak meleset dari dugaan Mantingan. “Pahlawan, tidak keberatankah engkau mengikuti perhelatan itu?”
“Tidak.” Mantingan menggeleng, menyatakan ketidakberatannya. Meski sebenarnya ia sangat tidak menyukai hal ini, tetapi bukankah keselamatan Tapa Balian jauh lebih penting dari segala perasaannya? “Jika Puan menginginkan begitu, maka kami berdua akan berusaha semampu mungkin untuk mengikuti perhelatan tersebut.”
“Seharusnya, perhelatan itu baru dimulai empat pekan lagi, tetapi oleh pihak istana dimajukan menjadi jauh lebih dini sebab peminatnya melampaui perkiraan. Sebaiknya Pahlawan Man bergegas. Atau jika sampai terlambat, maka terpaksa diriku meminta langsung pada kepala pengurus perhelatan itu untuk membiarkan engkau masuk. Tentulah hal semacam itu akan memancing kecurigaan, yang betapa pun kecilnya akan tetap diselidiki oleh mata-mata istana.”
Sekali lagi Mantingan mengangguk tanda bahwa dirinya telah mengerti.
“Ada beberapa hal lain yang hendak kusampaikan pula,” lanjut Puan Kekelaman, masih dengan suara yang tenang-tenang saja. “Daku mendapat keterangan bahwa dikau menginap di Penginapan Barisan Bintang. Jaringan mata-mataku juga mengatakan bahwa dikau tampak berkawan bahkan telah bekerjasama dengan Rashid, Sang Pengumpul Hikayat dari Jazirah. Benarkah adanya keterangan itu?”
__ADS_1
“Benar. Diriku memang menginap di penginapan itu untuk menyelesaikan sejumlah urusan dengan Rashid.” Berkata seperti itu, dalam benaknya Mantingan sedikit berlega hati. Bukankah dengan Puan Kekelaman mengenal Rashid, itu menandakan bahwa dirinya benar-benar bisa dipercaya untuk menjaga naskah kitab perjalanannya?
“Harus kuakui bahwa Rashid adalah seorang penulis yang baik, Pahlawan. Dirinya tetap pada pendiriannya untuk selalu menuliskan kebenaran, betapa pun orang-orang tidak terlalu menyukai itu. Beberapa purnama yang lalu, Rashid menyebar tulisan yang mengungkap sebuah rahasia umum di kotaraja yang betapa pun rahasia tetaplah rahasia: Pemukiman Miskin Kotaraja.
“Setelah tulisan tersebut tersebar, maka mulailah tampak bintik hitam yang mencemari nama besar Kotaraja Koying. Itu membuat dirinya sampai sekarang diburu oleh pemerintahan. Kepalanya dihargai seribu keping emas. Pahlawan, ketahuilah bahwa dirimu juga sedang diburu. Bukan hanya oleh Koying, tetapi oleh seluruh Dwipantara. Harga untuk kepala dikau tidak lagi ternilai dengan uang.
“Dua buronan besar yang tinggal di satu tempat, tak peduli seberapa terlihat sepi dan aman tempat itu, tetap akan membahayakan satu sama lain. Salah satu dari kalian harus pindah sesegera mungkin dari penginapan itu, sebelum mata-mata kotaraja berhasil mengendus keberadaan kalian.”
Mantingan tidak lagi terkejut dengan pernyataan itu, sebab sebelumnya ia telah mengetahui betapa memesan kamar di penginapan yang sama dengan Rashid bukanlah sesuatu yang bagus. Namun, dirinya masih belum menemukan tempat yang dapat lebih aman dari Penginapan Barisan Malam.
“Kusarankan engkau tinggal di Pemukiman Miskin Kotaraja untuk sementara waktu. Tempat itu jauh lebih aman ketimbang Penginapan Barisan Malam yang engkau tinggali saat ini.”
Mantingan mengangkat alisnya. Pemukiman Miskin Kotaraja tentu pernah masuk ke dalam pertimbangannya, tetapi ia tetap menganggap tempat itu masih belum cukup aman. Untuk hal ini, ia memiliki alasan tersendiri, yang mesti segera disampaikannya kepada Puan Kekelaman.
Mantingan membetulkan bentuk duduk untuk mulai berbicara.
___
catatan:
Saya akan membuat target bukan ini berupa 40 episode. Selebihnya, mungkin saya dapat menambahkan sejumlah bonus untuk pencapaian-pencapaian yang berhasil diraih.
Episode bulan ini: 2/40
__ADS_1