Sang Musafir

Sang Musafir
Surat Rencana dari Puan Kekelaman


__ADS_3

“Jangan langsung dipegang!” CHITRA Anggini berseru tiba-tiba, “lontar-lontar itu dipasangi mantra sihir penjebak, kau akan merasa seperti disambar petir jika mantranya belum dilepas!”


Mantingan urung menggerakkan tangan. “Apa mantranya?”


“Orang itu mengatakan sesuatu sebagai pembuka mantra, tetapi aku melupakannya.” Chitra Anggini tersenyum kaku. “Aku khawatir kita tidak akan bisa melihat rencana dari Puan Kekelaman, tetapi bukankah kita juga bisa bergerak dengan rencana sendiri?”


Mantingan menatap gadis itu dengan tatapan sulit diartikan sebelum pada akhirnya menggelengkan kepala. Bagaimana bisa Chitra Anggini mengatakan hal tersebut dengan sedemikian mudah dan tanpa perasaan bersalah sama sekali? Ia memilih untuk segera meraih seikat lontar di dalam laci itu.


“Jangan!”


Percuma, peringatan keras dari Chitra Anggini sama sekali tidak diindahkannya. Tangannya tetap bergerak, terus bergerak, semakin dekat, hingga akhirnya menyentuh lontar-lontar tersebut. Berikutnya, muncul percikan cahaya dari ujung jari Mantingan, tetapi pemuda itu tidak bertingkah seolah baru saja tersambar petir.


“Jika mantra sihirnya seperti ini, bukan hal sulit bagiku untuk membukanya.” Mantingan tersenyum tipis dan mengeluarkan lontar itu dari dalam laci. “Kau sudah membacanya, Chitra?”


“Tidak sempat. Aku hanya melihatnya sekilas sebelum kuikat kembali dan langsung kumasukkan ke dalam laci itu. Sungguh aku khawatir ada yang melihatnya selain diriku.”


Mantingan mengangguk dan memaklumi alasan tersebut. Perlahan ia membuka tali yang mengikat lontar-lontar itu sebelum membacanya satu demi satu. Chitra Anggini berdiri di sampingnya dan turut membaca. Raut wajah mereka cepat sekali menunjukkan kesungguhan.


Pada malam puncak Perhelatan Cinta yang akan terjadi dua hari lagi


Pesta dan pegelaran-pegelaran lain akan berlangsung dengan sedemikian dahsyatnya


Dari Permukiman Kumuh Kotaraja kami mendapati kabar


Sekelompok pendekar sakti-mandraguna akan menyerang istana


Menyusuplah ke dalam istana lewat pintu barat


Raja akan melarikan diri melalui jalur bawah tanah di sebelah timur

__ADS_1


Bawalah segala perlengkapan


Ditambah jika dapat


Siapkan tenaga dan pikiran


Jangan lupa sertakan peta itu


Mantingan dan Chitra Anggini saling berpandangan sejenak sebelum membaca lembar selanjutnya.


Seluruh sihir akan kami lumpuhkan


Sejumlah penjaga harus kami tewaskan


Semua telah kami pertaruhkan


Sampai gagal adalah sesuatu yang rawan


Dibukalah kembali lembar berikutnya.


Ambillah apa saja yang ingin kalian ambil


Kami tidak menghalangi


Berarti kalian juga tidak akan menghalangi kami


Raja akan mati


Kami yang akan menggantikannya

__ADS_1


Kembali Mantingan dan Chitra Anggini saling berpandangan, tetapi kali ini tidak hanya sekejap saja. Tatapan itu berlangsung cukup panjang dan dalam. Berarti sangat banyak hal.


“Dua hari lagi ....” Chitra Anggini bergumam pelan, sehingga seolah saja berbicara pada dirinya sendiri.


Mantingan tidak menjawab, hanya mengembuskan napasnya.


“Apakah kau mengerti apa yang akan kita hadapi?” Kembali Chitra Anggini bertanya setelah merasa pemuda itu terlalu tenang bahkan setelah menerima kabar segenting itu.


“Aku tahu,” jawabnya, “maut.”


“Salah satu dari kita mungkin akan mati,” lanjut perempuan itu.


Mantingan terdiam sejenak. Dirinya memang mengetahui kemungkinan itu dapat saja terjadi, bahkan sangat mungkin terjadi. Tetapi, dirinya memang telah siap mati barang kapan pun, sebab sepertinya Kembangmas masih menuntut pembuktian serta pengorbanannya lebih jau sebelum menyerahkan diri untuk dibawa pada Kenanga. Tentu Mantingan tidak pernah melupakan tujuan utama dari pengembaraannya selama ini, dan segala apa yang dilakukannya dimaksudkan agar Kembangmas mau menunjukkan dirinya. Ia yakin dengan sepenuhnya yakin, Kembangmas masih mengawasinya hingga embus napas terkini. Tidak pernah lepas.


“Benar,” balas Mantingan kemudian. “Tetapi apa pun yang terjadi, kita harus tetap melanjutkan rencana. Jika bisa dijalankan bersama-sama, maka itu baik. Namun jika tidak, maka tiada akan jadi mengapa. Tujuan yang akan kita raih jauh lebih berharga ketimbang nyawa kita berdua.”


Chitra Anggini sempurna terdiam. Perkataan Mantingan itu sungguh benar. Bila Sepasang Pedang Rembulan kembali jatuh ke telaga persilatan, maka kekacauan besar yang menguras nyawa-nyawa orang tak bersalah akan terjadi! Dan betapa jua, nyawa mereka berdua akan tampak tidak berarti sama sekali.


***


PERHELATAN Cinta tetap berjalan, meski kabar tentang penyerangan terhadap sejumlah pasangan pendekar di Lingkungan Seribu Rumah Istana telah tersebar luas, tetapi hal tersebut justru mematik sedikit semangat dari pasangan-pasangan pendekar lainnya yang mencari kesempurnaan dengan mati di dalam pertarungan.


Larut itu, digelarlah sebuah acara makan malam. Tidak seperti biasanya, sebab di hari-hari sebelumnya makan bersama hanya dilaksanakan pada pagi hari. Namun, petugas perhelatan telah mengumumkan bahwa acara makan malam kali ini tidaklah akan menjadi makan malam yang biasa-biasa saja.


Pada awalnya, Mantingan dan Chitra Anggini telah bersepakat untuk tidak mengikuti segala kegiatan di Perhelatan Cinta terkhusus hari itu sebab sangat membutuhkan istirahat. Namun dengan pertimbangan bahwa hal tersebut akan kembali memancing kecurigaan dari istana, maka keduanya memutuskan untuk tetap mengikuti acara makan malam itu.


Kali ini, tidak satupun dari keduanya mengenakan topeng semacam apa pun. Wajah Chitra Anggini pastilah tidak terlalu terkenal, dan sekalipun mampu dikenali oleh istana sebagai salah seorang anggota Kelompok Penari Daun, maka tiada sesuatupun bahaya maupun ancaman dari perempuan itu. Dan, bukankah wajah Mantingan telah berubah hampir secara keseluruhan sehingga sama sekali dirinya tidak perlu khawatir ada orang istana yang mampu mengenalinya sebagai Pahlawan Man?


Acara makan malam dilangsungkan pada Halaman Besar Seribu Rumah Istana, dengan nuansa yang sangat berbeda dari acara-acara makan pagi.

__ADS_1


Remang-remang dalam cahaya lilin dan obor yang temaram, lantas berpadu dengan gelombang cahaya sihir berwarna merah di langit yang membentuk segala macam rupa binatang maupun tetumbuhan yang indah. Wewangian ditempatkan di semua sudut yang dapat digapai, aroma rasamala dan bunga kambuja tercium dengan begitu jelasnya. Membuai. Alunan bebunyian lembut datang dari kelompok pengalun lagu terbaik di kotaraja, didatangkan langsung oleh istana untuk semakin membuai suasana.


Tiada kiranya yang tidak terpukau dengan segala apa yang tersaji di tempat itu!


__ADS_2