
SEMAKIN LAMA, senyum Mantingan semakin canggung. Wiranti habis-habisan dalam memujinya, sedangkan dirinya sendiri tidak merasa begitu. Dan sekarang, Mantingan ingin cepat-cepat menyelesaikan urusannya dengan Wiranti.
“Sudahlah, Ibu Wira. Diriku tidak pantas menerima semua pujian itu.” Mantingan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “Jadi, kapankah Sasmita akan pindah ke sini, Ibu Wira?”
Wiranti tersenyum dan menjawab, “Hari ini juga, Anak Man. Daku akan menyewa sebuah gerobak kerbau untuk membawa barang-barang yang diperlukannya di sini.”
Mantingan kemudian mengangguk. “Diriku akan ke sana dan membantu ....”
“Eh, tidak perlu, tidak perlu.” Ibu Wira menyergah. “Tidak baik dikau mengeluarkan banyak tenaga. Nanti biar diriku pesan juga seorang bajingan untuk membantu Sasmita. Anak hanya perlu duduk manis di sini, itu jauh lebih baik untuk diri Anak.”
“Tidak boleh seperti itu, Ibu Wira—”
“Soal ini, daku tidak berniat menerima bantahan darimu, Anak Man.” Ibu Wira menyesap teh di cangkirnya untuk yang terakhir kali. “Kami mohon diri. Kepindahan Sasmita harus diurus cepat-cepat. Dan kalau kami di sini terlalu lama, engkau pasti tidak akan bisa untuk tidak merepotkan diri. Jadi biarlah kami pergi, Anak Man. Sampai jumpa sore nanti.”
***
KETIKA MENDENGAR lonceng angin di depan pagarnya berdentangan nyaring, Mantingan buru-buru keluar rumah. Kana dan Kina yang belum pernah melihat Mantingan begitu terburu-buru dalam menerima tamu lekas menjadi penasaran. Namun, mereka mengikuti Mantingan sampai teras saja.
Mantingan membuka gerbang halamannya. Penglihatannya langsung disuguhkan oleh seekor lembu besar lengkap dengan gerobak di belakangnya. Seorang bajingan di atas punggung lembu memberi salam hangat kepada Mantingan.
“Selamat siang, Saudara. Apakah benar tempat ini adalah kediaman pemuda yang bernama Jaya?”
Mantingan mengangguk. “Ya, yang Saudara maksud adalah saya.”
__ADS_1
“Jikalau begitu, izinkanlah sahaya masuk untuk menurunkan barang-barang. Sahaya suruhan Ibu Wira.”
“Ya, ya. Silakan bawa kerbau itu masuk.”
Bajingan itu masuk memecut kerbaunya. Kerbau itu kembali berjalan setelah mengaum satu kali. Kemudian Mantingan bergerak menutup gerbang. Mantingan mengarahkan sang bajingan untuk mendekatkan pedati kerbaunya di teras.
Mantingan dan sang bajingan bahu-membahu menurunkan barang. Meskipun orang itu telah meminta Mantingan untuk tidak membantu, tetapi Mantingan bukanlah Mantingan jika dirinya tidak suka membantu. Duduk berpangku tangan melihati bajingan itu bekerja keras dapat diartikan sebagai perbudakan.
Sungguh, Bidadari Sungai Utara hanyalah seorang perempuan yang Mantingan ketahui hidupnya Sangat sederhana. Anehnya, pedati kerbau yang lebar itu sampai penuh oleh barang-barangnya. Namun sebentar kemudian, Mantingan dapat melihat bahwa semua itu adalah barang-barang untuk keperluan pengobatan.
Mantingan tidak menggunakan keahlian pendekarnya untuk menurunkan barang-barang dengan cepat. Ia merasa harus menyamar menjadi orang awam di depan sang bajingan. Jika saja bajingan itu sampai mengetahui bahwa Mantingan adalah pendekar, ada kemungkinan dirinya akan bertindak gegabah.
Sebenar-benarnyalah akhir-akhir ini Mantingan mengetahui bahwa penduduk desa mulai gerah akan perampok-perampok yang menguasai Desa Lonceng Angin. Secara senyap, mereka mengumpulkan tenaga orang-orang muda. Mengusung perlawanan. Akan tetapi, kemudian diketahui bahwa tenaga seluruh pemuda desa tidak akan bisa melawan perampok-perampok bertenaga pendekar itu.
Sampai Desa Lonceng Angin terbebas dari tangan-tangan hitam para perompak, Mantingan berniat untuk tetap menyembunyikan jati diri.
Tetap saja pekerjaan yang dilakukan dua pemuda akan lebih cepat ketimbang yang dilakukan satu pemuda saja. Seluruh barang telah diturunkan di lantai teras, merupakan pekerjaan yang mudah bagi Mantingan untuk membawanya ke dalam.
“Apakah Ibu Wira telah membayarmu, Saudara?” Mantingan bertanya ramah.
“Ya. Ibu Wira sudah membayarku, Saudara. Maka kini diriku tinggal pulang saja.”
“Tunggu sebentar.” Mantingan mengeluarkan sekeping uang dari dalam sakunya. Dilihatnya keping itu berkilauan kuning. “Ini sebagai ucapan terima kasih dari sahaya. Saudara adalah bajingan teramah yang pernah sahaya jumpai.”
__ADS_1
“Saudara, ini terlalu banyak ....”
“Terimalah, Saudara. Daku tahu bahwa apa yang sedang terjadi sekarang sungguh memberatkan Saudara. Jadi mohon terimalah untuk diriku.”
Sang bajingan melirik mata Mantingan berkali-kali. Mencari niat jahat yang tersembunyi. Namun, bajingan itu tidak pernah menjumpainya di dalam sorot mata Mantingan. Bahkan, tak akan pernah.
Maka dengan rasa hormat yang tinggi, ia menerima sekeping emas itu dari tangan Mantingan. “Saudara, sahaya mengucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya. Saudara sungguh berpengertian, memanglah saat ini Desa Lonceng Angin sedang disusuki iblis-iblis neraka. Iblis-iblis itu sungguh memberatkan kami semua. Kepala desa ditangkap, wakil desa pun sedemikian. Entah apa yang terjadi pada diri mereka sekarang.”
Seketika itu pula, Mantingan teringat percakapan antara dua perompak yang membunuh wakil kepala desa di dalam hutan bercahayakan sinar rembulan kala itu. Percakapan itu menyinggung soal kematian kepala desa. Dan jelas saat itu, wakil kepala desa pun mati dengan kepala menggelinding.
Namun, Mantingan memutuskan untuk tidak memberitahu bajingan itu mengenai kepala desa dan wakil kepala desa. Bisa-bisa, api amarah bajingan muda itu tersulut dan merambat ke mana-mana.
“Penduduk desa siap menumpahkan darahnya demi pembebasan tanah dari tangan berdosa iblis-iblis laknat itu! Bahkan diriku siap dicincang menjadi seribu bagian asalkan Desa Lonceng Angin kembali mahardhika!” Bajingan itu bergelora, lalu bertanyalah dia, “apakah Saudara tidak ingin turut serta bersama kami? Dari yang sahaya lihat, Saudara cukuplah sehat dan bugar.”
Mantingan menggeleng pelan. “Sahaya ada penyakit dalam.”
“Ah, lupakanlah soal perkataan sahaya tadi, Saudara. Sahaya sungguh tidak mengetahui kemalangan yang menimpa diri Saudara, maafkanlah.”
Mantingan melambaikan lengannya. “Bukan masalah, Saudara. Jika memang sahaya sudah merasa sedikit baikan, sudah pasti sahaya akan turut serta mengangkat kelewang. Saat ini, sahaya hanya bisa berdoa agar tidak mati dimakan penyakit.”
“Sahaya juga berdoa sedemikian untuk Saudara. Semoga batara dewa mengangkat segala penyakit Saudara. Lenyap tak tersisa. Nah, Saudara, sepertinya sahaya harus segera kembali. Sahaya takut ada salah satu iblis yang mengawasi kita. Jika terlalu lama, tentu makhluk penuh dosa itu akan curiga. Selamat tinggal, Saudara, terima kasih atas kemurahan hatimu!”
Mantingan mengantarkan bajingan bersama kerbaunya sampai di depan gerbang. Memastikan keselamatan orang itu selama masih berada dalam jarak pandangnya.
__ADS_1