
BIDADARI Sungai Utara tertawa lebar. “Hahahaha! Kau telah lupa, Mantingan! Kau telah pikun! Setiap pendekar harus berwaspada pada segala kemungkinan!”
“Akan lebih berbahaya kalau kau tidak tidur sekarang ketimbang ketika mereka menyerang.” Mantingan membalas dengan tenang. “Mari, biar aku antarkan sampai ke kamarmu.”
Bidadari Sungai Utara tidak membalasnya, gadis itu justru menyambar kendi tuak dan meneguknya dengan sangat rakus. Mantingan yang melihat itu tidak dapat bersikap acuh tidak acuh saja.
“Hentikan itu, Sasmita!” Tangan Mantingan bergerak cepat memapas kendi itu dari genggaman Bidadari Sungai Utara. Ia berhasil melakukannya. Tetapi Mantingan merasa ada sesuatu yang aneh karena gadis itu tidak memberi perlawanan sama sekali. Tahu-tahu, kendi itu telah kosong sebab Bidadari Sungai Utara menghabiskan seluruh tuak di dalamnya tanpa sisa!
Bahkan kelihatannya, dia tidak menyisakan setetes pun.
“Bapak, ambilkan satu kendi lagi!”
“Cukup!” Mantingan mengangkat tangannya dan memberikan tatapan tajam ke arah bapak pemilik kedai yang baru saja ingin bergerak mengambil kendi tuak di bawah mejanya. “Tidak akan ada kendi tuak lagi yang akan Bapak antarkan ke sini. Saudari, ikut aku sekarang.”
Mantingan berdiri dan lekas menyambar lengan Bidadari Sungai Utara. Akan tetapi, gadis itu memberi perlawanan yang berat.
“Lepaskan tanganku, lelaki jelek!”
Tidak membalas, Mantingan mulai menggunakan tenaga dalamnya untuk menarik Bidadari Sungai Utara. Namun, Bidadari Sungai Utara pun membalasnya dengan tenaga dalam pula.
Mantingan menarik napas dingin sebelum tangan kirinya meluncur cepat hingga menyentuh pundak Bidadari Sungai Utara. Gadis itu tiba-tiba saja seperti orang yang kehilangan seluruh tenaganya. Tubuhnya menjadi lemah dan lesu, hampir-hampir terjatuh dari bangkunya.
Mantingan mengangkat gadis yang telah ditotok aliran darahnya itu. Bidadari Sungai Utara hanya bisa menatap pemuda itu setajam yang ia bisa. Mantingan lekas membawanya ke kamarnya di lantai dua.
***
“Kakanda, bangunlah.”
MANTINGAN mengangkat kepalanya dari meja makan di kedai itu. Dengan mata setengah terpejam, ia melirik Kana di sampingnya.
__ADS_1
“Ada apakah, Kana?”
“Kita harus berangkat,” jawab Kana. “Tadi saat diriku ingin ke bilik mandi, kulihat orang-orang Pasukan Topeng Putih sedang menyiapkan kuda. Lagi pula, hari sudah terang tanah.”
“Aku ketiduran.” Mantingan beranjak berdiri sambil meluruskan punggungnya. “Kita harus berangkat sebelum matahari benar-benar terbit.”
Kana menganggukkan kepalanya setuju. “Tetapi Kina dan Kaka Sasmita masih tidur. Dan bicara-bicara tentang Kaka Sasmita, dia mengigau dan menyebut-nyebut nama Kakanda sepanjang malam. Kurasa Kaka Sasmita menaruh rasa suka kepadamu, Kakanda.”
Raut wajah Mantingan berubah. Tangannya bergerak cepat dan menjitak kepala Kana hingga anak itu mengaduh kesakitan.
“Bangunkan mereka,” katanya kemudian.
Sambil mengelus-elus kepalanya, Kana berucap, “Diriku mungkin bersedia jika Kakanda menyuruhku membangunkan Kina, tetapi daku sama sekali tidak bersedia jika harus membangunkan Kaka Sasmita. Semalaman Kaka Sasmita sering berteriak-teriak kasar. Meskipun itu hanya igauannya, tapi tetap saja sangat menakutkan melihatnya seperti itu. Apalagi setelah Kaka Sasmita membunuh ....”
Mantingan segera menukas, “Jangan pernah menyinggung tentang kejadian tadi malam, Kana. Jangan sekalipun di hadapan Sasmita.”
Kana terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengerti bahwa hal itu memang bukan kenangan yang sedap untuk diingat.
Mereka sampai di lantai kedua, membuka pintu kamar sewaan yang sama sekali tidak terkunci. Terlihatlah Bidadari Sungai Utara dan Kina yang tertidur di atas alas kasur tipis.
Kana bergerak ke arah Kina, sedangkan Mantingan ke arah Bidadari Sungai Utara.
Mantingan melihat Bidadari Sungai Utara dari atas sampai bawah. Betapa penampilan gadis itu terlihat amat sangat kacau. Pakaiannya tidak dalam keadaan rapi dan boleh dikata tidak sopan. Cadarnya masih terpasang, menutupi mulutnya. Rambutnya benar-benar berantakan. Mantingan menggelengkan kepalanya pelan sebelum menepuk-nepuk pundak Bidadari Sungai Utara.
“Saudari, bangunlah. Kita harus melanjutkan perjalanan.”
Bidadari Sungai Utara menunjukkan tanggapan, menatap Mantingan dengan malas. “Apakah hari sudah terang?”
Mantingan menggeleng dan membalas, “Masih terang tanah.”
__ADS_1
“Tunggu sampai terang.” Bidadari Sungai Utara menjatuhkan kepalanya ke atas bantal.
Namun sebentar kemudian, Bidadari Sungai Utara tiba-tiba melompat berdiri. Segera saja dirinya berlari ke arah jendela. Menggedor-gedor jendela itu dengan keras sambil menutupi mulutnya dengan tangan.
Mantingan yang mengerti segera berlari menuju gadis itu sebelum membuka kuncian di daun jendela. Dibukanya pula ikatan cadar pada leher Bidadari Sungai Utara, sehingga gadis itu dapat memuntahkan isi perutnya dengan lancar.
Mantingan menggelengkan kepalanya pelan, sedangkan Kana dan Kina menatapnya khawatir sambil berjalan mendekat.
Bidadari Sungai Utara baru berhenti setelah perutnya benar-benar kosong sehingga memang tidak ada lagi yang bisa dikeluarkannya. Gadis itu kemudian duduk bersandar pada tembok kamar. Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya melemah.
“Apakah Kakak baik-baik saja?” Kina langsung mengiriminya pertanyaan.
Bidadari Sungai Utara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Hanya itulah yang dapat dilakukannya sekarang.
Sedangkan itu, Kana justru mendekati Mantingan.
“Apakah ini adalah sebuah pertanda bahwa Kakanda dan Kaka Sasmita akan terus bersama?”
“Tidak.” Mantingan menjawab cepat. Namun baru beberapa saat kemudian, ia menyadari maksud terselubung dari ucapan Kana. Sekali lagi ia menjitak kepala anak itu.
“Aduh! Mengapa Kakanda begitu mudahnya memukul kepalaku?!”
“Ada yang salah dengan kepalamu, kuharap bisa diperbaiki dengan sedikit guncangan.”
Kana menggerutu sambil terus mengusap kepalanya. Mantingan dua kali menjitaknya pada tempat yang sama.
Bidadari Sungai Utara menatap Mantingan penuh arti sebelum akhirnya menggeleng pelan. Mantingan tahu, gadis itu mengingat kejadian semalam yang memang sama sekali tidak mudah untuk dilupakan.
Mantingan menyuguhkan senyum pertamanya di pagi itu untuk Bidadari Sungai Utara. “Marilah, Saudari. Kita harus tetap melangkah ke depan, melanjutkan perjalanan apa pun yang terjadi.”
__ADS_1
Mantingan mendekat dan mengulurkan tangannya pada Bidadari Sungai Utara. Gadis itu tersenyum lebar dan menjabat tangan Mantingan sebelum bangkit berdiri.